Keutuhan tim ditentukan oleh kemampuan menghargai rekan satu tim.

Keutuhan tim ditentukan oleh kemampuan menghargai rekan satu tim.

Mengikuti aktivitas krucil dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolahnya mengingatkan masa lalu. Masa saat seusia krucil dan melakukan hal yang serupa. Pramuka, kegiatan yang kini semakin langka, ini yang menyambungkan masa.

Saya pernah ikut kegiatan Pramuka saat di Sekolah Dasar dan di Sekolah Menengah Pertama. Itu adalah peristiwa sekian puluh tahun lalu, awal tahun 80-an. Kegiatan yang hanya dilalui intensif saat di SMP, dan tidak sampai 3 tahun tersebut, sangat terpateri dalam banyak hal. Tidak hanya dalam ingatan tetapi juga dalam tindakan.

Tindakan secara pribadi maupun secara tim mempunyai landasan yang sama dan sangat kuat. Semua terdapat dalam kode etik “sakti”, yaitu Dasa Darma Pramuka.

Kerja dalam tim tidaklah susah tetapi juga tidaklah gampang. Pembagian tugas dan tanggung jawab dalam pelaksaanaan kewajiban tim (atau regu, dan juga pasukan) memudahkan semua dalam berkonsentrasi. Ada yang lebih mendalami penguasaan semaphore, ada juga yang lebih menguasai kode morse. Juga ada yang ditugaskan untuk lebih canggih dalam tali-temali.

Tak dilupakan juga adalah yang jago meramu bahan makanan untuk menjadi penyaji masakan yang top punya, hehe. Semua terbagi sesuai kapasitas yang ada, dan semua merupakan penugasan yang bersifat “harus bisa” serta saling mengisi untuk kesempurnaan regu.

Saat kegiatan lomba adalah yang paling mengasyikkan. Semua anggota regu harus bisa melakukan apa saja, tetapi tetap mempunyai kekhususan. Beberapa hal yang tercatat sebagai penguat suatu perjuangan regu adalah:

  • Tiada keluhan selama kegiatan berlangsung. Mengeluh berarti sudah menghancurkan semangat diri sendiri dan membuat regu melemah. Tiap individu mempunyai kewajiban tak tertulis untuk terus menggairahkan semangat regunya.
  • Tiada anggota regu yang salah. Dengan kata lain: tidak ada perbuatan yang saling menyalahkan siapapun. Semua risiko ditanggung bersama. Jika harus menerima hukuman tim maka semua harus rela melaksanakan, demikian juga jika hukuman pribadi maka segera laksanakan dengan gembira, tanpa prasangka apalagi sakit hati.
  • Kerjasama diutamakan, karena tanpa adanya kerjasama maka saat itu regu sudah dinyatakan hancur. Semua melaksanakan tugas dan melengkapi tugas yang lainnya.
  • Kehormatan regu adalah segalanya. Tidak ada perbuatan menjelekkan regu, rekan regu, atau perbuatan lain yang merendahkan regu sendiri. Kehormatan disini tidak berarti membela hal negatif, tetapi justru mengutamakan semua hal positif.

Jika dilihat kasus per kasus maka masih banyak lagi hal yang bisa dituliskan. Tetapi secara umum maka hal-hal tersebut diatas itulah yang sangat berkesan dan terbawa hingga kini.

Hingga kini saya belum pernah mengikuti pelatihan kepemimpinan apapun atau membaca buku pedoman kepemimpinan manapun. Saya cukup mengandalkan pengalaman singkat saat di kepramukaan, dan alhamdulillah sangat berguna dalam berkarya dengan tim kerja.

Apakah anda (mantan) Pramuka dan sependapat dengan saya..? Salam Pramuka..!

: )

*/ Salam Trisula Pamungkas untuk semua yang pernah/sedang membela Trisula Pamungkas, SMP Negeri 1 Metro, Lampung.