Home

Menandai Titik Perhatian Sepanjang Garis Perjalanan

Leave a comment

Menandai perjalanan dengan beragam cara

Menandai perjalanan dengan beragam cara.

Perjalanan bukanlah mewakili satu titik, ia adalah garis yang panjang. Tetapi perhatian akan suatu obyek pastilah berupa titik. Demikianlah pendapat saya.

Dari semua perjalanan yang pernah dilakukan, sebagian besar terekam dalam gambar dan juga coretan di kertas. Gambar direkam sejak menggunakan kamera analog (maksudnya pakai film negatif) hingga saat ini yang hanya memakai kamera versi dijital.

Belum semua hasil rekaman perjalanan tersebut telah berhasil dituliskan dalam blog, bahkan mungkin sebagian buesaar belum tertuangkan di media daring ini.

Tetapi sering terpikirkan menampilkan cerita hanya dalam bentuk gambar, satu gambar, yang mewakili lokasi tertentu. Walau bukan jenis photoblogging tetapi cukup mewakili saat mana kerinduan akan melihat banyak titik perhatian selama perjalanan pada waktu yang telah lalu muncul kembali.

Bagi anda yang mempunyai waktu dan mempunyai kesenangan dalam melihat keindahan di banyak lokasi perjalanan, silakan mampir ke:

http://hartantosanjaya.name/travel

Tidak ada cerita panjang disana, hanya foto dan keterangannya disertai peta lokasi.

Hanya sebuah catatan sebagai penanda titik perhatian sepanjang garis perjalanan.

: )

Dalam Perjalanan Bersama – Tanggung Jawab Tim

Leave a comment

Keutuhan tim ditentukan oleh kemampuan menghargai rekan satu tim.

Keutuhan tim ditentukan oleh kemampuan menghargai rekan satu tim.

Mengikuti aktivitas krucil dalam kegiatan ekstrakurikuler sekolahnya mengingatkan masa lalu. Masa saat seusia krucil dan melakukan hal yang serupa. Pramuka, kegiatan yang kini semakin langka, ini yang menyambungkan masa.

Saya pernah ikut kegiatan Pramuka saat di Sekolah Dasar dan di Sekolah Menengah Pertama. Itu adalah peristiwa sekian puluh tahun lalu, awal tahun 80-an. Kegiatan yang hanya dilalui intensif saat di SMP, dan tidak sampai 3 tahun tersebut, sangat terpateri dalam banyak hal. Tidak hanya dalam ingatan tetapi juga dalam tindakan.

Tindakan secara pribadi maupun secara tim mempunyai landasan yang sama dan sangat kuat. Semua terdapat dalam kode etik “sakti”, yaitu Dasa Darma Pramuka.

Kerja dalam tim tidaklah susah tetapi juga tidaklah gampang. Pembagian tugas dan tanggung jawab dalam pelaksaanaan kewajiban tim (atau regu, dan juga pasukan) memudahkan semua dalam berkonsentrasi. Ada yang lebih mendalami penguasaan semaphore, ada juga yang lebih menguasai kode morse. Juga ada yang ditugaskan untuk lebih canggih dalam tali-temali.

Tak dilupakan juga adalah yang jago meramu bahan makanan untuk menjadi penyaji masakan yang top punya, hehe. Semua terbagi sesuai kapasitas yang ada, dan semua merupakan penugasan yang bersifat “harus bisa” serta saling mengisi untuk kesempurnaan regu.

Saat kegiatan lomba adalah yang paling mengasyikkan. Semua anggota regu harus bisa melakukan apa saja, tetapi tetap mempunyai kekhususan. Beberapa hal yang tercatat sebagai penguat suatu perjuangan regu adalah:

  • Tiada keluhan selama kegiatan berlangsung. Mengeluh berarti sudah menghancurkan semangat diri sendiri dan membuat regu melemah. Tiap individu mempunyai kewajiban tak tertulis untuk terus menggairahkan semangat regunya.
  • Tiada anggota regu yang salah. Dengan kata lain: tidak ada perbuatan yang saling menyalahkan siapapun. Semua risiko ditanggung bersama. Jika harus menerima hukuman tim maka semua harus rela melaksanakan, demikian juga jika hukuman pribadi maka segera laksanakan dengan gembira, tanpa prasangka apalagi sakit hati.
  • Kerjasama diutamakan, karena tanpa adanya kerjasama maka saat itu regu sudah dinyatakan hancur. Semua melaksanakan tugas dan melengkapi tugas yang lainnya.
  • Kehormatan regu adalah segalanya. Tidak ada perbuatan menjelekkan regu, rekan regu, atau perbuatan lain yang merendahkan regu sendiri. Kehormatan disini tidak berarti membela hal negatif, tetapi justru mengutamakan semua hal positif.

Jika dilihat kasus per kasus maka masih banyak lagi hal yang bisa dituliskan. Tetapi secara umum maka hal-hal tersebut diatas itulah yang sangat berkesan dan terbawa hingga kini.

Hingga kini saya belum pernah mengikuti pelatihan kepemimpinan apapun atau membaca buku pedoman kepemimpinan manapun. Saya cukup mengandalkan pengalaman singkat saat di kepramukaan, dan alhamdulillah sangat berguna dalam berkarya dengan tim kerja.

Apakah anda (mantan) Pramuka dan sependapat dengan saya..? Salam Pramuka..!

: )

*/ Salam Trisula Pamungkas untuk semua yang pernah/sedang membela Trisula Pamungkas, SMP Negeri 1 Metro, Lampung.

Berbagi dengan Menggambar Hujan di Peta Nusantara

1 Comment

banjir sejenak

Banjir sejenak di depan rumah.

Berbagi informasi melalui media internet bukanlah hal yang luar biasa lagi. Banyak yang (mengaku) sebagai jurnalis lepas dan mewartakan segala hal melalui blognya, dan hal ini telah mengubah cara kita mengekspresikan banyak hal pada dunia. Segala hal dapat kita informasikan pada siapapun melalui internet. Bagaimana dengan informasi kondisi sekitar yang relatif sangat cepat berubah..?

Hujan pada umumnya terjadi tidaklah lama. Durasi hujan yang pernah saya alami hanya beberapa detik hingga beberapa jam saja. Tetapi yang relatif sebentar itu ternyata dapat berakibat yang luar biasa. Yang paling sederhana adalah terjadinya genangan akibat limpasan permukaan yang tidak bisa lagi ditampung oleh got depan rumah saya.

Dan yang paling rumit kemudian adalah meluapnya sungai (dimanapun) yang dapat menghancurkan karya budaya manusia, bahkan dapat mengakhiri hidup manusia juga. Hal ini, banjir maksudnya, tentunya dapat terjadi karena banyak hal. Saya tidak akan membahas masalah itu saat ini. Apalagi membahas banjir Jakarta, wah gak perlu sekarang deh… hehe…

Saya ingin membahas mengenai berbagi informasi mengenai kondisi hujan (dan banjir) yang terjadi di sekitar kita. Saya pernah menuliskannya dalam blog dengan tajuk Gundala membangunkan Sijampang dua tahun lalu. Itu adalah versi awal dari aplikasi Sijampang.

Apakah aplikasi Sijampang..? Sijampang mempunyai arti Sistem Informasi Hujan dan Genangan berbasis Keruangan. Merupakan sistem informasi dimana kita bisa berbagi informasi mengenai kondisi hujan dan genangan (banjir) yang terjadi di sekitar kita secara langsung dan berbasis lokasi.

Informasi publik di dalam jangkauan Radar Cuaca

Informasi publik di dalam jangkauan Radar Cuaca

Sijampang didukung oleh dua komponen penting yaitu komponen peralatan deteksi cuaca, dan komponen informasi dari publik.

Pada komponen pertama, Sijampang dilengkapi dengan radar cuaca yang terpasang di Puspitek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), Serpong. Radar ini beroperasi selama 24 jam dan selalu memperbarui datanya setiap enam menit. Cakupan wilayah yang dideteksi oleh radar di Puspitek ini mempunyai radius 105 km. Data yang direkam oleh radar cuaca ini (dikenal dengan nama Radar HarimauHydrometeorological ARray for Intraseasonal-variation Monsoon AUtomonitoring) kemudian diolah oleh NEOnet di BPPT Jakarta. Setelah didapat beberapa parameter kemudian ditampilkan dalam bentuk peta hujan terkini melalui internet.

Komponen kedua, yang tak kalah penting adalah informasi dari publik. Pelibatan publik disini adalah untuk memperkaya informasi yang ada sesuai dengan lokasi para pemberi informasi, atau dikenal dengan sebutan kontributor Sahabat Sijampang. Kontributor berasal dari masyarakat yang peduli dengan informasi cuaca, dan bersedia berbagi dengan yang lain. Cara keterlibatan adalah dengan mengirimkan informasi kondisi cuaca (cerah, berawan, hujan ringan, sedang, atau lebat) melalui perangkat HP-nya. Informasi bisa dikirimkan melalui SMS atau E-mail, dan mendukung berbagai jenis HP yang ada di masyarakat. Info yang dikirimkan akan otomatis masuk dalam peta daring interaktif Sijampang, yang berupa webGIS, tanpa perlu repot-repot lagi…

Gabungan dari kedua komponen ini adalah informasi mengenai kondisi cuaca setempat dan dapat diketahui oleh publik melalui petra hujan terkini dan juga melalui jejaring micro blogging twitter. Akun di twitter yang dapat di-follow oleh publik adalah @infohujan.

Partisipasi publik untuk wilayah Nusantara

Partisipasi publik untuk wilayah Nusantara

Informasi dari publik diharapkan membantu memperkaya informasi yang diperlukan oleh banyak pihak dengan banyak kepentingan. Misalnya adalah jika terjadi hujan dengan intensitas diatas rerata pada suatu wilayah yang rawan longsor atau banjir maka dengan saling menginformasikan kondisi hujan dapat diantisipasi kemungkinan yang bakal terjadi.

Pada suatu lokasi spesifik yang terancam oleh lahar dingin, misalnya, dengan menginformasikan titik/lokasi terjadinya hujan beserta intensitas dan keterangan kondisi sungai maka semua pihak terkait dapat mewaspadainya dengan segera.

Banyak lagi yang dapat dimanfaatkan dari informasi hujan yang datang langsung dari publik. Dan, sekali lagi, semuanya tergambar langsung di peta interaktif Sijampang.

Bagaimana menjadi kontributor informasi hujan/banjir ini..? Silakan kunjungi laman prosedur di blog Sijampang.

Bagaimana mudahnya mengirimkan informasi ke aplikasi Sijampang..? Silakan baca di laman cara mudah mengirimkan informasi.

Dengan terbukanya sistem ini untuk digunakan oleh pengguna (user) dalam berbagai keperluan diharapkan informasi hujan/genangan dapat mengalir dan segera digunakan dengan baik dan benar.

Mari kita menggambar hujan di Peta Nusantara… Dari kita untuk semua…

: )

Blogor – Membuat Peta Hujan di Kota Hujan

Leave a comment

Membuat Peta Hujan di Kota Hujan - blogor.org

Membuat Peta Hujan di Kota Hujan - blogor.org

Ayo klik Membuat Peta Hujan di Kota Hujan … : )

Jendela kecil yang besar

2 Comments

Siapa yang tidak mengenal internet saat membaca tulisan ini? 99% kemungkinan pembaca tulisan ini telah mengenalnya. Sadarkah kita saat membaca ini seolah melihat dari jendela kecil yang besar..?

Jendela kecil yang dimaksud adalah layar monitor atau hape atau tablet anda. Dari jendela ini kita bisa melihat banyak hal dalam beragam bentuk. Kita bisa melihatnya dalam format teks, gambar, ataupun film. Semua bisa dinikmati sesuai dengan keinginan.

Kehadiran aplikasi media sosial semacam Friendster, Facebook, Twitter, LinkedIn, dan lain-lain menambah kekayaan konten jendela kita tadi.

Dan mulailah kita menaruh banyak properti pribadi menjadi bagian dari konten jendela. Pertama-tama adalah nama kita atau sebutan keren atau sebutan diri supaya keren yang kita tampilkan. Lalu sejarah singkat kita dimulai dari kelahiran hingga pendidikan terakhir. Juga kesukaan kita akan buku, film, dan lain-lain kita tampilkan semua.

Dalam perjalanannya, kita dengan suka hati menyatakan pada “dunia” mengenai status kita. Status dapat berisi pendapat, uneg-uneg, berita bahagia, kemarahan, bahkan makian. Tidak jarang juga hanya diisi dengan satu kata yang tidak bisa dimengerti artinya.

Kitapun dengan sukahati ikutserta memperkaya jendela orang lain. Kita memberikan kata-kata berupa ucapan, pendapat, atau kadang respon yang “gak jelas”. Sering juga kita memberikan tautan film atau laman yang kita anggap (tidak) perlu tampil di jendela teman.

Semua itu kita lakukan tanpa lagi dibatasi waktu yang berjatah 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Kapanpun kita sempat “membuka jendela” maka segeralah kita menambahkan kontennya. Begitu perhatiannya kita akan perubahan dan penambahan konten jendela kita.

Lalu, bagaimana sebenarnya yang kita lakukan saat kita tidak sedang “membuka jendela” alias berada dalam dunia nyata..? Apakah yang kita lakukan serupa dengan saat menatap “dunia lain” di seberang “jendela” tadi..?

Apakah kita dengan sukarela memberitahukan pada teman dan tetangga tentang aktivitas yang sedang kita lakukan..?

Saat ada tetangga lewat depan rumah, apakah kita memberitahu: “gw lagi nunggu kereta”, pasti yang lewat tadi bingung: emangnya lu di stasiun..?

Saat ada teman datang, langsung ngomong: “gw lg ng*pil nih…”, pasti si teman langsung menjauh.

Saat ada orang yang belum dikenal tanya nama kita, bukannya langsung jawab tapi pasti kita langsung berpikir: siapa lu nanya2 nama gw..?

Kalau dia langsung tanya tanggal lahir, maka kita pasti akan cuekin sambil ngedumel: emangnye lagi ada sensus penduduk.. pake nanya nama ama tanggal lahir segala.

Saat ada tetangga yang intip dalam rumah kita, pasti kita langsung usir sambil nyentak: ngapain lu intip rumah gw..

Begitulah…

Semua yang kita lakukan pada kehidupan nyata banyak sekali yang berbanding terbalik dengan kehidupan di balik jendela monitor kita.

Semua yang kita tutupi dengan rapi dan rapat, dapat seketika kita umbar lewat jendela “media sosial” dengan harapan semua friends dan followers kita tahu segera. Bahkan mengharap mereka merespon dengan segera. Semakin heboh semakin membuat kita senang.

Yang kita lakukan adalah ibarat sedang duduk dalam ruang yang gelap sambil melihat bola dunia yang terang di depan kita. Kita tidak ingin dilihat oleh orang lain di sekitar kita, tetapi kita ingin tampil di dunia dengan wujud yang kita inginkan.

Sudah terlepaskah kepercayaan diri untuk menjadi diri sendiri..?

Jawabannya ada pada perilaku kita masing-masing tentunya.
: )

*/ belajar nulis di dalam bis saat kemacetan pagi memasuki ibukota Jakarta.

Kabut malam di Buitenzorg

14 Comments

Buitenzorg yang kelam

Buitenzorg yang kelam (rekayasa gambar)

Ini adalah tulisan kesepuluh (akhir) dari Grup Hitam Cerita Berantai #2 dari Blogger Bogor. Tulisan sebelumnya dibuat oleh Tb. Sjafri MangkuprawiraEddy PrayitnoChandra ImanErfano NalakianoAnandita Puspitasari, Jun “Siro” Dieyna, Utami Utar, Miftah Abdillah Akhmad, dan Suria Riza.

Bogor ada karena satu alasan.

Apakah yang menjadi alasan dalam pemilihan lokasi penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja Kerajaan Pakuan, pada 3 Juni 1483, sehingga peristiwa itu terjadi di tempat yang kemudian bernama Bogor..?

Apakah pula yang menjadi alasan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff membangun Buitenzorg, nama lawas dari Istana Bogor, di lokasi ini dan menjadi kediaman resmi 38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu Gubernur Jenderal Inggris..?

Buitenzorg mempunyai arti “without sorrow” atau “tanpa kesedihan”. Dalam bahasa Belanda, ada penyebutan lain terkait dengan “buiten”. Jika saya mengatakan bahwa saya mempunyai “buiten” artinya saya mempunyai rumah perisitirahatan di pedesaan.

Disatu masa, memiliki “buiten” di Buitenzorg adalah keindahan hidup. Seorang raja dapat mengendalikan pegunungan dan sekaligus daerah pesisir pantai dari lokasi yang nyaman. Perwakilan pemerintah kolonial Belanda dan Inggris pun demikian, dapat menikmati kekuasaanya sambil menghirup angin gunung yang mengalir dari Gunung Salak dan Gunung Gede dengan nyaman, dan dilimpahi hujan yang menyegarkan. Hidup tanpa kesedihan dan kekhawatiran.

Bagaimana dengan keindahan dan kenyamanan Bogor saat ini..?

Hiruk pikuk kemajuan jaman telah melanda Bogor. Kota yang (katanya pernah) indah ini menjadi tempat menginap sebagian pencari kehidupan Jakarta, dan menjadi ladang pembagian materi bagi sebagian lainnya. Kondisi kehidupan ekonomi, interaksi sosial dan budaya (sangat mungkin) telah sangat berubah dibandingkan saat Bogor masih menyandang sebutan “buitenzorg”.

Model pemerintahan saat ini yang “dipilih langsung” oleh rahayat jelata tidak mampu menjamin segalanya menjadi berpihak pada impian keindahan hidup para rahayat yang ber-KTP Bogor. Kebijakan dan peraturan dibuat dengan membawa nama “konstituen” tanpa sadar apa yang diperlukan oleh konstituen sesungguhnya.

Kesemerawutan sosial dan budaya terpampang jelas di pinggir jalan (menurut Eddy PrayitnoChandra ImanAnandita Puspitasari, dan Suria Riza). Kondisi transportasi, baik sarana maupun prasarana, yang tidak pernah terobati dengan baik (menurut Utami Utar dan Miftah Abdillah Akhmad). Pengaturan transaksi perdagangan yang buruk (menurut Erfano Nalakiano dan Jun “Siro” Dieyna). Dan antisipasi kebencanaan akibat bencana alam yang sangat memrihatinkan (menurut Tb. Sjafri Mangkuprawira).

Semua “persoalan kecil” yang telah dibahas oleh rekan-rekan diatas bagaikan kabut pekat dimalam hari. Kegelapan malam ditambah dengan kehadiran kabut akan menjadikan penghuni kota berjalan sangat lambat. Kalaupun dapat berjalan cepat maka dapat dipastikan keselamatan akan terabaikan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Dan kemudian ini bukanlah “persoalan kecil” lagi tentunya.

Bogor hadir bukan untuk menghambat kemajuan penduduknya, tetapi juga bukan untuk menghilangkan “keindahan buitenzorg” yang berlangsung selama berabad-abad lalu.

Kepekaan pemimpin sangat diperlukan. Dan bukan hanya kepekaan tetapi juga kemampuan dan keberanian dalam menentukan langkah (bahasa kerennya: “kebijakan”, berupa peraturan dan aksi). Masyarakat Bogor bukanlah orang yang bodoh dan hanya menyetujui apa yang telah ada dikeseharian. Masyarakat Bogor sejatinya mampu menilai dengan baik apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpinnya dalam mengolah wilayah beserta semua aset-asetnya dengan keberanian dan dilandasi kebenaran. Masyarakat Bogor mampu ikut serta membangun Bogor bersama.

Tidaklah sulit untuk mengatur (baca: membuat perda dan menjalankan bersama) transportasi, perdagangan, sosial, dan budaya. Sekali lagi: tidak sulit. Kemampuan edukasi dari para punggawa pemerintah Bogor (baik Kota maupun Kabupaten) tentunya sudah memenuhi kebutuhan dasar sebagai pemikir yang baik dan mampu bertindak dengan benar.

Demikian pula dengan “para wakil rakyat yang terhormat” di DPRD yang telah berpanjang titel kesarjanaan maupun kerohaniannya, tentunya mampu “sejenak berpikir serius” untuk Bogor dan rakyatnya. Gantungkan jas parpol anda dan bertindaklah segera, konstituen sesungguhnya tidaklah melihat warna bendera anda.

Masyarakat Bogor adalah masyarakat yang dewasa dan sangat mudah untuk digerakkan demi menjadikan Bogor yang “buitenzorg”. Kesungguhan berpolitik para pemimpin dan wakilnya menjadi salah satu kunci penting dalam menjembatani pergerakannya. Gunakanlah politik sebagai kendaraan anda memperbaiki Bogor, janganlah berlaku sebaliknya. Jika politik yang mengendarai anda, maka keturunan anda yang akan menanggung akibatnya, dijamin..!

Pemimpin adalah pelayan yang paling rendah posisinya. Niat dan janji tidaklah cukup tanpa kebersamaan aksi dari semua lini: pemimpin dan terpimpin, kita semua.

Mampukah kita menyibak kabut malam di “Buitenzorg” ini dan menjawab pertanyaan: untuk alasan apa Bogor ada..?

Demikian. : )

*/layar ditutup untuk Grup Hitam… walau rada kocar-kacir… : )

Plagiator melakukan plagiat demi plagiarisme

4 Comments

contekmencontek

Contek mencontek...

Kasus contek mencontek adalah hal biasa dalam kehidupan. Sejak kita mengenal persaingan dalam kehidupan, walau usia masih balita, maka kegiatan mencontek mulai kita lakukan. Dalam bahasa santunnya adalah meniru apa yang dilakukan oleh orang lain.

Persaingan dalam hal apapun, baik menyangkut kehidupan pribadi, SARA, maupun kehidupan antarnegara, maka kegiatan contek mencontek menjadi hal yang lumrah dilakukan. Bahkan taruhan nyawa adalah hal biasa demi bisa mencontek. Berapa banyak percontekan dilakukan oleh “Kelompok Barat” terhadap “Kelompok Timur” dan sebaliknya. Semua dilakukan dengan pembenaran sesuai posisi masing-masing.

Dalam dunia tulis menulis hal ini juga terjadi sejak jaman dulu. Karya tulis pihak lain “dicontek” demi persaingan personal. Untuk kasus ini biasanya persaingan justru bukan dengan pihak yang dicontek tetapi dengan pihak lain lagi. Karya tulis contekan tadi digunakan untuk membuat kesan bahwa “sang penulis” mempunyai kemampuan hebat dan lebih hebat dari pesaingnya, walau yang ditampilkan adalah karya orang lain.

Saat format tulisan dalam jaman dijital, maka pencontekan lebih mudah lagi. Tinggal buka dokumen, melalui dokumen langsung (misal dalam doc, pdf, atau lainnya) atau melalui laman web, lalu salin (copy) dan letakkan (paste) pada dokumen sendiri. Ubah penulisnya menjadi nama sendiri, dan publikasikan pada khalayak dan pesaing… beres…

Artikel yang paling gampang di-”copy-paste”-kan adalah artikel pada blog. Maraknya para penulis memanfaatkan blog sebagai tempat publikasi maka memudahkan para penggemar “copas” melaksanakan hasratnya. Saya yakin, diantara pembaca artikel ini ada yang pernah menjadi korban, dimana karyanya di “copas” oleh orang lain. Dan mungkin juga ada yang berbuat sebaliknya… :D

Saya pernah mengalami dimana posting saya di-copas secara bulat utuh. Salah satunya adalah tulisan yang saya posting 1 Pebruari 2006 dengan judul “Komposisi warna alami ASTER“. Tulisan ini tentang komposisi kanal citra satelit sensor ASTER yang dapat terlihat seperti tampakan warna sebenarnya di alam. Hal ini dikatuhui tanpa disengaja saat iseng memanfaatkan fasilitas “Search Google for…” (dengan cara blok alinea, klik kanan…).

Saat mengetahui, saya langsung mengunjungi dan melihat, wow, tulisan ditampilkan utuh tanpa perubahan apapun, dan tidak ada pemberitahuan sumber sama sekali.

Entah ada berapa kemungkinan lagi jumlah “postingan” yang mengalami hal serupa, saya hampir gak peduli lagi. Eh, pada September 2011 muncul lagi ping back dari pelaku serupa. Karena ada ping back maka dengan mudah saya menelusuri dengan sekali klik. Dan sama juga, tulisan plus gambar terpublikasi secara utuh dilaman blog pelaku. Ahaay…

Artikel yang dimaksud adalah “Sebaran mudik di Latitude“.

Entah apa maksud dari para pelaku ini, saya jauh dari prasangka apapun. Saya pun tidak menanyakan pada mereka apa yang mereka harap dari perbuatannya.

Sejatinya tidak ada hal yang baru di muka bumi ini, keunikan hanya terjadi pada bagaimana mengungkapkannya saja, baik berupa tulisan ataupun lainnya. Dan sebagai manusia yang beradab dan berpendidikan (ehm jadi ingat sosialita yang meributkan kebesaran gelarnya) tentunya etika selalu dijunjung tinggi.

Sebagai “kenangan”, maka laman yang menampilkan tulisan saya tanpa pemberitahuan tadi saya simpan dalam bentuk gambar (screen capture).

Apakah anda pernah mengalami hal “pencontekan” serupa..? Semoga bukan pada sisi pelakunya…

: )

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers