Home

Lokasi Tujuan Wisata Alam untuk Menikmati Liburan bersama Keluarga

Leave a comment

Km Nol Indonesia di Sabang, Pulau Weh.

Tugu Km Nol Indonesia di Sabang, Pulau Weh.

Waktu libur keluarga akan selalu tiba dan setidaknya dua kali setahun. Kemana sajakah tujuan anda dalam berlibur bersama keluarga..?

Bagi yang berkesempatan untuk melewati liburan ke luar kota, tentunya banyak sekali tujuan menarik yang bisa dinikmati. Tapi bukan berarti liburan di seputaran rumah tidak menarik. Banyak hal yang bisa kita lakukan bersama keluarga untuk menikmati liburan dengan positif.

Saya mempunyai beberapa usulan lokasi yang dapat dipertimbangkan untuk keluarga anda kunjungi. Lokasi-lokasi yang saya usulkan adalah lokasi dimana saya dan keluarga pernah menikmatinya. Jauh dekatnya dengan tempat anda tentunya sangat relatif, tergantung dimana anda tinggal saat membaca tulisan ini… *senyum*

Sabang

Sabang adalah kota yang sangat tenar sebagai wilayah terbarat negeri kita. Terletak di pulau Weh, Provinsi Aceh. Terdapat monumen Kilometer Nol Indonesia di sana. Sangatlah mudah untuk menjangkau Sabang walau anda tinggal di luar pulau Sumatera. Untuk lebih detilnya, silakan baca: Cara mudah mencapai Sabang dan apa saja yang dapat dilihat dan dinikmati disana. Beberapa artikel tentang Sabang dapat dibaca pada blog ini. Keindahan Sabang adalah keindahan alami yang sangat menakjubkan. Wisata alam dari puncak gunung, pantai yang indah, hingga salah satu taman laut terindah di dunia ada di Sabang.

Pagaralam

Kota Pagaralam terletak di Provinsi Sumatera Selatan. Kota yang sejuk dan mempunyai banyak sekali lokasi wisata alam. Sangat nikmat untuk pencinta alam pegunungan karena memang wilayah ini terletak di lereng gunung Dempo. Pagaralam terkenal juga sebagai wilayah seribu cugub atau air terjun. Saya telah menuliskannya beberapa artikel pada blog ini mengenai keindahan Pagaralam, silakan klik disini untuk membacanya.

Taman Nasional Gunung Halimun

Gunung Halimun menjadi salah satu tujuan yang tertera dalam buku Lonely Planet. Buku acuan para penikmat keindahan alam dunia. Lokasinya adalah di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di lokasi wisata stasiun Cikaniki kita berada di tengah-tengah hutan belantara dan hadir banyak binatang liar di sekeliling kita. Owa Jawa (sejenis monyet) yang berkelompok, burung-burung hutan yang indah, elang yang selalu hadir di angkasa, dan jika beruntung dapat melihat macan kumbang. Cerita menarik tentang Halimun dapat dibaca di: Berlibur ke TNGH (by defidi), dan Perjalanan ke TNGH (by altair).

Sumedang

Kota Sumedang terletak di Jawa Barat, terkenal akan kuliner tahu Sumedang sejak dahulu kala. Tetapi bukan hanya tahu yang mengundang kunjungan ke sana, juga dikarenakan pemandangan alamnya. Salah satu lokasinya adalah di desa Nangorak, sebelah Selatan kota Sumedang. Sekilas mengenai lokasi wisata agro disana dapat dibaca di: Wisata Agro di Nangorak Sumedang, dan banyak lagi cerita, foto, dan film, silakan klik disini. Jangan lewatkan alam Sumedang nan indah ini.

Danau Beratan

Danau yang sangat terkenal sebagai tujuan wisata, terletak di Bedugul, Bali. Banyak sekali referensi mengenai lokasi yang satu ini, dan saya sempat menuliskannya: Kabut Kaldera Gunung Api Purba di Beratan. Wisata di Bali memang selalu terbayang akan kemahalannya, tetapi jika kita mau maka banyak juga harga yang terjangkau disana. Dan jika anda ke Uluwatu, sayang sekali, lokasi menikmati sunset di karang pinggir laut nan indah ini memerlukan nyali yang tinggi. Tidak percaya? Silakan baca pengalaman saya dan keluarga saat di Uluwatu.

Banyak lagi lokasi yang dapat diusulkan pada anda, dan semua tentunya tentang keindahan lokasi wisata di negeri tercinta ini. Akan saya tuliskan pada waktu lain agar anda fokus dulu pada pilihan di atas…

Utamakan keselamatan anda dan keluarga sambil menikmati dan mensyukuri keindahan alam negeri kita.

: )

Hamparan Karpet Hijau di Lereng Dempo

2 Comments

Kabut di "karpet hijau" perkebunan teh Dempo

Kabut di "karpet hijau" perkebunan teh Dempo

Hijau adalah simbol dari kekuatan alam dalam meluluhkan rasa manusia. Tidak percaya..? Coba rasakan saat anda berada di padang pasir yang luas, maka rasa anda akan jua meleleh. Saat anda berada di hamparan tanah gambut hitam yang luas, maka anda pun akan merasa risih. Tetapi saat anda berada di kehijauan yang luas maka kedamaianlah yang akan terasakan.

Dempo mempunyai hal ini. Suatu hamparan luas berwarna hijau terpapar di lerengnya. Benar, ini tentang Gunung Dempo, sebuah gunung berapi yang berada di jajaran pegunungan Bukit Barisan di wilayah Sumatera Selatan.

Sebagian wilayah Gunung Dempo masuk dalam wilayah administrasi Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan. Lereng gunung ini mempunyai keindahan khas yang telah ada sejak lama. Bentuk permukaan yang berundulasi, naik turun selayaknya lereng gunung, diperindah dengan tanaman teh yang luas. Hijau daun teh membentuk keindahan pandangan dan perasaan siapapun yang menikmatinya.

Perkebunan teh ini ada sejak jaman pendudukan Belanda di tanah air. Pengelolaannya kemudian dilanjutkan oleh PT Perkebunan Nusantara 7, salah satu BUMN di negeri ini. Lokasi ini dapat dijangkau sekitar delapan jam jalan darat dari kota Palembang menjanjikan petualangan wisata yang sangat menarik.

Apa yang dapat dinikmati saat kita berada di wilayah perkebunan teh ini..? Beberapa obyek wisata hadir disini, baik yang bersifat natural maupun buatan.

Tangga 2001, hamparan teh, dan Dempo yang berkabut.

Tangga 2001, hamparan teh, dan Dempo yang berkabut.

Dimulai dari wilayah Gunung Gare, suatu lokasi dimana terdapat perkantoran dari Pemerintah Daerah Pagaralam. Kompleks perkantoran yang unik karena berada di dalam wilayah kebun teh. Bangunan perkantoran yang menjulang bersatu dengan kesejukan dan keindahan bentang hijau di sekitarnya. Kegersangan sangatlah jauh bisa terasa saat kita berada di lokasi ini.

Di sebuah tanah terbuka, terdapat lapang dimana untuk pendaratan dari paralayang, salah satu olah raga yang memadukan pacuan adrenalin dan keindahan pengamatan alam dari udara. Tanah lapang ini didampingi oleh sebuah tangga yang berundak banyak dan tergolong unik. Pada papan petunjuk wisata disebutkan sebagai Tangga 2001, sebagian orang menyebutnya sebagai tangga seribu.

Bentuknya adalah tangga atau undakan yang memanjang dari level rendah ke tinggi membelah pepohonan teh. Lebar tangga ini sekitar 5 meter dan di tiap undakannya terdapat lampu. Lampu akan menyala berkedip saat mana kaki kita menginjaknya, atau menutupi sensor di bagian atas dari lampu tersebut. Undakan yang lumayan banyak dan menanjak tidak kan terasa saat kita menapakinya karena keindahan pemandangan Gunung Dempo menyapa kita langsung. Ya, arah naik tangga adalah arah ke Gunung Dempo. Saat kita berbalik arah, maka pemandangan Gunung Gare dan sebagian dari kota Pagaralam akan terlihat dari ketinggian ini.

Bentangan tanaman teh ini sangat luas. Saat kita menuju ke ketinggian lereng Gunung Dempo maka keindahannya semakin terasa. Kabut kerap hadir dengan setia, dan inilah saat dimana getaran keluluhan hati selalu datang. Kabut mempunyai kekuatan dalam meluluhkan rasa.

Tugu Rimau

Tugu Rimau dan kabut

Apa yang dapat kita temui saat kita mencapai batas ketinggian dari perkebunan ini..? Tugu Rimau akan menyambut kita dengan taman yang asri. Tugu ini berujud seekor harimau Sumatera yang berpakaian adat setempat dan sedang membawa obor. Harimau Sumatera diyakini masih terdapat banyak di wilayah Gunung Dempo dan sekitarnya, walau telah jarang ditemui oleh penduduk.

Patung Rimau menjadi salah satu lokasi wisata sejak dilaksanakannya Pekan Olah Raga Nasional (PON) pada tahun 2004 di Sumatera Selatan. Lokasi ini menjadi salah satu venue dari olahraga yang dilombakan di PON tersebut.

Ketinggian di lokasi Patung Rimau ini, sekitar 1.800 meter dari permukaan laut, membuatnya mempunyai bentang pandangan yang sangat luas. Hijaunya tanaman teh dengan bentuknya yang naik turun mengikuti permukaan lereng adalah keindahan pandangan yang luar biasa, tidak pernah membosankan.

Ketinggian lokasi ini pula berakibat pada pekatnya kabut saat datang menghampiri kita. Batas pandang sangat terbatas dan suhu udara pun bisa menyentuh belasan derajat Celsius.

Seberapa dingin yang dapat kita rasakan di sekitar wilayah ini..? Tentunya relatif, sesuai dengan kondisi saat itu. Yang pernah saya ukur saat malam hari adalah suhu dapat mencapai 16 derajat Celsius. Cukup dingin..? Pastinya…!

Bagaimana dengan fasilitas akomodasi? Penikmat keindahan alam tak perlu khawatir dengan tempat menginap, karena di tengah hamparan pohon teh inni terdapat beberapa wisma yang dikelola dengan baik. Ada yang dikelola oleh pemda setempat, Pemda Pagaralam. Ada juga yang dikelola oleh Pemda Kabupaten Lahat, dimana saat wilayah ini masih menjadi wilayah Kabupaten Lahat maka lereng Gunung Dempo ini menjadi perhatian utama pemda Lahat juga untuk sektor pariwisata.

Penginapan di tengah hijaunya teh dan berlatar Gunung Dempo

Penginapan di tengah hijaunya teh dan berlatar Gunung Dempo

Sekarang mari kita bayangkan, saat bangun pagi dimana matahari dari arah yang berlawanan dengan arah puncak gunung mulai bersinar. Cuaca cerah dan dari penginapan kita bisa menikmati pemandangan puncak Gunung Dempo dengan sangat jelas. Menikmati minuman teh hangat dari teh lokal yang beraroma khas dan nikmat rasanya.

Sementara itu kesibukan para pekerja perkebunan, terutama para pemetik daun teh terlihat sangat ramai, berjalan, naik motor dan sebagian naik kendaraan truk, mengarah ke lokasi tugas masing-masing.

Udara yang segar… Ah apalagi yang bisa mengalahkan suasana ini..?

Teh, dan suasana lereng Gunung Dempo, sangatlah khas. Hijau yang tebal dan menghampar laksana karpet hijau luas yang menyelimuti lereng Dempo. Lokasi yang layak dinikmati sebagai bagian dari cara kita mensyukuri nikmat Ilahi.

Beberapa foto seputaran lereng Gunung Dempo dapat dilihat pada slide berikut:

This slideshow requires JavaScript.

—–

Catatan:

Tulisan ini diikutsertakan meramaikan Pesona Sumatera Selatan yang diselenggarakan oleh komunitas blogger WongKito dalam rangka memperingati ulang tahun Provinsi Sumatera Selatan yang ke 66 pada tahun 2012. Keterangan silakan klik disini.

Menikmati Uluwatu..?

16 Comments

Pura Uluwatu, Bali.

Pura Uluwatu, Bali.

Uluwatu, salah satu tempat eksotik di Pulau Bali dan menjadi tujuan wisata turis dari mancanegara. Lokasi yang menantang dengan tebing cadas yang tinggi menyajikan pemandangan laut yang indah. Uluwatu juga tempat turis berburu keindahan suasana matahari terbenam.

Akhir tahun 2011 saya dan keluarga menuju ke Uluwatu dengan tujuan yang pasti yaitu menikmati pemandangan tebing dan suasana matahari terbenam. Waktu telah diset sedemikian pas sehingga saat sampai di Uluwatu masih dapat menikmati keduanya. Mas Budi, sobat lama kami, membawa kami sekeluarga (saya, istri, Alta dan Qila) sesuai dengan target waktu…

Sejak di tempat parkir mas Budi, yang sudah sangat hafal dengan kondisi Uluwatu, memberikan beberapa perhatian. Terutama terkait dengan keberadaan monyet liar yang katanya “usil” terhadap barang bawaan turis yang menarik perhatian. Kami segera bersiap dengan tidak memakai pernik apapun, termasuk saya yang harus menyimpan kacamata.

Memasuki gerbang suasana nyaman terasa. Sinar matahari sore masih terang benderang. Kami segera menuju ke arah pura di ujung tebing yang terdekat. Jalan setapak yang tidak begitu lebar dan menanjak. Banyak turis lokal dan mancanegara yang tengah menikmati suasana pula.

Perjalanan menapak ke ujung tebing mulai terasa asik karena monyet-monyet liar segera hadir di antara kami. Monyet dengan badan yang besar dan kecil hilir mudik di pagar pelindung di pinggir tebing.

Kondisi yang terasa asik tiba-tiba berubah. Seekor monyet yang relatif bertubuh kecil segera turun dan menarik sendal jepit hitam di kaki kiri Qila. Tarikan yang keras sang monyet dan juga kondisi tak terduga membuat Qila segera melepas sandalnya. Dalam sekejap sandal berwarna hitam tersebut naik pohon bersama sang monyet, eh, monyet segera naik pohon dengan membawa sandal hasil rebutannya tadi.

Karena terlihat berbahaya, saya tidak berusaha “merebut kembali” sandal dari si monyet. kami biarkan dan sekitar lima menit maka sandal dibuang dari atas pohon. Saat saya ambil, kondisi sandal jepit sudah putus talinya dan rusak bolong tengahnya. Wow, begitu ganasnya si monyet tadi.

Aktivitas monyet di Uluwatu.

Aktivitas monyet di Uluwatu.

Untuk melanjutkan perjalanan sore itu, saya segera menyerahkan sandal jepit saya untuk dipakai Qila, sedangkan saya sendiri “nyeker” alias tidak pakai alas kaki. Suasana riang segera menjadi tegang karena ternyata agresifitas monyet-monyet lainnya juga tinggi. Tas punggung yang dipakai istri menjadi target para monyet selanjutnya. Mereka tampaknya tertarik dengan gantungan kunci yang ada menggantung di sana. Segera kami buka paksa gantungan kunci dan menyimpannya. Sementara aman.

Kami segera berjalan ke arah lokasi lain, mendekati lokasi dimana akan ditampilkan tari kecak yang biasanya dilaksanakan sesaat sebelum matahari terbenam. Tebing dan taman yang kami lalui cukup rapi dan pemandangan sangat indah. Ketinggian tebing menyajikan pandangan yang luas dan dapat menyaksikan gulungan ombak yang pecah di pantai dari kejauhan.

Keindahan taman dan pemandangan segera terusik lagi oleh para binatang berekor panjang, sang monyet-monyet, yang tampaknya ada beberapa kelompok. Beberapa sangat agresif mengincar barang bawaan para pelancong, dan beberapa lagi berperang antarkelompok.

Kondisi ini jelas menyurutkan langkah kami, terutama anak saya yang baru saja mengalami hal yang tidak diinginkan. Saya tetap mengondisikan agar menikmati “atraksi alam” yang ada di depan mata. Kegesitan monyet dan reaksi kewaspadaan pengunjung tampaknya justru (kemudian) menjadi hal yang lebih menarik perhatian dibandingkan lainnya.

Saya melanjutkan perjalanan ke ujung tebing lainnya, dekat dengan lokasi tari kecak. Ternyata justru kami kembali melihat “atraksi” lain antara turis dan monyet. Salah satu monyet berhasil merebut kacamata seorang turis (kelihatannya dari Taiwan). Kondisi ini tentunya membuat si turis takut tetapi juga ada keinginan untuk mengambil kembali kacamata miliknya. Tak lama muncul “pawang” dengan membawa buahan (sepertinya anggur?). Dia segera mendekati si monyet sambil memberikat beberapa tangkai anggur. Dan seperti diduga sebelumnya, si monyet “takluk” dan memberikan kacamata kepada sang “pawang”.

Atraksi "pawang" di Uluwatu.

Atraksi "pawang" di Uluwatu.

Para pemirsa segera tepuk tangan melihat atraksi menarik tersebut. Si turis segera mendekat pada “pawang”. Dan… sang pawang memberi “harga” untuk usahanya mengembalikan kacamata tersebut… waaah…

Singkat cerita, sore itu saya dan keluarga lebih “menikmati” atraksi monyet daripada keindahan alam dan suasana temaram matahari terbenam. Kekhawatiran kami (dan juga yang hadir disana) terhadap keagresifan monyet menjadi lebih dominan daripada keinginan utama kedatangan kami ke lokasi tersebut.

Saat pertama saya datang ke Uluwatu, tahun 2005, kejadian serupa juga saya lihat. Dan pada kedatangan saya kali ini justru mengalami sendiri, terjadi pada keluarga saya langsung. Hal ini (semoga tidak) akan menjadi trauma tersendiri bagi anak-anak dan juga saya sendiri terhadap “keindahan” lokasi wisata Uluwatu.

Dalam benak saya, setidaknya saat ini, jika mengingat Uluwatu adalah monyet, monyet dan monyet. Bukan keindahan pemandangannya dan juga bukan keindahan suasana sunset-nya. Entah di benak keluarga saya…

Apakah Uluwatu akan menjadi tujuan saya lagi dalam menikmati sunset di Bali…? Atau menjadi tujuan “petualangan alami” jika memang mau uji nyali…? Entahlah…

: )

Kabut Kaldera Gunung Api Purba di Beratan

1 Comment

Danau di kaldera gunung api purba (Google Maps).

Negeri ini kaya akan gunung api dan juga gunung api purba. Salah satu gunung api purba terdapat di pulau Bali, dan kalderanya menjadi salah satu bentuk keindahan alam yang luar biasa. Kaldera gunung api purba itu menjadi tempat dari tiga buah danau, yaitu danau Beratan, danau Tamblingan, dan danau Buyan.

Akhir tahun 2011 saya berkesempatan menikmati keindahan danau di kaldera purba ini. Danau Tamblingan dan danau Buyan hanya sempat dinikmati dari jauh pada ketinggian view point dengan ditemani oleh banyak kera liar yang bersahabat. Sedangkan danau Beratan (sebagian lagi menuliskannya dengan: Bratan, tanpa huruf “e”) sempat menikmati dalam jarak dekat.

Tiap pencinta wisata nusantara pastilah sudah pernah mendengar tentang “Pura Bedugul”, dan dengan gampangnya dapat kita cari melalui images.google.com untuk mendapatkan gambarnya yang indah. Pura ini mempunyai nama “sebenarnya” adalah Pura Ulun Danu. Sebagian dari bangunan pura terletak terpisah dari daratan, pada dua buah daratan kecil, dan inilah yang selalu hadir dalam foto tentang pura ini. Dipisahkan beberapa meter dari daratan oleh air danau Beratan menjadikannya indah untuk dilihat wisatawan.

Tidak hanya keunikan itu tentunya, kondisi alam sekitar sangat membantu memperindah tampakan dari bangunan pura ini. Danau Beratan yang selalu dihadiri oleh kabut menjadikan nuansa yang sangat indah. Apalagi jika sinar matahari menerobos kabut pada waktu menjelang sore hari, keindahan tampakan pada lokasi tersebut sangat dinantikan.

Dengan ketinggian sekitar 1240-an meter dari rerata muka air laut, temperatur sekitar tentunya cukup dingin, dalam rentang belasan derajat Celcius. Kehadiran kabut yang tak henti-henti cukup mendinginkan sekaligus menghangatkan badan. Saat angin bertiup tentunya badan akan merasa dingin, sebaliknya saat tiada angin bertiup maka kabut justru menghangatkan.

Kehadiran kabut di permukaan danau menjadikannya obyek fotografi menarik sebagai “teman” dari pura yang memang sudah cantik.

Pura Ulun Danu di danau Beratan, Bedugul, Bali.

Menurut cerita penduduk sekitar, yang berjualan di pinggir jalan, Bedugul memang tidak seramai tempat wisata lainnya di Bali. Wilayah ini cenderung hanya sebagai daerah lintasan dari kota Singaraja di pantai Utara Bali, ke daerah lainnya di Selatan (atau sebaliknya). Penikmat biasanya hanya hadir dalam hitungan jam kemudian pergi. Atau bahkan hanya sekedar istirahat dan menghangatkan badan dengan makan bakso sambil menikmati pemandangan danau yang indah.

Di desa Candikuning, yang berdekatan dengan danau Beratan, banyak terdapat penginapan. Dari Hotel kelas tinggi hingga penginapan kelas melati yang cukup baik. Salah satunya adalah Ashram yang mempunyai rate sangat terjangkau dan berposisi sangat strategis dalam menikmati keindahan danau. Pun tak jauh dari pura Ulun Danu, dan juga dari lokasi penduduk atau tempat makan (restoran ataupun warung makan).

Bagi wisatawan yang beragama Islam, di desa Candikuning banyak terdapat masjid, dan tentunya tempat makan halal. Ini karena di tempat tersebut salah satu yang mempunyai komunitas muslim cukup besar. Adanya tempat makan berlabel halal ini tentunya memudahkan kaum muslim dalam menikmati makanan lokal sambil menikmati indahnya suasana dan dinginnya udara.

Menikmati suasana Bedugul...

Akhir tahun merupakan salah satu waktu yang menyenangkan bagi pencinta durian. Durian lokal (katanya sebagian besar dari daerah Singaraja), apalagi yang jatuhan, sangatlah nikmat. Beberapa menyerupai durian monthong impor dari sisi kecilnya biji dan tebalnya daging serta manisnya rasa. Walau dari segi dimensi durian lokal cenderung lebih kecil dari pada durian monthong. Tetapi untuk di desa Candikuning ini, kehadiran durian hanya bisa ditemui disiang hingga sore hari.

Menikmati durian di tengah kabut asik juga tampaknya… : )

*/—–

Terimakasih untuk Isal dan gerombolannya (hehe…) yang telah mengundang ke Bedugul.
Ohya, bagi yang akan travelling di Bali, bisa kontak mas Budi (08155744683) yang bisa antar kemana saja dengan aman dan nyaman… (iklan-dot-com).

Setahun dan kehidupan dimulai kembali

2 Comments

Yang masih bertahan

Tonggak tersisa di Kepuh Harjo, saksi kedatangan "Awan Panas" (pyroclastic flow) dari puncak Gunung Merapi pada Oktober 2010.

Setahun lalu, 26 Oktober 2010, Gunung Merapi mengalami erupsi terbesarnya. Kejadian ini kemudian mengawali banyak hal lain, diantaranya adalah meluncurnya “awan panas” (pyroclastic flow) dari arah kawah ke lereng sekitarnya. Campuran material yang sangat panas menyapu semua yang ada menjadi hangus dalam sekejap.

Oktober 2011, bekas-bekas kedatangan “awan panas” di lereng Merapi masih terlihat. Rerumah yang tersisa masih ada. Begitu juga saksi lain berupa tanaman. Ada yang hanya tinggal batang keringnya saja, ada yang masih mampu bertahan untuk melangsungkan kehidupan.

Pada foto diatas adalah contoh tanaman yang masih bertahan berdiri. Sisi kiri terlihat gosong hitam legam. itu adalah sisi hantaman “awan panas”, atau sisi yang menghadap ke arah puncak Merapi. Sedangkan sisi kanan adalah sisi yang menghadap berlawanan dengan puncak Merapi, sehingga tidak rusak seperti sisi lainnya.

Setahun berlalu, “sisi kanan” tadi mulai terlihat kehidupan baru. Ada warna hijau yang melebar dan menandakan kehidupan kembali ada. Luar biasa…

Tonggak ini saya temukan di desa Kepuh Harjo pada Oktober 2011 lalu, desa yang termasuk terkena kerusakan parah akibat “awan panas” Merapi setahun lalu.

Tanah seribu cughub (ekspedisi Pagaralam bag-2)

1 Comment

Cughup Embun yang cukup tinggi...

Cughup Embun yang cukup tinggi...

Cughub adalah sebutan untuk air terjun. Air sungai yang jatuh dari ketinggian. Terjadi karena banyak penyebab peristiwa alam, dan kadang juga bisa dibuat oleh manusia. Pagaralam kaya akan cughub alami ini.

Kota Pagaralam terletak di kaki Gunung Dempo, yang merupakan salah satu gunung dalam Pegunungan Bukitbarisan. Gunung Dempo masih mempunyai tutupan lahan yang alami, demikian juga wilayah pegunungan di sekitarnya. Hal ini tentunya menjadikan sumber resapan yang luar biasa dari air tanah.

Mata air banyak terdapat di lereng wilayah ini. Hal ini menghasilkan sumber dari sungai-sungai yang sangat banyak. Morfologi pegunungan menjadikan aliran sungai kecil sekalipun dapat menjadi air terjun yang indah saat “terjun bebas” dari ketinggian.

Dari hasil survey yang dilakukan Pemerintah Kota, sampai saat ini telah terdata lebih dari 50 air terjun yang ada di wilayah Pagaralam. Beberapa diantaranya telah menjadi obyek wisata, tetapi masih banyak lagi yang belum tersentuh wisata walau keindahannya luar biasa.

Cughub Mangkok dan cughub Embun adalah contoh yang sudah dikelola dengan baik oleh Pemko. Cughub Mangkok berlokasi di   4° 0’49.37″S - 103°11’18.07″E, di lokasi tersebut dibuat bendungan kecil sehingga menjadi lokasi mandi/berenang alami yang menyegarkan. Terdapat ruang ganti pakaian, dan juga tempat parkir dan kedai makanan ringan.

Sementara itu Cughub Embun ( 4° 0’57.87″S - 103°11’38.71″E) merupakan aliran terusan dari cughub Mangkok. Untuk menikmatinya kita harus turun melalui tangga semen sekitar 30 meter dalamnya. Keindahannya… wow… Di dinding dekat dengan tempat jatuhnya air terdapat gua kecil, dengan bermacam kisah yang melekat… asik. Dinamakan Embun karena percikan air yang terasa dingin sepeti embun. Jika aliran air sedang deras, maka percikan tadi dapat membasahi kita dalam jarak yang cukup jauh. Ini karena ketinggian terjunnya.

Air terjun Mangkok dan Embun merupakan aliran dari sungai Air Parikan masuk dalam wilayah kelurahan Dempo Makmur. Selain itu, dalam kelurahan ini ada juga cughub Tujuh Kenangan dan Penyumpahan.

Bagaimana dengan air terjun yang masih belum tersentuh wisata..? Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah cughub Cungkuk di kelurahan Muara Siban. Air terjun ini terletak di tengah perkebunan kopi rakyat dan hutan sekunder, pada aliran sungai Air Putih Gheni. Untuk mencapainya perlu menerobos pepohonan kopi sekitar 40 meter, kemudian turun tebing dengan kedalaman sekitar 20 meter. Lumayan repot karena memang belum ada jalan atau undakan khusus yang dibuat.

Keunikan air tejun Cungkuk ini adalah ia mempunyai tujuh tingkat jatuhan air. Dan tidak jauh dari air terjun ini (sekitar 20 meter) ada air terjun dari sungai lain yang bergabung di sungai yang sama. Lokasi keduanya adalah di   4° 4’23.20″S - 103°13’42.41″E.

Cughub Cungkuk

Cughub Cungkuk (kiri) dan Kabuan (kanan), berdekatan menyatu menjadi satu aliran

Ada juga cughub yang berasal dari aliran sungai yang besar. Untuk ini sudah banyak dikenal orang dan terlihat jelas dari jalan utama Lahat – Pagaralam. Air terjun ini bernama Air Terjun Lematang Indah, yang merupakan aliran dari Sungai Lematang. Lokasinya di   4° 4’21.92″S - 103°19’22.10″E.

Banyaknya air terjun merupakan salah satu keuntungan tersendiri. Selain dapat dimanfaatkan untuk wisata alam yang menarik, untuk beberapa lokasi dapat juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik mikro/mini hidro. Yang telah dibuat sebagai pembangkit listrik minihidro yaitu di daerah kelurahan Candi Jaya.

Ke Pagaralam tanpa menikmati air terjunnya yang indah serasa belum pas… : )

*/ tulisan bagian-2 dari Ekspedisi Pagaralam
*/ foto-foto dapat dilihat di “Ekspedisi di Pagaralam
*/ peta lokasi foto-foto dapat dilihat di  http://bit.ly/petafotoPGA 

Dirgahayu Indonesia-ku

Leave a comment

Pantai Baluk Rening, Jembrana, Bali

Pantai Baluk Rening, Jembrana, Bali

Tantangan selalu datang meluas,
Tiada kami kan berputus puas,

Rajut bersama semangat membara,
Harumkan tanah-air pusaka.

Dirgahayu Indonesia-ku. Selamat hari kemerdekaan  yang ke-66.

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers