Home

Masjid Taqwa Metro dalam Kenangan

5 Comments


Masjid Taqwa Metro (2008)

Masjid Taqwa Metro (2008)

Masjid Taqwa Metro adalah icon Kabupaten Lampung Tengah. Ini berlaku sebelum terjadi pemekaran wilayah administrasi yang memisahkan Kota Metro dan Kabupaten Lampung Tengah.

Bangunan menjadi icon bukanlah hal yang aneh, apalagi bangunan megah seperti masjid Taqwa Metro ini. Sejak memasuki Metro pada pertengahan tahun 70-an, hingga “pergi merantau” pada pertengahan tahun 80-an, nama bangunan yang paling tercetak dalam ingatan adalah Masjid Taqwa Metro.

Masjid ini mulai didirikan pada tanggal 21 Juli 1967 oleh Masyarakat Islam di Kabupaten Lampung Tengah. Dinyatakan selesai pada tanggal 23 Mei 1969 dan diresmikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, K.H. A. Dahlan. Setelah mengalami renovasi beberapa kali maka pada tanggal 27 Januari 2004 Ketua Yayasan Dakwah dan Pemeliharaan Masjid Taqwa Metro, H. A. Sajoeti,  menyerahkan pemeliharaan pada Pemerintah Kota Metro.

Masjid ini digunakan sebagaimana masjid seharusnya, dimana tidak hanya untuk tempat sholat berjamaah, tetapi juga banyak kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Pada hari Idul Fitri atau Idul Adha biasanya juga dipakai untuk lokasi sholat. Suara adzan dan mengaji sesaat sebelum waktu maghrib tiba dari tahun ke tahun tidak pernah berubah. Lekat dalam memori.

Mengingat masa kecil di masjid ini, yang lokasinya tidak seberapa jauh dari rumah, adalah mengasyikkan. Selain tempat mengenal kemegahan “bangunan islami” yang pertama kali, juga tempat yang menyenangkan untuk “bermain” terutama saat bulan Ramadhan.

Saat hari biasa maka sholat Subuh adalah momen yang menarik. Karena setelah sholat biasanya dilanjutkan dengan lari pagi keliling lapangan Merdeka yang bersebelahan dengan masjid. Lapangan ini, saat itu, masih digunakan sebagai tempat olah raga sepak bola, bola voli, dan atletik.

Tugas Jumat juga merupakan hal asik lainnya, dimana guru sekolah memerintahkan untuk membuat ringkasan khotbah berupa tulisan pada buku yang kemudian dimintakan cap “kantor masjid” sebagai buktinya. Bukan hal gampang meringkas isi khotbah yang biasanya kalah menariknya dibandingkan “ngobrol dengan teman” atau “tidur dalam kesejukan” di masjid megah ini.

Megah, ya, bagi saya ini suatu kemegahan yang dibangun pada akhir 60-an. Susah membayangkan bahwa kubah besar yang disangga oleh 20 pilar dan dinding khas busur mediteranian ini dihasilkan saat itu hanya dalam waktu dua tahun. Atau justru saya tidak perlu heran karena memang pada jaman itu penghormatan pada “rumah Tuhan” adalah hal yang bisa mengalahkan penghormatan pada “rumah sendiri”. Sehingga pembangunan dilakukan dengan kesungguhan hati.

Merehabilitasi total Masjid Taqwa Metro (foto: Tribun Lampung)

Merehabilitasi total Masjid Taqwa Metro (foto: Tribun Lampung)

Pada Maret 2013, dari Harian daring Tribun Lampung didapat berita bahwa masjid Taqwa mengalami rehabilitasi atau pemugaran.

“Rehabilitasi total Masjid Taqwa Kota Metro hanya menyisakan menara lama. Seluruh bangunan masjid dirubuhkan, dan kubahnya akan diganti dengan baru yang lebih lebar menyesuaikan bangunan baru berlantai dua.” (Harian Tribun Lampung, 6 April 2013)

Terbayang kata rehabilitasi, lha kok “hanya menyisakan menara lama”..?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, merehabilitasi mempunyai arti: memulihkan kepada (keadaan) yang dahulu (semula).

Wah, kalau hanya menyisakan menara, maka keadaan apa yang dikembalikan..? Apakah yang dimaksud kemudian adalah keadaan sebelum masjid ada yang berupa tanah lapang..?

Entahlah, apa maksud sebetulnya dari “rehabilitasi” ini, yang jelas masjid megah itupun, saat tulisan ini saya buat, sudah rata dengan tanah. Icon itu telah tercerabut dari akarnya.

Jelas sekali, pada masa rezim siapa icon ini dihilangkan akan saya catat dalam-dalam dan tak akan terlupakan. Rezim ini tentunya mempunyai kebijaksanaan hebat dalam perencanaan “merehabilitasi total” masjid megah ini.

Saat penghancuran kubah. (foto: FajarSumatra.com)

Saat penghancuran kubah, sedih melihatnya. (foto: FajarSumatra.com)

Terakhir kali saya “mendokumentasikan” kemegahan masjid Taqwa Metro ini adalah saat berkunjung tahun 2008 lalu bersama keluarga. Beruntung sekali saat itu anak-anak sempat saya ajak masuk dan saya ceritakan mengenai masjid ini. Setidaknya ada gambaran lekat pada pikiran dan pengalaman mereka mengenai masjid besar ini secara langsung.

Terus terang, salah satu yang mengikat saya dengan kota Metro adalah icon bangunan luar biasa ini. Landmark yang tidak akan pernah tergantikan. Dengan lenyapnya masjid Taqwa ini tentunya berkuranglah kenangan saya akan satu masa indah disaat kecil. Salah satu pengikat itu hilang.

Untuk masyarakat kota Metro, saya ucapkan selamat memiliki “masjid model baru” yang berbiaya 18,7 M. Saya yakin pemilik ide pengganti bangunan icon ini (dan penyokongnya) mempunyai visi luar biasa. Dan semoga ia juga “sempat” memiliki kenangan di masjid Taqwa Metro saat masa lalu.

Beberapa foto saat mampir ke Masjid Taqwa Metro pada tahun 2008 lalu dapat dilihat pada laman: Masjid Taqwa di Kota Metro Lampung.

Jika anda pernah tinggal di Metro, Lampung, dan mempunyai cerita/kenangan tentang Masjid Taqwa Metro, sudilah kiranya untuk menuliskannya dengan ringkas dibawah ini.

_

Sumber foto:

_

Update:

Menikmati Bibir Manado

Leave a comment


Tinutuan di Dego-Dego Cafe, Jl. Wakeke, Manado.

Tinutuan di Dego-Dego Cafe, Jl. Wakeke, Manado.

Manado, kota yang terkenal dengan Empat B. Semua yang pernah ke Manado tanpa merasakan Empat B maka dapat dikatakan serasa belum sampai Manado.

Saya berkesempatan menikmati Empat B. Apa saja Empat B yang wajib dirasakan saat berada di Manado..?

B yang pertama adalah Bubur Manado. Makanan khas dari Manado ini mempunyai nama asli Tinutuan. Menjadi khas karena memang berbeda dengan sajian bubur yang berasal dari daerah manapun di Indonesia. Bubur ini berisi beragam sayuran dan juga umbian. Sebagian rekan saya berolok bahwa bubur Manado seperti “tempat sampah”, karena apapun ada didalamnya. Tapi saya yang baru pertama merasakan langsung suka.

Tinutuan menjadi sajian khas dan jika kita ingin menikmatinya dengan beragam macam sajian maka ada baiknya segera merapat ke Jalan Wakeke. Jalan ini menjadi Lokasi Wisata Kawasan Makanan Tinutuan Wakeke. Banyak rumah makan dan kafe yang menyajikan tinutuan dan pelengkapnya yang beragam, tinggal pilih. Saya berkesempatan mampir di salah satu tempat yang nyaman, Dego-Dego Cafe.

B yang kedua adalah Bunaken. Pulau di muka teluk Manado ini sudah sangat mendunia namanya. Hal ini terkait dengan keindahan taman lautnya yang kaya akan terumbu karang dan para penghuninya, ikan-ikan karang yang sangat indah. Bunaken menjadi andalan pariwisata Sulawesi Utara, khususnya Manado.

Minggu yang cerah di bulan November 2012 memaksa saya untuk menikmati Bunaken bersama rekan-rekan peserta Refresher Course. Walaupun saya tidak memasuki airnya yang jernih, tetapi tetap dapat menikmati mahluk karang yang beragam warna dan bentuknya. Bunaken memang taman laut yang indah.

B yang ketiga adalah Boulevard. Kota Manado mempunyai daerah pertumbuhan untuk perdagangan dan jasa di satu jalan besar bernama Jalan Piere Tendean. Di sepanjang jalan yang menyusuri pantai dan panjang lebih kurang lima kilometer ini terdapat beberapa pusat perbelanjaan besar. Sebut saja seperti Manado Town Square, Mega Trade Center, Mega Mall dan lain-lain ada di kawasan ini. Pelabuhan laut juga terdapat di salah satu sisi boulevard. Jembatan layang yang melompati jalur kapal ke pelabuhan kapal wisata Bunaken pun sedang dibangun megah.

Boulevard menjadi salah satu tujuan belanja dan wisata yang menarik di kota Manado. Kemacetan lalu-lintas pada kawasan ini di malam libur tidak aneh lagi.

B yang keempat adalah Bibir. Bibir Manado menjadi sangat terkenal sejak awal abad 20. Banyak yang mengartikan “bibir” secara harfiah sebagai “bibir manusia”, yaitu bibir perempuan Manado. Tetapi fakta sejarah menyebutkan bahwa yang dimaksud bibir disini adalah bukan bibir manusia.

Sam Ratulangi, salah satu pemimpin pergerakan nasional Indonesia menggambarkan bahwa Manado adalah bibir dari Samudera Pasifik. Posisi yang sangat strategis dari sisi geografis dan geopolitik. Dalam tulisannya yang berjudul “Indonesian in den Pacifik: Kernproblemen van den Aziatischen Pacifik“, diterbitkan pada tahun 1936 di Batavia, ia melihat tentang posisi strategis Indonesia yang berada di bibir pasifik sebagai sebuah keunggulan. Dalam pandangannya Indonesia mempunyai keunggulan geostrategis sebagai negara kepulauan, memiliki prospek untuk berjaya dimasa depan bersamaan dengan kebangkitan Asia Pasifik. (Sumber: Iposnews)

Bibir Manado adalah ungkapan futuristik dari tokoh yang berasal dari Minahasa, menegaskan bahwa bibir Manado bukanlah bibir biasa. Bibir Manado adalah bibirnya Indonesia..!

Dan saya berkesempatan menikmati bibir Manado dengan mengenal ketiga B sebelumnya (Bubur, Bunaken, dan Boulevard) ditambah dengan kondisi kota, alam dan masyarakatnya dalam kegiatan singkat Refresher Course pada bulan November 2012 lalu.

Demikianlah Empat B milik Manado. Jangan lewatkan keempatnya saat anda mengunjungi Manado..!

: )

This slideshow requires JavaScript.

ITC Refresher Course di Manado 2012

1 Comment


Foto bersama menjelang fieldtrip

Foto bersama menjelang fieldtrip

Mempertemukan banyak individu dalam satu kegiatan bukanlah gampang. Apalagi jika para yang bersangkutan telah terpencar pada lokasi yang sangat luas. Kegiatan ITC Refresher Course tahun ini, yang berlangsung di Manado, berhasil melakukannya.

ITC Refresher Course kali ini mempunyai tema kegiatan: “Community based Hazard and Risk Assessment for Spatial Planning in Eastern Indonesia“. Peserta yang mengikuti ITCRC ini terdiri dari para penerima beasiswa dari NFP Belanda “dimasa lalu”, dan juga melibatkan beberapa peserta diluar tersebut.

Peserta berasal dari Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Bali, Papua, Papua Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jakarta. Instansi peserta pun beragam. Secara spasial sebaran asal peserta cukup lumayan luas dan mewakili Indonesia bagian Timur. Kegiatan ini didukung penuh oleh Nuffic Belanda, dan dilaksanakan bersama oleh BPPT, BPBD Provinsi Sulawesi Utara, Universitas Sam Ratulangi, dan ITC Twente. Perencanaan dan pelaksanaan didukung dan difasilitasi oleh Ikatan Alumni ITC Indonesia.

Acara yang dilaksanakan pada tanggal 5 hingga 16 November 2012 ini bertempat di Universitas Sam Ratulangi, terdiri dari kegiatan kelas, kegiatan laboratorium komputer, dan kegiatan kunjungan ke lapangan. Kunjungan ke lapangan dilaksanakan sesuai dengan topik bahasan di kelas, yaitu terkait dengan bencana gunung berapi dan bencana banjir.

Lokasi kunjungan lapangan ke Gunung Lokon di kota Tomohon, lalu ke Pusat Pengamatan Gunung Api PVMBG di Tomohon, dan kemudian ke lokasi banjir di kota Manado yaitu di kelurahan Dendengan Luar kecamatan Tikala.

Danau Tondano yang indah tak lupa dikunjungi saat istirahat siang di tengah perjalanan pada hari kunjungan lapangan.

Kegiatan harian yang penuh dari jam 9 hingga jam 17 sangat menyita energi. Hari Minggu yang hadir pun tidak disia-siakan oleh sebagian besar peserta untuk menikmati keindahan alam di Bunaken.

Saya pribadi senang sekali dapat berkumpul dengan semua rekan-rekan dari banyak daerah, dimana sebagian besar mempunyai cerita “nostalgia” yang sama tentang pengalaman saat hidup di Belanda… : )

Semoga kita bisa terus menjaga hubungan untuk bersama menjadikan negeri tercinta ini lebih baik lagi, terutama di bidang keilmuan spasial.

Album foto kegiatan dapat diakses dengan klik disini.

Beberapa dapat dilihat pada slideshow berikut ini.

This slideshow requires JavaScript.

: )

*/ ———-

Tulisan terkait:

Kawah Gunung Lokon yang berubah bentuk dilihat dari satelit

3 Comments


Kawah Gunung Lokon

Kawah Gunung Lokon, bentuk apa yang anda lihat..?

Gunung Lokon, terletak di Provinsi Sulawesi Utara, menjadi semakin terkenal saat ini setelah menunjukkan aktivitasnya. Setidaknya dalam tahun 2012 ini terjadi letusan beberapa kali yang cukup besar. Ketinggian lontaran lava pijar dari kawahnya sampai mencapai 800-an meter dan abu vulkanik mencapai kota Manado yang terletak sekitar 15 km dari gunung ini.

Gunung yang bertipe stratovolcano ini mempunyai ketinggian sekitar 1.580 meter dari permukaan laut.

Saya berkesempatan mendekat gunung ini pada tanggal 10 November 2012, dan pada tanggal 11 November gunung ini meletus kembali. Ini merupakan letusan kesekian kalinya dalam tahun ini.

Aktivitas gunung berapi yang menarik untuk diamati antara lain adalah perubahan bentuk kawah. Perubahan ini terjadi karena banyak hal, antara lain adalah disebabkan gempa (vulkanik) dan juga letusan besar. Citra satelit merekam bentuk kawah ini dalam beberapa waktu. Dapat kita lihat dengan menggunakan aplikasi Google Earth.

Saya merekamnya dari screen dan dapat dilihat pada slide berikut ini.

This slideshow requires JavaScript.

Untuk melihat kawah Gunung Lokon pada Google Maps, klik disini.

Ohya, jika melihat citra diatas, kira-kira bentuk apa yang terbayang dipikiran anda saat melihat citra tersebut..? Kepala manusia dilihat dari samping..?

: )

Memetakan Blog pada Peta Dunia di Peta Cerita

1 Comment


Peta Cerita - hartantosanjaya.name/petacerita

Peta Cerita, memetakan cerita pada peta dunia.

Peta Cerita ini dibuat untuk menyatukan artikel blog yang terkait dengan lokasi dalam satu rangkaian. Idenya adalah untuk memetakan cerita, foto, dan video pada suatu peta daring. Peta Cerita ini untuk memetakan cerita pada peta dunia.

Ide sederhana ini adalah pengembangan dari berbagai peta daring yang sudah pernah dibuat, antara lain Peta Kuliner pada situs BBM Defidi yang telah dimulai dua tahun lalu. Kali ini adalah untuk meletakkan pin bagi semua cerita atau tulisan yang telah dibuat di berbagai blog yang bertemakan perjalanan, dan tentunya semua terkait dengan lokasi.

Membangunnya cukup dengan memanfaatkan semua fasilitas yang telah ada pada Google Maps. Tidak ada pemrograman khusus lainnya yang dilakukan.

Untuk membuatnya lebih semarak maka dimasukkan juga pin untuk foto dan video.

Cerita yang berhasil di-pin-kan baru sedikit, tetapi (semoga) akan terus bertambah, atau kata Google: and counting

Bagi yang ada waktu silakan mampir, klik saja di Peta Cerita.

: )

*/ terimakasih untuk bli I Made Andi yang sudah mengompori… : )

Ketika Presiden SBY Melambaikan Tangan

8 Comments


Lambaian Presiden SBY pada laskar merah-putih

Lambaian Presiden SBY pada laskar merah-putih.

Menghargai pemimpin adalah suatu kewajiban. Sikap penghargaan pada pimpinan adalah salah satu nilai yang harus selalu ada pada diri orang yang mau dipimpin. Masih adakah nilai tersebut pada diri anda..?

Satu siang yang terik saya melihat adegan menarik. Saat itu saya baru selesai makan soto Kudus daging sapi di warung Soto Kudus Panjunan di seberang JEC (Jogja Expo Center). Tampak “laskar merah putih” alias anak-anak Sekolah Dasar bergerombol di tepi jalan, dengan pakaian lengkap (bertopi) sambil memegang bendera merah putih yang terbuat dari “kertas minyak”.

Tak susah menebak apa yang dilakukan mereka. Anak-anak SD ini (juga terlihat ada yang dari SMP) sedang menunggu lewatnya bapak Presiden SBY. Hari itu, Selasa 23 Oktober 2012, Pak SBY membuka perhelatan internasional di JEC, The 5th Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction (AMCDRR). Acara yang dihadiri oleh Pak SBY sejak jam 9.30, akan ditinggalkan beliau sekitar jam 12.30an.

Beberapa kali anak-anak ini diminta oleh Pak Polisi yang mengatur lalulintas untuk istirahat dulu di warung, tetapi tampaknya mereka tidak sabar. Menanti sebentar di keteduhan warung dan kemudian keluar beramai ke tepi jalan. Demikian berulang kali.

Sampai akhirnya yang dinanti pun akan segera keluar gedung JEC, tentunya akan melintasi jalan dimana anak-anak SD ini berada. Mereka, sang laskar merah putih, segera berbaris di tepi jalan dengan tertib dan santai. Tidak ada komando apapun dari pengawas (guru) mereka yang ikut serta.

Pengawal rombongan presiden keluar, dan anak-anak ini sudah mulai mengibar-ngibarkan bendera kertasnya. Tak berapa jauh mobil sedan hitam berpelat INDONESIA 1 pun bergerak mendekat. Tak dinyana jendela segera terbuka dan melambailah tangan orang nomor satu Indonesia itu ke arah para laskar merah-putih ini. Tak terlalu panjang “barisan” anak-anak di pinggir jalan ini, mungkin hanya sekitar 30 meter, dan sepanjang itulah jendela mobil INDONESIA 1 terbuka dengan lambaian hangat yang ditunggu-tunggu oleh para generasi cilik ini.

Ahai, terlihat wajah-wajah yang sangat berbahagia di laskar ini..!

Walaupun di belakang sedan INDONESIA 1 kemudian melintas sedan hitam berpelat “AB 1” dan tidak sempat membuka kaca mobilnya, hal ini tidak mengurangi sama sekali wajah sumringah para pengibar bendera kertas ini.

Saya menyaksikan dengan terharu. Masih ada warga muda Indonesia yang belajar menghargai (dan mencintai) pemimpinnya. Saya yang (mungkin) sudah teracuni oleh hiruk pikuk politik (murahan) yang diumbar oleh media massa Indonesia merasa malu dengan kepolosan anak-anak ini.

Dari topi merahnya, terlihat mereka berasal dari SD Karangbendo.

“Jika anak melihat Presiden secara langsung, mereka akan punya dorongan. Itu akan memacu mereka.” kata Pak Sunadi, Kepala Sekolah SD Karangbendo bertutur pada Tribun Jogja yang saya baca sehari setelah kejadian.

“Ini pembelajaran nasionalisme kepada anak-anak.” kata Nurul, salah seorang guru yang mendampingi para laskar merah-putih ini.

Yes, pembelajaran nasionalisme, satu ungkapan yang sangat tepat.

Ini adalah hal yang telah hilang terlindas demi semangat “reformasi” dan “politik wacana” yang lebih tertelan mentah-mentah oleh publik melalui para elite yang “tak berhati elite“.

: )

This slideshow requires JavaScript.

Filsafat Bakul Bakmi Djowo Pak Doel Noemani

Leave a comment


Bakmi Djowo Pak Doel Noemani, Semarang.

Bakmi Djowo Pak Doel Noemani, Semarang.

Bekerja dengan dilandasi oleh filosofi tidaklah bisa dilakukan oleh semua orang. Filosofi yang dimaksud disini adalah teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan. Dengan adanya filosofi maka diharapkan semua gerak ada dasarnya, baik dari sisi mental maupun spiritual.

Saat berkunjung ke Semarang, saya berkesempatan mampir di warung Bakmi Djowo Pak Doel Noemani cabang Jalan Pemuda (seberang Hotel Paragon).

Saat pemesanan dilakukan, dan proses ini memerlukan waktu karena harus antri, saya melihat selembar kertas berwarna kuning berlaminating. Iseng saya baca, dan ternyata lembaran ini bukanlah menu seperti biasanya. Lembaran ini adalah tentang filosofi yang mendasari Bakmi Djowo Pak Doel Noemani melangkah.

Jika saya tuliskan ulang dari lembaran tersebut, maka seperti berikut ini:

  • Dadiyo wong kang murakabi marang sapodho-padhane
  • Ojo Gumampang lan gampangake, senajan iku satemene pancen ora angel.
  • Eleking sariro ojo siro merekake, jalaran iku pancen peparinge gusti kang Moho Kawoso.
  • Lan mugo-mugo biso lancar anggonmu nggolek pangupo jiwo.
  • Nanduro pakerti kang suci, karaben dadi manungso kang utomo.
  • Ojo siro rumongso biso, nanging kudu bisoa rumongso.
  • Elingo marang gusti kang moho kawoso, jalaran siro kapurba saben dino.
  • Manungso iku mung sadermo, mulo kudu sabar, sareh, narimo, lan cepak ing apuro.
  • Asesanti mugi lestario anggen kulo dagang bakmi djowo.
  • Niat kulo kangge bangun kulo wargo, murih raharjo lan bagyo mulyo.
  • Ing pangesti hamung nyenyuwun sih wilasaning gusti mugi kasembadan sedyo kulo, sinareng tekad kulo paring tetenger “Bakmi Djowo”

Perhatikan huruf yang mengawali semua kalimat diatas, membentuk tulisan: Doel Noemani.

Terus terang saya tidak mengerti secara utuh arti dari tiap kalimat diatas (ada yang bisa bantu?). Tetapi saya yakin ini adalah filsafah yang mendasari Pak Slamet Siswo Harjono dan keluarga dalam membaktikan diri pada dunia kuliner.

Foto dan peta lokasi Bakmi Djowo yang saya datangi dapat dilihat di laman Wisata Kuliner – Bakmi Djowo Pak Doel Noemani Semarang. Sila mampir dan rasakan nikmatnya.

: )

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 906 other followers