Home

Kepergian Orang yang Tidak Saya Kenal

Leave a comment


Pergi adalah menginggalkan suatu lokasi, sedangkan kepergian biasanya bisa berarti banyak. Kata kepergian lebih sering dibaca atau diungkapkan untuk hal yang lebih terhormat, setidaknya itu yang saya lakukan selama ini.

Awal bulan Februari tahun ini, 2013, saya merasakan kembali suatu kepergian. Kali ini adalah kepergian dari rekan, sahabat, sekaligus orang tua… yang tidak saya kenal.

Ia adalah orang yang tidak saya kenal, bagaimana bisa saya merasakan duka yang mendalam saat mendapat berita beliau telah pergi, untuk selama-lamanya..?

Saya mengetahui beliau pertama kali adalah pada 24 Agustus 2008 dalam satu pertemuan antarblogger yang sebagian besar hadirin tidak saling mengenal. Ya, karena pertemuan pertama dari orang-orang yang biasa hidup daring adalah memang demikian. Saat itu adalah pembentukan komunitas Blogger Bogor. Beliau tidak bisa mengikuti pertemuan hingga akhir, tetapi disanalah saya mulai tahu beliau.

Perjalanan hari kemudian semakin membuktikan bahwa saya tidak mengenal beliau, seperti misalnya: begitu banyak karya tulis populer yang beliau hasilkan melalui media blog yang bernama “Rona Wajah“. Saya yang mencoba mengikuti dan ikut berdiskusi pada beberapa tulisan beliau akhirnya menyerah, karena memang tidak mampu lagi menampung ide dan pemikiran sederhana yang selalu ditumpahkan pada artikel-artikelnya.

Sempat terbersit pemikiran bahwa beliau ini memang nggak punya kerjaan lain selain menulis dan menulis, tetapi pemikiran tersebut punah sejalan dengan waktu. Beliau banyak berjuta pekerjaan lain tetapi memang mempunyai hobi menulis yang luar biasa. Ia menggilai berbagi melalui segala media.

Beberapa kali saya bertemu beliau dalam acara ramah tamah luring (kopi darat) di rumah atau di kebun dan kolam pancing beliau. Gaya ramah dan rendah hati selalu ditampilkan dengan senyum dan celetukan cerdas. Ia tak kalah dengan kami, rombongan sirkus blogger, yang datang dalam pertemuan luring tersebut, canda dan tawa selalu hadir. Tiada jarak yang terlihat antara orang yang telah mencapai tingkat dan penghormatan pendidikan tertinggi (Profesor) dengan saya yang masih seperseratus air di gelas pendidikan pun belum terteguk.

Ia senang diajak berdiskusi serius “tingkat tinggi” dan tetap nyambung saat diajak bercanda ala abege. Hal ini semakin membuat saya tidak mengenal “sosok seperti apakah beliau” ini.

Dalam jejaring sosial, beliau sangat aktif dengan Facebook. Status beliau di Facebook tentang masalah aktual sering saya ikuti dengan ikut memberi komentar atau sekedar memberikan persetujuan dengan jempol. Dan seperti saat mengikuti Rona Wajah, akhirnya saya tidak sanggup lagi mengikuti status beliau, yang selalu mengalir dengan deras dan kencangnya.

Tidak semua pendapat beliau saya setujui, beberapa saya sangkal dan hebatnya beliau selalu membuka diri dengan apapun komentar yang mampir dalam statusnya.

Dalam media sosial Twitter beliau juga mempunyai akun, @SMPrawira, dan memang belum terlalu aktif di jalur ini. Saya ingat saat beliau mengutarakan keingnan bermain di jalur 140 karakter ini, sempat meminta pandangan dan keterangan saya mengenai perbedaan dengan media sosial lainnya (Facebook, atau blog). Saat beliau memulai kiprahnya di twitter, sekitar April 2012, terlihat ketidaknyamanan yang sama dengan semua orang yang terbiasa menulis panjang terpaksa hanya 140 karakter saja. Beberapa kali beliau memerhatikan tweet saya dan kemudian mendiskusikan saat pertemuan luring, dan tampaknya memang beliau belum bisa menyesuaikan kepadatan kata dalam berkicau di twitter.

Pak Sjafri, demikian nama yang biasa saya gunakan dalam menyapa beliau, akhirnya menjadi sosok yang benar-benar tidak sempat saya kenal, ketika pada hari itu, Rabu, 6 Februari 2013, hampir semua kanal daring yang saya ikuti memberitakan kepergian beliau.

Kehilangan yang sangat untuk sosok yang tidak saya kenal.

Selamat jalan pak Sjafri Mangkuprawira. Berjuta doa dari setiap kata bermakna yang telah anda bagi pada kami akan terus mengalun dan bergetar mengiringi mu ke tempat terindah yang dijanjikan Nya.

Arah Perjalanan Anda dan Saya saat Blogwalking

1 Comment


Rambu untuk Blogwalking

Rambu untuk Blogwalking

Sesuaikan arah blogwalking anda:

  • Padang Zaitun: rangkaian kata-kata saat galau dan fakir hati.
  • The Flying Dosen: tulisan untuk dunia pendidikan dan opini.
  • Travel Notes: koleksi foto, lokasi dan informasi singkat menarik untuk perjalanan.
  • Catetan Kecil: tulisan ringkas dunia remote sensing, GIS, perjalanan, seni, foto, fotografi, astronomi, dan cerita keluarga.
  • Kemana Saja: taut untuk kunjungan acak yang selalu menjanjikan artikel menarik dan tak terduga.

Ayo perhatikan rambu, jangan sampai tersesat.

: )

Jendela kecil yang besar

2 Comments


Siapa yang tidak mengenal internet saat membaca tulisan ini? 99% kemungkinan pembaca tulisan ini telah mengenalnya. Sadarkah kita saat membaca ini seolah melihat dari jendela kecil yang besar..?

Jendela kecil yang dimaksud adalah layar monitor atau hape atau tablet anda. Dari jendela ini kita bisa melihat banyak hal dalam beragam bentuk. Kita bisa melihatnya dalam format teks, gambar, ataupun film. Semua bisa dinikmati sesuai dengan keinginan.

Kehadiran aplikasi media sosial semacam Friendster, Facebook, Twitter, LinkedIn, dan lain-lain menambah kekayaan konten jendela kita tadi.

Dan mulailah kita menaruh banyak properti pribadi menjadi bagian dari konten jendela. Pertama-tama adalah nama kita atau sebutan keren atau sebutan diri supaya keren yang kita tampilkan. Lalu sejarah singkat kita dimulai dari kelahiran hingga pendidikan terakhir. Juga kesukaan kita akan buku, film, dan lain-lain kita tampilkan semua.

Dalam perjalanannya, kita dengan suka hati menyatakan pada “dunia” mengenai status kita. Status dapat berisi pendapat, uneg-uneg, berita bahagia, kemarahan, bahkan makian. Tidak jarang juga hanya diisi dengan satu kata yang tidak bisa dimengerti artinya.

Kitapun dengan sukahati ikutserta memperkaya jendela orang lain. Kita memberikan kata-kata berupa ucapan, pendapat, atau kadang respon yang “gak jelas”. Sering juga kita memberikan tautan film atau laman yang kita anggap (tidak) perlu tampil di jendela teman.

Semua itu kita lakukan tanpa lagi dibatasi waktu yang berjatah 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Kapanpun kita sempat “membuka jendela” maka segeralah kita menambahkan kontennya. Begitu perhatiannya kita akan perubahan dan penambahan konten jendela kita.

Lalu, bagaimana sebenarnya yang kita lakukan saat kita tidak sedang “membuka jendela” alias berada dalam dunia nyata..? Apakah yang kita lakukan serupa dengan saat menatap “dunia lain” di seberang “jendela” tadi..?

Apakah kita dengan sukarela memberitahukan pada teman dan tetangga tentang aktivitas yang sedang kita lakukan..?

Saat ada tetangga lewat depan rumah, apakah kita memberitahu: “gw lagi nunggu kereta”, pasti yang lewat tadi bingung: emangnya lu di stasiun..?

Saat ada teman datang, langsung ngomong: “gw lg ng*pil nih…”, pasti si teman langsung menjauh.

Saat ada orang yang belum dikenal tanya nama kita, bukannya langsung jawab tapi pasti kita langsung berpikir: siapa lu nanya2 nama gw..?

Kalau dia langsung tanya tanggal lahir, maka kita pasti akan cuekin sambil ngedumel: emangnye lagi ada sensus penduduk.. pake nanya nama ama tanggal lahir segala.

Saat ada tetangga yang intip dalam rumah kita, pasti kita langsung usir sambil nyentak: ngapain lu intip rumah gw..

Begitulah…

Semua yang kita lakukan pada kehidupan nyata banyak sekali yang berbanding terbalik dengan kehidupan di balik jendela monitor kita.

Semua yang kita tutupi dengan rapi dan rapat, dapat seketika kita umbar lewat jendela “media sosial” dengan harapan semua friends dan followers kita tahu segera. Bahkan mengharap mereka merespon dengan segera. Semakin heboh semakin membuat kita senang.

Yang kita lakukan adalah ibarat sedang duduk dalam ruang yang gelap sambil melihat bola dunia yang terang di depan kita. Kita tidak ingin dilihat oleh orang lain di sekitar kita, tetapi kita ingin tampil di dunia dengan wujud yang kita inginkan.

Sudah terlepaskah kepercayaan diri untuk menjadi diri sendiri..?

Jawabannya ada pada perilaku kita masing-masing tentunya.
: )

*/ belajar nulis di dalam bis saat kemacetan pagi memasuki ibukota Jakarta.

Kisah “anak Sabang” di Kebon Marica

10 Comments


Anak Sabang di Kebon Marica

Anak Sabang di Kebon Marica

Delapan Mei 2005, sekitar pukul 15:45, sebuah kapal cepat merapat di pelabuhan Balohan, Pulau Weh. Setelah menunggu beberapa saat, saya melihat “seorang tua” berjalan agak tertatih, melangkah di dermaga apung. Setelah melewati pemeriksaan KTP oleh petugas keamanan, ia saya dekati segera.

Sosok di depan saya adalah “orang sepuh” yang “nekad” hadir pada acara yang kami (RSGISForum) adakan, yaitu Seminar Nasional dan Pelatihan RS/GIS dalam rangka pascabencana gempa dan tsunami Aceh, di Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh.

“Saya panitia yang menjemput Bapak”, kira-kira itu yang saya ucapkan. Beliau tersenyum ramah dan menjabat tangan dengan erat. Kami segera menuju mobil sedan yang disediakan khusus untuk “orang tua” ini. Bang Ali Taufik (Alto), rekan saya, yang membawa sedan tersebut, sedangkan “orang tua” tadi, yang bernama Jacub Rais, duduk di belakang bersama saya.

Kami segera terlibat dalam pembicaraan hangat, terasa sekali ia tidak canggung bicara dengan saya dan bang Alto yang umurnya dua generasi dibawah beliau. Saya langsung tawarkan tantangan kepada beliau.

“Pak Jacub, apakah Bapak masih ingat dimana rumah tinggal Bapak dulu, saat di Sabang..?”

Dengan yakin beliau menjawab, “Masih, ayo kita cari bersama”. Dan kami segera meluncur memasuki Kota Sabang.

Petunjuk pertama dari beliau adalah: “Saya dulu lahir dan tinggal di Kebon Marica”.

Bang Alto segera membawa kami melewati Jalan Yos Sudarso, memasuki Jalan Teuku Umar. Ah, beliau mulai bercerita, sambil melihat bangunan Rumah Sakit di depan kami. Beliau mengenali bangunan yang telah ada sejak jaman Belanda tersebut.

Kami memasuki Jalan Malahayati yang menyusuri Pantai Kasih yang indah, ke arah sisi Teluk Sabang. Kami melewati Ujong Masam, kemudian memasuki Lho Panglima, hingga akhirnya mendekati depo Pertamina di sisi kanan. Tidak jauh tampak bangunan-bangunan pergudangan di sisi kanan jalan yang ternyata mempunyai banyak cerita di benak pak Jacub.

Memasuki Kebon Marica, bang Alto segera belok ke kiri, memasuki jalan Cut Ali. Jalan ini adalah jalan mendaki yang menuju ke Hotel Sabang Hill, sebuah hotel di puncak bukit yang mempunyai lokasi pandangan terbaik ke Teluk Sabang yang teduh. Mobil segera bergerak pelan, dan pak Jacub segera meminta bang Alto untuk belok ke kanan sekitar 150 meter setelah memasuki jalan ini. Ia mulai memerhatikan sekeliling dengan seksama.

Sekitar 100 meter kemudian ia meminta bang Alto berhenti. Beliau turun, dan setengah kami bantu, karena tampak letih setelah perjalanan jauh dari Jakarta – Banda Aceh – Sabang, ia melangkah pasti ke satu rumah. Melintasi sebuah lapangan bulutangkis, kemudian ia berhenti dan berkata dengan pasti: “Ini rumah dimana saya dulu tinggal”.

Tampak sebuah rumah semi permanen, bentuk biasa saja, yang merupakan rumah “pavilion” di depan rumah induk, masih tegak. Rumah induk yang ditempati pak Jacub dulu ada di belakang rumah ini, tapi tampaknya sudah tidak ada lagi bangunannya sekarang.

Pak Jacub bertanya pada orang yang ada di dekatnya. Ia menanyakan sekaligus menceritakan banyak hal tentang lingkungan itu pada kami dan orang yang ada disana, dan dibenarkan oleh mereka.

“Dulu di depan sini ada pohon anu, betul nggak,” dan dibenarkan oleh si bapak penghuni rumah disana, dibarengi keterangan bahwa pohon tersebut sudah ditebang beberapa tahun lalu.

“Di simpang situ, dulu ada pak Anu, ia jualan pecel, tapi anak-anaknya semua berhasil jadi sarjana. Dimana keluarganya sekarang..?”

“Oh keluarga bapak anu tersebut sudah pindah ke Aceh daratan Pak,” jawab yang ditanya.

Pak Jacub terus bercerita tentang masa kecilnya disini, di lingkungan ini. Saat mana orang tuanya yang berdarah Madura bekerja di bengkel kapal (galangan), dan ia sering ikut serta bermain di sana. Galangan kapal raksasa adalah di gudang-gudang besar yang terlihat tadi.

Sabang adalah pelabuhan laut dengan kondisi laut terbaik ketiga di dunia versi Belanda. Disinilah Belanda membangun galangan kapal raksasa. Teluk Sabang sangat mendukung, dimana kedalaman dasarlautnya sangat dalam, dan tempatnya terlindung dari ombak ganas Samudera Hindia. Dekat pula dengan jalur lalulintas internasional yang melewati Selat Malaka. Sangat strategis.

Kenakalan beliau saat kecil pun diceritakan pada kami… Ah… ternyata Jacub kecil sama saja dengan anak-anak lainnya…

“Si sepuh” ini juga bercerita saat mana ia menyaksikan iring-iringan kapal perang sekutu melewati selat Malaka. Ia dapat menyaksikan itu di puncak bukit di belakang rumahnya, dimana di sana dibangun “sign-post” oleh Belanda. Suatu pos penjagaan laut berlokasi di titik tertinggi di Sabang, dimana di sana dapat memantau semua kapal yang akan lewat atau berasal dari Selat Malaka. Ia sangat cerah ceria menceritakan semua itu kepada kami.

Ada juga episode dimana Jepang mulai memasuki Sabang. Tentara Jepang menyerang dengan menghujani pantai dengan peluru-peluru meriam. Jacub kecil bersama keluarga dan tetangganya segera menaiki bukit di belakang rumahnya dan berlindung di baliknya, hingga serangan reda.

Tampaknya, saat itu, sang Profesor kelahiran Sabang 18 Juni 1928 ini seolah membuka kembali kehidupan kecilnya di Kebon Marica. Satu demi satu halaman kenangan beliau diutarakan kepada kami. Kemampuan ingatan yang jernih dan detil membuat kami semua terkagum-kagum.

Kunjungan kami sore yang cerah itu diakhiri dengan sebuah foto, dimana Pak Jacub berdiri di depan “rumahnya”. Tampak sekali keharuan dan kesenduan dimukanya…

Si “Anak Sabang” itu, Senin, 28 Maret 2011, telah berpulang ke Sang Pencipta. Sang pelaku sejarah Indonesia yang banyak terlibat dalam pembangunan Geomatika di Indonesia telah melangkah pergi untuk selamanya. Salah satu saksi kunci dari “insiden Sipadan dan Ligitan” inipun telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Profesor dan Guru Besar di Institut Teknologi Bandung, dan Honorary Fellow ITC Belanda, yang selalu enerjik dan ramah inipun telah tiada di antara kita lagi.

Selamat jalan Pak Jacub, selamat jalan anak Kebon Marica…

—–

Peta beberapa lokasi dalam cerita diatas, sila klik disini.

Kabar kabari dari Cimprengs

15 Comments


Follow meDi tengah berita bencana dimana-mana, menerima kabar dari rekan dan sahabat akan kondisi yang sedang dialami adalah bersuasana tersendiri. SMS merupakan salah satu penerobos dan pengantar berita cukup efektif. Ada berita baik, ada juga yang kurang baik, tapi alhamdulillah gak ada yang buruk.

Pertama dari pak Asparagus di Cibubur: “Ga sih tapi sama aja tetap ga kema na mana dah 3 hr dirumah ha ha”; termasuk korban tak langsung dari banjir Jakarta, tidak bisa “keliling cari sewa” karena semua jalan utama Jakarta bermasalah. More

Untuk Yeyet dan Asep

13 Comments


Hari Sabtu, 8 April 2006, bertempat di Tajur, Bogor, sahabat kita telah melangsungkan pernikahan:

Yeyet Rohayati dengan Asep Syarip Hidayat, S.Ip.

Bagi rekan-rekan yang berkesempatan datang, dan juga yang berhalangan hadir, silakan isi ucapan untuk kang Acep dan mempelai melalui halaman ini. Nanti akan saya kirimkan ke yang bersangkutan, sebagai kenang-kenangan.

Ini gambar kang Acep dan mbak Yeyet sehari setelah pernikahan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 886 other followers