Home

Caring – Mengubah folder Google Drive di PC

1 Comment


Google Drive

Google Drive

Sebagai pengguna Google Drive, yang dulu saya kenal dengan Google Docs,  berbagi file adalah salah satu opsi. File dan struktur penyimpanannya yang berada di “cloud” Google Drive dapat kita sinkronisasi secara otomatis dengan yang ada di komputer.

Kesulitan yang saya temukan saat menggunakan Google Drive di komputer adalah mengatur letak file. Lokasi default-nya adalah di C:\Users\[your name]\Google Drive. Saya tidak ingin file-file Google Drive tersimpan dalam folder tersebut dan ingin memindahkan ke folder lain untuk kerapihan penataan. Berbagai cara sudah saya lakukan tetai tetap nggak menemukan pengubahan set dari folder Google Drive.

Tapi, setelah saya ke klinik TongPang, file-file saya di Google Drive bisa saya alihkan ke folder lain…

Sebagai catatan pribadi, caranya demikian:

  1. Klik pada ikon Google Drive di kanan bawah task-bar Windows (biasanya terletak disini, kalau belum dimodifikasi).
  2. Pilih Preferences, dan pilih Disconnect account (jangan khawatir, file tetap aman).
  3. Klik ikon Google Drive lagi, lalu sign in, ikuti hingga screen ke-2, kemudian klik Advanced setup.
  4. Klik Change untuk mengubah nama folder dan lokasinya. File-file akan tersinkronisasi otomatis ke lokasi baru ini. File-file pada lokasi yang lama silakan dihapus.

Google Drive salah satu pilihan dalam bermain di-cloud.

Semoga berguna. : )

Kawah Gunung Lokon yang berubah bentuk dilihat dari satelit

3 Comments


Kawah Gunung Lokon

Kawah Gunung Lokon, bentuk apa yang anda lihat..?

Gunung Lokon, terletak di Provinsi Sulawesi Utara, menjadi semakin terkenal saat ini setelah menunjukkan aktivitasnya. Setidaknya dalam tahun 2012 ini terjadi letusan beberapa kali yang cukup besar. Ketinggian lontaran lava pijar dari kawahnya sampai mencapai 800-an meter dan abu vulkanik mencapai kota Manado yang terletak sekitar 15 km dari gunung ini.

Gunung yang bertipe stratovolcano ini mempunyai ketinggian sekitar 1.580 meter dari permukaan laut.

Saya berkesempatan mendekat gunung ini pada tanggal 10 November 2012, dan pada tanggal 11 November gunung ini meletus kembali. Ini merupakan letusan kesekian kalinya dalam tahun ini.

Aktivitas gunung berapi yang menarik untuk diamati antara lain adalah perubahan bentuk kawah. Perubahan ini terjadi karena banyak hal, antara lain adalah disebabkan gempa (vulkanik) dan juga letusan besar. Citra satelit merekam bentuk kawah ini dalam beberapa waktu. Dapat kita lihat dengan menggunakan aplikasi Google Earth.

Saya merekamnya dari screen dan dapat dilihat pada slide berikut ini.

This slideshow requires JavaScript.

Untuk melihat kawah Gunung Lokon pada Google Maps, klik disini.

Ohya, jika melihat citra diatas, kira-kira bentuk apa yang terbayang dipikiran anda saat melihat citra tersebut..? Kepala manusia dilihat dari samping..?

: )

Pertanian Kita Berjalan Dijaman Nonteknis

3 Comments


Pertanian

Petani dan pertanian.

Diskusi adalah kegiatan yang bersifat terbuka dalam mengolah buah pikir pesertanya. Diskusi kelompok terfokus, atau lebih dikenal dengan sebutan Focus Group Discussion (FGD) mempunyai bentuk menguras pemikiran peserta yang lebih efektif dibandingkan metode lainnya saat ini.

Dalam suatu kesempatan saya mengikuti sebuah FGD menarik di satu instansi pemerintah. Topik utama adalah mengenai intervensi yang dapat dilakukan untuk adaptasi pertanian terkait dengan isu perubahan iklim. Peserta hadir dari beberapa Kementerian, lembaga riset, dan lembaga swadaya masyarakat.

Isu yang diangkat dalam diskusi ini adalah dampak perubahan iklim terhadap usaha pertanian tanaman pangan padi, yang perlu dilakukan untuk aksi adaptasi, efektivitas penyebaran informasi pada pengguna akhir, dan potensi intervensi dalam mengisi kesenjangan informasi yang ada.

FGD berjalan menarik, dimana moderator dari FAO memberikan aliran diskusi yang berimbang. Informasi dari kementerian terkait, masukan dari lembaga riset, dan juga dari LSM semua diakomodir dalam satu alur yang positif. Terungkap banyak hal positif yang telah dilakukan oleh berbagai instansi di Indonesia terkait dengan isu yang diangkat dalam FGD ini. Hal negatif pun dibicarakan dan dicarikan klarifikasi dari peserta yang hadir, jika memungkinkan.

Tersebut banyak hal menarik (bagi saya), seperti dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan, target surplus beras untuk tahun 2014, keberadaan Inpres No. V Th 2011 tentang Pengamanan Produksi Beras Nasional dalam Menghadapi Kondisi Iklim Ekstrim. Selain itu juga mengenai teknologi adaptasi yang diharapkan dapat dengan mudah diserap oleh para petani, atau masyarakat pertanian di Indonesia.

Adanya SLI (Sekolah Lapang Iklim) yang bertujuan memberdayakan petani sesuai dengan kondisi lokal juga sangat menarik. Dan tentunya, keberadaan SLI yang bersumber dari berbagai pihak juga menarik diperhatikan terkait dengan isu sinergi dan tumpang tindih kegiatan. SLI diadakan pada daerah endemik kekeringan/kebanjiran, sedangkan SL-PHT diadakan di daerah endemik serangan OPT.

Keberadaan varietas padi yang lebih dari 240 varietas tentunya merupakan kekayaan luar biasa bagi pertanian tanaman pangan Indonesia. Penggunaan dan distribusi varietas unggul terkait dampak atau kondisi banjir/kekeringan masih menjadi kendala.

Banyak hal teknis yang menarik perhatian saya, sebagai “bukan orang pertanian”, dalam FGD ini. Kegiatan yang terkait peningkatan produksi pertanian dan juga antisipasi dampak perubahan iklim dari berbagai pihak ternyata juga sudah sangat banyak. Simpulan dari moderator pun, sebagaimana biasa, tidak mengikat dan membuka kesempatan untuk kondisi yang lebih baik dimasa mendatang dengan kata kunci sinergi dan bla bla bla.

Sebelum simpulan diucapkan, salah satu peserta yang merupakan “orang lapangan” dunia pertanian Indonesia menjawab pertanyaan mengenai kondisi pertanian saat ini, dan poin yang saya ingat adalah: pemimpin wilayah daerah pertanian tidak mempunyai kebanggaan mengenai pertanian lagi, karena yang lebih menjadi kebanggaan saat ini adalah kemenangan politik untuk diri sendiri atau kelompoknya. Akibatnya tentunya adalah semua kebijakan tidak mencerminkan peningkatan pertanian secara keseluruhan.

Saya cukup tertegun saat mendengar sang Bapak ini membandingkan kondisi pertanian saat ini dengan jaman Presiden Soeharto.

Ah… ternyata dia lagi…

Humor ala Google Maps – Get Directions

7 Comments


Google Maps

Google Maps – Get Directions

Seperti kita ketahui salah satu layanan pada Google Maps ini adalah untuk mengetahui langkah yang harus ditempuh dari satu lokasi ke lokasi lain yang kita tentukan. Google Maps akan memberi tahu kita dengan cukup detil kemana saja kita harus berjalan. Misalkan dari Bogor ke Jakarta, maka kita akan dibimbing kemana saja kita harus mengarah.

Tetapi canda pada Google selalu ada. Demikian juga dalam layanan Google Maps ini. Sejak 2010 hingga saya akses hari ini ternyata humor itu masih belum hilang. Mau coba?

Ikuti langkah berikut ini:

  • Kunjungi Maps.Google.com
  • Klik “Get directions” pada kolom kiri
  • Isikan pada A: Japan
  • Isikan pada B: China
  • Klik “Get directions”

Setelah selesai tampil semua, baik peta maupun petunjuk arah pada kolom kiri, silakan gulung ke atas directions pada kolom kiri. Perhatikan mulai dari langkah (nomor) 40. Lalu apa saran Google pada langkah selanjutnya?

: )

———-

Artikel terkait:

Berbagi dengan Menggambar Hujan di Peta Nusantara

2 Comments


banjir sejenak

Banjir sejenak di depan rumah.

Berbagi informasi melalui media internet bukanlah hal yang luar biasa lagi. Banyak yang (mengaku) sebagai jurnalis lepas dan mewartakan segala hal melalui blognya, dan hal ini telah mengubah cara kita mengekspresikan banyak hal pada dunia. Segala hal dapat kita informasikan pada siapapun melalui internet. Bagaimana dengan informasi kondisi sekitar yang relatif sangat cepat berubah..?

Hujan pada umumnya terjadi tidaklah lama. Durasi hujan yang pernah saya alami hanya beberapa detik hingga beberapa jam saja. Tetapi yang relatif sebentar itu ternyata dapat berakibat yang luar biasa. Yang paling sederhana adalah terjadinya genangan akibat limpasan permukaan yang tidak bisa lagi ditampung oleh got depan rumah saya.

Dan yang paling rumit kemudian adalah meluapnya sungai (dimanapun) yang dapat menghancurkan karya budaya manusia, bahkan dapat mengakhiri hidup manusia juga. Hal ini, banjir maksudnya, tentunya dapat terjadi karena banyak hal. Saya tidak akan membahas masalah itu saat ini. Apalagi membahas banjir Jakarta, wah gak perlu sekarang deh… hehe…

Saya ingin membahas mengenai berbagi informasi mengenai kondisi hujan (dan banjir) yang terjadi di sekitar kita. Saya pernah menuliskannya dalam blog dengan tajuk Gundala membangunkan Sijampang dua tahun lalu. Itu adalah versi awal dari aplikasi Sijampang.

Apakah aplikasi Sijampang..? Sijampang mempunyai arti Sistem Informasi Hujan dan Genangan berbasis Keruangan. Merupakan sistem informasi dimana kita bisa berbagi informasi mengenai kondisi hujan dan genangan (banjir) yang terjadi di sekitar kita secara langsung dan berbasis lokasi.

Informasi publik di dalam jangkauan Radar Cuaca

Informasi publik di dalam jangkauan Radar Cuaca

Sijampang didukung oleh dua komponen penting yaitu komponen peralatan deteksi cuaca, dan komponen informasi dari publik.

Pada komponen pertama, Sijampang dilengkapi dengan radar cuaca yang terpasang di Puspitek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), Serpong. Radar ini beroperasi selama 24 jam dan selalu memperbarui datanya setiap enam menit. Cakupan wilayah yang dideteksi oleh radar di Puspitek ini mempunyai radius 105 km. Data yang direkam oleh radar cuaca ini (dikenal dengan nama Radar HarimauHydrometeorological ARray for Intraseasonal-variation Monsoon AUtomonitoring) kemudian diolah oleh NEOnet di BPPT Jakarta. Setelah didapat beberapa parameter kemudian ditampilkan dalam bentuk peta hujan terkini melalui internet.

Komponen kedua, yang tak kalah penting adalah informasi dari publik. Pelibatan publik disini adalah untuk memperkaya informasi yang ada sesuai dengan lokasi para pemberi informasi, atau dikenal dengan sebutan kontributor Sahabat Sijampang. Kontributor berasal dari masyarakat yang peduli dengan informasi cuaca, dan bersedia berbagi dengan yang lain. Cara keterlibatan adalah dengan mengirimkan informasi kondisi cuaca (cerah, berawan, hujan ringan, sedang, atau lebat) melalui perangkat HP-nya. Informasi bisa dikirimkan melalui SMS atau E-mail, dan mendukung berbagai jenis HP yang ada di masyarakat. Info yang dikirimkan akan otomatis masuk dalam peta daring interaktif Sijampang, yang berupa webGIS, tanpa perlu repot-repot lagi…

Gabungan dari kedua komponen ini adalah informasi mengenai kondisi cuaca setempat dan dapat diketahui oleh publik melalui petra hujan terkini dan juga melalui jejaring micro blogging twitter. Akun di twitter yang dapat di-follow oleh publik adalah @infohujan.

Partisipasi publik untuk wilayah Nusantara

Partisipasi publik untuk wilayah Nusantara

Informasi dari publik diharapkan membantu memperkaya informasi yang diperlukan oleh banyak pihak dengan banyak kepentingan. Misalnya adalah jika terjadi hujan dengan intensitas diatas rerata pada suatu wilayah yang rawan longsor atau banjir maka dengan saling menginformasikan kondisi hujan dapat diantisipasi kemungkinan yang bakal terjadi.

Pada suatu lokasi spesifik yang terancam oleh lahar dingin, misalnya, dengan menginformasikan titik/lokasi terjadinya hujan beserta intensitas dan keterangan kondisi sungai maka semua pihak terkait dapat mewaspadainya dengan segera.

Banyak lagi yang dapat dimanfaatkan dari informasi hujan yang datang langsung dari publik. Dan, sekali lagi, semuanya tergambar langsung di peta interaktif Sijampang.

Bagaimana menjadi kontributor informasi hujan/banjir ini..? Silakan kunjungi laman prosedur di blog Sijampang.

Bagaimana mudahnya mengirimkan informasi ke aplikasi Sijampang..? Silakan baca di laman cara mudah mengirimkan informasi.

Dengan terbukanya sistem ini untuk digunakan oleh pengguna (user) dalam berbagai keperluan diharapkan informasi hujan/genangan dapat mengalir dan segera digunakan dengan baik dan benar.

Mari kita menggambar hujan di Peta Nusantara… Dari kita untuk semua…

: )

Membaca vektor di alam

Leave a comment


vektor alam

membaca vektor di alam

Melihat gambar alam maka sebagai orang spasial sewajarnya dapat langsung mendefinisikan fitur yang ada. Tiga fitur dasar adalah titik, garis, dan poligon. Apakah yang terpikir saat melihat gambar diatas dan dalam waktu singkat menuangkan pendapatnya tentang fitur yang ada..?

Beberapa rekan mahasiswa menjawab seperti di bawah ini:

Pendapat-1:

Dari gambar estuari yang ditampilkan bila ditinjau secara GIS berupa titik, garis dan polygon adalah sebagai berikut:
a) garis: tepi jalan, tepi sungai, jalan dan sungai bila diperbesar juga akan tampak sebagai garis.
b) titik: pohon (tunggal, bukan kumpulan pohon), batu, rumah (sebagai titik karena tampak kecil), perpotongan antara 2 jalan (perempatan) dan
c) poligon: tambak, blok-blok tambak (1 blok bisa terdiri dari lebih dari 1 tambak), lahan kosong yang tampak jelas batas-batasnya, hutan mangrove, bangunan yang besar (tampak atapnya sebagai persegi panjang).

Pendapat-2:

Pada gambar lokasi riset magrove di estuari perancak terdapat point yang berupa lokasi survey, nama sungai, dan untuk polygon terdapat beberapa objek yaitu vegetasi (mangrove), tambak, pemukiman (kantor dan rumah) dan sungai besar, sedangkan untuk line hanya jalan umum dan setapak.

Pendapat-3:

pada gambar yang ada terlihat,1, Polygon terdiri dari pematang tambak kering maupun terisi , daerah kawasan mangrove, terlihat juga polygon untuk kawasan pemukiman, 2. Garis terdiri dari aliran sungai besar, sungai kecil atau kali,dan jalan,3. point atau titik terdiri dari kantor riset. daerah titik sampel untuk kategori jenis mangrove.

Pendapat-4:

Dari image tersebut, yang berupa garis atau line adalah sungai besar (Sowan perancak), sungai kecil yang melewati daerah hutan bakau (Tukad Loloan, Tukad Perahu), sungai kecil yang melewati daerah tambak (Tukad Loloantelegi), jalan. Poligon pada image tersebut berupa daerah tambak, hutan bakau (yang terlihat batas area nya). Titik atau point pada image tersebut berupa rumah dan pohon bakau yang terlihat single.

Pendapat-5:

Dari hasil analisis saya benda atau objek yang berupa titik adalah: titik sample riset, kantor, serta semua titik-titik penghubung yang membuat sebuah garis atau polygon. Yang berupa garis adalah : jalan raya, sungai, serta garis-garis penghubung yang membentuk sebuah polygon. Sedangkan objek yang berupa polygon adalah : tambak, area hutan mangrove, dan perkampungan.

Tidak ada yang salah dari pendapat diatas, karena masing-masing dapat mendefinisikan sendiri bentukan dan fitur yang dilihat pada gambar tersebut.

Bagaimana dengan pendapat anda sendiri..?

: )

Koran Jakarta: Lebih Akurat dengan Radar dan Satelit

7 Comments


Reportase oleh Koran Jakarta tentang aplikasi Radar Cuaca Harimau terkait dengan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), suatu penelitian bersama antara Program Harimau BPPT dengan Balai Besar Peramalan OPT Departemen Pertanian:

Kegiatan kajian ini sendiri dapat diikuti pada Situs Kegiatan.

 

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 886 other followers