Home

Pemanfaatan Hyperspectral Dalam Bidang Pertanian

Leave a comment


Pemanfaatan Hyperspectral Dalam Bidang Pertanian. Dipresentasikan pada seminar dalam rangka Pekan Peramalan OPT Tanaman Pangan di Balai Besar Peramalan OPT, Jatisari, tanggal 26 Agustus 2013.

Aplikasi dalam bidang pertanian:

  • Deteksi jenis serangan OPT pada daun, tangkai, buah tanaman.
  • Pemetaan sebaran serangan pada hamparan
  • Pemetaan tingkat risiko serangan OPT secara keruangan
  • Memetakan sebaran varietas dan stadia tanaman
  • Pengamatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman
  • Kualitas produksi

Komponen aplikasi hyperspectral

  • Perangkat Keras: Pengukur Spektral Spektrometer (handheld,airborne,satellite)
  • Perangkat Lunak: Pengolah spektral, basisdata.
  • Data: Pustaka Spektral (referensi spektral suatu obyek), Obyek tera, Citra (Satellite, foto udara)
  • Metode: Pemetaan Spektral 3D, Unmixing, dll.
  • Pengguna: Surveyor, Analis, Pembuat Kebijakan, Pemakai Akhir.

Penggunaan teknologi hyperspectral:

  • Mengetahui sebaran serangan OPT terkini dengan cepat
  • Memercepat tindakan di lapangan
  • Tepat target dan sasaran lokasi karena berbasis keruangan (spatial based)
  • Memprediksi produksi tanaman pertanian
  • Menjaga kualitas hasil produksi

_

Berbagi dengan Menggambar Hujan di Peta Nusantara

2 Comments


banjir sejenak

Banjir sejenak di depan rumah.

Berbagi informasi melalui media internet bukanlah hal yang luar biasa lagi. Banyak yang (mengaku) sebagai jurnalis lepas dan mewartakan segala hal melalui blognya, dan hal ini telah mengubah cara kita mengekspresikan banyak hal pada dunia. Segala hal dapat kita informasikan pada siapapun melalui internet. Bagaimana dengan informasi kondisi sekitar yang relatif sangat cepat berubah..?

Hujan pada umumnya terjadi tidaklah lama. Durasi hujan yang pernah saya alami hanya beberapa detik hingga beberapa jam saja. Tetapi yang relatif sebentar itu ternyata dapat berakibat yang luar biasa. Yang paling sederhana adalah terjadinya genangan akibat limpasan permukaan yang tidak bisa lagi ditampung oleh got depan rumah saya.

Dan yang paling rumit kemudian adalah meluapnya sungai (dimanapun) yang dapat menghancurkan karya budaya manusia, bahkan dapat mengakhiri hidup manusia juga. Hal ini, banjir maksudnya, tentunya dapat terjadi karena banyak hal. Saya tidak akan membahas masalah itu saat ini. Apalagi membahas banjir Jakarta, wah gak perlu sekarang deh… hehe…

Saya ingin membahas mengenai berbagi informasi mengenai kondisi hujan (dan banjir) yang terjadi di sekitar kita. Saya pernah menuliskannya dalam blog dengan tajuk Gundala membangunkan Sijampang dua tahun lalu. Itu adalah versi awal dari aplikasi Sijampang.

Apakah aplikasi Sijampang..? Sijampang mempunyai arti Sistem Informasi Hujan dan Genangan berbasis Keruangan. Merupakan sistem informasi dimana kita bisa berbagi informasi mengenai kondisi hujan dan genangan (banjir) yang terjadi di sekitar kita secara langsung dan berbasis lokasi.

Informasi publik di dalam jangkauan Radar Cuaca

Informasi publik di dalam jangkauan Radar Cuaca

Sijampang didukung oleh dua komponen penting yaitu komponen peralatan deteksi cuaca, dan komponen informasi dari publik.

Pada komponen pertama, Sijampang dilengkapi dengan radar cuaca yang terpasang di Puspitek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), Serpong. Radar ini beroperasi selama 24 jam dan selalu memperbarui datanya setiap enam menit. Cakupan wilayah yang dideteksi oleh radar di Puspitek ini mempunyai radius 105 km. Data yang direkam oleh radar cuaca ini (dikenal dengan nama Radar HarimauHydrometeorological ARray for Intraseasonal-variation Monsoon AUtomonitoring) kemudian diolah oleh NEOnet di BPPT Jakarta. Setelah didapat beberapa parameter kemudian ditampilkan dalam bentuk peta hujan terkini melalui internet.

Komponen kedua, yang tak kalah penting adalah informasi dari publik. Pelibatan publik disini adalah untuk memperkaya informasi yang ada sesuai dengan lokasi para pemberi informasi, atau dikenal dengan sebutan kontributor Sahabat Sijampang. Kontributor berasal dari masyarakat yang peduli dengan informasi cuaca, dan bersedia berbagi dengan yang lain. Cara keterlibatan adalah dengan mengirimkan informasi kondisi cuaca (cerah, berawan, hujan ringan, sedang, atau lebat) melalui perangkat HP-nya. Informasi bisa dikirimkan melalui SMS atau E-mail, dan mendukung berbagai jenis HP yang ada di masyarakat. Info yang dikirimkan akan otomatis masuk dalam peta daring interaktif Sijampang, yang berupa webGIS, tanpa perlu repot-repot lagi…

Gabungan dari kedua komponen ini adalah informasi mengenai kondisi cuaca setempat dan dapat diketahui oleh publik melalui petra hujan terkini dan juga melalui jejaring micro blogging twitter. Akun di twitter yang dapat di-follow oleh publik adalah @infohujan.

Partisipasi publik untuk wilayah Nusantara

Partisipasi publik untuk wilayah Nusantara

Informasi dari publik diharapkan membantu memperkaya informasi yang diperlukan oleh banyak pihak dengan banyak kepentingan. Misalnya adalah jika terjadi hujan dengan intensitas diatas rerata pada suatu wilayah yang rawan longsor atau banjir maka dengan saling menginformasikan kondisi hujan dapat diantisipasi kemungkinan yang bakal terjadi.

Pada suatu lokasi spesifik yang terancam oleh lahar dingin, misalnya, dengan menginformasikan titik/lokasi terjadinya hujan beserta intensitas dan keterangan kondisi sungai maka semua pihak terkait dapat mewaspadainya dengan segera.

Banyak lagi yang dapat dimanfaatkan dari informasi hujan yang datang langsung dari publik. Dan, sekali lagi, semuanya tergambar langsung di peta interaktif Sijampang.

Bagaimana menjadi kontributor informasi hujan/banjir ini..? Silakan kunjungi laman prosedur di blog Sijampang.

Bagaimana mudahnya mengirimkan informasi ke aplikasi Sijampang..? Silakan baca di laman cara mudah mengirimkan informasi.

Dengan terbukanya sistem ini untuk digunakan oleh pengguna (user) dalam berbagai keperluan diharapkan informasi hujan/genangan dapat mengalir dan segera digunakan dengan baik dan benar.

Mari kita menggambar hujan di Peta Nusantara… Dari kita untuk semua…

: )

Blogor – Membuat Peta Hujan di Kota Hujan

Leave a comment


Membuat Peta Hujan di Kota Hujan - blogor.org

Membuat Peta Hujan di Kota Hujan - blogor.org

Ayo klik Membuat Peta Hujan di Kota Hujan … : )

Citra Anaglyph untuk Tampakan 3-Dimensi

3 Comments


Melihat tampakan 3-D pada citra anaglyph menggunakan "kacamata" 3-D biru-merah.

Tampakan 3-Dimensi adalah hal yang menarik dalam dunia spasial. Citra anaglyph dapat menghasilkan tampakan 3-D dan membuatnya pun ternyata tidak sulit. Mau mencoba..?

Bahan yang diperlukan semua “gratis” dan dengan mudah kita dapatkan. Apa yang harus disiapkan..?

Data:

  • Data citra (satelit) ter-georeferensi, didapatkan dari citra pada Google Earth, dapat di-capture menggunakan perlun SIG free.
  • Data DEM/DTM, untuk data ini bisa didapatkan dari data DEM SRTM.

Perangkat lunak dan peralatan:

  • Gunakan perangkat lunak ILWIS, yang merupakan keluarga open source dan juga free, dapat diunduh dari situs ilwis.org atau di laman unduh.
  • Kacamata 3-Dimensi, digunakan untuk melihat hasil akhir dari proses ini. Kacamata ini dapat diperoleh di Toko Buku atau dapat dibuat sendiri dengan menggunakan mika sampul berwarna (merah-biru).

Proses secara umum adalah sebagai berikut:

  • Pilih lokasi yang mempunyai kondisi topografi menarik, ada dataran tinggi dan rendah.
  • Gunakan Google Earth untuk mendapatkan citra satelit lokasi tersebut. Manfaatkan perlun free untuk meng-capture-nya dan mendapatkan koordinatnya langsung, seperti perlun SIG Elshayal.
  • DEM SRTM di-crop sesuai dengan luasan citra.
  • Simpan citra dan SRTM dalam GeoTIFF dengan dimensi spasial yang sama.
  • Import dalam format ILWIS dengan menggunakan GDAL.
  • Setelah berhasil, pastikan data citra mempunyai domain “image”
  • Jika citra masih dalam composite, lakukan “Color Sparation” (Operations -> Image Processing -> Color Sparation). Simpan kanal merah menjadi file citra baru.
  • Jalankan fungsi “Stereo Pair from DTM” untuk menghasilkan citra stereo (Operations -> Image Processing -> Stereo Pair from DTM)
  • Hasil dari proses ini berupa file data baru, tampilkan dalam citra anaglyph (Operations -> Visualization -> Stereo pair -> as Anaglyph).
  • Nikmati tampakan 3-Dimensi pada citra anaglyph dengan menggunakan kacamata 3-D anda.

Gambaran proses dapat dilihat melalui slide berikut ini:

Slide (pdf) dapat diunduh melalui laman unduh.

Contoh citra anaglyph:

Citra Anaglyph Gunung Rinjani (klik untuk memperbesar)

Selamat menikmati… : )

Membaca vektor di alam

Leave a comment


vektor alam

membaca vektor di alam

Melihat gambar alam maka sebagai orang spasial sewajarnya dapat langsung mendefinisikan fitur yang ada. Tiga fitur dasar adalah titik, garis, dan poligon. Apakah yang terpikir saat melihat gambar diatas dan dalam waktu singkat menuangkan pendapatnya tentang fitur yang ada..?

Beberapa rekan mahasiswa menjawab seperti di bawah ini:

Pendapat-1:

Dari gambar estuari yang ditampilkan bila ditinjau secara GIS berupa titik, garis dan polygon adalah sebagai berikut:
a) garis: tepi jalan, tepi sungai, jalan dan sungai bila diperbesar juga akan tampak sebagai garis.
b) titik: pohon (tunggal, bukan kumpulan pohon), batu, rumah (sebagai titik karena tampak kecil), perpotongan antara 2 jalan (perempatan) dan
c) poligon: tambak, blok-blok tambak (1 blok bisa terdiri dari lebih dari 1 tambak), lahan kosong yang tampak jelas batas-batasnya, hutan mangrove, bangunan yang besar (tampak atapnya sebagai persegi panjang).

Pendapat-2:

Pada gambar lokasi riset magrove di estuari perancak terdapat point yang berupa lokasi survey, nama sungai, dan untuk polygon terdapat beberapa objek yaitu vegetasi (mangrove), tambak, pemukiman (kantor dan rumah) dan sungai besar, sedangkan untuk line hanya jalan umum dan setapak.

Pendapat-3:

pada gambar yang ada terlihat,1, Polygon terdiri dari pematang tambak kering maupun terisi , daerah kawasan mangrove, terlihat juga polygon untuk kawasan pemukiman, 2. Garis terdiri dari aliran sungai besar, sungai kecil atau kali,dan jalan,3. point atau titik terdiri dari kantor riset. daerah titik sampel untuk kategori jenis mangrove.

Pendapat-4:

Dari image tersebut, yang berupa garis atau line adalah sungai besar (Sowan perancak), sungai kecil yang melewati daerah hutan bakau (Tukad Loloan, Tukad Perahu), sungai kecil yang melewati daerah tambak (Tukad Loloantelegi), jalan. Poligon pada image tersebut berupa daerah tambak, hutan bakau (yang terlihat batas area nya). Titik atau point pada image tersebut berupa rumah dan pohon bakau yang terlihat single.

Pendapat-5:

Dari hasil analisis saya benda atau objek yang berupa titik adalah: titik sample riset, kantor, serta semua titik-titik penghubung yang membuat sebuah garis atau polygon. Yang berupa garis adalah : jalan raya, sungai, serta garis-garis penghubung yang membentuk sebuah polygon. Sedangkan objek yang berupa polygon adalah : tambak, area hutan mangrove, dan perkampungan.

Tidak ada yang salah dari pendapat diatas, karena masing-masing dapat mendefinisikan sendiri bentukan dan fitur yang dilihat pada gambar tersebut.

Bagaimana dengan pendapat anda sendiri..?

: )

Berpikir spasial dalam perjalanan

1 Comment


Penggunaan GPS

GPS dan peta yang terhubungkan

Cerita perjalanan dengan berpikir spasial, ditemani peralatan penunjang sederhana.

#Perjalanan kali ini ke daerah Pelabuhan Ratu (atau nama lokalnya: Palabuhanratu), dalam misi kajian terkait model spasial penyakit padi. Persiapan #perjalanan ini adalah: rencana dan peralatan (yaiyalah…). Yang utama dipersiapkan adalah peta dijital (hasil pindai), dan titik-titik tujuan serta GPS.

Peta dijital dipindai, kemudian diberi referensi koordinat, agar dapat dibaca di perlun spasial yang akan digunakan dalam #perjalanan. Titik lokasi tujuan disiapkan, info dari lapangan yang berupa daftar titik lokasi pengamatan kemudian dispasialkan, dan diunggah ke GPS.

Ada 20 titik lokasi yg menyebar dari Cibadak hingga Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Ini adalah titik-titik yang harus dikunjungi. Data titik lokasi yang telah diubah dalam format SHP kemudian diunggah ke GPS menggunakan perlun DNRGarmin (web: http://j.mp/lTumFF).

GPS yang dipakai cukup yang sederhana saja, kecil dan gampang dibawa serta bisa terhubung dengan laptop, saya bawa GPSMap 60CSX. Selain data lokasi dan pindaian peta, saya juga siapkan data SRTM sebagai gambaran undulasi daerah yg dikunjungi.

Hari keberangkatan tiba, tim terdiri dari: mbak Sali, mas Laju, dan mas Tata (plus pengemudi). Masing-masing dengan tugas khusus.

#SpatialThinking yang pernah di-kultwit-kan oleh bli @madeandi di @rsgisforum mulai diterapkan. (sila cek arsip kultwit di http://j.mp/mQhUZ7)

Ketika mendekati sasaran di seputar Cibadak, Sukabumi, laptop dihidupkan, data disiapkan, semua disajikan dalam perlun yang sama. Setelah data SRTM, peta pindaian, dan lokasi sasaran tersaji di monitor, saatnya menghubungkan perlun dengan GPS menggunakan kabel USB.

Dalam waktu singkat, penunjuk lokasi muncul pada layar monitor, tepat pada koordinatnya, dan terlihatlah lokasi terkini berdasarkan data dari GPS. GPS diletakkan di dashboard, dihubungkan dengan kabel data, dan lokasi ditampilkan dengan perlun pada peta.

Dengan demikian pergerakan tim (dengan kendaraan) dapat terpantau langsung pada peta di layar. Ini memudahkan pendekatan #perjalanan. Tim dengan mudah menentukan sasaran terbaik sesuai dengan sikon saat itu, dan mendatangi lokasi dengan “yakin” hehe…

Gambar bisa dilihat di http://lockerz.com/s/100411905

Mengamati perjalanan di peta secara langsung sangat menarik, kita bisa tahu saat ini berada dimana secara langsung. Tampilan di layar bisa diubah latar belakangnya, apakah peta pindaian atau data ketinggian (SRTM).

Untuk mendekat ke lokasi sasaran, dengan kecepatan kendaraan, tentunya berisiko akan terlewat, walau terpantau di peta. Karena itu tim tidak lupa mengaktifkan peringatan dini pada GPS. Pada GPS #Garmin ada pada modul “Proximity”. Pada modul ini kita bisa tentukan titik sasaran kemudian tentukan pada radius berapa GPS akan memberi peringatan. Dengan mengaktifkan peringatan ini maka saat mendekati lokasi, pada radius tertentu, GPS berbunyi mengingatkan.

Ohya, sebelum berangkat, tim juga sudah menempatkan titik-titik lokasi sasaran tadi pada peta di Google Maps. Penempatan pada GoogleMaps diperlukan untuk memudahkan diskusi dengan tim yg berbeda lokasi. Kajian kami di seputaran Sukabumi ini bekerjasama dengan Balai Besar Peramalan OPT yg berlokasi di Jatisari, Cikampek. Dalam membahas lokasi bersama, kami selalu menggunakan fasilitas berbagi di internet, salah satunya adalah Google Maps.

Data lokasi yang telah dalam bentuk SHP tadi dikonversi ke format KML dengan perlun SHP2KML Converter. Proses konversi dari SHP ke KML dapat dibaca pada blog dengan taut http://j.mp/kGlSdL.

Setelah dalam format KML, kemudian bisa diunggah ke Google maps, dan bisa kita sesuaikan informasinya dengan keperluan kita. Peta lokasi pada Google Maps dapat dilihat pada taut http://bit.ly/optskbm.

Kembali ke lapangan, saat mengunjungi lokasi tertentu maka selain ada catatan tertulis “diwajibkan” juga memfoto. Foto digunakan sebagai alat analisis visual kemudian, tentunya mengenai kondisi lokasi dan sekitarnya. Ada baiknya menggunakan kamera yang mempunyai GPS, jadi lokasi foto dapat terekam langsung di foto tersebut.

Pada banyak hape saat ini, yang harganya 1jt-an, sudah terdapat fitur GPS dan foto dan dpt menyimpan lokasi langsung. Berhubung tim kami hapenya jadul semua, maka perekaman dilakukan manual. Kondisi lokasi direkam dengan kamerqa dijital.

Sedangkan lokasi ditandai dengan perekaman pada GPS. kemudian dibuat catatan penghubung antara foto dan GPS. Hal ini sangat diperlukan pada saat survey karena perekaman jika hanya tertulis tentunya kurang memadai.

Penautan lokasi dan foto dijital kemudian dilakukan secara manual. Saya memanfaatkan perlun #Picasa (free dari Google).

Kerjaan ini dilakukan saat di Hotel dan ada koneksi internet. Ohya, saya gunakan juga perlun Google Earth (GE) dalam proses. Foto dari kamera diunduh ke laptop, siapkan perlun Picasa dan GE. Picasa dapat terkoneksi dengan GE secara otomatis.

Ohya, sebelumnya, saya unduh dulu data dari GPS (karena ada data baru selain titik yang sudah dimasukkan) dengan DNRGarmin. Data GPS yang baru diunduh, konversikan ke KML, lalu tarik ke GE. Maka kita akan mendapatkan titik-titik acuan di GE.

Foto-foto yang telah diunduh ke laptop dibuka pakai Picasa, kemudian jangan lupa urutkan berdasarkan waktu perekaman. Ohya, pastikan koneksi internet bagus ya, hehe. Kami saat itu menginap di Hotel Augusta (pantai Citepus), ada hotspot.

Pada Picasa, pilih foto yg akan dilekatkan posisinya (geotagging). Beberapa foto sekaligus dapat dipilih. Kemudian klik icon GE yg ada pada bagian bawah, maka perlun segera aktif ke GE. Pada GE ada pengarah posisi. Arahkan tanda positif ke lokasi yang sesuai pada peta satelit di GE. Zoom seperlunya. Kemudian klik “Geotag All”.

Foto-foto yang telah di-geotag akan menyimpan informasi lokasi, dan dapat kita manfaatkan selanjutnya. Untuk menempatkan foto-foto tadi pada peta daring saya mengunggahnya ke album di Picasaweb (yang punya akun GMail punya album ini). Karena foto sudah ter-geotag, maka foto yang terunggah ke Picasaweb otomatis akan ditempatkan pada peta (mmm setting otomatis ada setelah kita login ke Picasaweb).

Contoh foto-foto perjalanan ter-geotag dan yang saya unggah ke Picasaweb ada di http://j.mp/ltAbdK.

Dengan menempatkan foto pada lokasi perekamannya di peta maka memudahkan kita menganalisis banyak hal. Kita tau kondisi lokasi pengamatan tersebut saat mana kita mendatanginya, sangat mungkin beda dengan citra di Google. Dan dengan membuat semuanya daring dalam konteks spasial, memudahkan kita (terutama tim saya) dalam berdiskusi.

GPS memudahkan dalam perjalanan dan penentuan arah sasaran, hasil perekaman di-geotag-kan juga. Maka perjalanan survey akan terekam dengan cepat dan memudahkan tim dalam berdiskusi tanpa batasan ruang…

Sekian dulu cerita tentang #perjalanan, sederhana dan akan menyenangkan dengan #spatialThinking…

*/ di-blog-kan dari tweet pada 21 Mei 2011

Instalasi ArcView 3.x di Windows 7 (64 bit)

1 Comment


Syarat:

  • ArcView telah terinstal pada komputer Win XP.

Lakukan:

  • Dari komputer Win XP copy C:\ESRI dan paste pada folder yang sama di Windows 7
  • Dari komputer Win XP copy file di C:\Program Files\Common Files\ESRI dan paste di Windows 7 dalam folder: C:\Program Files (x86)\Common Files\ESRI
  • Pada Win XP, copy font ESRI dari c:\windows\fonts. Pada Windows 7, install font tersebut.

Setelah semua selesai, silakan test, arahkan ke:

C:\ESRI\AV_GIS30\ARCVIEW\BIN32\arcview.exe dan double-click untuk memulai aplikasi.

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,227 other followers