Home

Berbagi dengan Menggambar Hujan di Peta Nusantara

1 Comment

banjir sejenak

Banjir sejenak di depan rumah.

Berbagi informasi melalui media internet bukanlah hal yang luar biasa lagi. Banyak yang (mengaku) sebagai jurnalis lepas dan mewartakan segala hal melalui blognya, dan hal ini telah mengubah cara kita mengekspresikan banyak hal pada dunia. Segala hal dapat kita informasikan pada siapapun melalui internet. Bagaimana dengan informasi kondisi sekitar yang relatif sangat cepat berubah..?

Hujan pada umumnya terjadi tidaklah lama. Durasi hujan yang pernah saya alami hanya beberapa detik hingga beberapa jam saja. Tetapi yang relatif sebentar itu ternyata dapat berakibat yang luar biasa. Yang paling sederhana adalah terjadinya genangan akibat limpasan permukaan yang tidak bisa lagi ditampung oleh got depan rumah saya.

Dan yang paling rumit kemudian adalah meluapnya sungai (dimanapun) yang dapat menghancurkan karya budaya manusia, bahkan dapat mengakhiri hidup manusia juga. Hal ini, banjir maksudnya, tentunya dapat terjadi karena banyak hal. Saya tidak akan membahas masalah itu saat ini. Apalagi membahas banjir Jakarta, wah gak perlu sekarang deh… hehe…

Saya ingin membahas mengenai berbagi informasi mengenai kondisi hujan (dan banjir) yang terjadi di sekitar kita. Saya pernah menuliskannya dalam blog dengan tajuk Gundala membangunkan Sijampang dua tahun lalu. Itu adalah versi awal dari aplikasi Sijampang.

Apakah aplikasi Sijampang..? Sijampang mempunyai arti Sistem Informasi Hujan dan Genangan berbasis Keruangan. Merupakan sistem informasi dimana kita bisa berbagi informasi mengenai kondisi hujan dan genangan (banjir) yang terjadi di sekitar kita secara langsung dan berbasis lokasi.

Informasi publik di dalam jangkauan Radar Cuaca

Informasi publik di dalam jangkauan Radar Cuaca

Sijampang didukung oleh dua komponen penting yaitu komponen peralatan deteksi cuaca, dan komponen informasi dari publik.

Pada komponen pertama, Sijampang dilengkapi dengan radar cuaca yang terpasang di Puspitek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), Serpong. Radar ini beroperasi selama 24 jam dan selalu memperbarui datanya setiap enam menit. Cakupan wilayah yang dideteksi oleh radar di Puspitek ini mempunyai radius 105 km. Data yang direkam oleh radar cuaca ini (dikenal dengan nama Radar HarimauHydrometeorological ARray for Intraseasonal-variation Monsoon AUtomonitoring) kemudian diolah oleh NEOnet di BPPT Jakarta. Setelah didapat beberapa parameter kemudian ditampilkan dalam bentuk peta hujan terkini melalui internet.

Komponen kedua, yang tak kalah penting adalah informasi dari publik. Pelibatan publik disini adalah untuk memperkaya informasi yang ada sesuai dengan lokasi para pemberi informasi, atau dikenal dengan sebutan kontributor Sahabat Sijampang. Kontributor berasal dari masyarakat yang peduli dengan informasi cuaca, dan bersedia berbagi dengan yang lain. Cara keterlibatan adalah dengan mengirimkan informasi kondisi cuaca (cerah, berawan, hujan ringan, sedang, atau lebat) melalui perangkat HP-nya. Informasi bisa dikirimkan melalui SMS atau E-mail, dan mendukung berbagai jenis HP yang ada di masyarakat. Info yang dikirimkan akan otomatis masuk dalam peta daring interaktif Sijampang, yang berupa webGIS, tanpa perlu repot-repot lagi…

Gabungan dari kedua komponen ini adalah informasi mengenai kondisi cuaca setempat dan dapat diketahui oleh publik melalui petra hujan terkini dan juga melalui jejaring micro blogging twitter. Akun di twitter yang dapat di-follow oleh publik adalah @infohujan.

Partisipasi publik untuk wilayah Nusantara

Partisipasi publik untuk wilayah Nusantara

Informasi dari publik diharapkan membantu memperkaya informasi yang diperlukan oleh banyak pihak dengan banyak kepentingan. Misalnya adalah jika terjadi hujan dengan intensitas diatas rerata pada suatu wilayah yang rawan longsor atau banjir maka dengan saling menginformasikan kondisi hujan dapat diantisipasi kemungkinan yang bakal terjadi.

Pada suatu lokasi spesifik yang terancam oleh lahar dingin, misalnya, dengan menginformasikan titik/lokasi terjadinya hujan beserta intensitas dan keterangan kondisi sungai maka semua pihak terkait dapat mewaspadainya dengan segera.

Banyak lagi yang dapat dimanfaatkan dari informasi hujan yang datang langsung dari publik. Dan, sekali lagi, semuanya tergambar langsung di peta interaktif Sijampang.

Bagaimana menjadi kontributor informasi hujan/banjir ini..? Silakan kunjungi laman prosedur di blog Sijampang.

Bagaimana mudahnya mengirimkan informasi ke aplikasi Sijampang..? Silakan baca di laman cara mudah mengirimkan informasi.

Dengan terbukanya sistem ini untuk digunakan oleh pengguna (user) dalam berbagai keperluan diharapkan informasi hujan/genangan dapat mengalir dan segera digunakan dengan baik dan benar.

Mari kita menggambar hujan di Peta Nusantara… Dari kita untuk semua…

: )

Jendela kecil yang besar

2 Comments

Siapa yang tidak mengenal internet saat membaca tulisan ini? 99% kemungkinan pembaca tulisan ini telah mengenalnya. Sadarkah kita saat membaca ini seolah melihat dari jendela kecil yang besar..?

Jendela kecil yang dimaksud adalah layar monitor atau hape atau tablet anda. Dari jendela ini kita bisa melihat banyak hal dalam beragam bentuk. Kita bisa melihatnya dalam format teks, gambar, ataupun film. Semua bisa dinikmati sesuai dengan keinginan.

Kehadiran aplikasi media sosial semacam Friendster, Facebook, Twitter, LinkedIn, dan lain-lain menambah kekayaan konten jendela kita tadi.

Dan mulailah kita menaruh banyak properti pribadi menjadi bagian dari konten jendela. Pertama-tama adalah nama kita atau sebutan keren atau sebutan diri supaya keren yang kita tampilkan. Lalu sejarah singkat kita dimulai dari kelahiran hingga pendidikan terakhir. Juga kesukaan kita akan buku, film, dan lain-lain kita tampilkan semua.

Dalam perjalanannya, kita dengan suka hati menyatakan pada “dunia” mengenai status kita. Status dapat berisi pendapat, uneg-uneg, berita bahagia, kemarahan, bahkan makian. Tidak jarang juga hanya diisi dengan satu kata yang tidak bisa dimengerti artinya.

Kitapun dengan sukahati ikutserta memperkaya jendela orang lain. Kita memberikan kata-kata berupa ucapan, pendapat, atau kadang respon yang “gak jelas”. Sering juga kita memberikan tautan film atau laman yang kita anggap (tidak) perlu tampil di jendela teman.

Semua itu kita lakukan tanpa lagi dibatasi waktu yang berjatah 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Kapanpun kita sempat “membuka jendela” maka segeralah kita menambahkan kontennya. Begitu perhatiannya kita akan perubahan dan penambahan konten jendela kita.

Lalu, bagaimana sebenarnya yang kita lakukan saat kita tidak sedang “membuka jendela” alias berada dalam dunia nyata..? Apakah yang kita lakukan serupa dengan saat menatap “dunia lain” di seberang “jendela” tadi..?

Apakah kita dengan sukarela memberitahukan pada teman dan tetangga tentang aktivitas yang sedang kita lakukan..?

Saat ada tetangga lewat depan rumah, apakah kita memberitahu: “gw lagi nunggu kereta”, pasti yang lewat tadi bingung: emangnya lu di stasiun..?

Saat ada teman datang, langsung ngomong: “gw lg ng*pil nih…”, pasti si teman langsung menjauh.

Saat ada orang yang belum dikenal tanya nama kita, bukannya langsung jawab tapi pasti kita langsung berpikir: siapa lu nanya2 nama gw..?

Kalau dia langsung tanya tanggal lahir, maka kita pasti akan cuekin sambil ngedumel: emangnye lagi ada sensus penduduk.. pake nanya nama ama tanggal lahir segala.

Saat ada tetangga yang intip dalam rumah kita, pasti kita langsung usir sambil nyentak: ngapain lu intip rumah gw..

Begitulah…

Semua yang kita lakukan pada kehidupan nyata banyak sekali yang berbanding terbalik dengan kehidupan di balik jendela monitor kita.

Semua yang kita tutupi dengan rapi dan rapat, dapat seketika kita umbar lewat jendela “media sosial” dengan harapan semua friends dan followers kita tahu segera. Bahkan mengharap mereka merespon dengan segera. Semakin heboh semakin membuat kita senang.

Yang kita lakukan adalah ibarat sedang duduk dalam ruang yang gelap sambil melihat bola dunia yang terang di depan kita. Kita tidak ingin dilihat oleh orang lain di sekitar kita, tetapi kita ingin tampil di dunia dengan wujud yang kita inginkan.

Sudah terlepaskah kepercayaan diri untuk menjadi diri sendiri..?

Jawabannya ada pada perilaku kita masing-masing tentunya.
: )

*/ belajar nulis di dalam bis saat kemacetan pagi memasuki ibukota Jakarta.

Saat alat komunikasi “disconnecting people”

Leave a comment

disconnecting people

disconnecting people

Berapa banyak temanmu di Facebook..? Berapa banyak pula follower mu di twitter..? Dan juga, berapa banyak rekan mu di grup komunikasi seperti BBM atau WhatsApp..?

Jika kita mengikuti Facebook, twitter, BBM, WhatsApp (plus grup lainnya) pernahkah kita menghitung total jumlah “teman” kita itu..? Maka berbahagialah kita karena mempunyai teman yang (sangat) banyak dan selalu rajin menyapa kita selama 24 jam 7 hari seminggu. Semua “teman” tadi dapat terus terhubung dari alat komunikasi yang kita miliki saat ini, yaitu dapat berupa hape biasa ataupun hape pintar.

Sadarkah kita bahwa kemampuan berkomunikasi ini juga mengubah perilaku kita..? Terutama tentunya dengan orang-orang yang berada di sekitar kita. Saya mengalaminya.

Saat saya memasuki bis kantor pada sore hari dan mengambil posisi tempat duduk paling belakang biasanya telah hadir rekan-rekan yang memang terbiasa duduk di bagian belakang ini. Kami biasanya saling menyapa akrab dan berbicara ngalor-ngidul sebelum kemudian masuk alam mimpi setelah bis berjalan mengarungi kemacetan lalu-lintas Jakarta. Kebiasaan yang sudah berlangsung lama ini lambat laun ternyata berubah.

Kini, sesaat sampai di kursi, dan saling menyapa, maka aksi berikutnya adalah tidak ngobrol ngalor-ngidul lagi tetapi masing-masing mengeluarkan hape-nya dan segera meluncur di dunia maya. Semua tertunduk dengan hape di tangan dan memerhatikan semua tulisan, ehm… status, yang berada di Facebook, twitter, atau asik ber-BBM atau WhatsApp-an. Semua menyapa dan ngobrol di dunia maya. Semua saling peduli dan perhatian melalui “status” dan “comments” atau “tweet”, atau asik dengan suara “ping!!!” yang keras (ping: suara khas dari BBM saat ada message masuk).

Tidak ada lagi ngobrol penuh canda atau serius yang terjadi. Tidak ada lagi saling bertanya kabar keluarga. Keakraban berlangsung di dunia maya. Dan tidak jarang yang duduk bersebelahan saling mengisi comments di salah satu status Facebook mereka. Saya juga melakukan hal yang sama… :D

Hari ini saya mengalami hal serupa juga. Tapi kali ini sebagai orang yang mengamati apa yang terjadi pada orang lain. Kejadiannya saat di salah satu gerbong kereta api Commuter Line jurusan Bogor, saat pulang kerja.

Terlihat dua orang yang ngobrol dengan akrab di peron stasiun. Saat kereta datang, maka masuklah kedua orang tadi ke dalam gerbong, berdiri dekat saya. Terlihat salah seorang dari keduanya segera mengeluarkan BB dan mulai cek sana-sini. Saya tidak tahu apa yang dicek, apakah BBM atau messenger yang lainnya pada BB-nya.

Yang jelas kedua tangannya segera menari di tuts QWERTY tanpa perlu pegangan pada gantungan penumpang. Kesibukannya terlihat luar biasa. Saya memerhatikan dengan seksama, dan timbul dalam pikiran bahwa ia sedang ada urusan yang penting sekali.

Perlahan saya perhatikan rekan seperjalanannya, yang bersamanya saat naik gerbong kereta tadi. Ow… dia tampaknya tidak siap dengan hapenya, bahkan tidak mengeluarkan gadget apapun untuk “dimainkan”. Ia hanya terdiam dan sesekali memerhatikan rekannya yang asik dengan BB.

Kejadian di depan hidung itupun segera mengingatkan saya akan komunikasi dunia maya yang mengubah cara orang berkomunikasi. Bagi si pemegang BB, ia segera memasuki dunianya dan menemukan “hal yang lebih penting” untuk dikomunikasikan melalui BB-nya. Entahlah ia sedang ngobrol apa tapi yang pasti asyiknya luar biasa. Sementara bagi rekannya, yang tadi bersama dan akrab ngobrol bersama, terlihat sekali merasakan kondisi ini adalah memutus hubungan seketika ia dan rekannya. Terlihat sekali ketersisihan yang dirasakan olehnya. Tersisih oleh keasyikan rekannya terhadap “benda mati”, dan kemudian justru menjadikannya “seperti benda mati”, tersisihkan seakan tanpa ada pernah bersama.

Saya mengamatinya hingga akhirnya mereka turun di tempat berbeda. Terlihat si pemegang BB turun terlebih dulu dengan menyapa “ramah” pada rekannya tadi, dan menghilang…

Saya yakin, kejadian yang saya lihat pastilah banyak juga terjadi pada fragmen yang serupa. Seseorang yang segera tenggelam pada “gadget”-nya dan tega melupakan yang ada di samping atau sekelilingnya. Rekan yang berada di sekelilingnya seakan benda tak pernah dikenal…

Kecanggihan alat komunikasi dan tersedianya fasilitas berteman “hingga ribuan teman” membuat kita lupa ada teman sesungguhnya di samping kita. Ada orang lain di sekeliling kita. Orang yang, walaupun hanya satu, tetapi nyata dan yang lebih pantas diajak berkomunikasi saat jalan bersama.

Pernahkah anda mengalaminya juga..? Sebagai yang mana nih..?

: )

Kabut malam di Buitenzorg

14 Comments

Buitenzorg yang kelam

Buitenzorg yang kelam (rekayasa gambar)

Ini adalah tulisan kesepuluh (akhir) dari Grup Hitam Cerita Berantai #2 dari Blogger Bogor. Tulisan sebelumnya dibuat oleh Tb. Sjafri MangkuprawiraEddy PrayitnoChandra ImanErfano NalakianoAnandita Puspitasari, Jun “Siro” Dieyna, Utami Utar, Miftah Abdillah Akhmad, dan Suria Riza.

Bogor ada karena satu alasan.

Apakah yang menjadi alasan dalam pemilihan lokasi penobatan Prabu Siliwangi sebagai raja Kerajaan Pakuan, pada 3 Juni 1483, sehingga peristiwa itu terjadi di tempat yang kemudian bernama Bogor..?

Apakah pula yang menjadi alasan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff membangun Buitenzorg, nama lawas dari Istana Bogor, di lokasi ini dan menjadi kediaman resmi 38 Gubernur Jenderal Belanda dan satu Gubernur Jenderal Inggris..?

Buitenzorg mempunyai arti “without sorrow” atau “tanpa kesedihan”. Dalam bahasa Belanda, ada penyebutan lain terkait dengan “buiten”. Jika saya mengatakan bahwa saya mempunyai “buiten” artinya saya mempunyai rumah perisitirahatan di pedesaan.

Disatu masa, memiliki “buiten” di Buitenzorg adalah keindahan hidup. Seorang raja dapat mengendalikan pegunungan dan sekaligus daerah pesisir pantai dari lokasi yang nyaman. Perwakilan pemerintah kolonial Belanda dan Inggris pun demikian, dapat menikmati kekuasaanya sambil menghirup angin gunung yang mengalir dari Gunung Salak dan Gunung Gede dengan nyaman, dan dilimpahi hujan yang menyegarkan. Hidup tanpa kesedihan dan kekhawatiran.

Bagaimana dengan keindahan dan kenyamanan Bogor saat ini..?

Hiruk pikuk kemajuan jaman telah melanda Bogor. Kota yang (katanya pernah) indah ini menjadi tempat menginap sebagian pencari kehidupan Jakarta, dan menjadi ladang pembagian materi bagi sebagian lainnya. Kondisi kehidupan ekonomi, interaksi sosial dan budaya (sangat mungkin) telah sangat berubah dibandingkan saat Bogor masih menyandang sebutan “buitenzorg”.

Model pemerintahan saat ini yang “dipilih langsung” oleh rahayat jelata tidak mampu menjamin segalanya menjadi berpihak pada impian keindahan hidup para rahayat yang ber-KTP Bogor. Kebijakan dan peraturan dibuat dengan membawa nama “konstituen” tanpa sadar apa yang diperlukan oleh konstituen sesungguhnya.

Kesemerawutan sosial dan budaya terpampang jelas di pinggir jalan (menurut Eddy PrayitnoChandra ImanAnandita Puspitasari, dan Suria Riza). Kondisi transportasi, baik sarana maupun prasarana, yang tidak pernah terobati dengan baik (menurut Utami Utar dan Miftah Abdillah Akhmad). Pengaturan transaksi perdagangan yang buruk (menurut Erfano Nalakiano dan Jun “Siro” Dieyna). Dan antisipasi kebencanaan akibat bencana alam yang sangat memrihatinkan (menurut Tb. Sjafri Mangkuprawira).

Semua “persoalan kecil” yang telah dibahas oleh rekan-rekan diatas bagaikan kabut pekat dimalam hari. Kegelapan malam ditambah dengan kehadiran kabut akan menjadikan penghuni kota berjalan sangat lambat. Kalaupun dapat berjalan cepat maka dapat dipastikan keselamatan akan terabaikan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Dan kemudian ini bukanlah “persoalan kecil” lagi tentunya.

Bogor hadir bukan untuk menghambat kemajuan penduduknya, tetapi juga bukan untuk menghilangkan “keindahan buitenzorg” yang berlangsung selama berabad-abad lalu.

Kepekaan pemimpin sangat diperlukan. Dan bukan hanya kepekaan tetapi juga kemampuan dan keberanian dalam menentukan langkah (bahasa kerennya: “kebijakan”, berupa peraturan dan aksi). Masyarakat Bogor bukanlah orang yang bodoh dan hanya menyetujui apa yang telah ada dikeseharian. Masyarakat Bogor sejatinya mampu menilai dengan baik apa yang seharusnya dilakukan oleh pemimpinnya dalam mengolah wilayah beserta semua aset-asetnya dengan keberanian dan dilandasi kebenaran. Masyarakat Bogor mampu ikut serta membangun Bogor bersama.

Tidaklah sulit untuk mengatur (baca: membuat perda dan menjalankan bersama) transportasi, perdagangan, sosial, dan budaya. Sekali lagi: tidak sulit. Kemampuan edukasi dari para punggawa pemerintah Bogor (baik Kota maupun Kabupaten) tentunya sudah memenuhi kebutuhan dasar sebagai pemikir yang baik dan mampu bertindak dengan benar.

Demikian pula dengan “para wakil rakyat yang terhormat” di DPRD yang telah berpanjang titel kesarjanaan maupun kerohaniannya, tentunya mampu “sejenak berpikir serius” untuk Bogor dan rakyatnya. Gantungkan jas parpol anda dan bertindaklah segera, konstituen sesungguhnya tidaklah melihat warna bendera anda.

Masyarakat Bogor adalah masyarakat yang dewasa dan sangat mudah untuk digerakkan demi menjadikan Bogor yang “buitenzorg”. Kesungguhan berpolitik para pemimpin dan wakilnya menjadi salah satu kunci penting dalam menjembatani pergerakannya. Gunakanlah politik sebagai kendaraan anda memperbaiki Bogor, janganlah berlaku sebaliknya. Jika politik yang mengendarai anda, maka keturunan anda yang akan menanggung akibatnya, dijamin..!

Pemimpin adalah pelayan yang paling rendah posisinya. Niat dan janji tidaklah cukup tanpa kebersamaan aksi dari semua lini: pemimpin dan terpimpin, kita semua.

Mampukah kita menyibak kabut malam di “Buitenzorg” ini dan menjawab pertanyaan: untuk alasan apa Bogor ada..?

Demikian. : )

*/layar ditutup untuk Grup Hitam… walau rada kocar-kacir… : )

Membangun karakter bangsat

Leave a comment

Karakter bangsa adalah frasa yang sering terdengar beberapa tahun terakhir. Dua kata yang (mungkin) berarti membangun watak, sifat, atau tabiat bangsa ini semakin sering terdengar saat mana petinggi negeri sering mengulanginya dalam banyak pidato ataupun pertemuan dengan publik. Media massa pun berperan memopulerkannya.

Frasa menarik ini kemudian menjadi salah satu primadona dalam membuat judul kegiatan. Judul kegiatan selalu berbau “karakter bangsa” dan menjadikannya tidak tercoret dalam mata anggaran kegiatan, baik di instansi “pelat merah” ataupun “kuning”.

Apa yang menarik dari kegiatan “membangun karakter bangsa” ini..?

Yang menarik adalah banyaknya kegiatan “pembangunan” ini dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Hanya dalam hitungan hari, dan kegiatan pun dapat mengusung nama “membangun karakter”. Apa saja kegiatannya..? Sebagian adalah serupa dengan kegiatan out-bond, sebagian lagi ditambahi dengan materi “kepemimpinan”, ada juga dengan bumbu team building dan games.

Dapatkah membangun karakter hanya dilakukan beberapa hari..? Apalagi dengan tambahan “bangsa” setelah frasa “membangun karakter”..?

Bagi pembaca yang terbiasa dalam dunia pendidikan, baik formal maupun nonformal, tentunya akan paham dengan jawaban dari pertanyaan diatas. Dan bagi yang berasal dari luar dunia pendidikan, tentunya juga bisa menjawab dengan logika sederhana.

Dan menurut hemat saya, membangun suatu kebiasaan baik yang kemudian dapat ditumbuhkembangkan menjadi kebiasaan kolektif suatu komunitas atau bahkan masyarakat tentunya memerlukan waktu yang tidak sehari-dua. Diperlukan waktu yang panjang dan banyak faktor yang saling terkait, baik dari sisi program, kedisiplinan dan konsistensi dalam menjalankannya, dan juga teladan dari pemimpinnya.

Rumitkah prosesnya..? Gak jugalah. Segalanya kalo dibuat rumit ya akan rumit. Kalau memang diniatkan sungguh-sungguh ya banyak cara yang bisa ditempuh.

Contohnya..? Yang paling terlihat adalah bagaimana kita mendidik anak-anak kita sendiri. Atau bagaimana orang tua kita mendidik kita dari kecil hingga sekarang. Itu adalah proses membangun karakter bangsa yang sesungguhnya.

Eh, lalu apa hubungannya dengan judul diatas..? Kenapa kata bangsa ditambahi huruf “t”..? Apakah salah tulis..?

Bukan salah tulis. Memang benar yang tertulis di judul adalah “bangsat”. Bangsat adalah kepinding atau kutu busuk yang biasa hidup di kasur atau tempat duduk kayu, dan hobinya adalah menghisap darah manusia.

Jika ada orang yang duduk atau tidur di tempat tersebut, si kutu busuk akan senang dan segera menggigit dan menghisap darah orang tersebut. Dia akan senang dalam sekejap, kemudian tidur atau berkembang biak. Selesai.

Lalu apa hubungannya “karakter bangsa” dengan “karakter bangsat”..?

Mungkin begini: Jika pendidikan atau “pembangunan” dilakukan dengan instan maka bagai memberi kesenangan sesaat tanpa hasil yang baik dan benar bagi peradaban manusia.

Demikian. : )

Pemekaran dan Pemenggalan Wilayah

2 Comments

petakabluwu

Peta Kab Luwu

Pemekaran wilayah sudah menjadi jamak terjadi sejak banyak perubahan dan penambahan perundangan di negeri ini. Semua terjadi di hampir seluruh negeri dengan mengatasnamakan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Berawal dari status Facebook mas Anang YB 12 September 2011 yang menampilkan satu peta wilayah Kabupaten. Peta yang sangat menarik bagi saya.

Menariknya adalah satu wilayah “Tingkat II” yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan, tetapi ter;etak di dua lokasi terpisah. Terpisah..? Ya, ada dua lokasi yang terpisah.

Wilayah ini adalah Kabupaten Luwu, di bagian pantai Timur Sulawesi, yang meghadap ke teluk Bone. Kabupaten ini adalah kabupaten yang mempunyai ibukota di Palopo. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kota Palopo berganti status menjadi Kota Palopo, berdasarkan UU No.11 Tahun 2002 (April 2002).

Lokasi Kota Palopo adalah di tengah wilayah Kabupaten Luwu, tepatnya, memisahkan antara Kabupaten Luwu bagian Utara dan Selatan.

Dari situs web Kabupaten Luwu dapat kita baca: Daerah Kabupaten Luwu terbagi dua wilayah sebagai akibat dari pemekaran Kota Palopo; yaitu wilayah Kabupaten Luwu bagian selatan yang terletak sebelah selatan Kota Palopo dan wilayah yang terletak di sebelah utara Kota Palopo.

Sebagai orang awam politik dan nggak ngerti dalam beraktivitas “demi kesejahteraan rakyat”, saya melihatnya ini sesuatu yang antik.

Yang terpikir di saya adalah keefektifan dalam pengelolaan wilayah, misalnya berdasarkan pertimbangan aksesibilitas. Mempunyai wilayah terpisah oleh “wilayah orang lain” maka akan diperlukan tenaga ekstra untuk mengelolanya. Peraturan tidak mungkin selalu sinkron antardaerah tetangga, dan ini akan menjadi kendala utama mungkin tidak sekarang tetapi suatu saat.

Jika salah satu daerah dari dua lokasi yang terpisah tersebut menghasilkan sesuatu (hasil tambang atau hortikultura, misalnya) yang sangat berarti, dan hanya bisa dipasarkan melalui wilayah “seberang”-nya maka harus melewati wilayah tetangga. Akan ada kendala infrastruktur saat mana komoditas tersebut akan melintas dengan mulus. Infrastruktur disini bisa berupa fisik seperti jalan raya maupun nonfisik (peraturan daerah).

Belum lagi jika penduduk di wilayah “satunya” akan ke ibukota, harus menyeberang “negara lain”… hehe…

Mmm… ini tentunya hanya pemikiran saya yang tidak mengenal lebih jauh wilayah tersebut. Tetapi jika pada kenyataanya semuanya “baik-baik saja” ya… syukurlah.

Hanya kemudian yang antik adalah bentuk peta wilayahnya, dimana ada bagian yang terpisah (atau terpenggal..?) bukan oleh perairan (layaknya yang berwilayah kepulauan) tetapi oleh daratan…

: )

Dirgahayu Indonesia-ku

Leave a comment

Pantai Baluk Rening, Jembrana, Bali

Pantai Baluk Rening, Jembrana, Bali

Tantangan selalu datang meluas,
Tiada kami kan berputus puas,

Rajut bersama semangat membara,
Harumkan tanah-air pusaka.

Dirgahayu Indonesia-ku. Selamat hari kemerdekaan  yang ke-66.

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers