Home

Hamparan Karpet Hijau di Lereng Dempo

2 Comments

Kabut di "karpet hijau" perkebunan teh Dempo

Kabut di "karpet hijau" perkebunan teh Dempo

Hijau adalah simbol dari kekuatan alam dalam meluluhkan rasa manusia. Tidak percaya..? Coba rasakan saat anda berada di padang pasir yang luas, maka rasa anda akan jua meleleh. Saat anda berada di hamparan tanah gambut hitam yang luas, maka anda pun akan merasa risih. Tetapi saat anda berada di kehijauan yang luas maka kedamaianlah yang akan terasakan.

Dempo mempunyai hal ini. Suatu hamparan luas berwarna hijau terpapar di lerengnya. Benar, ini tentang Gunung Dempo, sebuah gunung berapi yang berada di jajaran pegunungan Bukit Barisan di wilayah Sumatera Selatan.

Sebagian wilayah Gunung Dempo masuk dalam wilayah administrasi Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan. Lereng gunung ini mempunyai keindahan khas yang telah ada sejak lama. Bentuk permukaan yang berundulasi, naik turun selayaknya lereng gunung, diperindah dengan tanaman teh yang luas. Hijau daun teh membentuk keindahan pandangan dan perasaan siapapun yang menikmatinya.

Perkebunan teh ini ada sejak jaman pendudukan Belanda di tanah air. Pengelolaannya kemudian dilanjutkan oleh PT Perkebunan Nusantara 7, salah satu BUMN di negeri ini. Lokasi ini dapat dijangkau sekitar delapan jam jalan darat dari kota Palembang menjanjikan petualangan wisata yang sangat menarik.

Apa yang dapat dinikmati saat kita berada di wilayah perkebunan teh ini..? Beberapa obyek wisata hadir disini, baik yang bersifat natural maupun buatan.

Tangga 2001, hamparan teh, dan Dempo yang berkabut.

Tangga 2001, hamparan teh, dan Dempo yang berkabut.

Dimulai dari wilayah Gunung Gare, suatu lokasi dimana terdapat perkantoran dari Pemerintah Daerah Pagaralam. Kompleks perkantoran yang unik karena berada di dalam wilayah kebun teh. Bangunan perkantoran yang menjulang bersatu dengan kesejukan dan keindahan bentang hijau di sekitarnya. Kegersangan sangatlah jauh bisa terasa saat kita berada di lokasi ini.

Di sebuah tanah terbuka, terdapat lapang dimana untuk pendaratan dari paralayang, salah satu olah raga yang memadukan pacuan adrenalin dan keindahan pengamatan alam dari udara. Tanah lapang ini didampingi oleh sebuah tangga yang berundak banyak dan tergolong unik. Pada papan petunjuk wisata disebutkan sebagai Tangga 2001, sebagian orang menyebutnya sebagai tangga seribu.

Bentuknya adalah tangga atau undakan yang memanjang dari level rendah ke tinggi membelah pepohonan teh. Lebar tangga ini sekitar 5 meter dan di tiap undakannya terdapat lampu. Lampu akan menyala berkedip saat mana kaki kita menginjaknya, atau menutupi sensor di bagian atas dari lampu tersebut. Undakan yang lumayan banyak dan menanjak tidak kan terasa saat kita menapakinya karena keindahan pemandangan Gunung Dempo menyapa kita langsung. Ya, arah naik tangga adalah arah ke Gunung Dempo. Saat kita berbalik arah, maka pemandangan Gunung Gare dan sebagian dari kota Pagaralam akan terlihat dari ketinggian ini.

Bentangan tanaman teh ini sangat luas. Saat kita menuju ke ketinggian lereng Gunung Dempo maka keindahannya semakin terasa. Kabut kerap hadir dengan setia, dan inilah saat dimana getaran keluluhan hati selalu datang. Kabut mempunyai kekuatan dalam meluluhkan rasa.

Tugu Rimau

Tugu Rimau dan kabut

Apa yang dapat kita temui saat kita mencapai batas ketinggian dari perkebunan ini..? Tugu Rimau akan menyambut kita dengan taman yang asri. Tugu ini berujud seekor harimau Sumatera yang berpakaian adat setempat dan sedang membawa obor. Harimau Sumatera diyakini masih terdapat banyak di wilayah Gunung Dempo dan sekitarnya, walau telah jarang ditemui oleh penduduk.

Patung Rimau menjadi salah satu lokasi wisata sejak dilaksanakannya Pekan Olah Raga Nasional (PON) pada tahun 2004 di Sumatera Selatan. Lokasi ini menjadi salah satu venue dari olahraga yang dilombakan di PON tersebut.

Ketinggian di lokasi Patung Rimau ini, sekitar 1.800 meter dari permukaan laut, membuatnya mempunyai bentang pandangan yang sangat luas. Hijaunya tanaman teh dengan bentuknya yang naik turun mengikuti permukaan lereng adalah keindahan pandangan yang luar biasa, tidak pernah membosankan.

Ketinggian lokasi ini pula berakibat pada pekatnya kabut saat datang menghampiri kita. Batas pandang sangat terbatas dan suhu udara pun bisa menyentuh belasan derajat Celsius.

Seberapa dingin yang dapat kita rasakan di sekitar wilayah ini..? Tentunya relatif, sesuai dengan kondisi saat itu. Yang pernah saya ukur saat malam hari adalah suhu dapat mencapai 16 derajat Celsius. Cukup dingin..? Pastinya…!

Bagaimana dengan fasilitas akomodasi? Penikmat keindahan alam tak perlu khawatir dengan tempat menginap, karena di tengah hamparan pohon teh inni terdapat beberapa wisma yang dikelola dengan baik. Ada yang dikelola oleh pemda setempat, Pemda Pagaralam. Ada juga yang dikelola oleh Pemda Kabupaten Lahat, dimana saat wilayah ini masih menjadi wilayah Kabupaten Lahat maka lereng Gunung Dempo ini menjadi perhatian utama pemda Lahat juga untuk sektor pariwisata.

Penginapan di tengah hijaunya teh dan berlatar Gunung Dempo

Penginapan di tengah hijaunya teh dan berlatar Gunung Dempo

Sekarang mari kita bayangkan, saat bangun pagi dimana matahari dari arah yang berlawanan dengan arah puncak gunung mulai bersinar. Cuaca cerah dan dari penginapan kita bisa menikmati pemandangan puncak Gunung Dempo dengan sangat jelas. Menikmati minuman teh hangat dari teh lokal yang beraroma khas dan nikmat rasanya.

Sementara itu kesibukan para pekerja perkebunan, terutama para pemetik daun teh terlihat sangat ramai, berjalan, naik motor dan sebagian naik kendaraan truk, mengarah ke lokasi tugas masing-masing.

Udara yang segar… Ah apalagi yang bisa mengalahkan suasana ini..?

Teh, dan suasana lereng Gunung Dempo, sangatlah khas. Hijau yang tebal dan menghampar laksana karpet hijau luas yang menyelimuti lereng Dempo. Lokasi yang layak dinikmati sebagai bagian dari cara kita mensyukuri nikmat Ilahi.

Beberapa foto seputaran lereng Gunung Dempo dapat dilihat pada slide berikut:

This slideshow requires JavaScript.

—–

Catatan:

Tulisan ini diikutsertakan meramaikan Pesona Sumatera Selatan yang diselenggarakan oleh komunitas blogger WongKito dalam rangka memperingati ulang tahun Provinsi Sumatera Selatan yang ke 66 pada tahun 2012. Keterangan silakan klik disini.

Tanah seribu cughub (ekspedisi Pagaralam bag-2)

1 Comment

Cughup Embun yang cukup tinggi...

Cughup Embun yang cukup tinggi...

Cughub adalah sebutan untuk air terjun. Air sungai yang jatuh dari ketinggian. Terjadi karena banyak penyebab peristiwa alam, dan kadang juga bisa dibuat oleh manusia. Pagaralam kaya akan cughub alami ini.

Kota Pagaralam terletak di kaki Gunung Dempo, yang merupakan salah satu gunung dalam Pegunungan Bukitbarisan. Gunung Dempo masih mempunyai tutupan lahan yang alami, demikian juga wilayah pegunungan di sekitarnya. Hal ini tentunya menjadikan sumber resapan yang luar biasa dari air tanah.

Mata air banyak terdapat di lereng wilayah ini. Hal ini menghasilkan sumber dari sungai-sungai yang sangat banyak. Morfologi pegunungan menjadikan aliran sungai kecil sekalipun dapat menjadi air terjun yang indah saat “terjun bebas” dari ketinggian.

Dari hasil survey yang dilakukan Pemerintah Kota, sampai saat ini telah terdata lebih dari 50 air terjun yang ada di wilayah Pagaralam. Beberapa diantaranya telah menjadi obyek wisata, tetapi masih banyak lagi yang belum tersentuh wisata walau keindahannya luar biasa.

Cughub Mangkok dan cughub Embun adalah contoh yang sudah dikelola dengan baik oleh Pemko. Cughub Mangkok berlokasi di   4° 0’49.37″S - 103°11’18.07″E, di lokasi tersebut dibuat bendungan kecil sehingga menjadi lokasi mandi/berenang alami yang menyegarkan. Terdapat ruang ganti pakaian, dan juga tempat parkir dan kedai makanan ringan.

Sementara itu Cughub Embun ( 4° 0’57.87″S - 103°11’38.71″E) merupakan aliran terusan dari cughub Mangkok. Untuk menikmatinya kita harus turun melalui tangga semen sekitar 30 meter dalamnya. Keindahannya… wow… Di dinding dekat dengan tempat jatuhnya air terdapat gua kecil, dengan bermacam kisah yang melekat… asik. Dinamakan Embun karena percikan air yang terasa dingin sepeti embun. Jika aliran air sedang deras, maka percikan tadi dapat membasahi kita dalam jarak yang cukup jauh. Ini karena ketinggian terjunnya.

Air terjun Mangkok dan Embun merupakan aliran dari sungai Air Parikan masuk dalam wilayah kelurahan Dempo Makmur. Selain itu, dalam kelurahan ini ada juga cughub Tujuh Kenangan dan Penyumpahan.

Bagaimana dengan air terjun yang masih belum tersentuh wisata..? Salah satu yang sempat saya kunjungi adalah cughub Cungkuk di kelurahan Muara Siban. Air terjun ini terletak di tengah perkebunan kopi rakyat dan hutan sekunder, pada aliran sungai Air Putih Gheni. Untuk mencapainya perlu menerobos pepohonan kopi sekitar 40 meter, kemudian turun tebing dengan kedalaman sekitar 20 meter. Lumayan repot karena memang belum ada jalan atau undakan khusus yang dibuat.

Keunikan air tejun Cungkuk ini adalah ia mempunyai tujuh tingkat jatuhan air. Dan tidak jauh dari air terjun ini (sekitar 20 meter) ada air terjun dari sungai lain yang bergabung di sungai yang sama. Lokasi keduanya adalah di   4° 4’23.20″S - 103°13’42.41″E.

Cughub Cungkuk

Cughub Cungkuk (kiri) dan Kabuan (kanan), berdekatan menyatu menjadi satu aliran

Ada juga cughub yang berasal dari aliran sungai yang besar. Untuk ini sudah banyak dikenal orang dan terlihat jelas dari jalan utama Lahat – Pagaralam. Air terjun ini bernama Air Terjun Lematang Indah, yang merupakan aliran dari Sungai Lematang. Lokasinya di   4° 4’21.92″S - 103°19’22.10″E.

Banyaknya air terjun merupakan salah satu keuntungan tersendiri. Selain dapat dimanfaatkan untuk wisata alam yang menarik, untuk beberapa lokasi dapat juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik mikro/mini hidro. Yang telah dibuat sebagai pembangkit listrik minihidro yaitu di daerah kelurahan Candi Jaya.

Ke Pagaralam tanpa menikmati air terjunnya yang indah serasa belum pas… : )

*/ tulisan bagian-2 dari Ekspedisi Pagaralam
*/ foto-foto dapat dilihat di “Ekspedisi di Pagaralam
*/ peta lokasi foto-foto dapat dilihat di  http://bit.ly/petafotoPGA 

Mengunjungi negeri Besemah (ekspedisi Pagaralam bag-1)

Leave a comment

Tugu Besemah, terletak dekat dengan Air Terjun Lematang Indah

Tugu Besemah, terletak dekat dengan Air Terjun Lematang Indah

Pertengahan Juli 2011 saya berkesempatan mendatangi suatu wilayah di lereng dan kaki Gunung Dempo. Daerah yang saya kunjungi bernama Kota Pagaralam, suatu wilayah administrasi Kota yang dibentuk berdasarkan UU No.28 tahun 2001. Sebagaimana wilayah lainnya di Indonesia, Pagaralam mempunyai “jargon” khas: “besemah“.

Kata “besemah” mempunyai arti singkatan dari: Bersih, Sejuk, Aman, dan Ramah Tamah. Hanya itu saja artinya..? Setelah mengenal lebih dalam, kata BESEMAH ternyata mempunyai arti lain, tidak sekedar singkatan dari 4 kata seperti ditulis diatas.

Besemah, berasal dari kata SEMAH yang merupakan nama sejenis ikan. Ikan ini adalah ikan khas daerah sekitar Gunung Dempo, dan diyakini saat ini menuju kepunahan. Selain berarti nama ikan, Semah juga merupakan nama sungai yang terdapat di desa Tebat Gunung, Kecamatan Dempo Selatan.

Kota Pagaralam sendiri terdiri dari lima kecamatan, yaitu: Pagaralam Utara, Pagaralam Selatan, Dempo Utara, Dempo Tengah, dan Dempo Selatan.

Di sungai Semah, diyakini merupakan tempat ikan Semah berada, yang ditemukan pertama kali oleh kakek leluhur di daerah tersebut, yaitu Puyang Atung Bungsu.

Ikan Semah ini kemudian juga ditemukan di beberapa sungai di Pagaralam, sehingga kemudian muncul sebutan Besemah, yang berasal dari Ber (mempunyai, kemudian dilafalkan: “be”) Semah: Besemah. Sehingga wilayah Pagaralam dan sekitarnya, yang ditemukan ikan semah di sungai-sungainya yang banyak itu, disebut sebagai tanah Besemah hingga sekarang.

Ada juga istilah yang sering terdengar, yaitu: Jagat Besemah. Ini adalah istilah yang diberikan untuk suatu masa kekuasaan dalam sejarah wilayah Besemah. Pemerintahan ini berpusat di Besemah Lebar atau sekarang di desa Banua Keling. Masa pemerintahan ini sekitar abad 14 Masehi, yang dipimpin oleh Puyang Atung Bungsu, dan berupa pemerintahan Keratuan.

Wilayah Jagat Besemah ini meliputi Pagaralam (sekarang), dan juga sebagian Lampung, sebagian lagi wilayah di Sumatera Selatan (sebagian dari Lahat, Muara Enim, Empat Lawang), dan sebagian lagi wilayah di Bengkulu.

Pada masa pendudukan Belanda, daerah Besemah juga dikenal sebagai basis pejuang Besemah yang merepotkan Belanda. Perang terbuka antara tentara Belanda dan pejuang Besemah terjadi pertama kali pada Juni 1866. Pertempuran ini terjadi di desa Guru Agung, tak jauh dari benteng Penandingan, yang merupakan benteng pertahanan pejuang Besemah.

Kondisi perlawanan ini terus berlanjut hingga jaman kekuasaan Jepang, hingga kemudian tercapainya kemerdekaan Indonesia.

Jika kita dalam perjalanan dari Lahat menuju ke Pagaralam, maka setelah memasuki wilayah Pagaralam, dan melintasi jembatan sungai Lematang, akan kita dapati tugu Besemah. Tugu yang dipucuknya terdapat patung ikan besemah.

*/ tulisan bagian-1 dari Ekspedisi Pagaralam
*/ foto-foto dapat dilihat di “Ekspedisi di Pagaralam
*/ peta lokasi foto-foto dapat dilihat di  http://bit.ly/petafotoPGA 

Bertamu ke Rumah Pangeran

14 Comments

Clarence House (Wikipedia)

Clarence House (Wikipedia)

Rumah Pangeran itu mempunyai nama, dan namanya adalah Clarence House.

Ini adalah cerita saat mana memenuhi undangan dari The Prince’s Rainforest Project, pada bulan Oktober tahun 2008 lalu.

Pagi itu, Senin 20 Oktober 2008, setelah mandi pagi dan masih kacau dengan waktu akibat perbedaan sekitar 7 jam dengan waktu di kampung halaman, bersiaplah segera untuk keluar kamar dan menuju lobi Hotel Rubens, hotel berbintang empat yang cukup strategis di tengah kota London dan terletak berseberangan dengan kandang kuda istana Buckingham.

Pakai jas biru dongker oleh-oleh dari tim TISDA saat ke Amerika pertengahan 90-an, bersepatu sotik hitam Sin Lie Seng yang merupakan sepatu yang dipakai saat pernikahan (sayang sekali toko Sin Lie Seng di Pasar Baru Jakarta terbakar belum lama ini), dan berdasi rapi, duh jarang banget pake “seragam” kaya gini…

More

Kumandang adzan yang tak pernah putus

17 Comments

Garis fajar di ufuk timur kota London

Garis fajar di ufuk timur kota London, pemandangan dari jendela Boeing 747-400

Berapa kali kita mendengar adzan, seruan/ajakan menunaikan sholat, dalam sehari..? Dalam kondisi normal, kita hanya mendengar lima kali, sesuai dengan kewajiban harian sholat wajib. Dalam kondisi lain kita bisa mendengar lebih dari itu, misalnya saat adanya gerhana matahari atau bulan, atau saat beberapa kasus khusus lainnya terjadi. Tetapi sadarkah kita bahwa adzan dikumandangkan umat muslim dengan tak pernah putus selama sehari penuh..?

Saat meniti perjalanan ke belahan dunia lain, Oktober tahun 2008 lalu, kesadaran ini kembali muncul dan mengingatkan bahwa adzan selalu berkumandang setiap saat, dan tak pernah berhenti. Yang mengingatkan adalah perjalanan yang seolah berpacu dengan kehadiran sinar matahari.

Start saat matahari telah terbenam di Bandara Soekarno-Hatta, kemudian mampir sebentar di Kuala Lumpur International Airport, dan kemudian melanjutkan perjalanan ke bandara Heathrow London. Sesaat sebelum mendarat terlihatlah garis fajar yang telah nampak di arah timur.

More

Greenwich si Pembatas Dunia

4 Comments

Prime Meridian of The World

Prime Meridian of The World, pembagi East dan West Longitude

The City Cruiser akan berlabuh di dermaga Greenwich selama 20 menit. Waktu yang sangat singkat untuk suatu kunjungan di kota “sekelas” Greenwich. Setelah turun dari boat, yang memakan waktu sekitar 5 menit karena harus antri dengan penumpang lain yang cukup banyak, segera mencari peta lokal yang selalu ada di lokasi-lokasi wisata. Saya berjalan dengan Suvit, sementara dua rekan lain, Do Xuan Lan dan Sithong, memisahkan diri entah kemana.

Kami berdua mempunyai tujuan yang sama yaitu Greenwich Park.

Tulisan ini masih lanjutan dari The Series – London 2008.

More

Cruise The Thames in Style

Leave a comment

Penumpang City Cruises di dek

Penumpang City Cruises di dek

Berlayar di sungai Thames dengan bergaya, kira-kira itulah artinya judul leaflet yang saya terima dari petugas loket City Cruises.  Tepat sesuai jadwal, kapal merapat di dermaga Waterloo Millenium. Para calon peserta pelayaran segera berbaris rapi dan bergerak naik ke kapal. Hampir semua penumpang naik ke dek di bagian atap.

Cuaca lumayanlah. Agak berawan dengan suhu sekitar 12 derajat Celcius. Sinar matahari sesekali menembus barikade awan-awan yang setia menutup kota London sejak pagi. Yang kurang bersahabat adalah angin, sesekali terpaannya begitu kencang yang mampu menembus baju hangat atau jaket dan terasa tajam di kulit.

Oya, tulisan ini masih bagian dari The Series – London 2008.

More

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 554 other followers