Mengenang 26 Desember 2004

26 12 2008
Jangan Lupakan Tsunami, tulisan pada Masjid di Lampuuk, Satu-satunya bangunan di desa Lampuuk yang tersisa sesaat setelah Tsunami.

Jangan Lupakan Tsunami, tulisan pada Masjid di Lampuuk. Masjid ini satu-satunya bangunan di desa Lampuuk yang tersisa sesaat setelah Tsunami.

Hari Minggu, 26 Desember 2004, adalah hari yang tidak akan terlupakan bagi sebagian besar penduduk Indonesia pada umumnya, dan bagi semua insan manusia yang mempunyai hubungan khusus dengan Aceh pada khususnya.

Tanggal 1-4 Desember 2004 saya dan keluarga berada di Pulau Weh. Keluarga begitu menikmati keindahan pantai-pantai di Pulau Weh dan dunia bawah air di sekitar Pantai Iboih. Masih sangat segar dalam ingatan di kepala kami masing-masing kondisi alam yang menyenangkan itu, sehingga saat mana kejadian pada hari Minggu, 26 Desember, terdengar maka sangatlah mengejutkan.

Sepanjang waktu yang mencekam, saat mana belum ada kabar apapun dari Aceh, anak-anak saya selalu menanyakan kondisi pulau Weh. Saya pun sangat bertanya mengenai kondisi semua rekan yang berdomisili di Banda Aceh dan kota Sabang di Pulau Weh.

Beberapa tulisan saya terkait dengan kejadian ini, yang dilihat dari salah satu sudut sempit, yaitu:

Semoga kita semua diberi kekuatan dalam menerima Maha Karya dari Sang Pencipta, yaitu alam semesta yang sempurna, sebagai khalifah yang bijak. Bencana alam akan selalu ada, kesiapan kita bersama lebih dituntut daripada kita saling menuntut…

Sang Khalik telah memerintahkan kita: Bacalah





Memburu Dren Tengku Chik

3 08 2008
Durian Tengku Chik

Durian Tengku Chik

Akhir Juli 2008 dihiasi dengan warna merah pada satu hari kalender, yaitu pada tanggal 30 Juli yang bertepatan dengan 27 Rajab 1429 H, libur nasional dalam rangka isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW. Libur sehari kali ini dimanfaatkan untuk… cari duren..!!! Kebetulan kali ini di Sabang sedang musim duren. Selain impor dari daratan, banyak juga duren produk lokal yang bisa ditemui. Tapi rasanya gak ada yg berani jamin. Maklumlah, dimanapun ada jual durian, sulit untuk menemukan yg te-o-pe yang mana.

Untuk wilayah Sabang, atau Pulau Weh, ada satu duren unik yang, katanya, mempunyai rasa yang khas dan dijamin mutunya. Durian ini dikenal dengan sebutan Durian Tengku, dan hanya tumbuh di daerah “gunung” di Kelurahan Iboih, Pulau Weh bagian barat. Siang, sekitar jam 12an, segera berangkat menuju lokasi. Kali ini berangkat bareng bang Udi, Irwan, dan Fahmi. Kami naik tiga kereta, saya dan Udi sendiri sedangkan Irwan dengan Fahmi sekereta. Ini bukanlah “naik kereta api tut tut tut…”, tapi kereta yang berarti “sepeda motor”.

Read the rest of this entry »





Wisata Belerang Jaboi

14 04 2008

Wisata JaboiPosisi Indonesia pada sabuk api dunia menjadikan kita, penduduknya, tidak asing lagi dengan pemandangan gunung, baik gunung yang masih aktif ataupun yang telah “mati”. Banyaknya gunung berapi menjadikan kita mempunyai banyak sekali tempat “wisata belerang”. Salah satu tempat wisata belerang yang menarik adalah di Jaboi. Jaboi adalah kota kecil yang telah terekam sejak lama pada peta “dunia barat”.

Pada saat alat penerima GPS mulai menyajikan map dalam layarnya beberapa tahun lalu, kota Jaboi hampir pasti sudah ada disana, disaat yang sama banyak kota lain di Indonesia, yang lebih besar dan ramai, belum terdapat pada peta dijital keluaran “perekam posisi” ini. Hal ini kemungkinan disebabkan karena Pulau Weh, dimana kota Jaboi berada, telah dikenal dunia pelayaran sejak jaman dulu, terutama saat Sabang menjadi salah satu pelabuhan laut terbesar dunia, yang dikuasai oleh Belanda. Jaboi sendiri terletak di bagian Selatan pulau Weh.

Read the rest of this entry »





Pulau Weh dalam rekaman

7 05 2007

Pulau Weh, terletak di “seberang” kota Banda Aceh, berkota Sabang, dan merupakan wilayah administrasi paling barat dan utara Indonesia… semua orang juga sudah tau… Beberapa rekan sudah berulangkali menginjakkan kaki di pulau ini, tetapi tentunya masih banyak yang belum pernah ke sana. Ada yang bertanya melalui email ataupun dalam obrolan mengenai bagaimana menuju ke sana, bagaimana dengan transportasinya, akomodasinya, de-el-el. Ada seratus macam pertanyaan, yang bisa dijawab dengan seribu macam jawaban… (lho…).

Kali ini saya ingin berbagi hasil pandangan berupa rekaman perjalanan. Rekaman ini tidak hanya dari satu perjalanan saja tetapi dari beberapa kali ke pulau ini, dan hanya dengan peralatan minimalis berupa kamera dijital Sony DSC-P73, yang mempunyai fasilitas MpegMovie. Untuk bisa menikmatinya, browser harus mempunyai plugin flashplayer.

Read the rest of this entry »





Ke Ujung Barat lagi…

15 04 2007

Bay SabangApril 2007, ada nasib yang sangat baik, ketika dilibatkan menjadi anggota tim penggembira dalam rangka pemaparan suatu kegiatan. Apa “nasib baik”-nya..? Tim akan ke tempat studi yang berlokasi di ujung barat Indonesia, Sabang, Pulau Weh…!

Selasa pagi, perjalanan dimulai dari CGK sekitar jam 6.30. Dengan diantar Lion dan sempat mampir ke Medan sejenak, akhirnya sampai di Sultan Iskandar Muda, bandara di Aceh, sekitar jam 11.00. Dijemput oleh pak Imran dengan taksi putihnya, sesiangan ini sempat mampir di beberapa tempat di Kota Banda Aceh, dimana rekan yang dicari, alhamdulillah, ketemu semua.

Jarak ke Pulau Weh masih jauh, untuk mencapainya, sore ini, digunakan Kapal Cepat dari pelabuhan Ulele (nulis nama pelabuhan ini sebenarnya bukan seperti itu, hanya untuk memudahkan membaca dan mengingat aja). Kapal Cepat Baruna Duta dari Ulele menuju ke pelabuhan Balohan (di Pulau Weh), berangkat jam 15.30. Tiket (masih) bertarif Rp. 75.000 untuk VIP (plus makanan ringan dan segelas air mineral yang dibagikan saat perjalanan dimulai). Read the rest of this entry »





Ngopi Ulee Kareng di Ulee Kareng

2 11 2006

Warkop Jasa AyahApakah saya penggemar minum kopi? Jika jawabannya “ya”, maka pertanyaan berikutnya adalah: Apakah saya pernah/sedang berada di Banda Aceh? Jika jawabannya “ya” maka pertanyaan selanjutnya: Pernahkah saya merasakan kopi Ulee Kareng di Ulee Kareng? Jika jawabannya “tidak”, maka jawaban dua pertanyaan pertama “gugur”. Begitulah kisah, jika sebagai penggemar minum kopi dan sudah pernah atau sedang berada di Banda Aceh tapi belum pernah ngopi Ulee Kareng di Ulee Kareng maka sama dengan “bukan penggemar ngopi” dan keberadaan di Banda Aceh “sama sekali gak komplit”. Read the rest of this entry »





.id: Pantai Iboih

16 02 2006

Pantai IboihMembaca Kompas rubrik Sosok terbitan hari ini, tentang pak Dodent, jadi inget Pantai Iboih di Pulau Weh. Pantai yang terletak gak jauh dari Pantai Gapang, dan mempunyai keindahan plus, yaitu taman laut yang ruarrr biasa indahnya.

Pantai Iboih terletak pada posisi 5°52′33.42″ LU dan 95°15′22.55″ BT, berhadapan dengan Pulau Rubiah, pulau kecil tempat persinggahan jemaah haji nusantara sebelum dan setelah ke Mekah pada jaman dahulu, saat kendaraan utama ke tanah suci adalah kapal laut. Read the rest of this entry »