Home

e-Book Mencari Masjid Cordoba yang SARA

Leave a comment


Perjalanan Mencari Masjid Cordoba di Andalusia

Perjalanan Mencari Masjid Cordoba di Andalusia

Suatu catatan perjalanan dalam bentuk apapun, termasuk e-Book, tentunya mencoba mengungkapkan hal yang dialami atau diduga berdasarkan apa yang ditemui. Bagaimana jika yang diungkapkan tersebut menyangkut SARA..?

e-Book yang berjudul Perjalanan mencari Masjid Cordoba di Andalusia ini dibuat berdasarkan pengalaman penulis dan… jelas-jelas mengungkapkan SARA.

Sebenarnya ini hanyalah rangkaian cerita perjalanan yang dirangkum dalam e-Book. Cerita perjalanannya sendiri sudah pernah dituliskan di blog ini pada kategori serial Perjalanan Campillos Cordoba. Dan e-Book dibuat untuk mempermudah berbagi pengalaman tanpa harus terkoneksi ke internet saat menikmatinya.

Lalu SARA-nya dimana..?

SARA adalah Suku, Agama, Ras, Antargolongan. Jika salah satu, salah dua, salah tiga, atau salah semua tersingggung dalam tulisan, tentunya e-Book ini dapat dikategorikan SARA. Rincian adalah sebagai berikut:

SUKU, di dalam tulisan e-Book ini ditemukan pengungkapan mengenai suku Moor, yang memasuki daratan Eropa dengan membawa keyakinan “baru” pada abad ke delapan Masehi.

AGAMA, jelas-jelas disebutkan mengenai agama Islam dan Katolik dalam e-Book ini.

RAS, mmm sepertinya nggak ada disinggung masalah ras, apalagi ayam ras…

ANTARGOLONGAN, mmm nggak ada.

Jadi setidaknya ada dua hal yang terekspose dalam e-Book ini, yaitu masalah SUKU dan AGAMA, jelas ini masuk dalam unsur SARA. Untuk jelasnya silakan unduh dari laman buku/eBook ini.

Jangan khawatir, tidak ada jebakan Batman berupa iklan atau yang lainnya.

: )

Transkrip berkisah di Twitter Mencari Masjid Cordoba

2 Comments


Atas saran seorang rekan blogger, kang Chandra Iman, agar mem-backup tweets saat berkisah tentang “Perjalanan di Andalusia mencari Masjid Cordoba”, saya mencoba dengan meng-”copy-paste” dari Twitter. Hal ini untuk memudahkan rekan yg ingin membaca tetapi tidak sempat mengikuti, ingin membaca transkripnya, dan tidak terbiasa dengan twitter.

Formatnya sama dengan di Twitter, artinya saat membaca “dimulai dari yang paling bawah” (sesuai time line).

Untuk yang ingin melihat arsipnya di Twitter, sila gunakan tagar #httcor, atau coba klik tautan ini.

Semoga berguna. Salam hangat selalu.

Arsip diblog lain sila ikuti di: http://bit.ly/94QTtA

_____

More

Pengalaman pertama berkicau kisah Cordoba di Twitter

9 Comments


tweet cordoba

Berkicau perjalanan di Cordoba

Mencoba menggunakan Twitter untuk menceritakan dan berbagi pengalaman yang telah lalu, ternyata asik juga. Hal ini kesamapaian saat Jumat 3 September malam, yaitu tepatnya dimulai jam 20:30. Supaya ber-judul, maka dipilihlah “Perjalanan di Andalusia mencari Masjid Cordoba”. Isinya adalah tentang pengalaman perjalanan mencari Masjid Cordoba saat menjalani KKN di daerah pedalaman Spanyol Selatan.

Yang pertama, selalu menghadirkan keasyikan tersendiri. Baik dari segi kesulitan memulai ataupun kesiapan materi dan bagaimana menghidupkan cerita. Karena ini sifatnya yang “langsung dinikmati pembaca” maka terasa sangat berbeda dibandingkan menulis kisah dalam blog biasa. Jika dalam blog semua kata dan kalimat masih bisa diedit dengan santai, maka dalam microblog kali ini waktu pengeditan per kata dan per kalimat hanya dalam hitungan detik.

Memulai selalu lebih sulit daripada melanjutkan, katanya. Dan benarlah, setelah kisah berhasil mengalir, maka dengan relatif mudah bisa dikembangkan dalam perjalanannya. Beberapa hal kecil yg selama ini terlupakan, mulai terbuka dalam ingatan, dan segera dituliskan. Konsentrasi yang perlu dijaga adalah benang merah antar-tweet. Karena ini sifatnya mengalir maka akan sangat terlihat jika antar-tweet ada yang gak nyambung. Juga kesesuaian jalan cerita dengan stock gambar (berupa foto) yang ada.

Penggunaan hash-tag (tagar, tanda pagar) sangat membantu baik dari sisi saya sebagai penulis maupun dari sisi pembaca. Apalagi yang menggunakan perangkat lunak pendukung, seperti TweetDeck misalnya. Dengan adanya tagar maka tweet yang muncul dilayar dapat difilter sesuai dengan tagar yang digunakan.

Beberapa kali tweet mengalami kesalahan tagar, dan ada yg disadari ada yg tidak. Untuk twet yg salah tagar dan disadari maka segera diganti dengan mengulangi tweet tsb dan menghapus yg salah. Hal ini saya lakukan agar pembaca (dan saya sendiri) yang menggunakan fasilitas filter bisa tetap mengikuti dengan benar.

Saya tidak tahu ada berapa rekan tweeps yang mengikuti kicauan saya tadi malam, ini bukanlah hal penting. Karna yang terpenting bagi saya adalah dapat mengawali pemakaian fasilitas microblog Twitter untuk berkisah dengan cara yang unik… : )

Bagi yang telah meluangkan waktu mengikuti, bahkan ada yang sampai selesai, sekitar jam 12:00 malam, saya ucapkan terimakasih. Jangan lupa masukannya ya, supaya lain kisah bisa lebih baik lagi.

Untuk yang ingin melihat arsipnya di Twitter, sila gunakan tagar #httcor, atau coba klik tautan ini.

Ohya, mohon maaf jika ada kesalahan informasi ataupun kesalahan ketik yang ada.

: )

Made in China

2 Comments


Campillos @ Spain

Campillos @ Spain

Juni 2003, saatnya musim panas di Eropa Selatan. Saya sedang berada di Desa Campillos, Spanyol bagian Selatan, yang mempunyai suhu harian berkisar 35 – 40 Celcius.

Banyak yang “antik” disini. Antara lain tiap siang hari semua kegiatan di daerah terpencil ini berhenti sekitar pukul 13. Inilah saatnya siesta yaitu saatnya semua kegiatan berhenti untuk istirahat siang. Semua toko segera menutup pintu dan… berbaringlah. Siesta memang berarti baringan, berbaring untuk istirahat. Desa segera senyap, semua aktivitas hilang dari pandangan. Semua orang menyelinap di rumah masing-masing.

Siesta berakhir pada pukul 16. Perlahan semua kegiatan terlihat kembali semarak. Jalan-jalan mulai terisi dengan berbagai kendaraan yang didominasi sepeda motor dan mobil kecil (sekelas jip dan sedan), sesekali traktor pun melintas di tengah kota. Maklumlah desa pertanian, banyak traktor disini. Toko-toko pun segera membuka pintu, jendela dan korden mereka. Toko di Campillos mirip dengan toko di pedalaman tanah air tercinta. Kemiripan antara lain: lokasi yang tersebar di seluruh kota, toko sekaligus menjadi hunian pemiliknya, dan isinya sangat beragam kecuali untuk beberapa toko khusus yang menjual buku, sepatu atau pakaian, yang tidak tercampur dengan barang lain.

More

Dunia es krim Wall’s

23 Comments


wall\'sSaat kecil, merek es krim yang paling diingat karena ngetopnya adalah es krim Woody, kemudian juga ada es krim Campina. Saat “bisa mendapatkan” es krim tersebut, wow, rasanya kenikmatan dan kesombongan ada dipuncaknya. Ini karena saat itu saya tinggal di pedalaman, dan es krim tergolong makanan yang masih mewah. Lha wong listrik aja belom ada, gimana mau ada yang jualan es krim..? Es krim hanya beredar di ibukota Provinsi..!

Saat ini, walaupun listrik tetep aja susah stabil, tapi sudah beragam merek es krim beredar di pelosok dan semua menjanjikan kenikmatan sesaat. Terutama saat krim dingin itu mampir sejenak dalam mulut, sesaat sebelum tergelincir kedalam tenggorokan.

Wall’s, siapa yang gak kenal dengan merek ini..? Dengan sistem penjualan yang menusuk ke pedalaman dan dengan suara “penarik perhatian” yang khas, semua anak-anak, dan juga yang sudah bukan anak-anak lagi, hampir pasti pernah mencoba es krim yang satu ini. Saya juga pernah doong…

Gimana dengan Wall’s di luar negeri tercinta ini..? Ada gak ya..?

More

.es: Perjalanan Pulang (CC 5/5)

4 Comments


Gerbang AlmodovarMelalui lorong-lorong sempit dan panjang adalah kenikmatan sendiri saat mencari gerbang keluar “komplek Cordoba”. Setelah melalui beberapa kelokan meragukan, akhirnya berhasil keluar dari komplek ini, dan mulai menyusuri jalan raya. Terik matahari siang memang luar biasa, display temperatur yang terpasang dibeberapa tempat menunjukkan angka 40 derajat Celcius. Tanpa perlu liat kanan-kiri, perjalanan dipercepat dengan satu tujuan: Stasiun Cordoba yang tentunya sejuk karena ber-AC… More

.es: Dan Kerinduan yang Tersisa (CC-4/5)

Leave a comment


La Mezquita CatedralMemasuki bangunan indah ini dari pintu di sisi barat daya, segera terasa aroma masjid yang sangat kental, terlihat dari bentuk tiang dan lengkung yang menghubungkan tiang-tiang tersebut. Bebatuan yang berasal dari jaman Romawi dan Gothic dari berbagai daerah di Eropa, dan juga yang berasal dari daratan Afrika utara masih tegak dengan indahnya membentuk tiang dan menjadi dasar banyak ornamen di dinding.

Dinding pada sisi baratdaya dan timurlaut dari bangunan ini adalah sisi yang telah diubah menjadi banyak kapel. Sedangkan bagian tengah dan sisi baratdaya masih dipakai untuk keperluan kegiatan gereja hingga kini. More

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 906 other followers