Lebih dari 3 bulan berselang, cerita jalan-jalan di Tanimbar (Operation Tanimbar) akhirnya baru bisa ditulis dan diketik lagi. Dengan membolak-balik catetan perjalanan plus melihat foto-foto dan film rekaman, akhirnya muncul lagi titik cerita yang harus diteruskan.
Saumlaki, Minggu 28 Agustus 2005, siang menjelang sore yang terik.
Suasana udara siang yang panas menyengat menambah suasana tim agak gerah dan semakin berdebar saat mengetahui berita dari bandara Olilit bahwa pesawat CESNA 402B masih “tertahan di udara” Kupang. Menurut perhitungan pilot yang disampaikan ke pengontrol di bandara mereka akan sampai (ETA) di Saumlaki pada 18.30. Kuatnya angin arah Barat akan menghambat penerbangan pesawat ringan tersebut saat mengarungi angkasa dari Kupang ke Saumlaki. Kepanikan agak terasa mengingat pada 18.30 matahari segera terbenam dan bandara tidak mempunyai lampu pada landasan sebagai panduan visual saat mendarat. Read the rest of this entry »
Tahun 1999, kota Saumlaki memulai babak baru sebagai ibukota Kabupaten, ini sesuai dengan berdirinya Kabupaten Maluku Tenggara Barat (weleh, Tenggara Barat nyebutnya dalam bahasa Inggris apa ya?) berdasar UU no.46 th 1999. Kota ini menjadi pusat pemerintahan wilayah kabupaten yang cukup luas (sekitar 125.442 km2). Dimana daratannya hanya 10% dari luas wilayah…
Perjalanan dalam Operation Tanimbar tahap pertama telah usai. Denpasar – Saumlaki telah dilewati.
Persiapan di Denpasar sudah harus selesai. Jadwal sudah mengharuskan tim segera berangkat ke Saumlaki. Tim Udara harus segera berangkat, Sabtu, 27 Agustus 2005. Semua kekurangan harus diselesaikan sebelum operasi udara dimulai, dan ini bisa terjadi pada detik-detik sebelum penerbangan dimulai, saat D-1.
“Ber 2-1-7 an”, tulisan yang sering terlihat di bak truk, stiker pada Angkot, atau coretan di dinding di banyak tempat. “Kalimat” itu dibaca: berdua satu tujuan, ungkapan untuk menyatakan bahwa ada dua individu yang bersatu dalam satu tujuan.
























Last Comments