Ikut mengingat hari kelahiran Lord Baden-Powell.

Hari Lord Robert Baden-Powell 22 Februari


blog2

Lord Baden-Powell dan buku Scouting for Boys.

22 Februari 1857 adalah hari kelahiran Robert Stephenson Smyth Baden-Powell. Beliau kemudian dikenal sebagai Bapak Kepanduan Dunia, dengan sering disebut namanya sebagai Lord Baden-Powell. Ia merupakan tentara Angkatan Darat Inggris dan juga seorang penulis. Bukunya mengenai kepanduan sangat terkenal, yaitu Scouting for Boys: A Handbook for Instruction in Good Citizenship, terbit pertama di Inggris pada 24 Januari tahun 1908.

Ikut mengingat hari kelahiran Lord Baden-Powell.

Ikut mengingat hari kelahiran Lord Baden-Powell.

Scouting for Boys adalah hasil dari penulisan ulang buku scouting untuk tentara, Aids to Scouting (karya Baden-Powell tahun 1899), yang ditulis kembali untuk aktivitas anak-anak muda. Isinya diperkaya dengan pengalaman Baden-Powell sendiri dalam bidang ketentaraan dan kepanduan.

Selamat hari Baden-Powell, Scout Founder’s Day..!

Salam Pramuka..!

*/ : )

10919404_782261898514080_5016204920317234974_o

Kucing kami @KasihkuHatiku di Instagram Twitter dan Facebook


Follow @KasihkuHatiku

Follow @KasihkuHatiku

Siapa yang mengira akan dititipkan dua ekor kucing ganteng dan cantik seperti ini. Terbiasa dengan kehadiran hewan piaraan di rumah sejak kecil membuat krucil selalu menginginkan adanya hewan piaraan ditempat kami yang baru ini. Hewan favorit kami adalah kucing.

Seorang sahabat Indonesia yang telah lama berada di Michigan (tempat kami saat ini) mengetahui hal ini dan memberikan dua (dari tujuh) kucingnya untuk kami. Kedua ekor kucing ini adalah hasil adopsi dari kucing jalanan, atau kucing yang tidak berpemilik, saat musim panas lalu. Ia saat itu melihat kedua anak kucing ini bermain di luar dan selalu mencari makan sendiri. Terpikir bahwa saat musim dingin tiba pasti akan menyengsarakan (atau dapat mematikan?) kedua ekor kucing ini. Apalagi yang betina sedang luka parah dibagian badannya.

Hasil adopsi ini, setelah dirawat maksimal oleh sahabat tersebut, lalu diberikan pada kami. Usia mereka saat ini sekitar tujuh bulan. Yang jantan diberi nama Kasihku, sedangkan yang betina diberi nama Hatiku. Bagaimana kami memanggilnya..? Nickname-nya apa ya?

Hatiku mempunyai panggilan Heti. Nama ini sudah diberikan dari sahabat kami. Sedangkan Kasihku kami beri nama panggilan… Chiku..!

Kehadiran mereka menambah keramaian tempat tinggal kami yang relatif mungil. Seru..! Mau intip kelucuan dan keasikan mereka..? Simak video Vine berikut:

Heti dan Chiku juga hadir di Instagram, Twitter, dan Facebook..! :D

Penasaran dengan penampakan mereka yang selalu lucu dan menggemaskan..? Silakan cek di:

*/ : )

Sumber ilustrasi: gubuk-cahaya.blogspot.com

Hidup Dalam Tempurung


Sumber ilustrasi: gubuk-cahaya.blogspot.com

Sumber ilustrasi: gubuk-cahaya.blogspot.com

Kadang kala kita mendengar ungkapan “bagai katak hidup dalam tempurung”. Entah apa arti sesungguhnya. Mungkin saja berarti hidup dalam kondisi statis, homogen, yang dialami selalu sama selama hidup. Tiada kehidupan lain yang lebih indah, tiada yang lebih benar, tiada yang lebih asik daripada “di sini” dalam tempurung.

Ungkapan ini beberapa kali ditujukan pada saya saat saya masih “dalam tempurung” yang bernama sekolah, kampus, kantor, organisasi dan beberapa tempat lainnya. Mungkin karena saat itu saya merasa serba hebat dan selalu benar. Tidak berani melihat di luar lingkungan tempurung tersebut.

Jika saya tetap dalam tempurung, menikmati keindahan suasananya selama mungkin, maka berartikah hidup saya? Bagaimana saya mengaplikasikan keilmuan saya? Bagaimana saya ikut serta menyampaikan kedamaian yang diperintahkan oleh Nya bagi orang lain di muka dunia? Dan bagaimana saya merasakan keindahan ciptaan Nya, lalu bersyukur atas semua pemberian Nya?

Beranikah saya keluar tempurung? Tempurung yang terkadang saya ciptakan sendiri berbalut alasan klasik: suku, agama, ras, antargolongan, partai, alumni, organisasi, dan masih banyak lagi.

Jika saya masih bertahan dalam tempurung seperti itu maka semakin tebal pemisah antara mata dan hati dalam mensyukuri nikmat Nya.

*/ tulisan ini bukan surat terbuka : )

Mewarnai Indonesia

Jelajah Nusantara Dengan Cerita


Berbagi dengan Jelajah Nusantara

Berbagi Cerita dengan Jelajah Nusantara

Mari menjelajah Nusantara dengan berbagi cerita. Laman ini adalah laman daftar situs daring komunitas dan kunjungan, sekaligus mengajak rekan blogger pembaca laman ini untuk ikut berkeliling Nusantara.

Untuk memahami penjelajahan ini silakan baca: Menjelajah Nusantara Dengan Tulisan.

Saya akan mencoba membuat daftar dari Barat ke Timur beberapa situs komunitas yang menerima tulisan dan pernah saya datangi dengan tulisan.

Daftar media daring lokal

web-lintasgayo.co

  • Media daring daerah Gayo, Aceh.
  • Cara mengirim tulisan: klik taut ini.

web-pojoksamber.com

  • Media daring daerah Metro, Lampung.
  • Cara mengirim tulisan: kirim tulisan pada redaksi di taut ini.

web-kulkulbali.co

  • Media daring daerah Bali.
  • Cara mengirim tulisan: klik taut ini.

Daftar kunjungan

Daftar kunjungan tulisan saya adalah sebagai berikut:

Isi laman ini akan selalu diperbarui.

askdlsjd123492

Telepon Hantu Dari Sabang


...

Hari itu, Selasa, 28 Desember 2004, sekitar jam 11:30 WIB saya menerima telepon dari sahabat saya di Sabang, Aceh. Sebentar… telepon dari Sabang…?! Semua orang tahu bahwa pada tanggal 26 Desember pagi daratan Aceh dan juga pulau Sabang dilanda tsunami akibat gempa berskala besar. Lalu siapa yang menelepon saya..?

Sejak hari Minggu (26/12) saya tidak mendapat kabar apapun dari Banda Aceh dan Sabang. Banyak sekali sahabat saya yang tinggal di kedua kota itu. Tsunami terjadi, semua hubungan telepon putus, dan televisi hanya menyiarkan kejadian di beberapa kota di Aceh Utara dan Timur, bukanlah berita di Banda Aceh apalagi Sabang yang terletak di pulau Weh, sekitar 20 km dari pantai Banda Aceh.

Harapan saya pada kondisi sahabat-sahabat di Sabang hampir punah. Saya tahu pasti, beberapa orang mempunyai rumah di pinggir pantai. Apa yang bisa diharapkan dari jarak sekitar 50 meter dari pantai jika tsunami menghantam.

Saya dan keluarga baru saja mengunjungi Sabang pada awal Desember 2004. Masih teringat jelas semua pantai indah yang kami kunjungi, dan tentunya kekeluargaan yang hangat dari sahabat-sahabat kami penduduk Sabang. Berita tsunami yang didengar anak-anak kami, saat itu si kakak berumur enam tahun dan adiknya dua tahun setengah, menimbulkan banyak pertanyaan dari mereka tentang kondisi Sabang yang tidak bisa saya jawab. Kami semua sedih.

Dalam benak saya, Sabang mungkin saja telah hilang tersapu tsunami. :'(

Selasa siang itu saya menerima telepon dari 0652, ini kode telepon Sabang. Suara diseberang sana sangat saya kenal. Ini adalah suara bang Azwar. Seringnya bertemu sepanjang tahun 2004, terutama saat saya survey di pulau Weh beberapa kali yang mendampingi ya si abang ini, pastilah saya tidak akan lupa suaranya.

“Bang, alhamdulillah, kami semua selamat di Sabang. Aku mau minta tolong abang di Jakarta, untuk coba kontak saudara saya di Banda Aceh. Kami tak bisa kontak dari Sabang sejak hari Minggu”. Demikianlah kira-kira suara diseberang sana.

Tanpa banyak tanya ini itu, saya sanggupi untuk mencoba telepon ke Banda Aceh. Segera saya catat beberapa nomor dan kemudian telepon kami putus. Ia akan mencoba telepon saya kembali sekitar jam 12:00, artinya saya harus mencoba sekarang untuk kontak ke Banda Aceh.

Selesai bicara, saya baru menyadari… Siapa yang tadi bicara ditelepon..? Ya, saya yakin itu adalah suara bang Azwar..! Tetapi… bukankah… kota Sabang yang berada di pinggir pantai dan berhadapan langsung dengan kedatangan gelombang tsunami… kemungkinan besar telah habis…

Sepanjang tahun 2004 saya memetakan pulau Weh dengan cukup detil, sehingga saya tahu semua lokasi yang ada, dan tentu posisinya terhadap laut. Tsunami datang, pastilah sebagian besar kota Sabang akan hancur, terutama rumah-rumah yang dekat pantai. Dan bang Azwar rumahnya hanya 50 meter dari bibir pantai.

Siapa yang menelepon tadi..? :-|

Okelah, saya coba kesampingkan semua pertanyaan ini. Saya coba menelepon beberapa nomor yang diberikan oleh “suara bang Azwar” tadi.

Negatif, Banda Aceh masih hilang dari peta komunikasi pada hari kedua setelah terhantam tsunami. Semua nomor yang saya telepon tidak bisa terhubung.

Beberapa kali saya coba dan tetap negatif. Jarum jam semakin mendekat ke angka 12. Artinya… jika benar tadi adalah suara asli bang Azwar maka telepon saya akan berdering kembali. Jika tidak maka… entahlah…

Jam 12 lewat sedikit telepon berdering. Saya angkat dengan berdebar…

Suara yang terdengar diseberang sana… sama dengan suara yang tadi menelepon saya. Alhamdulillah..!

Ternyata ini adalah suara asli bang Azwar..!

Segera kami ngobrol singkat, dan tidak lupa saya kabarkan bahwa kontak ke Banda Aceh masih negatif, dan saya tidak bisa mengetahui kondisi apa yang terjadi di Banda Aceh. Tidak lupa saya titip salam hangat dan hormat untuk sahabat-sahabat di Sabang.

Suatu kebahagiaan yang luar biasa mengetahui semua sahabat-sahabat saya di kota Sabang semua dalam kondisi selamat tidak kurang apapun. Selintas yang saya tahu dari bang Azwar adalah rumahnya utuh tak tersentuh air laut sedikitpun, tetapi ada beberapa rumah yang rusak dibagian Utara dari rumahnya.

Ternyata telepon Selasa siang itu mementahkan perkiraan saya akan kondisi kota Sabang. Terutama adalah kondisi sahabat-sahabat saya disana.

Dan telepon itu adalah telepon sungguhan..! :D

*/ : )

Pertanyaan saya kemudian adalah: Mengapa Sabang selamat dari hantaman tsunami yang dahsyat..? Keesokan harinya, Rabu 29 Desember 2004, saya mendapatkan jawabannya. Silakan baca di: Kota Sabang Diselamatkan Benteng Alam.

people-social-media-interaction-vector_23-2147492049

Menjelajah Nusantara Dengan Tulisan


Mewarnai Indonesia

Mewarnai Indonesia

Kegiatan Blogging untuk Nusantara bukanlah ide baru, saya mencoba menyemangati diri saya dan mencoba mengajak rekan-rekan blogger untuk, setidaknya, mencoba menjelajah Nusantara dengan tulisan. Apa yang dimaksud dengan Menjelajah Nusantara dengan Tulisan seperti judul tulisan ini?

Dalam dunia nyata, menjelajah Nusantara adalah dengan mendatangi lokasi-lokasi tujuan secara fisik. Saya yang orang Bogor secara fisik berada di Palembang, artinya saya sedang mengunjungi ibu kota Sumatera Selatan tersebut. Dalam dunia maya, saat saya menulis blog pribadi dan menceritakan tentang Palembang maka saya berada di-blog tersebut. Artinya adalah orang yang berkunjung ke-blog sayalah yang membaca tulisan saya tentang Palembang. Blog saya bisa berada di alamat pribadi (melalui Blogspot, WordPress, Medium, dan lain-lain), dapat pula berada di penyedia blog komunitas (misalnya Kompasiana, BlogDetik, dan lain-lain).

Para blogger tahu bahwa menulis dialamat pribadi dan dialamat komunitas tentu beda rasanya. Perumpamaannya adalah bagai berjualan di warung depan rumah atau toko di Pasar Anyar misalnya. Jika di warung depan rumah, maka hanya orang yang lewat saja yang mampir, tetapi jika di toko di Pasar Anyar maka pendatang adalah random, siapapun yang ke Pasar Anyar bisa mampir ke toko kita tanpa sengaja.

Nah, dari tulisan diatas, saya ingin fokus pada penyedia blog komunitas, dan mencoba mengelompokkan menjadi kelompok Nasional dan kelompok Daerah. Kelompok Nasional disini saya masukkan BlogDetik dan Kompasiana, setidaknya kedua penyedia blog ini sangat ternama saat ini. Penulisnya dari berbagai daerah, bahkan luar negeri, sebagian selebriti dan politisi yang mempunyai massa masif dan terstruktur, eh, :-)

Sementara itu untuk kelompok Daerah adalah penyedia fasilitas serupa dengan kelompok sebelumnya tetapi lebih bersifat kedaerahan. Kelompok ini lebih fokus pada blogger yang menuliskan mengenai seputaran tempat tinggal dalam cakupan kota atau kabupaten atau provinsi. Sebagian lagi lebih bersifat keagamaan, kebudayaan, ataupun profesi yang, sekali lagi, terkait dengan daerah tertentu.

Beberapa situs kelompok Daerah ini, yang saya amati, mempunyai semangat luar biasa dalam mengajak penulis “lokal” untuk menuliskan banyak hal tentang daerahnya. Tetapi terlihat bahwa keterlibatan “warga lokal” memang masih sulit diharapkan. Banyak faktor yang mempengaruhi hal ini, tentunya.

Saya tertarik dengan gerakan menyumbang tulisan pada kelompok Daerah. Karena saya melihat ada banyak hal positif yang bisa didapat dari sumbangan ini, antara lain:

  • Menyumbangkan tulisan dengan isi “rasa baru” (karena bukan orang lokal), hal ini akan menambah warna dari komunitas tersebut. Misalnya saya menceritakan mengenai oleh-oleh apa yang harus dibeli di Bogor saat orang Palangkaraya berkunjung ke Bogor (contoh sumbangan tulisan di komunitas Palangkaraya).
  • Memberikan semangat pada penyedia fasilitas dan pembentuk komunitas untuk membesarkan komunitas tersebut. Hal ini bisa terbentuk lambat laun, karena frekuensi pendatang pada situs tersebut akan semakin tinggi jika banyak hal baru dan berguna.
  • Banyaknya kunjungan disitus tersebut akan memancing semangat penulis-penulis lokal untuk memulai tulisan-tulisan mereka. Untuk hal ini memang bukanlah efek domino, tetapi saya meyakini hal tersebut akan terjadi.

Tulisan pada kelompok Daerah tersebut tidaklah perlu segiat kita menulis pada blog sendiri. Tetapi yang penting adalah tulisan yang menarik dan mampu membuat warna. Dengan demikian, mungkin tanpa disadari, kita bisa ikut serta membesarkan simpul-simpul menulis dibanyak tempat di Nusantara.

Tampilkan taut blog pribadi sebagai penanda pada tulisan tersebut. Maka hal ini pun akan ikut serta membesarkan blog sendiri, jika perlu. :D

Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan blogger di daerah Aceh menulis untuk “pembaca lokal” di daerah Gorontalo, blogger Samarinda menulis untuk pembaca lokal di daerah Nusa Tenggara Timur, blogger Ambon menulis untuk pembaca lokal daerah Sumatera Barat. Inilah yang saya maksudkan dengan menjelajah Nusantara dengan tulisan.

Bayangkan, kekayaan akan keberagaman negeri kita bisa dinikmati di seluruh bagian Nusantara. Apakah dengan demikian akan mematikan kelompok Nasional..? Sama sekali tidak..! Yang punya akun di kelompok Nasional tetaplah menulis. Tetapi dengan membagi satu dari lima tulisan ke kelompok Daerah, kan lebih asik lagi. :-)

Saya sudah mencoba berbagi tulisan untuk pembaca lokal di Lampung dan di Bali. Masih banyak stok ide tulisan yang akan saya sebarkan lagi ke berbagai tempat di Nusantara.

Jika anda tertarik, mari lakukan penjelajahan ini, dan berbagi pengalaman mengenainya.

*/ : )

intosai-itc2

GIS dan Remote Sensing untuk Audit Bantuan Kebencanaan


ITC News 2009-1

ITC News 2009-1

Saat berselancar disitus web ITC, menemukan publikasi ITC News Edisi tahun 2009 mengenai kegiatan di Aceh. Kegiatan ini mengenai penggunaan GIS dan Remote Sensing untuk mengaudit bantuan kebencanaan. INTOSAI (International Organization of Supreme Audit Institutions), melalui kerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan RI, melakukan kajian dengan daerah pilot adalah di Aceh pascabencana gempa dan tsunami yang terjadi tahun 2004. Kegiatan ini sendiri berlangsung pada tahun 2007-2008.

Keterlibatan saya disini adalah atasnama BPPT, dan bekerjasama dengan bu Dr Wijske Bijker seorang ahli geospasial dari ITC (saat ini bernama: Faculty of Geo-Information Science and Earth Observation of the University of Twente) Belanda.

Kajian ini memiliki tiga komponen utama yaitu penengembangan metode, kemungkinan dikerjakan (feasibility), dan pelatihan. Penggunaan GIS dan Remote Sensing dalam proses audit ini untuk membantu mempercepat dalam melihat kondisi fisik bantuan (misal: pembangunan perumahan) untuk area yang luas.

Penggunaan data satelit resolusi tinggi, yaitu rekaman setelah kejadian bencana dan setelah bantuan pembangunan sedang/telah dilaksanakan, sangat diperlukan. Dari dua waktu berbeda tersebut dapat dilihat kondisi bantuan/bangunan (lokasi, letak rumah, jumlah, dan kondisi atap untuk beberapa kasus). Data satelit KOMPSAT-2 (Korean Multipurpose Satellite) yang diberikan oleh Korean Aerospace Research Institute (KARI) sangat membantu dalam pengembangan metode.

Banyak pengalaman lapangan yang mengasyikkan selama di kota Banda Aceh dan sekitarnya. Bertemu dengan banyak pihak pemangku kepentingan dan “pemilik” data spasial adalah cerita tersendiri, disamping tidak terlewat menikmati kopi di Ulee Kareng. Bantuan dari rekan-rekan di BRR Aceh-Nias (SIM-C), BAPPEDA Provinsi, BAKOSURTANAL (saat itu belum bernama BIG) dan NGO sangat luar biasa. Begitu juga dukungan kuat dari BPK NAD dan BPK RI dalam menyukseskan kegiatan ini sebagai “pertama di dunia” untuk badan audit menggunakan teknologi GIS dan RS.

Dikegiatan ini pula saya banyak kenal dengan rekan-rekan dari BPK RI dan juga BPK NAD. Bersama memahami dunia spasial dengan dilandasi latarbelakang keilmuan sangat berbeda, itu mengasyikkan. Kami semua sempat ke desa Lampuuk di pinggir pantai untuk berlatih mengambil data lapangan menggunakan referensi peta pembangunan perumahan terbaru, data satelit terbaru, dan penggunaan GPS. Saat ini sebagian dari rekan-rekan pelatihan tersebut tetap menggunakan tools ini (yang telah mereka kembangkan lagi) dalam menjalankan tugas audit diberbagai bidang di seluruh wilayah Indonesia.

Jika ada yang ingin membaca ITC News tersebut, silakan unduh ditaut ini, atau membaca versi daring dengan klik disini.

*/ : )