Kanal Blog Hartanto

Featured

Tags

, , , , ,


Perjalanan di Indonesia dan mancanegaraDunia pendidikanPerjalanan di AmerikaPerenungan level MediumFoto dan cerita singkat dari segala lokasi

Sila berkunjung ke kanal blog dengan klik gambar diatas… 🙂

Advertisements

Jelajah Nusantara Dengan Cerita

Featured

Tags

, , , , , , , , ,


Berbagi dengan Jelajah Nusantara

Berbagi Cerita dengan Jelajah Nusantara

Mari menjelajah Nusantara dengan berbagi cerita. Laman ini adalah laman daftar situs daring komunitas dan kunjungan, sekaligus mengajak rekan blogger pembaca laman ini untuk ikut berkeliling Nusantara.

Continue reading

Garuda Indonesia dan Bahasa Inggris

Tags

,


Sumber: Garuda-Indonesia.com

Menapaki langit bersama maskapai Garuda Indonesia tentunya pengalaman yang mengasyikkan. Dalam tiga bulan terakhir saya berkesempatan ke berbagai lokasi di Sumatera dan Sulawesi dengan menggunakan maskapai National Flag Carirer ini, dan semuanya dengan standar layanan yang baik.

Sebagai maskapai penerbangan yang masuk dalam 10 maskapai terbaik dunia dan peringkat lima maskapai terbaik se Asia Pasifik tahun 2017 versi TripAdvisor (diberitakan Kompas April 2017) maka tiada perlu lagi didetilkan apa keistimewaan layanan maskapai ini.

Yang sekerikil mengganjal dibenak saya adalah penggunaan Bahasa Inggris dalam menyampaikan pesan dari pamugari/a kepada para penumpang. Seperti biasa, saat akan take off atau sesaat setelah landing ada pemberitahuan kepada penumpang, dalam bahasa Indonesia dan kemudian dilanjutkan dengan bahasa Inggris.

Nah, pada bagian bahasa Inggris, kerikil yang saya rasakan adalah pengucapan yang tidak sesuai dengan yang sebaiknya diucapkan. Intonasi dan pemenggalan kata adalah bahasa Indonesia bangeeet padahal saat itu sedang berbicara dalam bahasa Inggris.

Bagi sebagian besar penumpang (orang Indonesia) pastilah sebodo amat dengan pengumuman dalam bahasa Inggris tersebut, tetapi untuk orang asing apalagi yang negaranya adalah pengguna bahasa Inggris maka suara yang terdengar akan terasa aneh bahkan lucu. Karena apa? Karena intonasi dan pemenggalan katanya benar-benar seperti mengucapkan kalimat dalam bahasa Indonesia.

Lalu bagaimana pengucapan yang baik? 😀

Video penjelasan keselamatan pada kondisi darurat.

Untuk sebagian penerbangan, Garuda Indonesia telah menggunakan video dalam menyampaikan kondisi penyelamatan diri sesaat penerbangan akan dimulai. Penyampaian dalam video ini menggunakan dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Inggris. Nah, coba diperhatikan intonasinya, dan juga penggalan katanya, dari kedua bahasa tersebut. Akan terasa sekali bedanya, bukan?

Dalam hal penyampaian pengumuman oleh pramugari/a secara langsung ada baiknya juga diperhatikan cara pengucapannya, sekalipun yang bertugas bukanlah pengguna native bahasa Inggris. Tidaklah sulit mempelajari pengucapan dalam bahasa Inggris (biasanya English American yang simpel ya…) apalagi jika kalimatnya relatif sama pada setiap penerbangan. Pasti bisalah… 😉

Itu aja sih kerikil keciiil yang saya rasakan… 😀

Ohya, satu hal yang selalu saya sukaaaa adalah instrumental lagu-lagu daerah saat mana pesawat sedang bergerak dari landasan (sesaat setelah landing) menuju tempat parkir… Suasananya Indonesia bangeeeet

Maju terus Garuda Indonesia..!

Kisah si Gelas Hijau

Tags

,


Si Gelas Hijau

Tersebutlah awal 2000an, entah tepatnya tahun berapa, si Gelas Hijau ini hadir di meja saya, lengkap dengan tutupnya yang relatif ketat. Si Hijau ini punya merk Hawaii, Made in Indonesia, yang tercetak dibagian bawah, dan mempunyai kode resin atau RIC (Resin Identification Code) angka 5 di tengah lambang recycle, yang menandakan polypropylene (PP) (dibuat dari bahan untuk auto parts, industrial fibers, food containers, etc.).

Apa istimewanya si Gelas Hijau ini?

Seperti gelas yang lain, ia saya fungsikan sebagai alat penyimpan sementara air (putih, teh, dll) sebelum mengalir kedalam tenggorokan saya. Ia saya letakkan di meja kerja berdampingan dengan komputer atau laptop. Tiap hari dan bertahun-tahun ia menemani saya dari pagi hingga sore atau malam. Sehingga dari fungsinya ya nggak ada istimewanyalah.

Tetapi bagi saya ia adalah saksi bisu perjalanan saya selama belasan tahun di lantai 20 ini. Sempat saya tinggal agak lama beberapa kali dalam hitungan bulan dan pernah dalam hitungan tahun, tetapi ia tetap setia menunggu dan siap difungsikan saat saya hadir kembali.

Ohya, ada cerita, saat libur lebaran entah tahun berapa, lab kami pernah kedatangan banyak tikus, dan si Hijau yang tanpa sengaja saya tinggal di meja (harusnya saya bawa dan simpan di pantry) tutupnya menjadi korban gigitan tikus, ada lecet di beberapa tempat. Sayang sekali sekarang si tutup sudah tak hadir lagi, entah kemana ia pergi.

Tapi tak apalah, yang penting si Hijau masih berfungsi dengan baik menampung materi liquid yang transit sejenak sebelum masuk ke dalam tubuh saya.

Anti-Teknologi ala Ndeso

Tags

, , , ,


Kupu-kupu yang lucu… dimana engkau hinggap… : ) (ilustrasi jakasembung)

Penggunaan WA/BBM dan berbagai aplikasi messenger lain adalah jamak, sangat biasa dilakukan oleh kita semua, dari anak balita sampai lansia. Apalagi kalau pekerjaan/bisnis menuntut untuk itu. Dan jaman sekarang semua aplikasi itu sudah dirangkum dalam sebuah paket ponsel cerdas (smartphone), sehingga ringkas bisa dioperasikan dimana saja selama “nggak lupa beli signal-nya juga”…

Hal yang aneh adalah ketika satu saat saya menghubungi seorang teman, yang mempunyai jabatan struktural cukup tinggi di sebuah Dinas daerah, susahnya bukan main. Dia adalah orang terpelajar, berpendidikan luar negeri pula, dan berinteraksi dalam jejaring nasional dan internasional. Pokoknya dia bukanlah level ndeso..! Dia orang kekinian bangetttt…!

Lalu apa kesulitan saya menghubungi beliau? Satu hal “penghambat” adalah beliau tidak menggunakan semua aplikasi berkirim kabar seperti WA/BBM/dll. Beliau hanya mau bicara (telepon) atau kirim teks SMS. Memangnya Hp beliau nggak mampu untuk install semua messenger itu? Ternyata, setelah saya ketemu langsung, memang Hp-nya nggak bisa diinstal apapun. Hp-nya tergolong Hp Begok (dumb-phone, a basic mobile phone that lacks the advanced functionality characteristic of a smartphone). Hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS, plus main game ular yang mutar-mutar di screen-nya.

Dia pemerhati teknologi dan bidang kerjanya ditunjang oleh teknologi tapi kenapa beliau terlihat anti-teknologi?

Dengan kepo dan gaya ndeso saya tanya ke beliau…

Jawabnya, saya bukannya nggak kenal aplikasi yang mempermudah kita berkomunikasi mas, saya hanya ingin men-steril-kan diri dari gonjang-ganjing Pilkada. Saat mendekati Pilkada biasanya kita dimasukkan di bermacam group, baik di group si calon A maupun calon B ataupun calon C atau group anti A/B/C. Tapi saya nggak mau termakan situasi seperti itu, jadi lebih baik saya ambil amannya saja, pakai Hp Begok ini saja, hati lebih tentram dan bisa senyum ke pihak manapun.

Ah si bapak ini cara berpikirnya ndeso banget… Atau saya yang ndeso ya…?


sambil minum Kopi Kelelawar di Kafe Serambi Sentul City, ndeso Babakan Madang, Bogor.

Pojok Samber dilihat dari Pojok

Tags


Pojok Samber

Pojok Samber

Jurnalisme warga adalah tren yang menyertai era keterbukaan informasi. Semua orang dapat menyampaikan apa yang dilihat, didengar, bahkan menyuarakan opininya sendiri pada dunia melalui media daring. Pojok Samber, tampaknya, memanfaatkan ini untuk mengolah idealisme yang tumbuh di para pendirinya sekaligus menggalang publik lokal untuk menyemarakkannya.

Saya belum pernah menguliti isi dari situs Pojok Samber, saya hanya akan menuliskan bagaimana pertemuan saya dengan media jurnalisme warga ini.

(Baca: Menjelajah Nusantara dengan Tulisan)

Dua tahun lalu, 2014, saya mulai mencanangkan pada diri sendiri untuk menulis pada situs warga berskala atau berorientasi lokal. Mengapa mencari yang lokal..? Karena disinilah informasi sebenarnya diperlukan. Sebagai contoh, warga di kota Metro (Lampung) tidak memerlukan informasi biasa-biasa saja yang terjadi di Tangerang (Banten). Atau warga di kota Sabang (Aceh) tidaklah tertarik dengan berita keseharian yang terjadi di kota Tomohon (Sulawesi Utara). Mereka pastilah mencari berita-berita seputaran kota atau tempat tinggalnya sendiri.

Lalu apa yang bisa saya tulis untuk informasi lokal sedangkan saya tidak tinggal di tempat tersebut? Saya justru tidak ingin mencampuri urusan lokal, tetapi memperkaya dengan tulisan lain yang sekiranya berguna untuk rekan-rekan pembaca di “lokalan”. Dan akhirnya saya bertemu dengan Pojok Samber, setelah googling untuk daerah dimana saya pernah hidup dimasa kecil, Metro Lampung.

Untuk usaha saya keliling Nusantara melalui tulisan, tidak hanya Pojok Samber yang berhasil saya datangi, tetapi ada dua lagi yaitu Lintas Gayo (media daring di Aceh) dan Kulkul Bali (media daring di Bali).

(Baca: Jelajah Nusantara dengan Cerita)

Seperti yang pernah saya tulis, maka keinginan saya untuk mengunjungi media daring lokal adalah:

  • Menyumbangkan tulisan dengan isi “rasa baru” (karena bukan orang lokal), hal ini akan menambah warna dari komunitas jurnalisme warga tersebut.
  • Memberikan semangat pada penyedia fasilitas dan pembentuk komunitas untuk membesarkan komunitas tersebut. Hal ini bisa terbentuk lambat laun, karena frekuensi pendatang pada situs tersebut akan semakin tinggi jika banyak hal baru dan berguna.
  • Banyaknya kunjungan disitus tersebut akan memancing semangat penulis-penulis lokal untuk memulai tulisan-tulisan mereka. Untuk hal ini memang bukanlah efek domino, tetapi saya meyakini hal tersebut akan terjadi.

Kembali ke Pojok Samber, saya beberapa kali (dengan frekuensi yang sangat kecil) berhasil mengirimkan tulisan dan dimuat di Pojok Samber. Selain itu, mas Oki Hajiansyah Wahab, salah satu pengelola, juga beberapa kali menuliskan kembali tulisan dari blog saya pada Pojok Samber, terutama dari blog Coming to America. Terimakasih mas Oki… 🙂

Tanggal 28 Oktober 2016, Pojok Samber berulang tahun ke-2. Usia yang masih muda dan telah berhasil menggalang banyak pihak untuk menulis pada portal warga Metro. Tentunya ini suatu pencapaian yang sangat bagus. Warga Metro dan sekitarnya akan terus tertantang untuk berbagi informasi melalui alternatif media daring yang lebih pas untuk semua orang, dan berita-beritanya tentunya lebih mengena.

Selamat untuk Pojok Samber, tetaplah berdiri dan berkembang walau tantangan semakin berat kedepan. Jagalah independensi dalam mengawal dan menyampaikan informasi.

Salam dari balik bumi… 😀


Terkait: tulisan saya yang ada di Pojok Samber: