Jelajah Nusantara Dengan Cerita

Featured

Tags

, , , , , , , , ,


Berbagi dengan Jelajah Nusantara

Berbagi Cerita dengan Jelajah Nusantara

Mari menjelajah Nusantara dengan berbagi cerita. Laman ini adalah laman daftar situs daring komunitas dan kunjungan, sekaligus mengajak rekan blogger pembaca laman ini untuk ikut berkeliling Nusantara.

Continue reading

NEDtalk-2: Sensus Penduduk Indonesia

Tags

, , , , , ,


NEDtalk mulai berjalan, saat ini memasuki seri kedua. Kali ini yang membawakan presentasi adalah mbak Evy Trisusanti dengan topik bahasan adalah: The Population Census of Indonesia.

Presentasi oleh mbak Evy

Tantangan tahun ini besar sekali, karena semua terjadi begitu mendadak pada situasi yang tidak diperkirakan sama sekali. Apalagi Indonesia baru memulai sensus melalui daring dengan serapan responden yang masihlah kecil prosentasenya.

Metode sensus yang digunakan.

Metode yang digunakan saat ini adalah metode kombinasi yaitu menggunakan variabel terpilih dari asupan data masyarakat dan dilengkapi dengan survei lapangan oleh para petugas survei.

Selengkapnya dapat diikuti pada video seru berikut ini:

Video rekaman acara NEDtalk-2

Nah untuk kamu yang baca laman ini, sudahkah melakukan sensus sendiri, via daring. Yang belum ditunggu sampai akhir bulan Mei 2020.

Yang belum, segera lakukan hal seperti dibawah ini ya:

Langkah-langkah melakukan Sensus Penduduk Daring.

Mari bersama #MencatatIndonesia.

Sampai jumpa pada NEDtalk berikutnya.

Nantikan NEDtalk berikutnya ya.

Pelatihan Pengenalan Google Earth Engine

Tags

, , , ,


Apakah Google Earth Engine itu sama dengan Google Earth? satu pertanyaan yang selalu ada dalam setiap pelatihan yang saya berikan mengenai penggunaan Google Earth Engine untuk pengolahan data satelit.

Pada awal Mei ini, dari tanggal 4 sampai tanggal 6 Mei tahun 2020, saya membawakan pelatihan mengenai Google Earth Engine (GEE) untuk 29 peserta. Para peserta ini datang dari empat Perguruan Tinggi di Indonesia dan juga ditambah beberapa rekan dari kantor. Karena tidak boleh tatap muka maka pelatihan dilakukan pada modus daring dengan aplikasi Zoom.

Asal rekan-rekan peserta ini adalah dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA, Bandar Lampung), dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA, Serang), kemudian dari Institut Teknologi Bandung (ITB), dan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS, Surabaya). Tidak hanya mahasiswa tetapi juga dosennya juga mengikuti pelatihan ini. Semua serius tapi semua juga santuy…. Lama pelatihan adalah empat hari jadi tentunya ada bagian yang berdurasi lama.

Pelatihan ini didukung oleh Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah BPPT dan Masyarakat Ahli Penginderaan Jauh.

Berhubung yang mengikuti ini mempunyai keberagaman pengalaman dan kebisaan, maka saya disain sesederhana mungkin agar semua dapat memahami dan melaksanakan dengan maksimal, tidak hanya klik-klik mengikuti apa yang saya katakan.

Bagi yang sudah berpengalaman atau pernah menyentuh GEE pastilah agak greget, tapi bagi yang permulaan tentunya sangat challenging. Rekaman pelatihan tersebut, plus ngobrol ngalor ngidulnya, silakan disimak berikut ini:

Bagian 1 dari 4 bagian.

Konsep dasar Penginderaan Jauh diberikan untuk menyamakan persepsi, dan menekankan hal yang harus dipahami sebelum memulai memroses data. Pengenalan mengenai binatang apakah Cloud Computing juga diberikan.

Bagian 2 dari 4 bagian.

Pada zaman dahulu kala, data satelit harus kita cari secara konvensional untuk wilayah tertentu (melalui Glovis atau EarthExplorer atau lainnya), baru kemudian kita pesan dan kita dapatkan dengan cara dikirim (menggunakan DVD) atau mengunduhnya sendiri. Zaman cloud saat ini kita tidak perlu mengunduh data, biarkanlah dia di database entah dimana yang penting bisa kita dapatkan untuk wilayah tertentu yang kita perlukan, dengan rentang waktu perekaman yang bebas, hanya dengan satu-dua baris perintah pada GEE.

Bagian 3 dari 4 bagian.

Teknik pengolahan data juga diperkenalkan, dengan objek permukaan adalah hutan mangrove. Mangrove adalah tumbuhan yang sangat diperlukan untuk wilayah pantai (mengurangi aberasi, memperkaya ekosistem), dan berperan penting untuk mengurangi pemanasan global (menyerap dan menyimpan carbon lima kali lebih besar dari tanaman lain). Dengan mengambil contoh penutupan hutan mangrove, maka kita mengenal hal lain di luar pemrosesan data biasa. Tidak semua pemroses data citra mengetahui apa yang diprosesnya, bukan?

Bagian 4 dari 4 bagian.

Isu penyimpanan juga dibicarakan. Disini dipergunakan cloud yang lain untuk penyimpanan hasil, yaitu memanfaatkan Google Drive. Sehingga data yang telah didapatkan dari cloud, diproses pada cloud, maka hasilnya disimpan juga pada cloud.

Tren teknologi sekarang yang memanfaatkan cloud computing telah memangkas banyak hal. Penggunaan GEE ini berakibat:

  1. Kita tidak memerlukan perangkat yang handal (komputer tidak perlu sekelas komputer ROG), cukup memakai laptop standar sudah oke;
  2. Untuk perangkat penyimpan (hard disk) tidak perlu ber-tera-tera. Cukup hard disk standar laptop saja. Sekaligus mengaktifkan Google Drive atau sewa tempat di Cloud, yang jauh lebih murah dari pada membeli hard disk.

Yang diperlukan hanya akses internet standar, sudah cukup.

Empat hari pelatihan selesai, mengakibatkan suara agak serak karena bulan puasa 😀 😀 😀

Peserta di lokasi masing-masing layar-1
Peserta di lokasi masing-masing layar-2.

Terima kasih para peserta yang mengikuti dengan atusias dan banyak sekali pertanyaan. Apapun tingkat pertanyaannya tidak masalah, karena tugas saya hanyalah menjelaskan sampai anda benar-benar paham apa yang dilakukan. #ItuSaja

Sampai jumpa dipelatihan pada tingkatan yang lebih maju. Tetap sehat tetap semangat.

NEDtalk ajang reuni tim Stuned Refresher Course 2012

Tags

, , , , ,


Berfoto di depan Universitas Sam Ratulangi, Manado

Delapan tahun lalu kami berkumpul di kota Manado, dalam rangka mengikuti refresher course yang diselenggarakan oleh STUNED Indonesia, memanfaatkan salah satu kegiatan internasional dari ITC Belanda. Lama sudah terputus hubungan setelah selesainya course tersebut, sampai pada tanggal 20 Januari 2014, mbak Ilhamdaniah menginisiasi membuat Grup Whatsapp. walau tidak semua terjangkau karena putusnya hubungan komunikasi, tapi mungkin sekitar 60 persen masuk dalam WAG ini.

Kunjungan (field trip) tim ke Gunung Lokon di Tomohon

Dan satu hari diawal bulan Mei ada keisengan dari WAG ini untuk berkumpul menggunakan Zoom, jadilah dadakan berkumpul berempat (kebetulan yang bisa hadir cuma empat). Ngobrol ngalor ngidul, akhirnya terpikir bagaimana kalau kita resmikan saja.

Idenya: Kita buat ajang presentasi antarkita. Toh kita bekerja profesional di kantor masing-masing, pasti punya sesuatu yang bisa ditunjukkan, jadi yang lain pun akan tahu dan melakukan hal yang sama. Setuju, dan mulailah kami semua berembug melalui WAG dan Group pada Facebook. Mengapa pakai dua macam grup? Karena ada diantara kami yang tidak menggunakan Whatsapp dan ada yang tidak punya/mematikan Facebook. Nggak masalah.

Dalam waktu singkat sudah ada lima calon pembicara, yaitu:

  1. Emba Tampang Allo – The use of Microlight-Trike for Forest Planning, monitoring, and Protection (Jumat, 15/5/2020)
  2. Evy Trisusanti – National Sensus of Indonesia (Jumat, 22/5/2020)
  3. Hartanto Sanjaya – Technology trend in remote sensing processing using cloud computing (Jumat, 29/05/2020)
  4. Sumargana Lena – KSA method for calculating rice yields nationally (Jumat, 05/06/2020)
  5. Winida Albertha – Using mobile positioning data for mobility statistics (Jumat, 12/06/2020)

Akhirnya kami kelompokkan menjadi Sesi-1, dan untuk sesi-2 segera menyusul. Dan pembicara sesi pertama sudah tampil:

Flyer untuk acara NEDtalk seri 1 pada sesi 1.

Pada seri 1 sesi 1 ini, tak terduga, bisa dihadiri juga oleh Pak Ridwan Djamaluddin sebagai ketua penyelenggara pada saat 2012, kemudian ada tiga orang dari ITC: Tom Loran, Lyandee Elderink, dan Jorien Terlouw (pengurus alumni ITC).

Acaranya bisa dilihat di Youtube berikut:

Rekaman Zoom pada presentasi Seri 1 Sesi 1 NEDtalk

Dengan berlangsungnya acara ini ada kepuasan tersendiri, yaitu bisa berkumpulnya kami bersama lagi, walau virtual, dan semua antusias dengan saling dukung untuk menyukseskan acara ini.

Terima kasih teman-teman semua atas apapun dukungannya. Terima kasih juga untuk Zuckerberg (Facebook), Larry Page dan Sergey Brin (Google) dan Eric Yuan (Zoom) atas tools-nya yang sangat berguna menyatukan kami.

Kami dari Jakarta, Bogor, Bandung, Batu Malang, Denpasar, Mataram, Palu, Manado, Ternate, Manokwari, dan Enschede Belanda bisa kembali berkumpul di acara ini. Semoga semangat bisa terjaga terus dan terus.

KTP Ukuran KTP

Tags

, , ,


Layanan daring KTP-el untuk Kota Bogor

Memangnya ada KTP yang bukan ukuran KTP? Ada, saya mempunyai sejak awal 2017 sampai sekarang. Ukurannya adalah ukuran kertas A4, itu juga setelah dipotong oleh mas yang mau laminating. Setelah di-laminating maka saya simpan hati-hati tanpa ditekuk, takut rusak.

Sebenarnya perekaman data KTP-el saya adalah ditahun 2013, dan dijanjikan selesai sekitar tiga bulan. Namun setelah saya tunggu sampai akhir tahun 2013 tiada kabar. Awal 2014 saya tinggal bertugas belajar, jadi KTP-el saat itu bukan keperluan mutlak (karena di LN yg diperlukan hanyalah Passport). 📗

Saya perlu KTP saat kembali awal tahun 2017, dan di kantor Kecamatan saya diberi Suket (Surat Keterangan) sebagai pengganti KTP-el yang belum bisa dicetak karena alasn ini dan itu. Suket berupa kertas ukuran A4 (setelah dipotong saat akan di-laminating) menjadi andalan saya untuk mengurus segala keperluan kependudukan, perbankan, juga perdagangan, dan sekolah anak-anak. Saya dijanjikan dalam enam bulan akan diperoleh KTP-el.

Lewat satu masa enam bulan, saat ke kantor Kecamatan mendapat alasan lagi bahwa KTP-el tidak bisa dicetak. Dan hal ini berulang sampai sekitar sebulan lalu. Alasan yang paling top adalah: material cetak tidak ada/habis, dan tintanya habis. 🤦‍♂️🤷‍♂️

Membawa KTP-A4 repotnya taukan? Setiap kali ditanya satpam/front office/petugas counter dll mengenai KTP sebagai ID maka saya harus membuka tas, mengeluarkan selembar KTP-A4. Dan hal ini berulang selalu dimanapun diperlukan menunjukkan KTP. Sampai akhirnya saya menawar, bagaimana kalau SIM saja? Kebetulan masih simpan SIM saat di LN. Untuk beberapa kasus hal ini diterima dan menyelesaikan masalah… 😎

Kebetulan, sekitar seminggu lalu saya mendapat informasi mengenai adanya layanan via daring untuk pencetakan KTP-el di Disdukcapil Kota Bogor. Saya coba hari Jumat lalu (22/3) dan pada hari Senin (25/3) mendapat pemberitahuan melalui laman tersebut bahwa KTP-el sudah jadi. Alhamdulillah. 🙏

Alamat layanan KTP-el untuk Kota Bogor: http://e-menanduk.kotabogor.go.id

Sekarang KTP saya “berukuran KTP” lagi, senangnya bagai Dora the Explorer menari-nari mendapatkan petunjuk pada peta… 😁😁😁

Wisata Naik LRT Palembang

Tags

, , , ,


Menyambut LRT datang 😀 

LRT atau Light Rail Transit adalah moda baru transportasi kota di Indonesia. Jakarta dan Palembang menjadi lokasi pembangunannya, dan akhir bulan November lalu saya mencoba menikmatinya di kota Palembang. 

LRT Palembang, atau saat ini disebut sebagai LRT Sumatera Selatan, mempunyai satu rute yang menghubungkan antara Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dan Jakabaring Sport City. Terdapat 13 stasiun awal-pemberhentian-akhir antara dua titik itu, yaitu: DJKA, Jakabaring, Polresta, Ampera, Cinde, Dishub, Bumi Sriwijaya, Demang, Garuda Dempo, RSUD, Punti Kayu, Asrama Haji, dan Bandara.

Rute LRT Bandara (Barat Laut Palembang) – Jakabaring (Tenggara).

Karena waktu yang tidak memungkinkan untuk berlama-lama mencoba dari ujung ke ujung, maka saya mencoba naik LRT dengan jarak yang cukup singkat. Saya coba dari stasiun terdekat tempat saya inap, yaitu stasiun Bumi Sriwijaya dengan tujuan stasiun setelah menyeberangi sungai Musi, stasiun Polresta. Ya, saya ingin merasakan LRT saat menyeberangi sungai Musi bersebelahan dengan Jembatan Ampera.

Beli karcis ke loket di lantai dua seharga Rp5000 untuk tujuan yang saya inginkan, dan diberikan sepotong kertas dengan nama stasiun awal dan akhir/tujuan dan pada karcis terdapat QR Code. Untuk masuk ke area penumpang maka QR Code pada karcis dipindai, kemudian naik ke lantai teratas atau peron. 

Penumpang dibolehkan ke lantai peron jika sudah mendekati waktu kedatangan kereta. Saat saya mencoba LRT ini, waktu kedatangan rangkaian kereta tiap 30 menit. Di lantai peron terlihat beberapa petugas KA sehingga pengawalan penumpang cukup baik, karena memang banyak penumpang yang bertujuan pariwisata belum paham dengan tatacara naik LRT ini.

Petugas PKD yang sangat membantu penumpang.

Rangkaian kereta LRT ini mempunyai tiga kereta (gerbong), saya segera naik dan memang jam 10an ini penumpangnya didominasi penikmat wisata. Penumpang yang saya temui sangat berbeda dibandingkan dengan penumpang di komuter Jabodetabek atau seputaran Yogyakarta. Kemungkinan adalah budaya komuter belumlah merasuk pada masyarakat Wong Kito yang hidup di sekitar kota Palembang ini. Transportasi lain dan bersifat personal masihlah mendominasi kehidupan sehari-hari. Perlu waktu untuk penetrasi budaya menggunakan kereta dalam aktivitas sehari-hari.

Suasana wisata di LRT Palembang.

Ohya, saya sengaja ambil rute menyeberangi Sungai Musi, dimana lajur LRT bersebelahan dengan Jembatan Ampera. Karena selama ini saya hanya melihat gambar di media sosial bagaimana kereta LRT ini berjalan bersebelahan dengan tiang tinggi jembatan ikon kota Palembang dan kayanya asik 😀

Menara jembatan Ampera difoto dari LRT.

Jadi…. saat kereta melalui jembatan bersebelahan dengan Jembatan Ampera, maka saatnya saya foto-foto sana-sini dan tentunya swafoto tak tertinggal. Saya benar-benar menikmati perjalanan sesaat di LRT ini, dan pergi-pulang dengan rute yang sama. Jembatan Ampera yang mempunyai dua menara penyangga sekaligus elevator jalan (jembatan berjenis vertical-lift bridge) ini sudah saya kenal sejak kecil dan tentunya berswafoto dari dalam LRT menjadi keasyikan tersendiri… 😀

Saat saya menulis blog ini, sudah banyak perubahan yang terjadi. Mulai 1 Desember 2018 tiket sudah menggunakan Kartu Uang Elektronik (KUE) untuk semua stasiun, dan ada perubahan jadwal operasi LRT menjadi dari jam 05.00 sd jam 19.00 (Sumber: Tribun Sumsel, 3 Desember 2018

Jangan lewatkan wisata kota dengan menaiki LRT saat kamu di kota Palembang, layanannya nyaman dan tentunya punya keasyikan tersendiri dengan pandangan pemandangan kota, pasar tradisional dan modern, dan tentunya Jembatan Ampera di sungai Musi dari ketinggian.

Mengawal Media Sosial Plat Merah

Tags

, , , , , , ,


Media sosial PTPSW BPPT

Mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan kesukaan tentunya mengasyikkan. Mulai bulan Februari 2018 saya di-tambahi tugas yang asik oleh atasan untuk mengawal (baca: ngurusi semua) tentang media sosial di unit kantor. Saya, berdua dengan mas Bryan, ditugasi mengelola akun Twitter, Instagram, dan Facebook (fan page) milik resmi Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Wilayah (PTPSW, BPPT).

Pada tanggal 26 Februari 2018 meluncurlah ketiga media sosial tersebut di dunia maya, yaitu di twitterland dengan nama @PTPSW_BPPT

Tweet pertama PTPSW

Lalu demikian juga di Instagram, dengan akun @PTPSW_BPPT:

Dan juga di Facebook fan page dengan akun @PTPSW.BPPT:

Sejak hari itu dimulailah keterbukaan informasi kegiatan PTPSW di dunia maya secara resmi. Hampir semua kegiatan yang dilakukan semua staf PTPSW, baik internal maupun eksternal diinformasikan kepada publik melalui media sosial.

Dunia media sosial bukan hal baru bagi saya. Sejak awal 2000an saya sudah mulai mengenal dan menjadi pemain disana. Saat itu yang paling top adalah Friendster dan kemudian My Space. Barulah kemudian Facebook dan lain-lain menyusul menjadi pemain media sosial yang besar.

Walaupun sudah mengenal media sosial sejak lama, kendala yang ditemui masih sangat banyak dalam memainkan media sosial plat merah ini. Ternyata banyak hal yang sangat berbeda ditemui dibandingkan dengan saat menggunakan akun pribadi, walaupun di ranah medsos yang sama.

Kendala yang ditemui antara lain adalah menarik dan meningkatkan pengikut (follower) pada Twitter dan Instagram, dan juga meningkatkan penyuka (liked) pada Facebook. Tidaklah semudah pada akun pribadi, akun plat merah ini sulit sekali mengembangkan jumlah pengikut/penyuka-nya.

Setelah beberapa kali diskusi dengan rekan-rekan pemain medsos, beberapa hal yang kemungkinan menjadi penyebab masalah adalah:
– Isi yang bersifat informasi teknologi yang tidak banyak peminatnya;
– Berita merupakan kegiatan kantor yang tidak menarik bagi pihak lain;
– Bahasa yang rada kaku, karena menjaga satu dan lain hal;
– Keterbatasan penyampaian respon dari pertanyaan, walau dalam satu Pusat yang sama tetapi banyak rekan saya yang mempunyai keahlian spesifik, sedangkan saya mempunyai keterbatasan pengetahuan;
– Belum ada isu yang sangat menarik bagi warganet dari akun ini , misalnya mengenai penerimaan PNS 😀 

Ada hal lain yang mendasar, yaitu perbedaan atmosfer dari ketiga medsos tersebut. Pemain Twitter belum tentu mau menyentuh Instagram atau Facebook. Begitu juga dengan pemain Instagram belum tentu mau menggunakan Twitter ataupun Facebook (walau saat ini Facebook dan Instagram dimiliki pemilik yang sama). Ketiganya mempunyai gaya hidup masyarakat yang sangat berbeda. Saat mengisi (posting) salah satu medsos tersebut, saya harus men-switch cara berfikir agar bahasanya tepat. Dan … itu nggak mudah bro … 😀

Semua kendala yang terinventarisir ini menjadi bahan untuk perbaikan diwaktu mendatang. Mungkin perlu FGD akhir tahun…? 😀

Jumat lalu, akhir November, saya mengikuti rapat koordinasi SIMAN BPPT, kumpulan pengelola media sosial di BPPT. Dari pertemuan singkat ini saya mendapatkan beberapa asupan yang lumayan bagus. Duh terima kasih bangeeet untuk bapak/ibu pembina dan juga rekan sesama pengelola. Antara lain adalah dengan memadukan atau mengaitkan akun plat merah dengan akun personal sehingga informasi bisa lebih luas jangkauannya. Syukur-syukur bisa untuk menambah pengikut/penyuka medsos yang saya kelola 😀

Nah, anda sebagai pembaca curcol saya ini bisa bantu saya juga kan?
– Yang punya akun Twitter sila follow @PTPSW_BPPT ya…
– Kalau pemain Instagram, jangan ragu untuk follow @PTPSW_BPPT
– Dan kalau anda pemain Facebook, segera like fan page PTPSW BPPT (atau gunakan taut berikut @PTPSW.BPPT)

Mau ‘kan? 😀

Lensball mainan fotografi smartphone

Tags

, , ,


RTH Putri Kaca Mayang di kota Pekanbaru, Riau.

Salah satu mainan para penggemar fotografi dengan smartphone adalah lensball. Bentuknya yang seperti bola dan terbuat dari kristal menjadikan mainan ini cukup menarik untuk menghasilkan banyak gambar keren yang dihasilkan hanya dari sebuah smartphone biasa.

Saya mencoba menggunakan mainan ini dan ternyata cukup menantang untuk menghasilkan gambar yang menarik. Siang hari maupun malam hari, dengan teknik pencahayaan tertentu dan pengaturan fokus yang baik dari obyek yang akan dimasukkan pada lensball, maka akan dihasilkan gambar yang unik. Gambar pada area lensball akan terbalik dengan efek cembung dan menjadikan gambar tersebut enak dilihat.

Beberapa hasil para pemain lensball diantaranya yang keren-keren dapat kita lihat di: https://www.instagram.com/explore/tags/lensball/

Pengalaman buruk yang saya alami justru bukan pada saat eksperimen lensball tetapi saat di bandara. Dalam dua minggu terakhir saya melewati enam bandara dengan tiga kali tertahan dipetugas pemindai karena mencurigai “bentuk bulat di dalam tas” dan memaksa saya untuk memperlihatkan sekaligus menjelaskan “apakah gerangan benda itu” 😀 

Bahkan ada yang kepo dan terlihat lugu menanyakan hasilnya seperti apa, maka terpaksalah saya tunjukkan pada album foto di smartphone saya…. 😀 😀 😀 . Tak apalah, toh tiada kerugian yang saya rasakan 😀