Jelajah Nusantara Dengan Cerita

Featured

Tags

, , , , , , , , ,


Berbagi dengan Jelajah Nusantara

Berbagi Cerita dengan Jelajah Nusantara

Mari menjelajah Nusantara dengan berbagi cerita. Laman ini adalah laman daftar situs daring komunitas dan kunjungan, sekaligus mengajak rekan blogger pembaca laman ini untuk ikut berkeliling Nusantara.

Continue reading

Kisah si Gelas Hijau

Tags

,


Si Gelas Hijau

Tersebutlah awal 2000an, entah tepatnya tahun berapa, si Gelas Hijau ini hadir di meja saya, lengkap dengan tutupnya yang relatif ketat. Si Hijau ini punya merk Hawaii, Made in Indonesia, yang tercetak dibagian bawah, dan mempunyai kode resin atau RIC (Resin Identification Code) angka 5 di tengah lambang recycle, yang menandakan polypropylene (PP) (dibuat dari bahan untuk auto parts, industrial fibers, food containers, etc.).

Apa istimewanya si Gelas Hijau ini?

Seperti gelas yang lain, ia saya fungsikan sebagai alat penyimpan sementara air (putih, teh, dll) sebelum mengalir kedalam tenggorokan saya. Ia saya letakkan di meja kerja berdampingan dengan komputer atau laptop. Tiap hari dan bertahun-tahun ia menemani saya dari pagi hingga sore atau malam. Sehingga dari fungsinya ya nggak ada istimewanyalah.

Tetapi bagi saya ia adalah saksi bisu perjalanan saya selama belasan tahun di lantai 20 ini. Sempat saya tinggal agak lama beberapa kali dalam hitungan bulan dan pernah dalam hitungan tahun, tetapi ia tetap setia menunggu dan siap difungsikan saat saya hadir kembali.

Ohya, ada cerita, saat libur lebaran entah tahun berapa, lab kami pernah kedatangan banyak tikus, dan si Hijau yang tanpa sengaja saya tinggal di meja (harusnya saya bawa dan simpan di pantry) tutupnya menjadi korban gigitan tikus, ada lecet di beberapa tempat. Sayang sekali sekarang si tutup sudah tak hadir lagi, entah kemana ia pergi.

Tapi tak apalah, yang penting si Hijau masih berfungsi dengan baik menampung materi liquid yang transit sejenak sebelum masuk ke dalam tubuh saya.

Anti-Teknologi ala Ndeso

Tags

, , , ,


Kupu-kupu yang lucu… dimana engkau hinggap… : ) (ilustrasi jakasembung)

Penggunaan WA/BBM dan berbagai aplikasi messenger lain adalah jamak, sangat biasa dilakukan oleh kita semua, dari anak balita sampai lansia. Apalagi kalau pekerjaan/bisnis menuntut untuk itu. Dan jaman sekarang semua aplikasi itu sudah dirangkum dalam sebuah paket ponsel cerdas (smartphone), sehingga ringkas bisa dioperasikan dimana saja selama “nggak lupa beli signal-nya juga”…

Hal yang aneh adalah ketika satu saat saya menghubungi seorang teman, yang mempunyai jabatan struktural cukup tinggi di sebuah Dinas daerah, susahnya bukan main. Dia adalah orang terpelajar, berpendidikan luar negeri pula, dan berinteraksi dalam jejaring nasional dan internasional. Pokoknya dia bukanlah level ndeso..! Dia orang kekinian bangetttt…!

Lalu apa kesulitan saya menghubungi beliau? Satu hal “penghambat” adalah beliau tidak menggunakan semua aplikasi berkirim kabar seperti WA/BBM/dll. Beliau hanya mau bicara (telepon) atau kirim teks SMS. Memangnya Hp beliau nggak mampu untuk install semua messenger itu? Ternyata, setelah saya ketemu langsung, memang Hp-nya nggak bisa diinstal apapun. Hp-nya tergolong Hp Begok (dumb-phone, a basic mobile phone that lacks the advanced functionality characteristic of a smartphone). Hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS, plus main game ular yang mutar-mutar di screen-nya.

Dia pemerhati teknologi dan bidang kerjanya ditunjang oleh teknologi tapi kenapa beliau terlihat anti-teknologi?

Dengan kepo dan gaya ndeso saya tanya ke beliau…

Jawabnya, saya bukannya nggak kenal aplikasi yang mempermudah kita berkomunikasi mas, saya hanya ingin men-steril-kan diri dari gonjang-ganjing Pilkada. Saat mendekati Pilkada biasanya kita dimasukkan di bermacam group, baik di group si calon A maupun calon B ataupun calon C atau group anti A/B/C. Tapi saya nggak mau termakan situasi seperti itu, jadi lebih baik saya ambil amannya saja, pakai Hp Begok ini saja, hati lebih tentram dan bisa senyum ke pihak manapun.

Ah si bapak ini cara berpikirnya ndeso banget… Atau saya yang ndeso ya…?


sambil minum Kopi Kelelawar di Kafe Serambi Sentul City, ndeso Babakan Madang, Bogor.

Pojok Samber dilihat dari Pojok

Tags


Pojok Samber

Pojok Samber

Jurnalisme warga adalah tren yang menyertai era keterbukaan informasi. Semua orang dapat menyampaikan apa yang dilihat, didengar, bahkan menyuarakan opininya sendiri pada dunia melalui media daring. Pojok Samber, tampaknya, memanfaatkan ini untuk mengolah idealisme yang tumbuh di para pendirinya sekaligus menggalang publik lokal untuk menyemarakkannya.

Saya belum pernah menguliti isi dari situs Pojok Samber, saya hanya akan menuliskan bagaimana pertemuan saya dengan media jurnalisme warga ini.

(Baca: Menjelajah Nusantara dengan Tulisan)

Dua tahun lalu, 2014, saya mulai mencanangkan pada diri sendiri untuk menulis pada situs warga berskala atau berorientasi lokal. Mengapa mencari yang lokal..? Karena disinilah informasi sebenarnya diperlukan. Sebagai contoh, warga di kota Metro (Lampung) tidak memerlukan informasi biasa-biasa saja yang terjadi di Tangerang (Banten). Atau warga di kota Sabang (Aceh) tidaklah tertarik dengan berita keseharian yang terjadi di kota Tomohon (Sulawesi Utara). Mereka pastilah mencari berita-berita seputaran kota atau tempat tinggalnya sendiri.

Lalu apa yang bisa saya tulis untuk informasi lokal sedangkan saya tidak tinggal di tempat tersebut? Saya justru tidak ingin mencampuri urusan lokal, tetapi memperkaya dengan tulisan lain yang sekiranya berguna untuk rekan-rekan pembaca di “lokalan”. Dan akhirnya saya bertemu dengan Pojok Samber, setelah googling untuk daerah dimana saya pernah hidup dimasa kecil, Metro Lampung.

Untuk usaha saya keliling Nusantara melalui tulisan, tidak hanya Pojok Samber yang berhasil saya datangi, tetapi ada dua lagi yaitu Lintas Gayo (media daring di Aceh) dan Kulkul Bali (media daring di Bali).

(Baca: Jelajah Nusantara dengan Cerita)

Seperti yang pernah saya tulis, maka keinginan saya untuk mengunjungi media daring lokal adalah:

  • Menyumbangkan tulisan dengan isi “rasa baru” (karena bukan orang lokal), hal ini akan menambah warna dari komunitas jurnalisme warga tersebut.
  • Memberikan semangat pada penyedia fasilitas dan pembentuk komunitas untuk membesarkan komunitas tersebut. Hal ini bisa terbentuk lambat laun, karena frekuensi pendatang pada situs tersebut akan semakin tinggi jika banyak hal baru dan berguna.
  • Banyaknya kunjungan disitus tersebut akan memancing semangat penulis-penulis lokal untuk memulai tulisan-tulisan mereka. Untuk hal ini memang bukanlah efek domino, tetapi saya meyakini hal tersebut akan terjadi.

Kembali ke Pojok Samber, saya beberapa kali (dengan frekuensi yang sangat kecil) berhasil mengirimkan tulisan dan dimuat di Pojok Samber. Selain itu, mas Oki Hajiansyah Wahab, salah satu pengelola, juga beberapa kali menuliskan kembali tulisan dari blog saya pada Pojok Samber, terutama dari blog Coming to America. Terimakasih mas Oki… 🙂

Tanggal 28 Oktober 2016, Pojok Samber berulang tahun ke-2. Usia yang masih muda dan telah berhasil menggalang banyak pihak untuk menulis pada portal warga Metro. Tentunya ini suatu pencapaian yang sangat bagus. Warga Metro dan sekitarnya akan terus tertantang untuk berbagi informasi melalui alternatif media daring yang lebih pas untuk semua orang, dan berita-beritanya tentunya lebih mengena.

Selamat untuk Pojok Samber, tetaplah berdiri dan berkembang walau tantangan semakin berat kedepan. Jagalah independensi dalam mengawal dan menyampaikan informasi.

Salam dari balik bumi… 😀


Terkait: tulisan saya yang ada di Pojok Samber:

The Sunshine Blogger Awards

Tags

,


(maaf gambar nggak nyambung dengan isi)

(maaf gambar nggak nyambung dengan isi)

Todongan dari mbak Ine dengan blogging bersambut bertajuk The Sunshine Blogger Awards 2016 ini harus dituntaskan sebelum semester dimulai dua hari lagi :D.

Dalam perintahnya, saya (dan beberapa korban yang lain) diharuskan menjawab beberapa pertanyaan, setelah itu membuat pertanyaan untuk ditujukan ke blogger lainnya. Demikianlah cara kerja penodongan berkelanjutan ini untuk tetap bergulir. Diawal penulisan ini, saya meniatkan untuk tidak membuat korban baru, tapi liat saja diakhir tulisan, apa yang terjadi :D.

Berikut adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mbak Ine.

1 hal apa yg ingin dikuasai, tapi belum dipelajari?

Yang ingin dikuasai adalah mengendalikan tanah, air, udara, dan api. Agak repot untuk memulai belajarnya, karena sekarang belum diketahui posisi Avatar, sang guru, berada. Beberapa satelit pemindai permukaan bumi telah dikerahkan, hasilnya masih nihil. Mungkin ada catatan dan jejak yang tertinggal didokumen Pak Snowden yang bisa dipakai untuk penelusuran.

Ini serius, menguasai keempat hal itu akan membuat kedamaian dan hidup bahagia… 🙂

2 lepas dari finansial dan kondisi saat ini, apa sih pekerjaan impianmu?

Pekerjaan impian, sampai saat ini belum sempat bermimpi mengenai pekerjaan. Yang penting saat ini adalah kerja, kerja ,kerja. Cicilan rumah masih panjang, iuran RT juga masih berkelanjutan, gimana mau mimpi ya… 😀

Yah, mengerjakan apapunlah, yang penting berguna untuk sesama, dan kalau terasa nyaman berarti itu bonusnya… 🙂

3 hal kecil yg menyenangkan adalah…

Hari Jumat tidak mendapatkan email dari dosen. Ini kecil dan menyenangkan. Kalau email datang, dan “kamu harus begini begitu kumpulkan hari Senin”, plus pakai tag line di akhir email “have a nice weekend”, maka sakitnya itu disinih… 😀

4 apa yang bakalan jadi kondisi ideal buat nulis/ngeblog?

Dengan kegiatan yang padat merayap, maka nggak ada kondisi ideal untuk menulis blog. Saat ide keluar dan nggak terhubung internet, maka tulis di Evernote atau Google Keep. Kalau repot ngetiknya, maka cukup items nya saja. Kapan memposting versi lengkap? Entahlah, hanya jari-jemari dan keyboard yang tau…

Intinya adalah kalau sikon memungkinkan, yang tiada bisa didefinisikan, maka blog-blog-blog… 😀

5 spontaneous travelling: ransel atau koper?

Ransel, jika dan hanya jika lagi mood jalan minimalis. Koper? belum pernah… Ngapain juga kesana kemari narikin koper yaaak..? 😀

6 nyaman tinggal di kota besar atau di desa?

Nyaman tinggal di desa, jika dan hanya jika memenuhi kriteria kenyamanan tentunya. Desa yang penduduknya baik, fasumnya bagus, alamnya aduhai, dan internetnya moncer… 😀

7 tempat paling asik yg pernah dikunjungi? (bagi foto yaaaa)

Semua tempat asik, dan salah satu yang asik itu adalah Pulau Weh, yang ada kota Sabang-nya (ingat lagu Dari Sabang Sampai Merauke?). Pulau ini di (hampir) paling ujung Barat sekaligus (hampir) paling Utara wilayah Indonesia. Semua keindahan alam ada, dari puncak gunung, hutan, pantai, hingga taman laut.

Foto-foto sila kunjungi Instagram-nya dengan klik disini.

Bocorannya bisa dilihat dibawah ini:

8 apa makanan yang paling enak sedunia? (bagi resep dooong)

none. Semua enak… 😀 😀 😀

9 satu hal yg harus diselesaikan tahun ini adalah…

menjadi kandidat yang bermartabat. Kandidat apa? yaitu yang sedang diperjuangkan saat ini dalam studi 😀

10 seandainya diberi kesempatan menulis buku, tentang apa dan apa judulnya?

tentang asiknya menikmati keindahan alam, judul rahasia dong, nantikan tanggal terbitnya..!

11 sesuatu yg ingin dilakukan bulan September nanti adalah…

memulai fall semester dengan riang gembira… 😀

Demikianlah mbak Ine, pertanyaan sampeyan sudah dijawab dengan tuntas tas tas…

Sekarang adalah saatnya saya bertanya:

  1. Siapakah nama guru Sekolah Dasar mu yang teringat pertama kali dan ceritakan kenangan asik dengan beliau.
  2. Siapakah nama teman SMP mu yang teringat pertama kali, apa cerita asik dengannya?
  3. Apakah kuliner di luar kota mu yang teringat pertama kali, dimana lokasinya (nggak perlu dipastikan pakai GPS) dan apa sih keistimewaannya?
  4. Pernah baca koran edisi cetak dalam sebulan terakhir ini? Kalau pernah, apa nama korannya dan dimana sih mbacanya (pinggir jalan, angkot, perpustakaan, dll)?
  5. Jika kamu sempatkan meletakkan gadget mu, kemudian melihat sekeliling di tempat umum, apakah kamu melihat keberagaman (manusia) yang ada? Apapun jawabannya, maka apakah yang ada dibenak mu melihat hal ini?
  6. Apakah angkutan umum terakhir yang kamu naiki sebelum menjawab pertanyaan ini? Asik nggak sih perjalanan mu?
  7. Apakah pagi ini kamu sempat melihat matahari terbit? Kenapa?

Cukup tujuh pertanyaan kepo diatas, dan saat ini adalah menentukan siapa yang diharapkan bisa menjawab dan melanjutkan permainan blogging bersambut ini… (tampaknya saya mengubah niat awal, dan akan meneruskan game ini… hehehe)

Baiklah, blogger yang masuk dalam daftar korban berikutnya adalah:

Silakan dilanjutkan, dimulai dari… sekarang!

😀

Belajar R untuk Mapping dan Spatial Analysis

Tags

, , , , ,


R

R

Catatan-catatan penting selalu sayang kalau dibuang begitu saja. Dengan sedikit kemasan maka dapat di-reuse untuk banyak keperluan lain. Demikianlah dengan coret-coretan saya dalam mencoba pemrograman R.

Apakah bahasa pemrograman R?

R is a programming language and software environment for statistical computing and graphics supported by the R Foundation. R is an implementation of the S programming language combined with lexical scoping semantics inspired by Scheme. S was created by John Chambers while at Bell Labs. There are some important differences, but much of the code written for S runs unaltered. R was created by Ross Ihaka and Robert Gentleman at the University of Auckland, New Zealand, and is currently developed by the R Development Core Team, of which Chambers is a member. Source Wikipedia: R (programming language).

Jadi bahasa R berasal dari implementasi bahasa S, dan uniknya nama R adalah dari huruf depan nama kedua penciptanya, yaitu Ross Ihaka dan Robert Gentleman.  😀

Karena modul atau package atau library R dibangun bersama dengan komunitas, maka saat ini kehandalan R tidak hanya dalam komputasi statistik, tetapi juga termasuk pada analisis spasial dan juga pemetaan (atau mapping). Dengan R kita bisa mengolah data spasial, misal: vektor dalam format SHP, citra satelit, ataupun hasil analisis spasial turunan.

Dari beberapa tugas kelas mengenai spasial, banyak coretan-coretan tertinggal. Sementara saat ini waktu agak lega karena libur summer, maka saya mencoba merangkai semua coretan itu menjadi sebuah catatan yang lebih berarti dan bisa dipahami dengan mudah oleh rekan-rekan yang berminat, khususnya bagi pemain spasial.

Agar tidak membuat bingung pengunjung blog ini maka saya membuat blog tersendiri dengan judul RANDMM, beralamat di http://randmm.wordpress.com.

Bagi yang berminat mencoba pemrograman R untuk pemetaan dan analisis spasial, mari kita belajar bersama. 🙂

*/ : )