Kanal Blog Hartanto

Featured

Tags

, , , , ,


Perjalanan di Indonesia dan mancanegaraDunia pendidikanPerjalanan di AmerikaPerenungan level MediumFoto dan cerita singkat dari segala lokasi

Sila berkunjung ke kanal blog dengan klik gambar diatas… 🙂

Advertisements

Jelajah Nusantara Dengan Cerita

Featured

Tags

, , , , , , , , ,


Berbagi dengan Jelajah Nusantara

Berbagi Cerita dengan Jelajah Nusantara

Mari menjelajah Nusantara dengan berbagi cerita. Laman ini adalah laman daftar situs daring komunitas dan kunjungan, sekaligus mengajak rekan blogger pembaca laman ini untuk ikut berkeliling Nusantara.

Continue reading

Lagi Syantik Memang Epic

Tags

, ,


Lagu Lagi Syantik menguasai udara di tahun 2018. Siapa yang tidak kenal lagu dahsyat ini berarti belum pernah mendengarnya. Yang sudah pernah mendengar pastilah akan terus ingin mendengar berulang-ulang. Lagu dengan irama sederhana bisa membuat asik didengar di telinga.

Bahkan bulan Juli 2018 lagu ini masuk dalam peringkat 12 Billboard Youtube terhitung dari jumlah yang melihatnya. Yuk kita nikmati (lagi) lagu Lagi Syantik nan asik ini.

Video clip Lagi Syantik dengan pelantun Siti Badriah produksi Nagaswara.

Selain versi turunan yang buanyak sekali, ada juga yang membuatnya lain yaitu dengan memainkan Lagu Syantik menggunakan instrumen. Salah satu yang cukup menarik adalah yang dimainkan oleh Endang Hyder, pemain biola asal negeri jiran.

Walau saat bermain si Cik Gu ini rada kurang senyum, tapi suara biolanya oke punya. Penasaran…? Kita liat Youtube-nya ya.

Endang Hyder dengan biolanya melantunkan Lagi Syantik.

Nah, asik kan? Mendengarkan Lagi Syantik dengan alunan biola memang keren punya. Ingin rasanya ada orkestra yang juga memainkan Lagi Syantik ini sekelas “Twilight Orchestra”-nya mas Addie MS. 

Iseng-iseng, saat rekan saya sedang mencari backsound untuk film pendek yang sedang kami buat, ada instrumental yang menarik. Tempatnya di Soundcloud, dan rasa-rasanya ini mirip dengan lagu yang sedang dahsyat melambung itu. Eh sebentar, iramanya jauh lebih lambat. Coba kita dengar yak…

Ah biarkanlah soal kemiripan. Yang penting enak didengar dan bisa dinikmati sambil goyang jempol. Mari kita dengar dan dengar dan dengar dan dengar lagi…

Hei sayang ku, hari ini aku syantik… 😀

Oneplus One Purnatugas

Tags

, , ,


40613463_10158381445747837_877247199057018880_n

Oneplus One dan Redmi Note 5

Setelah bertugas selama empat tahun (kurang sebulan) akhirnya Oneplus One saya purnatugas. Sejak datang ke rumah diantar oleh pak pengantar barang kiriman daring, sang Oneplus One hampir tidak pernah tidur nyenyak, kecuali saat penerbangan jarak jauh antarbenua. Ya, smartphone saya yang bermerk Oneplus One bertugas sejak Oktober 2014 dan mengalami kematian fungsi pada 31 Agustus 2018.

Dari pertama mengenal ponsel saya pakai produk Ericsson, kemudian Sony Ericsson, dan kemudian Sony.

Baca: HP dari masa ke masa: Ericsson, Sony Ericsson, Sony…

Sampai kemudian ketika nyebrang samudra saya tidak bisa memakai Sony karena memang nggak ada yang jual di counter daring/luring untuk wilayah Amerika. Dan ketika sedang galau karena utilitas hp Sony yang dibawa dari Indonesia nggak bisa optimal di Amerika, maka diputuskan mencari penggantinya.

Oneplus One yang saya pakai cukup tangguh, sudah mengalami jatuh dari apartemen saya di lantai tiga, dan nggak kenapa-kenapa tuh. Bertugas dikondisi suhu lebih dingin dari minus 20 Celsius juga aman-aman aja, sementara iPhone teman sudah mati. Kemampuan fotografinya juga bagus, ribuan foto sudah dihasilkan di dalam dan luar ruang, tetap manstap hasilnya.

Baca: Dari Sony ke OnePlus: Pindah Kelain Hati

Saat kembali ke Indonesia, Oneplus One tetap bertugas dan sempat keliling Indonesia mengabadikan banyak momen dari Sabang hingga Manokwari. Sampai akhirnya, 31 Agustus, saat diletakkan di meja karena sedang memimpin rapat, tetiba mati. Mati dan diakali berbagai cara, nggak ada respon sama-sekali. Duh!

Banyak data dan kenangan bersama sang Oneplus One ini, generasi pertama Oneplus asli buatan Tiongkok, terpaksa harus direlakan untuk istirahat selamanya.

Penggantinya segera dihadirkan demi kelancaran kerja, atas dasar rekomendasi dari beberapa teman, dan dipilih: Redmi Note 5. Semoga menjadi teman yang tangguh.


 

Clean as you go, Clean as you see

Tags

, ,


IMG_20180721_154812

Masjid besar yang digunakan untuk sholat para santri, selalu penuh.

Akhir minggu lalu saya menengok keponakan di sebuah pesantren modern di Jayanti, Tangerang, Banten. Pesantren yang mempunyai visi dan misi sangat jelas dan baik, dan terlihat diwujudkan dengan baik pula. Tapi yang akan saya ceritakan bukanlah mengenai pesantren keren ini tetapi mengenai orang-tua/wali santri yang hadir dalam pertemuan hari itu.

Sejak pagi menuju aula, saya melihat bahwa wali santri yang hadir adalah orang-orang terpelajar, pastinya. Terlihat dari kendaraan dan penampilan, mereka bukanlah orang yang “biasa-biasa saja”, tetapi sudah mampu melihat ke depan untuk anaknya yang dititipkan di sini.

Di depan aula, para wali diharuskan mengisi daftar hadir. Meja disediakan memanjang, dengan pembagian sesuai kelas dan ini sangat memudahkan bagi kedua pihak, petugas pesantren (yang santri juga) dan para wali (wali santri baru). Sayang sekali, saya mulai tidak nyaman. Sistem yang sudah disiapkan dengan baik, tidak diindahkan oleh para wali. Terjadi penumpukan yang tidak perlu dan saling serobot. Para wali yang berpakaian rapi dan terlihat terpelajar itu tidak mampu mengikuti antrian.

IMG_20180721_085733

Antrian yang tidak ngantri.

Pertemuan wali santri dimulai. Penyelenggaraan terlihat baik sekali. Suara (sound system) bagus, layar proyeksi terlihat tajam, sehingga saya yang duduk di sepertiga dari belakang pun jelas melihatnya. Penuturan pak …. (saya lupa namanya) mengenai Pondok Pesantren ini sangat baik. Beliau, salah satu penjunjung pak Habibie, sangat runtut mengemukanakan mengenai pesantren ini. Top.

Salah satu pernyataan beliau yang terkait dengan cerita saya saat ini adalah mengenai kebersihan. Diceritakan bahwa santri diajarkan untuk selalu menjaga kebersihan dengan ungkapan yang menarik:

Clean as you go, clean as you see.

Clean as you go, diartikan bahwa saat kita meninggalkan lokasi maka semua sampah kita jangan ditinggalkan, bersihkan, kumpulkan dalam kantong yang sudah disiapkan sendiri.

Clean as you see, mengandung pengertian bahwa jika kita melihat ada sampah maka nggak perlu tanya itu sampah siapa tetapi langsung saja diambil dan dibersihkan sejauh kita mampu.

Konsep pengajaran kebersihan yang baik sekali. Dan sekilas memang terlihat bahwa dalam komplek pesantren yang luas ini terlihat bersih. Mungkin clean as you go dan clean as you see memang diterapkan dengan sangat baik oleh para santri.

Acara di aula selesai dan diakhiri dengan makan siang bersama. Ah, kembali, banyak para wali santri yang terlihat belum mengerti arti antrian. Menuju ke meja makanan prasmanan saling serobot dan dengan tampang yang datar saja. Hebat juga nih. Saya, yang biasa usil bicara kalau ada hal seperti ini, kali ini diam. Males ….

IMG_20180721_122323

Aula yang mulai ditinggalkan wali santri, dan meninggalkan ….

Selesai makan, para wali segera meninggalkan aula, sebagian menuju masjid untuk persiapan sholat Dzuhur, sebagian lagi ke asrama santri ataupun ke mobil masing-masing untuk istirahat, sebelum pertemuan dengan wali kelas yang dimulai jam 13:00. Ah, terlihat kembali budaya para wali santri ini. Kotak makanan ringan dan juga piring makan siang terlihat ditinggalkan begitu saja di lantai.

Malu saya melihatnya, karena belum lama tadi saya mengagumi pengajaran para santri mengenai kebersihan, dan saya suka dengan clean as you go dan clean as you see.  Tetapi sekarang melihat para wali santrinya yang …. Sebagai salah satu wali santri, tentunya …. mmm …. entahlah.

Saat itu saya hanya bisa melakukan clean as you go saja. Sementara untuk clean as you see …. rrrr …. perasaan nggak rela-rela amat …. 😀

Kalau Blusukan Jangan Lupa Beli Sinyal

Tags

, , , ,


Modem wi-fi dan paket data.

Saat bertugas di daerah yang belum ter-cover oleh provider telepon selular yang saya pakai itu merepotkan. Bukan hanya karena tidak bisa berkomunikasi normal (suara atau teks) tetapi juga tidak bisa internet. Sering kali saya dan tim survey saling ganggu: makanya jangan hanya beli pulsa, tapi beli juga sinyalnya.

Saya pakai XL yang hampir nggak ada masalah kalau dipakai di Jabodetabek. Saat saya ke pedalaman di Bengkulu atau Sulawesi Tengah atau Riau atau Pulau Weh maka sinyal tiada berjumpa lagi. Lalu apakah harus ganti kartu (SIM) tiap kali bepergian? Secara praktik ya dimungkinkan tapi secara praktis ya nggak lah.

Untuk mengatasi masalah ini, saya mengakali dengan membawa modem wi-fi. Modem wi-fi, yang memang dipakai di rumah, saya pinjam dulu untuk keperluan blusukan. Saya isikan dengan paket internet dari provider yang mempunyai jaringan luas, Telkomsel. Cukup dengan membeli paket data, langsung colok di modem, beres. Sekalipun nomor XL saya tidak terjangkau (untuk komunikasi suara atau teks konvensional/biasa), tapi masih bisa dijangkau melalui internet. Saya pun masih tetap bisa menjangkau dunia luar dengan memakai jalur internet.

Enam bulan terakhir saya selalu beli sinyal saat bertugas blusukan. Cukup beli paket, colok, beres. Kalau paket habis, beli lagi paket yang baru. Mengapa nggak diisi ulang saja? Ternyata untuk isi ulang lebih mahal dibandingkan dengan beli kartu (paket) perdana, dan saat ini masih memungkinkan untuk pakai perdana tanpa aktivasi rumit. Penjual pulsa eceran sudah menyiapkan paket-paket data dengan berbagai pilihan. Ada yang quota data terbagi-bagi dengan berbagai aplikasi (sekian untuk Facebook, untuk Youtube, untuk dll), ada juga yang gelondongan tanpa pembagian apapun. Nah saya selalu pilih yang kedua, beli paket yang gelondongan.

Untuk tahun depan, 2018, entahlah apakah masih bisa seperti ini atau nggak. Sesuai dengan peraturan pendaftaran nomor, katanya, untuk paket data juga harus didaftarkan… Ah itu urusan nantilah, yang penting selama ini yang saya lakukan tidak melanggar hukum.

Jadi, kalau blusukan, jangan lupa beli sinyal ya… 😀

Mobil Golf Bandara Soekarno Hatta

Tags

, ,


Sumber gambar: Kompas daring, dokumentasi PT Angkasa Pura II.

Mobil Golf tersedia di Bandara Soekarno Hatta, tepatnya di Terminal 3. Pertama melihat layanan mobil golf ini, saya berasumsi bahwa mobil ini khusus untuk (calon) penumpang yang berkondisi atau berkebutuhan khusus, seperti manula, sakit, ibu dengan balita, ibu menyusui, dan orang difabel/disabilitas.

Jarak yang jauh antara Gate dan pintu masuk/keluar pada Terminal 3 memang menjadi kendala bagi sebagian orang. Apalagi jika memenuhi anggapan saya diatas. Sehingga mobil golf ini pastilah sangat diperlukan dan akan sangat berguna untuk membantu aksesibilitas (calon) penumpang berkondisi khusus tadi.

Tetapi tiap kali saya di Terminal 3, selalu melihat bahwa pengguna mobil golf ini bisa siapa saja. Bahkan lebih sering digunakan orang-orang sehat yang tertawa gembira saat menaikinya.

Pengalaman saya di beberapa bandara internasional, kendaraan semacam mobil golf ini terlihat lebih dominan (jika tidak bisa dikatakan: hanya terlihat) digunakan oleh orang berkebutuhan khusus. Termasuk keluarga saya ketika salah satu dari kami sakit kaki sehingga tidak bisa berjalan padahal jarak Gate keberangkatan cukup jauh. Kami antri dengan tertib untuk mendapatkan layanan mobil khusus ini.

Karena semakin penasaran dengan layanan mobil golf di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta yang megah ini, maka saya akhirnya mencari berita terkait. Dari Kompas daring tanggal 11 Juni 2017 di dapat berita berjudul: Penumpang di T3 Soekarno-Hatta Kini Bisa Pakai Mobil Golf ke “Boarding Gate”.

Dituliskan:

“Mobil golf bisa digunakan penumpang yang mau berangkat menuju boarding gate dan bagi penumpang yang baru mendarat untuk menuju tempat pengambilan bagasi,” kata Branch Communication Manager Bandara Soekarno-Hatta, Dewandono Prasetyo Nugroho, kepada Kompas.com, Minggu (11/6/2017).

Baiklah jika demikian, pada kesempatan berikutnya nanti saya akan mencoba mobil golf ini, kesempatan sangat langka bagi saya untuk bisa merasakan mobil golf, maklumlah saya bukan pemain golf… 😀 😀 😀

#Instameet Instagrammers Sabang

Tags

, , , , ,


IMG_20171031_221504

Sengaja latar belakangnya hijau, seperti dipembuatan film-film… 😀

Berkunjung ke suatu daerah sembari berkumpul dengan komunitas yang selama ini hanya dikenal melalui dunia maya… itu sesuatu banget. Akhir Oktober lalu saya berkesempatan bertemu dengan instagrammers asal Kota Sabang, di Pulau Weh, Aceh.

Acaranya dadakan sekali, hasil dari saya ngobrol sejenak dengan bang Ali saat istirahat sepulang dari survey di Sabang dan sekitarnya. Saya ungkapkan usulan ke bang Ali bahwa bagaimana jika kita adakan #instameet, yaitu pertemuan para instagrammer, yang selama ini selalu semangat mempromosikan wisata dan budaya Sabang. Bang Ali adalah pembina kegiatan pariwisata di Sabang (dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sabang). Saat beliau setuju dan mendukung penuh, saya segera pasang pengumuman di akun instagram @infoSabang.

Alhamdulillah, ajakan singkat disambut dengan asik oleh rekan-rekan instagrammer Sabang. Maka malam itu kami bertemu di gedung Anjungan Kota Sabang, di kawasan Sabang Fair. Belasan instagrammer hadir dan kami berkenalan dengan melihat instagram masing-masing. Suasananya sangat asik, dimana kami saling mengenal dan berbagi pengetahuan tentang berbagai hal dalam dunia instagram.

Instagrammer yang hadir:

@tourism_sabang,
@meutiasabang,
@maryati.ismail,
@asrawati_ismail,
@nevritha,
@omenoleole,
@santaisabang,
@tariialvisha,
@navybc,
@regusti_iswandi,
@arifmahmoed,
@ogie_25,
@zaifinn,
@at.design,
@teuku_riyan,
@indrad3wa4.

Karena ini pertemuan yang pertama, maka mestinya ada pertemuan kedua, ketiga dan seterusnya ya… 😀 Semoga waktu mengijinkan kita jumpa lagi. Yang jelas saya merasa senang kumpul dengan teman-teman sekalian, yang selalu bergairah mempromosikan wisata dan budaya daerah terindah di Indonesia, Pulau Weh…

Tahu ‘kan, bahwa…

Weh Island is a piece of land from Heaven…

Tetap semangat rekan-rekan semua…!

 

Pribumi dan Nggak Kampungan

Tags

, ,


Bersama orang kampung yang nggak kampungan.

Saya beruntung bertemu dengan Pak Rahmad, pensiunan nelayan, di pantai kota Krui, Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Dan satu lagi adalah pak Zul, seorang petani nanas dan mantan nelayan di Sungai Apit, Siak, Provinsi Riau.

Pak Rahmad bercerita tentang perjalanan hidupnya menjadi nelayan. Yang mengesankan saya bukan suka-dukanya menjadi nelayan (yang tak beda jauh dengan suka-duka jadi PNS, ups…), tetapi kemampuan ia menerangkan tentang tsunami. Iya, tentang tsunami, mengapa terjadi dan apa akibatnya bagi nelayan. Ia banyak cerita saat tsunami dari gempa Aceh 2004, yang terasakan juga di Krui.

Ia bukan lulusan dari mana-mana, hanya seorang yang cerdas hasil pendidikan gelombang-gelombang ganas di Samudra Hindia. Ia paham hukum alam dan bagaimana mensyukurinya dalam langkah hidupnya. Pagi itu menjadi obrolan berdua yang sangat menarik di tepi pantai Krui. Bertambahlah kenalan dan ilmu kehidupan saya.

Sekitar 780 km dari Krui, saya bertemu dengan pak Zul. Saat itu air hujan sedang menghujam ladang nanas di tanah gambut yang saya kunjungi, Pak Zul menawarkan singgah di rumahnya, tak jauh dari kebun nanasnya. Pekarangan dan rumah yang rapi dan sangat sederhana, tapi jangan salah, dilengkapi dengan panel surya dan parabola, disanalah pak Zul tinggal. Ia mengolah kebun nanas untuk dijual ke pengepul yang selalu datang menjemput ke desa ini.

Kopi dan buah naga terhidang menjadi plus nikmatnya, bukan hanya karena hangat kopi dan manis buahnya, tetapi karena kehebatan tuan rumah. Pak Zul mengaku asli dari kampung itu, dan selalu melempar canda yang cerdas. Saya dan tim pun sering terkena tikaman tajam dari canda pak Zul yang membuat kami semua tergelak. Hebat, pak Zul mampu berkomunikasi dengan menarik sembari menceritakan kehidupannya yang keras. Pelajaran tambahan bagi saya dari orang kampung satu ini.

Pak Rahmad dan Pak Zul, keduanya adalah orang profesional, menguasai bidang kerjanya dan mampu berbuat banyak bagi sekitar. Mereka berdua adalah orang yang cerdas. Saya beruntung sempat bertemu dan mengenal mereka.

Mereka adalah orang kampung, “pribumi asli”, tanpa retorika kampungan…