Kanal Blog Hartanto

Featured

Tags

, , , , ,


Perjalanan di Indonesia dan mancanegaraDunia pendidikanPerjalanan di AmerikaPerenungan level MediumFoto dan cerita singkat dari segala lokasi

Sila berkunjung ke kanal blog dengan klik gambar diatas… 🙂

Advertisements

Jelajah Nusantara Dengan Cerita

Featured

Tags

, , , , , , , , ,


Berbagi dengan Jelajah Nusantara

Berbagi Cerita dengan Jelajah Nusantara

Mari menjelajah Nusantara dengan berbagi cerita. Laman ini adalah laman daftar situs daring komunitas dan kunjungan, sekaligus mengajak rekan blogger pembaca laman ini untuk ikut berkeliling Nusantara.

Continue reading

Kalau Blusukan Jangan Lupa Beli Sinyal

Tags

, , , ,


Modem wi-fi dan paket data.

Saat bertugas di daerah yang belum ter-cover oleh provider telepon selular yang saya pakai itu merepotkan. Bukan hanya karena tidak bisa berkomunikasi normal (suara atau teks) tetapi juga tidak bisa internet. Sering kali saya dan tim survey saling ganggu: makanya jangan hanya beli pulsa, tapi beli juga sinyalnya.

Saya pakai XL yang hampir nggak ada masalah kalau dipakai di Jabodetabek. Saat saya ke pedalaman di Bengkulu atau Sulawesi Tengah atau Riau atau Pulau Weh maka sinyal tiada berjumpa lagi. Lalu apakah harus ganti kartu (SIM) tiap kali bepergian? Secara praktik ya dimungkinkan tapi secara praktis ya nggak lah.

Untuk mengatasi masalah ini, saya mengakali dengan membawa modem wi-fi. Modem wi-fi, yang memang dipakai di rumah, saya pinjam dulu untuk keperluan blusukan. Saya isikan dengan paket internet dari provider yang mempunyai jaringan luas, Telkomsel. Cukup dengan membeli paket data, langsung colok di modem, beres. Sekalipun nomor XL saya tidak terjangkau (untuk komunikasi suara atau teks konvensional/biasa), tapi masih bisa dijangkau melalui internet. Saya pun masih tetap bisa menjangkau dunia luar dengan memakai jalur internet.

Enam bulan terakhir saya selalu beli sinyal saat bertugas blusukan. Cukup beli paket, colok, beres. Kalau paket habis, beli lagi paket yang baru. Mengapa nggak diisi ulang saja? Ternyata untuk isi ulang lebih mahal dibandingkan dengan beli kartu (paket) perdana, dan saat ini masih memungkinkan untuk pakai perdana tanpa aktivasi rumit. Penjual pulsa eceran sudah menyiapkan paket-paket data dengan berbagai pilihan. Ada yang quota data terbagi-bagi dengan berbagai aplikasi (sekian untuk Facebook, untuk Youtube, untuk dll), ada juga yang gelondongan tanpa pembagian apapun. Nah saya selalu pilih yang kedua, beli paket yang gelondongan.

Untuk tahun depan, 2018, entahlah apakah masih bisa seperti ini atau nggak. Sesuai dengan peraturan pendaftaran nomor, katanya, untuk paket data juga harus didaftarkan… Ah itu urusan nantilah, yang penting selama ini yang saya lakukan tidak melanggar hukum.

Jadi, kalau blusukan, jangan lupa beli sinyal ya… 😀

Mobil Golf Bandara Soekarno Hatta

Tags

, ,


Sumber gambar: Kompas daring, dokumentasi PT Angkasa Pura II.

Mobil Golf tersedia di Bandara Soekarno Hatta, tepatnya di Terminal 3. Pertama melihat layanan mobil golf ini, saya berasumsi bahwa mobil ini khusus untuk (calon) penumpang yang berkondisi atau berkebutuhan khusus, seperti manula, sakit, ibu dengan balita, ibu menyusui, dan orang difabel/disabilitas.

Jarak yang jauh antara Gate dan pintu masuk/keluar pada Terminal 3 memang menjadi kendala bagi sebagian orang. Apalagi jika memenuhi anggapan saya diatas. Sehingga mobil golf ini pastilah sangat diperlukan dan akan sangat berguna untuk membantu aksesibilitas (calon) penumpang berkondisi khusus tadi.

Tetapi tiap kali saya di Terminal 3, selalu melihat bahwa pengguna mobil golf ini bisa siapa saja. Bahkan lebih sering digunakan orang-orang sehat yang tertawa gembira saat menaikinya.

Pengalaman saya di beberapa bandara internasional, kendaraan semacam mobil golf ini terlihat lebih dominan (jika tidak bisa dikatakan: hanya terlihat) digunakan oleh orang berkebutuhan khusus. Termasuk keluarga saya ketika salah satu dari kami sakit kaki sehingga tidak bisa berjalan padahal jarak Gate keberangkatan cukup jauh. Kami antri dengan tertib untuk mendapatkan layanan mobil khusus ini.

Karena semakin penasaran dengan layanan mobil golf di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta yang megah ini, maka saya akhirnya mencari berita terkait. Dari Kompas daring tanggal 11 Juni 2017 di dapat berita berjudul: Penumpang di T3 Soekarno-Hatta Kini Bisa Pakai Mobil Golf ke “Boarding Gate”.

Dituliskan:

“Mobil golf bisa digunakan penumpang yang mau berangkat menuju boarding gate dan bagi penumpang yang baru mendarat untuk menuju tempat pengambilan bagasi,” kata Branch Communication Manager Bandara Soekarno-Hatta, Dewandono Prasetyo Nugroho, kepada Kompas.com, Minggu (11/6/2017).

Baiklah jika demikian, pada kesempatan berikutnya nanti saya akan mencoba mobil golf ini, kesempatan sangat langka bagi saya untuk bisa merasakan mobil golf, maklumlah saya bukan pemain golf… 😀 😀 😀

#Instameet Instagrammers Sabang

Tags

, , , , ,


IMG_20171031_221504

Sengaja latar belakangnya hijau, seperti dipembuatan film-film… 😀

Berkunjung ke suatu daerah sembari berkumpul dengan komunitas yang selama ini hanya dikenal melalui dunia maya… itu sesuatu banget. Akhir Oktober lalu saya berkesempatan bertemu dengan instagrammers asal Kota Sabang, di Pulau Weh, Aceh.

Acaranya dadakan sekali, hasil dari saya ngobrol sejenak dengan bang Ali saat istirahat sepulang dari survey di Sabang dan sekitarnya. Saya ungkapkan usulan ke bang Ali bahwa bagaimana jika kita adakan #instameet, yaitu pertemuan para instagrammer, yang selama ini selalu semangat mempromosikan wisata dan budaya Sabang. Bang Ali adalah pembina kegiatan pariwisata di Sabang (dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sabang). Saat beliau setuju dan mendukung penuh, saya segera pasang pengumuman di akun instagram @infoSabang.

Alhamdulillah, ajakan singkat disambut dengan asik oleh rekan-rekan instagrammer Sabang. Maka malam itu kami bertemu di gedung Anjungan Kota Sabang, di kawasan Sabang Fair. Belasan instagrammer hadir dan kami berkenalan dengan melihat instagram masing-masing. Suasananya sangat asik, dimana kami saling mengenal dan berbagi pengetahuan tentang berbagai hal dalam dunia instagram.

Night class with Mr. @hartantosanjaya #instaMeet #infosabang

A post shared by Indra Dewa (@indrad3w4) on

Instagrammer yang hadir:

@tourism_sabang,
@meutiasabang,
@maryati.ismail,
@asrawati_ismail,
@nevritha,
@omenoleole,
@santaisabang,
@tariialvisha,
@navybc,
@regusti_iswandi,
@arifmahmoed,
@ogie_25,
@zaifinn,
@at.design,
@teuku_riyan,
@indrad3wa4.

Karena ini pertemuan yang pertama, maka mestinya ada pertemuan kedua, ketiga dan seterusnya ya… 😀 Semoga waktu mengijinkan kita jumpa lagi. Yang jelas saya merasa senang kumpul dengan teman-teman sekalian, yang selalu bergairah mempromosikan wisata dan budaya daerah terindah di Indonesia, Pulau Weh…

Tahu ‘kan, bahwa…

Weh Island is a piece of land from Heaven…

Tetap semangat rekan-rekan semua…!

 

Pribumi dan Nggak Kampungan

Tags

, ,


Bersama orang kampung yang nggak kampungan.

Saya beruntung bertemu dengan Pak Rahmad, pensiunan nelayan, di pantai kota Krui, Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Dan satu lagi adalah pak Zul, seorang petani nanas dan mantan nelayan di Sungai Apit, Siak, Provinsi Riau.

Pak Rahmad bercerita tentang perjalanan hidupnya menjadi nelayan. Yang mengesankan saya bukan suka-dukanya menjadi nelayan (yang tak beda jauh dengan suka-duka jadi PNS, ups…), tetapi kemampuan ia menerangkan tentang tsunami. Iya, tentang tsunami, mengapa terjadi dan apa akibatnya bagi nelayan. Ia banyak cerita saat tsunami dari gempa Aceh 2004, yang terasakan juga di Krui.

Ia bukan lulusan dari mana-mana, hanya seorang yang cerdas hasil pendidikan gelombang-gelombang ganas di Samudra Hindia. Ia paham hukum alam dan bagaimana mensyukurinya dalam langkah hidupnya. Pagi itu menjadi obrolan berdua yang sangat menarik di tepi pantai Krui. Bertambahlah kenalan dan ilmu kehidupan saya.

Sekitar 780 km dari Krui, saya bertemu dengan pak Zul. Saat itu air hujan sedang menghujam ladang nanas di tanah gambut yang saya kunjungi, Pak Zul menawarkan singgah di rumahnya, tak jauh dari kebun nanasnya. Pekarangan dan rumah yang rapi dan sangat sederhana, tapi jangan salah, dilengkapi dengan panel surya dan parabola, disanalah pak Zul tinggal. Ia mengolah kebun nanas untuk dijual ke pengepul yang selalu datang menjemput ke desa ini.

Kopi dan buah naga terhidang menjadi plus nikmatnya, bukan hanya karena hangat kopi dan manis buahnya, tetapi karena kehebatan tuan rumah. Pak Zul mengaku asli dari kampung itu, dan selalu melempar canda yang cerdas. Saya dan tim pun sering terkena tikaman tajam dari canda pak Zul yang membuat kami semua tergelak. Hebat, pak Zul mampu berkomunikasi dengan menarik sembari menceritakan kehidupannya yang keras. Pelajaran tambahan bagi saya dari orang kampung satu ini.

Pak Rahmad dan Pak Zul, keduanya adalah orang profesional, menguasai bidang kerjanya dan mampu berbuat banyak bagi sekitar. Mereka berdua adalah orang yang cerdas. Saya beruntung sempat bertemu dan mengenal mereka.

Mereka adalah orang kampung, “pribumi asli”, tanpa retorika kampungan…

Garuda Indonesia dan Bahasa Inggris

Tags

,


Sumber: Garuda-Indonesia.com

Menapaki langit bersama maskapai Garuda Indonesia tentunya pengalaman yang mengasyikkan. Dalam tiga bulan terakhir saya berkesempatan ke berbagai lokasi di Sumatera dan Sulawesi dengan menggunakan maskapai National Flag Carirer ini, dan semuanya dengan standar layanan yang baik.

Sebagai maskapai penerbangan yang masuk dalam 10 maskapai terbaik dunia dan peringkat lima maskapai terbaik se Asia Pasifik tahun 2017 versi TripAdvisor (diberitakan Kompas April 2017) maka tiada perlu lagi didetilkan apa keistimewaan layanan maskapai ini.

Yang sekerikil mengganjal dibenak saya adalah penggunaan Bahasa Inggris dalam menyampaikan pesan dari pamugari/a kepada para penumpang. Seperti biasa, saat akan take off atau sesaat setelah landing ada pemberitahuan kepada penumpang, dalam bahasa Indonesia dan kemudian dilanjutkan dengan bahasa Inggris.

Nah, pada bagian bahasa Inggris, kerikil yang saya rasakan adalah pengucapan yang tidak sesuai dengan yang sebaiknya diucapkan. Intonasi dan pemenggalan kata adalah bahasa Indonesia bangeeet padahal saat itu sedang berbicara dalam bahasa Inggris.

Bagi sebagian besar penumpang (orang Indonesia) pastilah sebodo amat dengan pengumuman dalam bahasa Inggris tersebut, tetapi untuk orang asing apalagi yang negaranya adalah pengguna bahasa Inggris maka suara yang terdengar akan terasa aneh bahkan lucu. Karena apa? Karena intonasi dan pemenggalan katanya benar-benar seperti mengucapkan kalimat dalam bahasa Indonesia.

Lalu bagaimana pengucapan yang baik? 😀

Video penjelasan keselamatan pada kondisi darurat.

Untuk sebagian penerbangan, Garuda Indonesia telah menggunakan video dalam menyampaikan kondisi penyelamatan diri sesaat penerbangan akan dimulai. Penyampaian dalam video ini menggunakan dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Inggris. Nah, coba diperhatikan intonasinya, dan juga penggalan katanya, dari kedua bahasa tersebut. Akan terasa sekali bedanya, bukan?

Dalam hal penyampaian pengumuman oleh pramugari/a secara langsung ada baiknya juga diperhatikan cara pengucapannya, sekalipun yang bertugas bukanlah pengguna native bahasa Inggris. Tidaklah sulit mempelajari pengucapan dalam bahasa Inggris (biasanya English American yang simpel ya…) apalagi jika kalimatnya relatif sama pada setiap penerbangan. Pasti bisalah… 😉

Itu aja sih kerikil keciiil yang saya rasakan… 😀

Ohya, satu hal yang selalu saya sukaaaa adalah instrumental lagu-lagu daerah saat mana pesawat sedang bergerak dari landasan (sesaat setelah landing) menuju tempat parkir… Suasananya Indonesia bangeeeet

Maju terus Garuda Indonesia..!

Kisah si Gelas Hijau

Tags

,


Si Gelas Hijau

Tersebutlah awal 2000an, entah tepatnya tahun berapa, si Gelas Hijau ini hadir di meja saya, lengkap dengan tutupnya yang relatif ketat. Si Hijau ini punya merk Hawaii, Made in Indonesia, yang tercetak dibagian bawah, dan mempunyai kode resin atau RIC (Resin Identification Code) angka 5 di tengah lambang recycle, yang menandakan polypropylene (PP) (dibuat dari bahan untuk auto parts, industrial fibers, food containers, etc.).

Apa istimewanya si Gelas Hijau ini?

Seperti gelas yang lain, ia saya fungsikan sebagai alat penyimpan sementara air (putih, teh, dll) sebelum mengalir kedalam tenggorokan saya. Ia saya letakkan di meja kerja berdampingan dengan komputer atau laptop. Tiap hari dan bertahun-tahun ia menemani saya dari pagi hingga sore atau malam. Sehingga dari fungsinya ya nggak ada istimewanyalah.

Tetapi bagi saya ia adalah saksi bisu perjalanan saya selama belasan tahun di lantai 20 ini. Sempat saya tinggal agak lama beberapa kali dalam hitungan bulan dan pernah dalam hitungan tahun, tetapi ia tetap setia menunggu dan siap difungsikan saat saya hadir kembali.

Ohya, ada cerita, saat libur lebaran entah tahun berapa, lab kami pernah kedatangan banyak tikus, dan si Hijau yang tanpa sengaja saya tinggal di meja (harusnya saya bawa dan simpan di pantry) tutupnya menjadi korban gigitan tikus, ada lecet di beberapa tempat. Sayang sekali sekarang si tutup sudah tak hadir lagi, entah kemana ia pergi.

Tapi tak apalah, yang penting si Hijau masih berfungsi dengan baik menampung materi liquid yang transit sejenak sebelum masuk ke dalam tubuh saya.

Anti-Teknologi ala Ndeso

Tags

, , , ,


Kupu-kupu yang lucu… dimana engkau hinggap… : ) (ilustrasi jakasembung)

Penggunaan WA/BBM dan berbagai aplikasi messenger lain adalah jamak, sangat biasa dilakukan oleh kita semua, dari anak balita sampai lansia. Apalagi kalau pekerjaan/bisnis menuntut untuk itu. Dan jaman sekarang semua aplikasi itu sudah dirangkum dalam sebuah paket ponsel cerdas (smartphone), sehingga ringkas bisa dioperasikan dimana saja selama “nggak lupa beli signal-nya juga”…

Hal yang aneh adalah ketika satu saat saya menghubungi seorang teman, yang mempunyai jabatan struktural cukup tinggi di sebuah Dinas daerah, susahnya bukan main. Dia adalah orang terpelajar, berpendidikan luar negeri pula, dan berinteraksi dalam jejaring nasional dan internasional. Pokoknya dia bukanlah level ndeso..! Dia orang kekinian bangetttt…!

Lalu apa kesulitan saya menghubungi beliau? Satu hal “penghambat” adalah beliau tidak menggunakan semua aplikasi berkirim kabar seperti WA/BBM/dll. Beliau hanya mau bicara (telepon) atau kirim teks SMS. Memangnya Hp beliau nggak mampu untuk install semua messenger itu? Ternyata, setelah saya ketemu langsung, memang Hp-nya nggak bisa diinstal apapun. Hp-nya tergolong Hp Begok (dumb-phone, a basic mobile phone that lacks the advanced functionality characteristic of a smartphone). Hanya bisa digunakan untuk telepon dan SMS, plus main game ular yang mutar-mutar di screen-nya.

Dia pemerhati teknologi dan bidang kerjanya ditunjang oleh teknologi tapi kenapa beliau terlihat anti-teknologi?

Dengan kepo dan gaya ndeso saya tanya ke beliau…

Jawabnya, saya bukannya nggak kenal aplikasi yang mempermudah kita berkomunikasi mas, saya hanya ingin men-steril-kan diri dari gonjang-ganjing Pilkada. Saat mendekati Pilkada biasanya kita dimasukkan di bermacam group, baik di group si calon A maupun calon B ataupun calon C atau group anti A/B/C. Tapi saya nggak mau termakan situasi seperti itu, jadi lebih baik saya ambil amannya saja, pakai Hp Begok ini saja, hati lebih tentram dan bisa senyum ke pihak manapun.

Ah si bapak ini cara berpikirnya ndeso banget… Atau saya yang ndeso ya…?


sambil minum Kopi Kelelawar di Kafe Serambi Sentul City, ndeso Babakan Madang, Bogor.