Tags

, , , , , , ,


Teluk SabangBulan Mei lalu, masih di 2005, gw kembali menginjakkan kaki di pelabuhan Balohan, pintu gerbang memasuki wilayah administrasi Kota Sabang. Wilayah ini, semua juga tau, adalah wilayah paling pojok barat negara Indonesia. Suasana masih serupa saat awal Desember 2004, saat gw juga kesini. Keluar dari Kapal Cepat, semua penumpang diwajibkan memperlihatkan tanda pengenal, dan jika bukan KTP Merah Putih maka akan banyak pertanyaan menyusul. KTP Merah Putih adalah KTP khusus yang saat itu berlaku di daerah Provinsi NAD, ukurannya dua kali KTP biasa, dengan warna merah-putih. Lepas dari para pengawal negeri berbaju hijau, gw mulai menikmati keindahan perjalanan dari Balohan menuju Sabang.

Balohan – Sabang, ini perjalanan kelima yang gw alami. Pertama, Agustus 1997 , saat itu bareng dengan Laju dan dijemput oleh rekan disini, bang Iwan dan bang Amin, pake Kijang kapsul. Kedua, tahun yang sama tapi dibulan September, dan kali ini (juga dengan Laju) naik kendaraan umum, Mitsubishi L300 dengan tempat penumpang di bak belakang. Ketiga, bulan Agustus 2004, juga dengan Laju dan dijemput oleh bang Taufik dan Azwardi (T-A). Keempat, awal Desember 2004, kali dengan Micky dan juga keluarga gw, dijemput bang T-A dengan Avanza dan sedan Toyota eks Singapur. Kali ini, Mei 2005, dijemput oleh bang T-A dan beberapa rekan dengan bis mini.

Perjalanan dari Balohan ke kota Sabang melalui jalan yang agak berliku dan penuh dengan tanjakan dan turunan. Di daerah Mata Ie, tanjakan sudah lebar dan di Cot Ba’u ada turunan tajam yang sudah dialihkan jadi sudah agak landai. Dibeberapa tempat masih cukup curam. Kanan kiri jalan relatif sepi dari rumah penduduk, karena kiri jalan relatif curam sedangkan kanan jalan sebagian adalah tebing. Jalan ini rupanya ada tepat di daerah fault/patahan . Memasuki kota Sabang, yang berada di bagian Utara Pulau Weh, keramaian langsung terasa.

Ingat Sabang, ingat Merauke, setidaknya itu adalah rangkaian kata dalam lagu Dari Sabang sampai Merauke , hasil karya R. Surarjo, yang sudah huapal banget sejak SD. Rangkaian kata ini juga masih marak dalam pidato, pengantar laporan, juga iklan-iklan.

Pulau Weh, pulau serba ada. Mau gunung api? Ada yang masih ngebul, bisa ditemui di daerah Jaboi. Mau Danau, ada juga, namanya Danau Aneuk Laot, yang merupakan salah satu sumber utama air tawar kota Sabang. Mau keindahan pantai ? Wah ini banyak banget.

Danau Aneuk Laot

Kunjungan ke pantai bisa dimulai dari kota Sabang ke arah Timur kemudian sisir ke Selatan. Ada Pantai Kasih (sayang sekali terkena dampak yang cukup parah dari Tsunami Desember 2004), ada Pantai Tapak Gajah dan Pantai Sumur Tiga dengan pasir putih nya. 3 kilometer ke Selatan ada Pantai Ujung Kareung, tempat mancing yang ideal, ikan buanyak dalam jarak 25 meter dari pantai dan dengan kejernihan airnya… Jauh ke Selatan lagi, ada pantai Anoi Itam, pasir disini telihat berwarna hitam. Sebelum sampai Anoi Itam, ada benteng Buvark di Ujong Meutigo. Benteng ini di pinggir pantai dan cukup tinggi dari permukaan laut, menghadap ke Timur. Masih ada meriam yang tertinggal. Pemandangan dari ketinggian ini sangat indah. Air laut yang jernih menyibak keindahan bebatuan didasarnya…

Disalin ulang dari jalan.ID: Pulau Weh – 1 di 360.yahoo.com.