Tags


The RGFIstilah tanggap darurat sangat popular saat pasca bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Aceh dan sekitarnya pada akhir tahun 2004 lalu. Tanggap darurat mungkin terjemahan dari Emergency Respond, mungkin juga tidak, tapi yang jelas rangkaian kata itu berarti suatu tindakan yang diperlukan segera karena kondisi yang sangat menuntut untuk dilakukannya kegiatan tersebut. Tindakan yang bersifat khusus jamak dilakukan oleh satuan atau gugus tugas yang khusus pula, yang dibentuk oleh aparat pemerintah terkait, agar segala yang diperlukan dalam kondisi darurat ini dapat segera tercukupi dan masalah segera teratasi.

Kondisi penugasan satuan atau gugus tugas khusus seperti tersebut diatas adalah kondisi ideal yang selalu diharapkan dalam menghadapi kondisi tanggap darurat. Kenyataan di lapangan selalu berkata lain. Kekhususan yang diperlukan seringkali justru mempunyai rantai komando yang panjang sehingga aksi yang seharusnya sudah dilakukan dapat terhambat oleh system birokrasi yang ada. Apakah ini kesalahan system birokrasi? Bukan disana masalahnya. Birokrasi memang seharusnya demikian yaitu penuh dengan aturan dan prosedural baik di swasta maupun pemerintah. Maslah utama yang selalu ada adalah kemampuan dalam mengolah data dan informasi oleh pengambil keputusan yang seringkali menjadi kendala terbesar dalam mempercepat tindakan.

Siapa yang bisa diharapkan jika terjadi kondisi dimana aksi harus segera dilakukan tetapi gugus tugas terhambat rantai komando, dan juga sikap “lihat dan tunggu” aksi dari sektor lain..? Masyarakatlah yang harus segera turun tangan, bahu membahu dalam melaksanakan aksi tanggap darurat tersebut. Dan jika kasus yang kemudian muncul bersifat sangat khas yang memerlukan keahlian atau pengetahuan khusus, dimana tidak semua orang dapat ikut serta melaksanakannya, maka komunitas dari hal yang khas itulah yang “harus” muncul untuk beraksi. Hal ini yang kemudian dikatakan sebagai “tanggap darurat berbasis komunitas”.

Dalam kasus pasca tsunami di Aceh, salah satu contoh adalah terjunnya komunitas TI (Teknologi Informasi) langsung ke lapangan, yaitu yang menyebut dirinya Air Putih, dalam membangun kembali jalur komunikasi (termasuk internet) yang hancur di Banda Aceh dan sekitarnya pada khususnya dan Provinsi NAD pada umumnya.

Banner AcehSelain komunitas TI, untuk kasus bencana tsunami, terdapat juga komunitas RS dan GIS yang terjun secara tidak langsung ke lokasi, dan hanya memanfaatkan internet dalam melakukan aksinya. Komunitas ini berisikan pemerhati, praktisi, dan pengembang teknologi Remote Sensing (Inderaja atau Penginderaan Jauh) dan Geographic Information System (Sistem Informasi Geografis). Dalam aksinya, komunitas yang lebih dikenal sebagai RSGISForum ini, melakukan pengumpulan data spasial (keruangan) yang berupa data satelit, data “siap GIS”, hasil analisis, dan juga peta-peta tematik. Semua data dan informasi yang terkumpul dikemas dalam beberapa kelompok tema dan dipublikasikan melalui situs web.

Informasi spasial, atau orang awam mengenal dengan sebutan “peta”, sangat diperlukan oleh relawan yang berada di lapangan untuk berbagai keperluan dan aplikasi. Dari mulai melihat area kehancuran/puing dari data satelit resolusi tinggi, juga dapat digunakan untuk memilih area yang terbaik buat pengungsian. Lebih dari itu, data satelit juga dapat digunakan untuk merekonstruksi jejaring jalan yang sudah ada, dimana untuk hal ini digunakan data satelit pra bencana tsunami. Penggunaan GIS memperkuat dalam analisis dan penyajian semua data spasial yang ada, sehingga pengguna awam, termasuk pengambil keputusan, lebih bisa memanfaatkan informasi yang ada dengan mudah.

Komunitas RSGISForum bergerak dengan menanggalkan semua identitas kelompok dan berkerja bersama-sama dalam mengumpulkan, mengolah, dan kemudian menampilkan serta mempublikasikan data dan informasi spasial ini, melalui situs web http://inisiatif.rsgisforum.net/. Latar belakang anggota yang sangat beragam, baik bidang keahlian maupun institusi, dan kesediaan menanggalkan identitas kelompok dalam kiprahnya, menjadi kekuatan yang luar biasa dalam membangun “bank data dan informasi” alternatif ini. Terbukti, tanpa adanya dukungan finansial atau sponsor dari pihak manapun kegiatan tetap berjalan dengan kecepatan tinggi.

Selain mempublikasikan data dan informasi melalui web, RSGISForum juga mengajak berbagai pihak dalam mengadakan workshop khusus masalah spasial dan ikut mencari solusi sekaligus memberi masukan dalam program gugus tugas pemerintah untuk bencana alam yang diakibatkan tsunami ini. Instansi pemerintah, antara lain BPPT, BRR Aceh-Nias, BAKOSURTANAL, LAPAN, DESDM, Perguruan Tinggi antara lain ITB (CRS) dan IPB (P4W) dan juga LSM seperti Asian Development Bank, Conservation International, UN-HIC adalah pihak yang dilibatkan dalam beberapa kali workshop ini.

Banner MerapiSituasi rawan bencana di sekitar Gunung Merapi akibat meningkatnya aktivitas vulkanik gunung tersebut juga menarik komunitas RSGISForum untuk ikut serta mencermatinya. Kegiatan yang dilakukan tetap pada koridor kompetensi yaitu data dan informasi spasial. Untuk itu, melalui situs web http://inisiatif.rsgisforum.net/merapi/, data dan informasi spasial dikumpulkan dan dipublikasikan. Selain data spasial dan “data siap saji” yang terdapat pada web tersebut, juga terdapat halaman visualisasi yang terdiri dari dua bagian, yaitu visualisasi dalam 3 dimensi dan visualisasi dalam WebGIS. Data 3 dimensi dibangun melalui VRML (Virtual Reality Modeling Language) dan untuk menampilkan pada browser web diperlukan program tambahan (VRML plugin). Sedangkan untuk menampilkan WebGIS, yang dibangun dengan perangkat lunak opensource berbasis Java, pada beberapa sistem operasi, dibutuhkan pula instalasi Java. Plugin VRML dan Java yang diperlukan dapat diunduh gratis dari internet.

Tanggap darurat berbasis komunitas, disadari atau tidak, telah menjalani peran penting dalam menjembatani antara kebutuhan lapangan dan ketersediaan “pasokan amunisi”. Pergerakannya dapat melintasi batas institusi dan mencairkan kebekuan birokrasi tanpa perlu menabrak rambu-rambu hukum yang ada. Dalam komunitas yang dinamis inilah sikap profesional akan terbangun dengan sendirinya dan jaringan kepekaan terhadap kondisi sekitar diharapkan dapat lebih cepat tumbuh.