Tags

,


Brebes dari Google MapsDalam perjalanan ke Tegal dengan kereta malam tujuan Semarang (Argomuria) yang terlambat berangkat (biasa…, gangguan persinyalan di Manggarai, dan menyita waktu nunggu di Gambir + Cikini 3 jam), ada juga hal menarik yang dialami.

Saat kereta mendekati Tegal, ini berarti masih masuk wilayah mBrebes, tiba-tiba pemandangan gelap di kanan-kiri kereta berubah jadi terang oleh banyaknya lampu (neon) yang tersusun rapi dengan hamparan yang lumayan luas. Lampu-lampu ini mempunyai jarak antara satu dan lainnya teratur dan juga mempunyai ketinggian yang sama. Kesan pertama: takjub karena menyangka ada tempat pendaratan UFO di lokasi ini…

Rasa penasaran ini gak hilang sampai dilakukan perjalanan kembali ke Jakarta dengan kereta yang sama. Berangkat dari Tegal sekitar jam 6 sore (kali ini tepat banget waktunya, sesuai yang tertera dijadwal). Dan segera waspada dengan lokasi UFO kemarin. Gak lama segera masuk wilayah padang lampu yang kemarin dilewati. Dari pengamatan dalam keremangan malam, ternyata yang diterangi lampu-lampu itu adalah sebuah wadah (seperti ember) dan di sekitar lampu tadi adalah kebun bawang.

Ada apa gerangan? Kenapa tanaman bawang diberi penerangan pada lajur-lajurnya? Berhubung penasaran, langsung cari di Google tentang bawang dan hubungannya dengan lampu.

Dari Sentra Informasi IPTEK mengenai teknologi budidaya tanaman pangan, bagian Bawang Merah, didapat keterangan bahwa bawang merah (Allium ascalonicum) mempunyai varitas khas yang biasa ditanam di daerah Brebes, yaitu:

Bima brebes, Varietas lokal asal Brebes ini mampu menghasilkan 10 ton/ha umbi kering dengan bobot susut panen mencapai 22%. Varietas ini dipanen pada umur 60 hari. Anakan dalam satu rumpun mencapai 7-12 buah. Di Brebes tanaman ini jarang berbunga. Umbi berwarna merah muda, bentuknya lonjong kecil dengan suatu cincin kecil pada cakram. Jenis ini cocok sekali untuk dikembangkan di dataran rendah. Bima brebes resisten terhadap penyakit busuk umbi (Botrytis allii), tetapi peka terhadap penyakit busuk daun (Phytoptora porii). (Sumber: Sentra Informasi IPTEK).

A Bug's LifeDari keterangan itu ada kunci “peka terhadap penyakir busuk daun”. Ini mungkin yang bisa dipakai untuk penelusuran lebih lanjut terkait dengan serangga hama. Beberapa sumber menyatakan bahwa serangga (sebagian atau seluruhnya, gak tau pasti) mempunyai sifat fototropik (phototropic, phototropism), yaitu kecenderungan ketertarikan pada sinar (fototropik positif). Contoh gampangnya adalah laron, yang mana dimusim laron muncul, mereka selalu mencari lampu rumah kita untuk berkumpul. Atau kalau yang sudah pernah nonton film A Bug’s Life-nya Pixar/Disney, disana juga disinggung masalah ini.
Kalau dikait-kaitkan antara kepekaan tanaman bawang akan penyakit busuk daun, yang antara lain disebabkan oleh serangga hama, dan sifat serangga yang fototropik, maka hamparan lampu tadi adalah usaha untuk mengumpulkan para serangga sehingga mereka lupa dengan santapan daun bawang yang segar. Sedangkan wadah (yang terlihat seperti ember) yang diletakkan di bawah masing-masing lampu adalah tempat serangga yang terjebak lampu.

Jika benar segala dugaan ini, maka hal ini pastilah memperkecil penggunaan kimia dalam menghalau serangga. Dengan memanfaatkan sifat alamiah serangga, mereka bisa diarahkan ke tempat lain yang dapat menyelamatkan si daun bawang. Sejauh mana efektifitasnya dan juga ekonomisnya gak tau deh…

Tapi… jangan-jangan… di sana memang lokasi pendaratan UFO…😐