Tags

, , , , , , , ,


Kuala Kapuas dan Dadahup di Google Maps.

Dadahup

9 September 2006, tidak hanya mengingatkan Hari Olahraga Nasional, tidak hanya mengingatkan lahirnya presiden RI saat ini, dan tidak hanya tidak hanya yang lain, tapi juga mengingatkan pada satu waktu, tepatnya pada tanggal 9, bulan 9, tahun 99, jam 9 lewat 9 menit 9 detik…

Hari itu (lupa hari apa) termasuk hari istimewa bagi banyak orang, termasuk gw yang sedang mengeluyur ke wilayah pedesaan, di Kalimantan Tengah. Kegiatan di tanggal istimewa ini diawali dari kota yang dijadikan basecamp, Kuala Kapuas. Tujuan hari ini (dan juga hari-hari berikutnya) adalah menyisir semua daratan di “desa gambut”, Dadahup. Tujuan utama adalah untuk ground truth dan (sedikit) social-truth di jantung proyek lahan gambut sejuta hektar.

Kali ini yang istimewanya bukan hanya pengalaman menyusuri kanal-kanal yang penuh asap dan dikelilingi kebakaran semak (bukan kebakaran hutan, karena pepohonan sudah gak ada) dengan menggunakan speedboat, tapi terkait dengan tanggal (dan waktu) pada hari tersebut yang banyak angka sembilan, 9/9/99 jam 9:9:9.

Kuala Kapuas, September 99

Di Kuala Kapuas, mas Sartono, htt, Lajung

Banyak peramal tingkat nasional maupun internasional yang berbusa menyiarkan ramalannya, baka terjadi ini, itu, dan ini pada tanggal tersebut. Antara lain adalah saat itu posisi semua planet dalam tatasurya kita akan berada pada satu garis lurus dan akan menyebabkan kegelapan di muka bumi karena cahaya matahari terhalang oleh planet-planet yang terletak diantara bumi dan matahari…

Gak tau sumber berita tentang posisi planet ini dari mana asalnya (mungkin dari Hongkong…) si peramal bisa cukup meyakinkan khalayak, apalagi dengan mengait-ngaitkan dengan susunan angka tanggal, bulan, tahun, dan waktu.

Di lapangan, bahkan untuk wilayah yang terasing seperti Dadahup (sekitar 50 km sebelah utara kota Kuala Kapuas, dengan lalulintas utama dan satu-satunya melalui sungai Murung + Barito atau Kapuas), berita ini sampai juga, dan dipercaya pula. Dan yang terjadi adalah tidak adanya para petani di ladang/sawah. Ketidak hadiran mereka di ladang/sawah, pada awalnya, cukup mengherankan.

Setelah sampai di desa transmigrasi yang ada, ternyata semua “bersembunyi” di rumah masing-masing. Hal sebenarnya kemudian terungkap saat bincang-bincang dengan mereka di rumahnya, ternyata banyak yang khawatir akan terjadi sesuatu pada hari ditanggal nan unik ini, akibat dari busa para peramal tadi… alamaaak… : )

Kembali ke tanggal 9/9/99 jam 9:9:9, saat itu gw sedang ada di atas speedboat, di sungai Murung ke arah Barito, bareng dengan Laju (BPPT), Syamsul (sekarang di Kelautan IPB), dan mas Sartono (saat itu di Dep Trans), dan gak ada kejadian istimewa… biasa aja… kecuali hempasan keras ombak sungai di badan speedboat yang melaju kencang dan ini mbuat gak nyaman duduk… : )