Tags

,


AirAsia @ KLIA LCC-TDengan menggunakan maskapai penerbangan Airasia, perjalanan dari Cengkareng Banten ke daratan seberang terasa cukup nyaman. Tiket yang relatif murah sangat mengusung moto mereka, Airasia, saat itu: Now Everyone Can Fly… Dengan pemesanan berjarak 9 hari sebelum keberangkatan, harga tiket Jakarta Soekarno Hatta ke KLIA-LCC hanya Rp. 1.373.998 (ini tiket PP dan sudah termasuk Malaysia Airport Tax, insurance dan admin fee). Dan, tanpa ada tiket, bisa langsung melenggang ke konter check-in. Yang diperlukan hanya nomor pembukuan (booking number) dan passport aja. Beban kabin maksimal yang diperbolehkan 15 kg, lumayan. Relatif murahnya tiket berdampak pada layanan di kabin, yaitu makanan. Tidak ada harapan bisa menikmati makanan dengan gratis selama penerbangan, karena setiap makanan yang diminati harus mengeluarkan sekian ringgit untuk mendapatkannya, sedangkan bontot yang dibawa gak boleh dibuka selama dalam pesawat… Cukup garing deh gigi… : )

Cerita tentang keberangkatan… dan tiba-tiba sampailah pesawat di KLIA (Kuala Lumpur International Airport) dengan sukses, tanpa halangan kabut asap, yang memang belum menyentuh Malaysia pada akhir bulan Mei 2006 itu. Saat keluar dari pesawat, agak kaget, karena gak ada garbarata (lorong belalai) yang biasanya selalu ada untuk penerbangan internasional. Turun tangga, gak ada juga bis yang jemput. Penumpang segera diarahkan berjalan ke terminal melalui jalur khusus yang ditandai di landasan parkir pesawat. Cukup lumayan jarak yang harus ditempuh, yang jelas lebih jauh dari pengalaman jalan pesawat-terminal penumpang di bandara-bandara di tanah air.

Ini kali kedua mengunjungi KLIA setelah yang pertama tahun 2000. Mmmm… kayaknya ada yang aneh. Saat itu KLIA baru diresmikan dan megah sekali. Rasanya bagai perpaduan antara bandara Charles de Gaulle dan Dulles plus pertokoan ala Changi. Tapi kali ini kok beda sekali tampilannya. Terminal penumpang yang terlihat, dan kemudian dimasuki, hanya satu lantai yang luas bagai hanggar pesawat. Gak terlihat kemewahan di tahun 2000 lalu. Setelah clingak clinguk sana-sini, wah ternyata salah tempat. Ini bukan KLIA yang dulu, tapi KLIA-LCC, alias KLIA bagian terminal penerbangan berbiaya murah (LCC: Low Cost Carrier). Wow, rupanya LCC merupakan bisnis serius dan sangat menjanjikan, terbukti dengan disediakannya terminal udara khusus maskapai kelas LCC. Pantesan begini kondisinya… Jadi, everyone can fly lah…

Bayangan akan kenikmatan moda transportasi kereta mewah antara KLIA-Kuala Lumpur langsung sirna. Moda yang ada saat ini ada dua pilihan diluar kendaraan pribadi, yaitu naik taxi atau naik bis bandara.

Teksi di KLIA LCC-TTaksi yang tersedia kebanyakan sama dengan (bahkan mungkin lebih buruk, maaf) dari yang berjajar di Cengkareng. Beragam warna taksi berasal dari satu merek yaitu Proton Saga (mengingatkan armada taksi Citra di Jakarta) dengan kondisi ala kadarnya. Gak ada yang “sekelas” Toyota Limo seperti kebanyakan taksi di Jakarta saat ini. Karena biaya taksi belum tau dan lokasi tempat inap di Kuala Lumpur juga belum tau tepatnya, maka alternatif kendaraan ter”aman” adalah bis bandara.

Bas SkyBusPerusahaan yang beroperasi adalah Skybus dengan biaya 9 ringgit (1 ringgit sekitar 2500-an rupiah). Pada badan bus (atau “bas” dalam bahasa Malaysia) tertulis: “RM 9 sehala dari KL Sentral <-> LCC-T”. Bas Mercedes dengan warna merah ini punya interior biasa, dengan tempat duduk penumpang yang lebih tinggi dari tempat duduk supir.

Memasuki Kuala Lumpur saat hari Minggu sore, sama dengan menikmati tol Jagorawi pada Minggu sore memasuki Jakarta… macet cet cet. Tertahan hampir setengah jam di gerbang tol, akhirnya lolos juga dan segera memasuki KL Sentral, yang merupakan sentral stasiun kereta dan terminal bis (Kuala Lumpur Sentral Stesyen).

Macet di pintu tolTurun dari bas, nego dengan sopir taksi (ehm, supir taksi: “pemandu teksi”), pak Fauzi bin Mamat, terus langsung cabut ke Jalan Ipoh di bagian Utara Kuala Lumpur. Sore ini memang kepadatan lalulintas tinggi, karena ternyata di Malaysia sedang memasuki saat libur sekolah. Semua hotel disesaki pelancong domestik yang akan menikmati ibukota, Kuala Lumpur. Karena taksi borongan, jadi gak khawatir dengan argometer terkait dengan kemacetan jalan, pak Fauzi mengendalikan taksinya dengan baik, pusing sana pusing sini untuk cari jalan alternatif…


Tulisan ini adalah rangkaian catetan Sepekan di KL.
Baca sebelum: Sepekan di KL

Baca berikut: Serbaneka di KL