Tags

,


national MosqueJumatan di Masjid Kerajaan

Dalam setiap kesempatan keluyuran, sebisa mungkin merasakan sholat di “Masjid Agung” setempat. Begitu juga saat keluyuran di KL. National Mosque, atau Masjid Kerajaan (maaf kalau salah), yang terletak di Jalan Sultan Shalahuddin, menjadi sasaran utama saat hari Jumat datang. Suasana di luar masjid serupa dengan di tanah air. Pasar jumat dengan berbagai ragam penawaran menarik ada disini. Dari barang-barang ‘antik’ sampai berbagai jenis makanan. Dan saat khotib naik mimbar, terlihat beliau membaca tulisan dalam membawakan materi khotbahnya. Dari bisikan rekan sejalan, di Malaysia, jika khotib akan naik mimbar, maka isi khotbah harus disahkan dulu oleh pihak berwenang dan khotib tidak boleh keluar dari tulisan tersebut. Wah wah, jadi inget masa-masa suatu orde pemerintahan di Indonesia. Ternyata di Malaysia hal tersebut justru sedang diterapkan saat ini…

Roaming ProXL

Berbekal kartu XPlor dari ProXL, pergi ke negeri “pemilik” XLcomindo tanpa keraguan sedikitpun akan jejaring koneksinya. Masa sih ProXL gak “nyangkut” sinyalnya di Malaysia? Tapi, ternyata, saat hp diaktifkan di bandara, gak ada servis jejaring yang nyangkut. Ada apa ini? Padahal komunikasi sangat diperlukan untuk kontak dengan rekan-rekan di KL. Ternyata (ini kemungkinan lho) hal ini terjadi karena belum diaktifkannya roaming internasional. Hal ini gak diperkirakan sebelumnya, karena pengalaman saat ke Belanda – Belgia tahun lalu, berbekal kartu ProXL (Kartu Bebas, kartu prabayar) gak perlu lapor untuk roaming internasional. Apa mungkin karena prabayar (yang artinya bayar dimuka) jadi gak perlu aktifasi lagi..? Jadi kalo kena roaming ya dana yang kena toh sudah dibayar oleh pemakai… hehehe…

Gempa Yogya juga terasa di KL

Dalam sepekan pasca bencana di Yogya, gempa juga terasa di KL. Ini bukan gempa yang sesungguhnya, tapi di setiap stasiun TV selalu disiarkan kondisi terkini Yogya pasca gempa. Banyak mahasiswa asal Malaysia yang sedang ngilmu di Yogya, dan banyak kisah dari mereka yang ditayangkan di TV, baik wawancara jarak jauh ataupun yang datang ke studio. Sebagian dari mereka memilih pulang dulu ke kampung halaman di Malaysia hingga suasana memungkinkan untuk kembali ke Yogya, tetapi sebagian lain justru bertahan di Yogya untuk bergabung dengan sukarelawan dalam membantu korban gempa. Jejaring RTM (Radio Televisyen Malaysia) juga menyediakan layanan “sumbangan pemirsa” dengan fasilitas sms, dimana penyumbang mengirimkan ke nomor tertentu dengan isi pesan yang merupakan kode besar nominal ringgit yang akan disumbangkan. Bukan main…

Dili di Indonesia..?

Awal Juni 2006, kerusuhan di kota Dili (Timor Leste) sedang marak. Ini juga merupakan salah satu santapan media TV di KL. Pada siaran salah satu stasiun TV (duh, lupa tanggalnya), 8TV, pada acara 8News yang disiarkan sekitar jam 19.30 waktu KL, berita kerusuhan itupun muncul. Yang antik adalah pada layar tampil banner: “Dili, Indonesia”. Wah, ternyata masih ada yang menganggap Dili masih di Indonesia, padahal sudah pergi, ‘kan… : )

Raja selain Kabas

Kabas (atau kabut asap, yang biasa juga dikenal sebagai smog: smoke-fog) selalu menjadikan Indonesia terkenal dan menjadi buah bibir penduduk negara tetangga, termasuk penduduk di seantero KL. Tetapi kabas hanya datang saat musim kemarau, dan setelah hujan datang akan hilang dengan sendirinya. Ada hal lain yang me-raja-i lebih daripada Kabas, khususnya yang melanda KL. Tak lain adalah lelaguan hasil karya pemusik Indonesia. Sepanjang perjalanan bersama rekan setempat, radio di mobil selalu dan selalu menyiarkan lelaguan Indonesia. Lagu dari Peterpan, Ratu, Dewa, Radja dan banyak lagi silih berganti terdendangkan. Satu ketika dari laptop diputarkan mp3 album Senyawa – Chrisye, wah, sang rekan gak kenal lelagunya dan minta diganti dengan mp3 Peterpan..! : )


Tulisan ini adalah rangkaian catetan Sepekan di KL.
Baca sebelum: Now everyone can fly
Baca berikut: Survey pasar