Tags

, , , , , , , ,


Gerbang AlmodovarMelalui lorong-lorong sempit dan panjang adalah kenikmatan sendiri saat mencari gerbang keluar “komplek Cordoba”. Setelah melalui beberapa kelokan meragukan, akhirnya berhasil keluar dari komplek ini, dan mulai menyusuri jalan raya. Terik matahari siang memang luar biasa, display temperatur yang terpasang dibeberapa tempat menunjukkan angka 40 derajat Celcius. Tanpa perlu liat kanan-kiri, perjalanan dipercepat dengan satu tujuan: Stasiun Cordoba yang tentunya sejuk karena ber-AC…

Stasiun CordobaStasiun Cordoba, yang besar, megah dan mempunyai fasilitas layaknya sebuah bandara, penuh dengan penumpang dan calon penumpang berbagai arah. Di beberapa tempat terlihat antrian dimana semua barang tentengan dipindai. Waktu sudah mepet, segera lari ke bagian karcis untuk beli tiket “T-200” arah ke selatan, Malaga, yang melewati Barbadillos (sta Bobadilla). Berita buruk: habis, tiket habis untuk 2 perjalanan terakhir ke arah selatan hari ini… Kacau… Dinginnya ruang yang ber-AC sudah gak kerasa lagi. Keringet panik segera ngucur. Gak mungkin nginep di Stasiun, di hotel pun gak karena gak ada ongkos yang cukup. Ini risiko pergi nekad di negeri orang…

Segera balik lagi ke konter tiket, tanya sebisa mungkin pake bahasa tarzan (susah banget komunikasi pake bahas Inggris di Spanyol…! sumpah…). Setelah beberapa saat, petugas bilang ada alternatif kereta yang lewat Barbadillos, yang merupakan stasiun terdekat dengan desa Campillos. Mungkin dari tadi juga sudah ada, wong jadwal sudah rapi, tapi komunikasi yang kacau mbuat info ini tertinggal. Selain T-200, ada kereta Intercity yang akan berangkat jam 16.14. Wow, sekarang sudah jam 16.05… Ok, gw ambil tiketnya Pak..! Bayar langsung kabur ke line 7. Kereta sudah ada disana, dan langsung naik… Lhooo kok gerbongnya kosong..? Celingak celinguk sebentar, cek tiket, cek lorong penumpang, walah salah…! Line 7 ada di sebelah… Kabur lagi lewat tangga, sampai diatas keliatan kereta lain bergerak di Line 7… Kacau… ketinggalan dah…

IntercityTernyata nggak, kereta Intercity baru aja sampe. Alhamdulillah, langsung lompat ke gerbong, cari nomor tempat duduk, tarik napas panjang… Kereta Intercity gerbongnya asik juga. Dalam satu gerbong ada 80 tempat duduk, dilengkapi dengan 8 TV dan tentunya ruangan ber-AC. Kayaknya kereta ini sekelas di bawah Argobromo/Gede.

Perjalanan kembali ke Barbadillos segera dimulai. Montilla dilewati pada 17.00, Puente Genil 17.18, di stasiun La Roda gak stop, Fuente de Piedra 17.45, kereta stop sejenak. Dan akhirnya tepat jam 18.00 sampai di Barbadillos…! Turun dari gerbong, Barbadillos masih diguyur hujan…

Padang Zaitun, Gandum, Bunga Matahari...Dari telepon umum di dalam stasiun, segera kontak Hotel (Hostal San Francisco), dengan harapan rekan-rekan sudah ada yang pulang dari perjalanan mereka hari ini yang katanya akan ke Marbella dan Malaga, kota-kota indah di pantai selatan. Jesus, pemilik sekaligus petugas front office Hotel kabarkan: negative… Gak tau jam berapa mereka akan kembali…

Ok deh, hari masih terasa siang, di luar stasiun masih terang benderang, masih ada alternatif lain untuk mencapai Campillos yang jaraknya dari Barbadillos sekitar 13 km: jalan kaki…! Kenapa harus jalan kaki.? Karena memang tidak ada angkutan antarkota disini. Semua penduduk punya kendaraan berupa sepeda motor atau mobil. Jadi: positif, jalan kaki… (ngeluh).

Padang Bunga MatahariSisa hujan yang masih melembabkan tanah agak menyejukkan sore yang terik ini. Spanyol musim panas, jadi saat jam 18 masih terasa terang benderang. Waktu maghrib disini sekitar jam 21.30.

Segera aktifkan GPS Garmin 12XL dan mulai melangkah ikuti jalan aspal berbatu di tengah-tengah padang zaitun yang maha luas… Gak ada pandangan lain selain padang zaitun, padang gandum, dan padang bunga matahari disini. Sunyi senyap, tanpa ada suara kicau burung atau tonggeret, tanpa rasa takut (yang gak kepikir lagi saat itu), kaki terus melangkah sambil sesekali perhatikan GPS. Dari perhitungan kecepatan rerata yang terlihat di GPS, diprediksi bahwa akan sampai di Hotel sekitar jam 20.15, itu artinya perjalanan akan ditempuh selama sekitar 2 jam lebih sedikit. Wow, mungkin asik juga…

Pohon ZaitunSekitar 3 km terlampaui, keringet sudah mulai aktif menetes. Tiba-tiba terdengar dikejauhan suara mobil dari arah belakang. Timbul ide, kenapa gak nyoba kayak di film-film: lifting…! Akhirnya, stop sejenak, sedikit mengulang kata-kata dalam Bahasa Spanyol yang sudah dihapal, sedikit ngumpulin keberanian, mulai menatap mobil yang datang sambil ayunkan tangan terkepal dengan ibujari mengarah kearah tujuan… Sang mobil segera datang dan… lewat… harapan lenyap… (sedih)… eh nanti dulu. Gak jauh mobil sedan Ford yang sudah berumur dengan nomor polisi SE3391CL itu berhenti dan mundur… betul, mundur ngarah ketempat gw berdiri.

Danau di tengah padangSegera dekati kaca sopir, terlihat ada dua orang tua di bagian depan. Sampaikan: Holla..!, lalu: Transporte a Campillos..? begitulah yang ‘terdengar’ diajarkan oleh rekan yang ngantar ke staiun tadi pagi. Segera dijawab bla bla bla, gak ngerti, tapi maksudnya: ok anda boleh ikut… (barangkali). Langsung buka pintu belakang dan duduk manis. Untuk menghormati mereka, segera ajak bicara dalam bahasa Inggris, walau pesimis. Bener aja, 3-4 pertanyaan dalam bahasa Inggris langsung mental, gak dimengerti mereka, tapi mereka, dua orang bapak tua, mencoba ramah menanggapi dengan bahasa Spanyol yang gw gak ngerti sama sekali…!

Ok deh, kalo gitu, biar seru, langsung ajak aja bicara bola (orang Spanyol gibol juga kan..?): tentang Real Madrid, Barcelona, dan lain-lain: pakai Bahasa Indonesia…! Kok..? Lha wong pake bahasa Inggris mereka nggak “dong” ya pake Bahasa Indonesia aja sekalian. Dan bagusnya, mereka tetep ramah dengan bahasa daerahnya yang 100% gak gw ngerti… Maaf, jangan mencoba membayangkan percakapan macam apa yang terjadi saat itu…

Hostal San Francisco10 km terlampaui, desa Campillos segera dimasuki. Mobil Ford tua ini segera minggir di SPBU terdekat yang kebetulan deket dengan Hotel juga, kemudian gw segera turun, dan gak lupa mengucapkan: Terima Kasih Pak..! Mereka tersenyum, sapa balik (entah ngomong apa), dan pergi…

Jam 21an, pintu kamar hotel diketuk, ternyata rekan-rekan sudah pulang. Bart Kroll, Mulugeta-Ethiopian, dan Sichivula-Zambian pada teriak: Hey hey hey, Hartanto, you save…!

Mungkin kebayang dibenak mereka sulitnya menembus belantara Spanyol…
: )

Tulisan ke-5 dari 5, tentang perjalanan Campillos – Cordoba.
Sebelum: Dan kerinduan yang tersisa (4#5)