Tags

, , , , ,


Storm @ NL by WereldomroepCuaca yang tidak bersahabat akhir-akhir ini untuk wilayah Bogor – Jakarta mengingatkan satu pengalaman jaman dahulu kala. Ini terjadi pada Oktober 2002, saat tinggal di kota Enschede. Ada kegiatan bulanan yang sangat dinantikan, yaitu kumpul-kumpul bersama orang asal sekampung, ngobrol-ngobrol dan -ini yang utama- menikmati makanan rasa kampung alias masakan indonesia..! Undangan melalui milis dari kang Salman telah disebar, dan rencana keberangkatan sudah matang. Perlu rencana matang karena lokasi ngumpul di kampung sebelah, Hengelo, yang berjarak sekitar 10 km, dan akan dilalui dengan kereta api. Jadi perlu perencanaan jadwal berangkat (disesuaikan dengan jadwal kereta dan siapa saja yang mau bareng), dan daftar makanan apa yang akan dibawa dengan harapan (juga) makanan apa yang bisa dibawa pulang… (hehe… murid sekolah gak jauh dari pikiran tentang makanan.).

Acara di Gezinastraat, Hengelo (di rumah mbak Pipit dan Abi) dimulai sekitar jam 14.00, dan berjalan “sesuai harapan”… Ngobrol yang hangat dipimpin oleh mas Hadi, makan yang hangat, diskusi, dan makan yang hangat lagi… wow terasa nikmat… Acara selesai mulailah aktifitas bungkus “yang tersisa” sana-sini, dan kemudian siap berangkat kembali ke stasiun. Sampai di stasiun kereta, terlihat calon penumpang menumpuk. Dari loket karcis diberitakan bahwa kereta api tidak ada yang jalan. Pemogokan..? Ternyata bukan, katanya: ada badai sedang melanda Belanda yang menyebabkan jaringan kereta terganggu. Dan sebagai ganti angkutan pihak kereta api menyediakan bis sebagai pengantar penumpang. Lumayan, naik bis dari Hengelo ke Enschede di tengah hujan dan angin yang mulai terasa semakin kencang.

Sampai stasiun Enschede, turun bis, dan terasalah hempasan angin yang sangat kuat disertai hujan yang cukup lebat. Rombongan segera terpecah dua grup, satu grup mencari alternatif kembali ke apartemen yang terletak di dekat Universiteit Twente (antara lain mas Rayi, mbak Ine, dan 3 orang lagi), grup yang lain (gw, Syarif, dan Anita) mencari jalan yang aman kembali ke apartemen Stadsweide yang dalam kondisi normal bisa dicapai hanya dalam 10-15 menit. Kali ini perjalanan kembali merupakan perjuangan. Kuatnya terpaan angin membuat kaki gak bisa lurus melangkah. Saat kaki diayun melangkah, pasti dibelokkan angin. Yang kemudian dilakukan adalah berjalan dengan mencari perlindungan gedung-gedung yang ada. Setiap akan melewati ruang antargedung, benar-benar harus diamati dulu adakah benda terbawa angin atau kendaraan yang melintas.

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Stadsweide. Saat mau masuk apartemen 304, sampah yang sudah terbungkus rapi di depan apartemen terlihat berantakan kemana-mana. Segera masuk dan cari informasi dari TV (yang warnanya hitam putih berbintik) apa sebenarnya yang terjadi. Ternyata memang badai besar sedang melanda Belanda.

Ini adalah badai terburuk dalam dua belas tahun terakhir, begitu kira-kira kata Radio Nederland Wereldomroep.

Akhirnya baru sadar ada banyak keanehan di jalan sejak saat keberangkatan ke stasiun. Antara lain, Minggu siang, saat berangkat ke stasiun tidak terlalu banyak terlihat orang bepergian. Kondisi ini tidak “umum” terjadi.

Ada hal yang juga disadari kemudian: tidak pernah peduli dengan informasi cuaca yang selalu dimunculkan di siaran televisi hampir disemua stasiun. Informasi yang ada di televisi sebenarnya cukup akurat dan ditampilkan berulang-ulang, dan memang diharapkan pemirsa bisa mengantisipasi kondisi cuaca yang akan terjadi saat beraktifitas hari itu. Sayangnya gw tidak terbiasa dengan informasi cuaca yang akurat… ups… maksudnya… eee…, pokoknya terbiasa gak peduli dengan ramalan dan prakiraan (apa kek namanya).

Dan kelalaian akhirnya menuai badai… : )