Sardinas - photo by Praise of SardinesCampillos, desa terpencil yang menyisakan banyak kenangan. Kali ini masih cerita tentang makan di sebuah restoran, setelah sebelumnya ada kisah unik di restoran lain (baca: Cari makan di Campillos).

Suatu sore menjelang malam yang panas (karena memang sedang musim panas, Juni 2003, dengan suhu rerata diatas 32 Celcius), berdua dengan Isaac ngeluyur cari makan di satu resoran, yang terletak di sudut perempatan jalan dan berhadapan dengan taman kota. Posisi restoran ini cukup bagus karena pandangan keluar cukup sejuk melihat pepohonan di taman kota yang cukup banyak dan rindang.

Spanyol, yang terletak di bagian selatan Eropa, mempunyai kebiasaan masyarakat yang sangat berbeda dibandingkan dengan tetangganya di Utara seperti Belgia dan Belanda. Perbedaan yang jelas terlihat adalah kehidupan keluarga. Di Spanyol (lebih khusus lagi: Campillos) masih terlihat kehangatan keluarga dimana pada sore hari atau saat libur masih banyak terlihat berkumpulnya keluarga, dari mulai anak-anak, orang tuanya hingga kakek-neneknya. Jamak terlihat sang cucu mendorong kursi roda kakeknya, sedangkan orang tua si anak menyiapkan tempat mereka berkumpul. Ada yang berkumpul di tengah taman kota, juga di restoran-restoran yang banyak terdapat disini. Kehangatan seperti ini sangat sulit ditemui di negara-negara Utara.

Bersama Isaac, sambil menunggu menu diantar oleh pelayan, hal-hal seperti ini (pemandangan yang penuh kekeluargaan tadi) sempat dibahas. Isaac yang asli Zambia tentunya sangat suka dengan kondisi ini karena hal demikian juga yang terjadi di kampung halamannya.

Menu datang, kesibukan baru dimulai, yaitu menerjemahkan, ehm lebih tepatnya mengira-ira, jenis makanan apa yang terbaca di menu. Kenapa gak tanya pelayan…? Percuma, disini hanya berlaku bahasa Spanyol, jadi lupakan tanya ini-itu dengan pelayan. Pada salah satu kelompok menu terdapat beberapa kata yang “terasa dikenal”. Pertama adalah Calamares, ini langsung dipesan, karena sudah yakin (sudah pernah makan sebelumnya) sajian ini adalah cumi-cumi goreng tepung dengan tambahan kentang goreng. Isaac masih bingung… sesaat kemudian dia pilih salah satu yang mempunyai kata Sardinas. Ini pasti ikan sardin yang dikenal dimana-mana… jadi gak bakal ada masalah. Dalam bayangan: ikan sardin dengan kentang panggang lumayan lah. Ok, pilihan makanan sudah pasti dan pelayan segera dipanggil dan di-tunjuk (tanpa bicara) item mana yang dipilih.

Ngobrol ngalor-ngidul, gak terasa salah satu item datang. Wow, ternyata Calamares sudah siap santap. Walau lapar, demi kesopanan, tunggu dulu sebentar sampai pesanan Isaac datang. Gak lama Isaac tersenyum, makanan pesanannya terlihat datang…

Kedatangan Sardinas segera membuat kehebohan. Luar biasa… dalam satu piring yang lumayan besar, terdapat ikan sardin yang menggiurkan lidah. Panjang ikan sardin sekitar 12 – 15 cm dan terlihat sangat lezat… Tapi semua itu bukanlah yang membuat terpana. Yang membuat beberapa saat kemudian terdengar tawa ngakak dari berdua adalah… jumlah ikan sardin yang tersaji di piring. Jumlahnya ada 12 ikan sardin (baca: dua belas ekor ikan sardin)…!!! Ya, dan hanya ikan sardin tanpa ada makanan pendamping seperti kentang goreng atau yang lainnya…

Sore menjelang malam itu, Isaac akhirnya hanya mampu menghabiskan 6 ikan walau sudah dibantu dengan minum Coca Cola untuk mengimbangi rasanya. Sedangkan sisanya segera dibungkus pakai kertas tisu untuk dimakan di hotel malam nanti.

Dan malam itu ada bau baru di kamar Isaac, bau yang sangat menyengat, yaitu bau amis sardinas…!!! Ha ha…