Tags

, , , , , , , ,


Basecamp-1[OT] adalah flag dari cerita tentang perjalanan ke wilayah Indonesia Tenggara. OT merupakan kode untuk Operation Tanimbar, sekedar kode untuk memudahkan melihat bagian-bagian terpisah dari cerita perjalanan ini, dan bukan merupakan nama sebenarnya dari misi ini.

Indonesia Tenggara adalah wilayah Indonesia di sisi Tenggara, sisi dimana sebagian besar wilayahnya adalah lautan: Laut Timor, Laut Arafura dan Laut Aru. Kepulauan Tanimbar adalah batas tanah terakhir wilayah negara tercinta. Pulau terbesar di kepulauan ini adalah Pulau Yamdena. Pulau ini dikelilingi banyak pulau kecil, antara lain: Larat, Nukaha, Fordata di sisi timur.

Perjalanan kali ini bertujuan untuk: mengakuisisi data hiperspektral di wilayah Tanimbar, dengan menggunakan wahana pesawat terbang. Dan cerita bermula dari sini.

Kamis siang, tanggal 25 Agustus 2005, diawali dengan rasa cemas tertinggal pesawat, karena taksi yang digunakan dari Bogor terjebak macet di Tol Tanjung Priok. Kemacetan sangat parah karena ternyata telah terjadi kecelakaan tabrak beruntun di dua tempat sekaligus. Beruntunglah akhirnya lolos dari macet dan sampai di Cengkareng (Bandara Soekarno Hatta) gak jauh dari waktu tutup counter. Selamat.

Sementara itu Joost telah menunggu dan segera bertemu. Joost adalah mitra dari BELSPO (The Belgian Federal Science Policy Office), dan akan bersama ikut dalam OT ini. Perjalanan Jakarta – Denpasar lancar dan udara cerah di sore hari menyambut kedatangan di bandara Ngurah Rai. Kedatangan di bandara telah ditunggu oleh John kemudian segera diantar ke salah satu Hotel di Denpasar.

Denpasar adalah base camp pertama. Di sini dipersiapkan segala keperluan yang akan dibawa ke Tanimbar. Di Denpasar pula disiapkan kelengkapan pesawat yang akan digunakan dalam akuisisi data. Alat perekam data menggunakan CASI-550 (Compact Airborne Spectrographic Imager) dan dipasang pada badan pesawat CESSNA. Selain CASI juga diset perangkat Applanix yaitu alat perekam gerakan atau dapat juga dikatakan sistem yang merekam posisi dan orientasi. Gerakan yang dimaksud adalah gerakan pada sumbu x – y – x, yang biasa dikenal dengan scroll, pitch dan yawn.

CASI 550Kamis malam, setelah istirahat sejenak, saya dan Joost segera bertemu dengan Herb. Herb, asal Canada, adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pengoperasian CASI. Dalam diskusi yang dibahas kemudian adalah kemampuan CASI sendiri, beberapa opsi yang bisa dilakukan pada peralatan, panjang gelombang dan jumlah kanal (band) yang akan digunakan, kemungkinan terbaik dan terburuk yang mungkin terjadi dari proses perekaman, dan strategi perekaman. Herb juga menjelaskan masih adanya noise pada hasil ujicoba rekaman, yang belum diketahui berasal dari mana. Kemungkinan noise bisa dari lensa, atau bisa juga berasal dari peralatan elektronik di pesawat.

Kemudian disepakati bahwa pengaturan kanal disesuaikan dengan ujicoba di sekitar Denpasar atau di sekitar Tanimbar nanti. Jumat adalah hari ujicoba semua peralatan terakhir karena Sabtu tim harus berangkat. Rencana keberangkatan adalah: Sabtu sebagian tim berangkat dengan penerbangan domestik yang akan memakan waktu dua hari melewati Makassar – Ambon (transit semalam) – Saumlaki (kota di Pulau Yamdena), sedangkan pesawat CESSNA akan berangkat dari Denpasar menuju ke Tanimbar pada hari Minggu pagi. Diperkirakan semua tim akan berkumpul di Tanimbar pada hari Minggu sore.

UluwatuSemua rencana keberangkatan sudah disepakati, jadi tidak banyak yang harus dilakukan saya dan Joost pada hari Jumat ini. Sore hari sempat bermain ke Uluwatu, menikmati saat menjelang terbenamnya matahari.

Tidak demikian halnya dengan sisa tim, yang seharian mengujicoba semua peralatan di pesawat yang terparkir di bandara Ngurah Rai. Kapten Yahno, sang pilot, sempat menerbangkan CESSNA beberapa kali untuk ujicoba di sekitar bandara.

Jumat malam sebagian tim kembali berkumpul di hotel untuk diskusi akhir sebelum keberangkatan esok harinya, Sabtu pagi.

Akhir bagian-1 dan berlanjut ke [OT] berikutnya: Ber 2-1-7 an