Tags

, , , , , , , , ,


Tim Laut“Ber 2-1-7 an”, tulisan yang sering terlihat di bak truk, stiker pada Angkot, atau coretan di dinding di banyak tempat. “Kalimat” itu dibaca: berdua satu tujuan, ungkapan untuk menyatakan bahwa ada dua individu yang bersatu dalam satu tujuan.

Rasanya ungkapan itu sangat cocok dengan kondisi kami. Dalam misi kali ini kami mempunyai dua tim, yaitu Tim Laut dan Tim Udara. Dua tim yang bergerak bersama demi satu tujuan, yaitu mengakuisisi data di lokasi sasaran dengan sebaik mungkin.

Obsesi yang muncul adalah: misi tidak boleh meleset dari jadwal yang sudah dibuat. Kondisi alam harus bisa diatasi dengan sebijak mungkin dan harus bisa… (mmm… seperti film Mission Impossible kaleee…)

Dalam Operation Tanimbar, diberangkatkan dua tim ke lokasi sasaran. Tim pertama adalah Tim Laut, terdiri dari 7 orang, yaitu 2 dari PTISDABPPT (kang Yudi dan mbak Marina) dan 5 dari “tim Belgia” (mas Luc bersama 2 rekannya dari Belgia dan 2 lagi dari Belanda). Tim ini berangkat lebih dahulu, dari Jakarta langsung menuju ke Ambon, pada 21 Agustus 2005 (malam). Sesampai di Ambon, mereka sempat mampir dulu di LIPI Ambon untuk presentasi misi, kemudian segera masuk ke kapal Majestic yang akan membawa mereka berlayar ke daerah sasaran di Pulau Fordata, Kepulauan Tanimbar.

Kapal Majestic adalah kapal dengan panjang 24 meter dan bertenaga 190 tenaga kuda. Kapal ini berjarak tempuh 650 km. Selain tim-7 tadi, mereka juga diperkuat oleh Pak Fredy dari LIPI Ambon, dan satu petugas dari TNI-AL. Mereka harus berlayar dari Ambon, melalui Banda, kemudian ke Fordata. Tim ini harus sudah tiba di Fordata pada hari Minggu, 28 Agustus. Kendala utama mereka dalam mengarungi laut adalah: cuaca yang sangat tidak bersahabat.

CESSNA 402BTim Udara dipimpin oleh Pak John (Australia) dengan didukung oleh mas Adrianto yang bertanggung jawab pada pengoperasian Applanix, mas Marius (Afrika Selatan) yang bertanggungjawab pada transportasi dan akomodasi, Herb “The Big” Ripley (Canada, untuk pengoperasian CASI), mas Yahno (kapten pilot) dan pak Wimpi (teknisi pesawat). Saya dan Joost (BELSPO, The Belgian Federal Science Policy Office) sebagai saintis yang memberikan arah dan batasan dalam pengambilan data. Satu lagi, mas Agus, pendamping dari TNI-AU.

Pesawat yang digunakan adalah CESSNA 402B. Pesawat yang dalam kondisi normal dapat memuat 10 penumpang, yang kemudian didisain hanya untuk 4 orang, yaitu 2 untuk crew (pilot dan teknisi), 2 untuk operator alat (CASI dan Applanix). Pesawat bermesin ganda ini mempunyai kecepatan maksimum 428 km/j. Tenaga dihasilkan dari 2x Continental TSIO-520-VB 240kW (325hp) turbocharged dan fuel injected. Peralatan rekam yang dibawa adalah satu set Applanix, dan satu set CASI yang telah dipasang di tengah badan pesawat.

Lalu apa sih misi dari kedua tim ini..? Bukankah harus “ber 2-1-7 an”..?

Tools LautTim Laut bertugas merekam data pada lokasi di sekitar pulau Fordata. Data yang direkam adalah posisi (menggunakan GPS), jenis coral (dengan kamera dijital dalam suatu transek), spektro dari coral dan obyek lain (dengan spectrometer GER dan OceanOptics), merekam kondisi atmosfer (menggunakan sunphotometer), dan mengukur kedalaman laut pada lokasi perekaman (dengan Plastimo Echotest II).

Tim Udara bertugas merekam dengan menggunakan CASI dan Applanix. CASI merekam data hiperspektral, dan Applanix merekam pergerakan pesawat (digunakan untuk mengoreksi geometris data hiperspektral).

PROBAKedua tim harus melaksanakan tugasnya pada hari yang sama. Mmm gak juga… tepatnya adalah pada jam yang sama..! Karena pada saat yang bersamaan pula daerah studi ini akan dilalui oleh satelit PROBA (Project for On Board Autonomy) yang membawa sensor perekam CHRIS (Compact High Resolution Imaging Spectrometer).

Tiga kegiatan pengambilan data pada tiga lapis ketinggian wahana, yaitu: satelit, pesawat udara, dan kapal laut.

Masih ada juga tim yang memantau lekat walaupun dari jauh, yaitu tim Jakarta (mas Sadly, mas Izzat, mas Dayuf, mas Winarno…) dan tim Belgia (mbak Sandy dkk, di kota Mol, Belgia). Semua yang terjadi di lapangan dilaporkan langsung ke Jakarta (via sms) dan langsung di-posting di web oleh mas Win. Tim Belgia menjadi mitra diskusi sainsnya sekaligus terkait dengan pemrograman waktu lintas satelit PROBA.

Wah ternyata ada 4 tim yang harus kerja bareng…! Keempatnya tidak bertemu secara fisik dan hanya dihubungkan oleh alat komunikasi dengan satu sasaran: Fordata..!

Jadi sebenarnya ungkapan diatas bisa dikoreksi sedikit: “Ber 2-1-7 an” menjadi “Ber 4-1-7 an”…

: )

Akhir bagian-2 dan berlanjut ke [OT] berikutnya: Destination Saumlaki
Baca bagian-1: Denpasar base camp pertama.