Tags

,


UnderwaterNovel kontroversial Jakarta Undercover karya Moammar Emka, tentang kehidupan malam kota Jakarta sudah difilmkan. Film yang dibintangi Luna Maya mencoba mem-visualisasi apa yang telah diretas oleh Emka. Ini adalah “lembaran hitam” yang telah lama ada, dan mungkin akan selalu ada, di ibukota tercinta.

Sementara itu dosen IPDN Bapak Inu Kencana menuliskan “lembaran hitam” yang lain. Karyanya berjudul IPDN Undercover, adalah cerita-cerita tentang ritual kampus, yang hitam kelam, dimana ia mengajar…

Jakarta Undercoverwater hanyalah turunan dari hal sejenis. Istilah kerennya: plesetan. Juga masih tentang lembaran hitam Jakarta, tapi gak serem-serem amat…

Dalam suatu diskusi di warung kopi, sesaat setelah Jakarta reda dari genangan lima tahunan awal tahun ini, tercetus banyak gagasan tentang: Jakarta Bebas Banjir. Pembicaraan yang dilandasi ilmu keruangan mengungkap banyak hal penyebab dan bagaimana mengatasinya.

Mungkin semua yang terbual pada sikusi itu sudah ribuan kali didiskusikan juga di banyak tempat sejak jaman Majapahit… mmm ini hiperbolik… hehe..

Coba aja tentang perubahan penutupan lahan. Kawasan Bogor – Puncak selalu menjadi sasaran makian, karena memang sudah banyak terjadi perubahan penutupan lahan disana. Kalau tidak ada perubahan dari vegetasi menjadi material “kedap air” maka tidak akan terjadi banjir di Jakarta, katanya. Pepohonan di bukit dan lereng gunung Gede – Pangrango memang sudah terkonversi menjadi beton bangunan dan aspal jalan. Yang tadinya terdapat pepohonan rimbun berubah menjadi taman dan kolam renang. Akibatnya, air hujan yang mampir ke bumi akan menjadi kencang larinya di permukaan, tanpa sempat terserap ataupun menetap sejenak, langsung menuju sungai. Ci Liwung, sungai utama dari Puncak yang ujungnya di Jakarta, menjadi “kambing hitam” yang abadi.

Nah jika kemudian bangunan vila-vila mewah (sebenernya banyak juga sih vila kumuhnya) dibuldozer, apakah dengan demikian kondisi membaik? Mengubah penutupan lahan adalah “gampang”, dari bangunan kemudian menjadi pepohonan rimbun dalam waktu sehari juga bisa. Tapi bagaimana dengan kondisi tanahnya..? Bagaimana daya serapnya terhadap limpasan..? Pemulihan ini sulit direkayasa.

Diskusi warung kopi semakin panas, apalagi ditambah dengan datangnya gorengan (tempe goreng dan singkong goreng). Seorang rekan mencoba melihat persoalan dengan menempatkan diri di Jakarta. Apa bener banjir Jakarta sepenuhnya “kesalahan” Ci Liwung..? Seberapa besar sih pengaruh DAS (Daerah Aliran Sungai) Ci Liwung terhadap kontribusi banjir Jakarta. Dari berbagai berita dimedia massa, yang kebanjiran itu lokasinya banyak yang jauh dari Ci Liwung, kok. Ini diperkuat dengan berita iptek di harian Nasional, bahwa memang banyak tempat di Jakarta yang mempunyai cekungan. Ini berarti jika air berlimpah dari langit maka daerah cekungan tersebut rentan banjir. Lho, ‘kan ada selokan, got, atau apalah namanya yang gunanya untuk mengalirkan air… kata rekan yang lain. Tapi segera dibantah: janganlah berharap banyak dengan kondisi got, sebesar apapun dibuat maka air akan berebut tempat dengan sampah…

Kembali kemasalah kontribusi Ci Liwung terhadap banjir, seorang rekan mengungkapkan data bahwa DAS Ci Liwung luasannya gak gede kok, dan melewati Jakarta hanya dibeberapa tempat. Maka kecil kontribusinya terhadap banjir. Yah, setidaknya, gak sebesar yang didengung-dengungkan media, yang selalu rajin nongkrong di bendung Katulampa saat musim banjir tiba.

Ok deh, kawan lain berbicara mengenai: apa yang bisa dilakukan untuk membebaskan banjir di Jakarta. Ada yang usul, begini, biar bagaimana pun sungai yang masuk Jakarta mempunyai andil. Karena itu ada baiknya kalau kita buat sensor canggih dalam suatu sistem pengamatan terpadu. Sensor ditempatkan dibeberapa sungai utama yang dituduh selalu mengirim banjir ke Jakarta. Sensor bisa merekam semua data tentang fisik sungai (kecepatan air, volume, debit, dlsb-lah) dan langsung dikirim pada pusat pengendali sistem, dimana bisa dilihat oleh pengambil keputusan agar segera bisa keluar tingkatan Siaga. Jadikan sistem ini semacam TEWS (Tsunami Early Warning System) yang dipasang di Aceh dan pantai barat Sumatera..

Yang lain segera menyangkal: anda hanya memperpanjang masalah. Kita diskusi tentang Jakarta Bebas Banjir, yaitu menjadikan Jakarta yang tidak banjir lagi. Kalau masih bicara peringatan dini, apalagi ada Siaga-1, Siaga-2, dll, itu mah tetep aja judulnya Jakarta kebanjiran. Berapa ribu jiwa lagi yang kena, berapa Trilyun lagi kerugian bersama…

Bendung JakartaBegini, ehm, akhirnya saya ikut urun. Saat kita bicara Jakarta Bebas Banjir, maka asumsi kita adalah solusi tuntas tas tas.. Anggap saja uang tidak masalah. Maka kenapa kita gak mbuat Bendung Jakarta. Ini adalah solusi tuntas Bebas Banjir. Kita bangun bendung raksasa di teluk Jakarta. Terbentang dari dekat muara Ci Tarum di Bekasi hingga dekat muara Ci Sadane di Tangerang.

Kenapa harus mbuat bendung semacam ini..? Kita sudah tau bahwa permukaan tanah di Jakarta “sama” dengan muka air laut. Air dari Ci Liwung dan dari langit terus mengalir. Larinya pasti kearah laut. Kalau air laut sama dengan permukaan, maka mau kemana lagi air-air limpahan langit dan dari DAS ‘tertuduh’ tadi..? Banjir Kanal Timur/Barat..? Seberapa besar kapasitasnya..?

Lalu bendung tadi untuk apa..? Ia dibangun untuk membatasi agar air laut tidak ke Jakarta. Biarlah dia menunggu di luar sana. Buat jaringan pompa atau sistem hidro yang mengalirkan air di dalam bendung ke luar bendung. Jika permukaan air di pantai Jakarta bisa “ditekan” menjadi lebih rendah, maka air sungai akan otomatis mengalir ke arah pantai dan tidak kembali lagi. Perbaiki sistem kanal di daerah-daerah cekungan, hingga air gak akan tergenang lagi, dan diarahkan menuju laut.

Yang lain segera menimpali: gila luh. Mau dikemanain pelabuhan Tanjung Priok. mau dikemanain tuh nelayan-nelayan Muara Angke, mau dikemanain tuh tanaman pantai yang semakin susut jumlahnya. Itu bisa mengubah perekonomian dan lingkungan. Gak mungkinlah…!

Delta ProjectHehehe… nanti dulu mas. Kejadian serupa pernah menimpa kawasan pantai barat Eropa. “Serupa” lho, gak sama. Tepatnya di negeri mantan penjajah kita, Belanda. Di daerah Barat Daya Belanda, adalah daerah tempat beberapa sungai besar berakhir antara lain Rhine, Meuse dan Scheldt. Daerah ini selalu mendapat musibah dari dua sisi, limpahan air sungai berlebih dan hantaman badai dari Samudra Atlantik dan Laut Utara. Mereka merencanakan pekerjaan membuat sebuah benteng yang bersistem pengaliran yang baik, untuk mengakhiri musibah tahunan itu. Rencana ini terjadi sebelum PD II. Baru setelah PD usai, mereka mulai membangun dan dikenal dengan sebutan Deltaplan. Tahun 1953 terjadi bencana alam banjir yang menghantam Belanda, Belgia dan Inggris (sila baca: North Sea Flood 1953). Hal ini semakin mempercepat proyek ini, yang memakan waktu pembangunan sejak 1950 hingga 1997.

Hasil yang luar biasa ini membuat American Society of Civil Engineers menganggap bahwa bangunan ini termasuk dalam Seven Wonders of the Modern World. Bendung ini (atau benteng raksasa..?) berhasil membebaskan daerah tersebut dari banjir.

Kita punya banyak ahli pekerjaan sipil, teknologi pun sudah canggih. Kalau asumsi “uang bukan masalah” berlaku, maka rekayasa bisa kita lakukan untuk menjadikan hidup lebih baik. Bukan hanya hidup pemimpinnya saja, yang memang punya sekian rumah di luar kawasan banjir. Tetapi juga hidup rakyatnya yang masih banyak mempunyai rumah jenis portable alias bisa dibawa kemana-mana.

Tanjung Priok bisa dititipkan ke Banten atau Semarang. Nelayan dan kawasan lindung pantai bisa diselamatkan juga. Sepanjang ada keinginan baik, ditunjang payung hukum dan penegakannya yang lugas, hidup warga Jakarta bisa ditingkatkan… mmm bukan berarti ditingkatkan rumahnya untuk menghindar dari air lho…

Jangan sampai suatu ketika anak-anak Jakarta bermain bersama Spongebob Squarepants di jalan-jalan protokol… Tau kan si Spongebob, itu lho tokoh kartun yang tinggal di Bikini Bottom, kota indah tetapi di dasar laut… Kalo sampe begitu, berarti Jakarta Underwater terjadi…

Selamat Ulang Tahun Jakarta…!!!

: )

*/ Diskusi warung kopi diatas adalah dialam mimpi, tapi beberapa bahan didapat dari pertemuan yang serius… ini serius lho… bener kok, ini mimpi yang serius…