Tags

,


Hari Khitan AltaSekali seumur hidup, masa ini harus terlewati… Khitan. Maka menjelang libur kenaikan kelas, Alta pun bersiap untuk “menghadapi” fase kehidupannya ini. Diawali dari temuan dengan Pakde Didi dan kak Tama di Bekasi, saat menghadiri acara walimahan saudara, pada Minggu 24 Juni 2007.

Pakde memberitakan kalau kak Tama akan sunat pada Sabtu 30 Juni 2007. Pakde nawarin, gimana kalau Alta sunat bareng kak Tama..? Saat itu Alta menjawab dengan jawaban pasti: gak mau.

Ok deh. Memang beberapa saat terakhir ini kalau ditanya tentang sunat jawabannya antara ya dan nggak. “Ya”, karena banyak temannya yang sudah sunat. “Nggak”, karena masih ngeri-ngeri juga, mungkin bocoran cerita seram dari temen-temennya…

Sepulang dari Bekasi, malamnya, setelah dibombardir dengan bujuk-rayu dari ibunda dan neneknya, akhirnya kata “Ya” keluar. Tapi sementara pernyataan ini disimpen dulu. Sesuai berjalannya waktu perkembangan diikuti. Selasa masih Ya, Rabu masih Ya, Kamis masih Ya, dan segera kontak Pakde Didi: Alta mau joint operation, hehehe…

Jumat siang (29/06) boyongan ke rumah kak Tama di Cilangkap. Qila juga ikutan. Tapi ibunya Alta belum bisa ikut, karena harus menyiapkan banyak hal terkait dengan acara bagi raport Alta Sabtunya (30/06). Sunat sudah direncanakan jauh hari tapi momennya gak direncana samasekali, karena baru dapet momen saat temuan di Bekasi. Jadi jadwal hari sunat pas dengan waktu bagi raport di sekolah Alta (sementara kak Tama sudah bagi raport seminggu sebelumnya).

Ohya, kak Tama adalah saudara sepupu Alta. Nama lengkapnya: Galastu Chandra Utama Harsanto. Umurnya beda 2 bulan lebih tua dari Alta. Saat ini sama-sama naik ke kelas 4. Kak Tama sekolah di SD Al-Falah di Ciracas Jakarta Timur. Sementara Alta di SDIT At-Taufiq di Bogor.

Malam Sabtu, kata-kata ‘takut’ mulai terdengar… Tapi terlupa dengan main game bareng di komputer.

Sabtu pagi, jam lima sudah pada bangun semua, Alta dan kak Tama. Juga gak ketinggalan Qila pun sudah siap. Mandi dan berpakaian rapi, dan gak lama ibu dateng dari Bogor naik taksi Putra-nya pak Asparagus.

BogemJam 5.45 sudah berada di lokasi: Jl. PKP/Kiwi no.1A Kelapa Dua Wetan Ciracas. Disini ada Juru Supit “Bogem”. Peserta yang ngantri sudah buanyak banget. Alta dan Tama dapet nomor urut 78 dan 79. Sedangkan yang sedang ada di dalam sudah nomor 64… wow sepagi ini sudah 60-an pasien terselesaikan…

Katanya, Bogem ini merupakan cabang dari Bogem di Kalasan, Yogyakarta. Mmm… jadi inget ayam goreng…

Jam 7.05 Alta dan Tama dipanggil. Segera berdiri di depan pintu dan gak lama dipanggil masuk. Sementara itu para ortu dipanggil ke ruang perawatan disebelahnya, untuk menanti anak-anaknya. 7.15 selesai dan Alta keluar dari ruang sunat. Diberi minuman obat, dan segera disuruh baring di tempat tidur yang cukup lebar. Langsung dipasangkan pengikat di pinggang. Gak lama kak Tama juga keluar dan baring di samping Alta. Alta dan Tama langsung dipakaikan celana panjang (yang dipakai dari rumah tadi). Setelah ada 3 anak baring di tempat tidur itu, lalu petugas (yang berseragam batik) segera mengumpulkan para ortu dan diberi penjelasan di depan anak-anaknya, tenang bagaimana reaksi dan pengobaan pascakhitan. Ada beberapa obat (antibiotik, pengurang rasa sakit, bubuk luka) dalam satu paket plastik yang disediakan.

Selesai dengan penjelasannya, anak-anak langsung dibangunkan dan berjalan sendiri keluar ruangan. Menuju kendaraan dan pulang…

Prosesi ini semua mengingatkan sekian abad yang lalu, mungkin sekitar akhir tahun 1978-an. Saat itu masa libur kenaikan dari kelas dua ke tiga SD, ini masa pergantian/kenaikan kelas masih sekitar bulan Desember-Januari. Saat itu saya bareng dengan bapaknya kak Tama, mas Didi, khitan di rumah, di Jalan Arief Rahman Hakim, Tanjungkarang, tempat mbah Kakung dan Putri tinggal. Prosesnya kurang lebih serupa, tapi waktu terasa lebih lama dari yang anak-anak alami di Ciracas. Hehe… mungkin sebagai “pelaku” ya pasti ngerasa lebih lama.

Kemudian “perayaan” dilakukan di kota dimana tingal dan sekolah, yaitu di Metro (asrama Kodim bedeng 22). Pake panggung segala lho, juga ada penyanyi keroncong yang terdiri dari rekan-rekan sejawat Bapak di Kodim. Pokoknya heboh lah, maklum… di pedalaman…

Dan hadiah yang paling berkesan adalah: Naik pesawat terbang, berdua mas Didi, dari bandara Branti ke Jakarta (bandara Kemayoran). Itu adalah pengalaman naik pesawat pertama kali dalam hidup, dan hanya berdua dengan mas Didi (saat itu mas Didi kelas 5 naik kelas 6 SD). Di Kemayoran dijemput Om Yono, dan berliburlah di Ibukota Indonesia. Pulang ke Lampung lagi bagaimana..? Berhubung hadiah terbang hanya one way ticket, ya konvensional lagi… naik bis dan naik kapal laut…

: )