Tags

, , , , , , , , , ,


Menunggu di Bandara PatimuraPersiapan di Denpasar sudah harus selesai. Jadwal sudah mengharuskan tim segera berangkat ke Saumlaki. Tim Udara harus segera berangkat, Sabtu, 27 Agustus 2005. Semua kekurangan harus diselesaikan sebelum operasi udara dimulai, dan ini bisa terjadi pada detik-detik sebelum penerbangan dimulai, saat D-1.

Perjalanan diawali dari Denpasar menuju Ambon. Penerbangan sipil yang dilakukan melewati Makassar (landing 10.10 WITA), transit sejenak, baru kemudian dilanjutkan ke Ambon. Tim Udara ini terdiri dari pak John, mas Marius, mas Adriyanto, mas Agus, pak Joost, dan saya. Sementara mas Kapten Yahno dan pak Wimpi baru hari Minggu (28 Agustus) berangkat dengan CESSNA, dari Denpasar langsung ke Saumlaki.

Saumlaki adalah ibukota Maluku Tenggara Barat, yang terletak di bagian selatan Pulau Yamdena, dan akan digunakan sebagai base-camp selama kami melakukan Operasi ini.

Tim ini saya sebut dengan nama Tim Ace, diambil dari Air Campaign. Kami harus bermalam dulu di Ambon karena penerbangan sipil terjadwal ke Saumlaki sangat terbatas. Seminggu hanya dua kali dimana hanya hari Minggu, yang dilayani oleh maskapai Trigana, dan hari Rabu yang dilayani oleh Merpati. Penerbangan hari minggu ke Saumlaki terjadwal jam 8 pagi (WIT). Hal ini menjadi pembatas juga, karena jika tim Ace gagal mencapai Ambon hari Sabtu, maka penerbangan Minggu pagi akan gagal, dan ini akan menggagalkan semua misi. Alhamdulilah, Sabtu siang menjelang sore tim Ace sudah sampai di kota Ambon. Sore ini dapat berita dari tim Laut: “Tim laut belum sampai ke Tanimbar karena angin kuat dan ombak besar beberapa anggota tim sudah mabuk laut”. Kaciaaan mbak Marina dan kang Yudi beserta tim Laut… hehehe…

Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Ambon. Sudah lama merindukan bisa singgah di kota ini, terutama sejak saat SMA dulu membaca suatu artikel sastra tentang keindahan Bay Ambon. Sayang sekali sore ini gak sempet melancong ke teluk Ambon menikmati terbenamnya matahari.

Menuju TriganaSetelah semua barang tersimpan dalam kamar hotel (tim inap di hotel Amboina), semua anggota tim Ace berjalan kaki melihat-lihat dan menikmati situasi kota, dan malam ini ada diskusi khusus. Bukan tentang teknis pengambilan data, tapi tentang seafood di Aneka Rasa dekat Tugu Trikora.

Ambon aman nyaman, menyenangkan dan sedikit segar dengan siraman hujan. Kota Ambon ramai dan terasa ramah di malam itu. Jalan dan menikmati suasana hingga jam 10 malam sebelum kembali ke kamar hotel untuk istirahat.

Minggu pagi, saat kebanyakan masyarakat kota Ambon masih belum beranjak dari rumah masing-masing, tim Ace sudah meninggalkan Hotel menggunakan dua buah taksi yang sama dengan kemarin saat digunakan mengantar dari bandara ke Hotel, tepat jam 6. Target sejam sebelum take-off sudah berada di bandara. Hal ini diperlukan karena barang-barang yang dibawa tim cukup banyak sehingga diperhitungkan akan memakan waktu cukup banyak juga saat check-in.

Pemandangan dari TriganaDan ternyata, fungsi jadwal penerbangan benar-benar berguna, dimana salah satu fungsinya adalah mengetahui keterlambatan penerbangan itu sendiri… hehehe… Trigana berangkat jam 9-an. Pesawat berbaling-baling ini, jenis ATR 42/300, dengan ketinggian jelajah 15.500 ft, membawa tim (dan penumpang lainnya, tentunya) melewati laut Maluku yang saat itu bercuaca lumayan baik (siang hari biasanya langsung berubah pada musim-musim ini). Pemandangan laut – pulau-pulau terlihat cukup indah. Dan akhirnya, jam 10.35 Trigana mendarat di bandara Olilit, Saumlaki.

Bandara Olilit saat itu mempunyai panjang landasan sekitar 900 meter. Hal ini tergolong pendek untuk pesawat berpenumpang seperti Trigana ATR 42/300 ini. Terasa sekali perjuangan pilot dalam mendaratkan pesawat dengan baik. Membayangkan film kartun Flinstone maka terbayang semua penumpang menurunkan kaki dan menyentuh landasan kemudian bersama menahan laju pesawat…

Sampai di Olilit, SaumlakiBandara yang mungil ini mempunyai bangunan utama mungkin setara dengan rumah tipe 54, yang terbagi menjadi dua bagian, tempat dimana penumpang turun dan naik. Setelah barang-barang diturunkan dan dipastikan jumlahnya sesuai daftar, maka segera diangkut ke Angkutan Kota (di Bogor biasa disebut Angkot). Kami dijemput oleh pak Victor, yang lebih dikenal dengan panggilan Joko. Pak Joko adalah salah satu pemilik Angkot di Saumlaki, dan dalam operasi nanti kami memakai jasa pak Joko dalam transportasi lokal.

Pak Joko mengantar kami memasuki kota Saumlaki, dan akhirnya sampailah kami di Penginapan Pantai Indah, Jl. Kampung Babar, telp (0918) 21282. Setelah berberes sejenak, kemudian makan siang, kami mendapat berita bahwa tim Laut sudah mencapai Pulau Larat siang ini. Pulau Larat adalah pulau yang dekat sekali dengan daerah sasaran, dan terletak di bagian timur Pulau Yamdena. Jarak dari Saumlaki ke Larat mungkin sekitar 120-an km…

Sementara itu, pesawat CESSNA yang dikemudikan mas Kapten Yahno dan didampingi mekanik Pak Wimpi masih belum ada kabarnya… Hal ini membuat suasana tim sangat tidak nyaman mengingat operasi ini akan dimulai esok hari…

Akhir bagian-3 dan berlanjut ke [OT] berikutnya
Baca bagian-2: Ber 2-1-7 an.