Toyota PNGSelesai dari pertemuan di Arso, kabupaten Keerom, Papua, segera ngeluyur ke Skouw. Lokasi tujuan ini adalah salah satu pintu gerbang Negara kita di sisi paling timur. Seperti diketahui bahwa sisi timur negara kita berbatasan dengan Papua New Guinea (PNG) merupakan perbatasan darat yang cukup panjang dan unik, karena dibatasi oleh garis lurus memanjang dari Selatan ke Utara, garis bujur.

Dari Arso, dan juga dari Jayapura, hanya memerlukan waktu sekitar satu jam untuk mencapai Skouw. Dan saat ini jalan penghubung sudah berupa aspal hotmix sehingga seperti melaju di jalan tol Jagorawi…

Pasar SkoewPemandangan pertama saat memasuki Skouw adalah pasar di dua lapangan luas di kedua sisi jalan. Pasar ini berupa toko-toko yang menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari maupun kebutuhan peralatan rumah tangga. Selintas timbul pertanyaan: untuk apa pasar besar ada di pedalaman seperti Skouw ini..? Siapa yang bakal beli segala barang jualan yang sangat beragam itu..? Bayangkan, di tempat terpencil seperti ini segala macam barang, dan dalam kondisi sangat bagus, dijual di banyak sekali toko pada kedua lapangan yang ada.

Para PembeliPertanyaan ini segera terjawab saat melihat banyaknya pembeli yang datang. Dari mana para pembeli ini berasal..? Yah, ternyata dari luar negeri..! Tepatnya: dari PNG..! Berbondong-bondong para “pelancong” ini datang dari seberang garis perbatasan.

Yang mereka bawa, dan kelihatannya sudah disediakan oleh penyedia jasa di seberang, adalah gerobak sorong. Gerobak sorong ini dibawa oleh “kuli” untuk memuat semua barang yang mereka beli di pasar Skouw. Berbekal PGK (Papua New Guinea Kina, mata uang PNG) mereka memborong banyak barang dari Skouw. Dan pasar Skouw dengan suka cita menerima mata uang PGK ini.

Mau tau berapa sih 1 Kina dibanding dengan mata uang negara lain, seperti Rupiah, misalnya..? Sila coba hitung melalui kalkulator web di CoinMill.com. Tapi tolong bersiap kaget yah… Terutama terhadap mata uang negeri kita.

Every day is a shopping day but Sunday shopping appears to draw the biggest crowd – families strolling across the no-man’s land into the plaza, wheel-barrow boys wheeling family shopping back to the PNG side, souvenir hunters checking PNG-made caps, laplaps and T-shirts near our check-point. (cerita menarik di Vanuatu Daily News Online)

Pos SkouwDari pasar Skouw, kita meneruskan perjalanan dan segera mendapati pos penjagaan perbatasan. Disini ada petugas dari TNI dan Kepolisian. Ada juga dari Bea Cukai.

Ijin melintas batas tidaklah rumit, apalagi kalau hanya sekedar mencoba “menginjak halaman tetangga” aja. Maka segera dari pos ini perjalanan bisa dilangsungkan sekitar 200an meter sebelum mencapai pagar perbatasan.

Pada “garis batas” antarnegara ini terdapat gapura tinggi, dimana di sisi Indonesia terdapat lambang negara kita. Pintu gerbang yang dibuka hanya cukup untuk pejalan kaki saja, sedangkan mobil (mungkin) perlu ijin dan prosedur khusus.

Melintasi batasDari gapura ini hingga ke pintu sisi PNG berjarak sekitar 20 meter. Jadi di lahan antargerbang inilah daerah “garis perbatasan” kedua negara. Di sisi utara dari “garis” ini terdapat menara suar yang terlihat berbendera merah putih. Ohya, Skouw adalah daerah di pinggir pantai utara pulau Irian.

Mmm, sebelum kita melintas batas, masih di sisi RI, terdapat fasilitas untuk cuci mobil. Ini bukan tempat pencucian mobil biasa, karena dibangun dengan tujuan untuk perlakuan karantina tumbuhan.

Gak tau persis apa yang disemprot di tempat ini, tapi memang tempatnya persis seperti tempat pengisian BBM tetapi selang yang ada adalah untuk menyemprotkan sesuatu. Setidaknya terlihat ada dua atap yang masing-masing bisa melayani 2 buah mobil.

car washSesaat setelah memasuki gerbang sisi PNG, ada bangunan pos penjagaan PNG. Di sini biasanya pelaporan dilakukan, baik oleh pendatang maupun oleh penduduk PNG yang akan ke Skouw.

Di sekitar rumah penjagaan ini terdapat tempat parkir yang cukup luas. Ini untuk menampung mobil-mobil para pelancong dari berbagai kota di PNG yang akan berbelanja di Skouw.

Berbagai jenis mobil berpelat putih, dengan tulisan “PNG” kecil di bagian atas kode pada pelat tersebut, terparkir di area ini. Ada yang datang perseorangan dan ada pula yang berombongan.

Baleho AIDSDi samping tempat parkir terdapat baliho besar bertuliskan bahasa setempat, dan juga AIDS. Sepertinya tulisan ini berarti peringatan akan bahaya AIDS yang memang mempunyai penyebaran sangat pesat di Papua dan PNG sendiri.

Bagaimana dengan kondisi di sisi PNG sendiri..? Gak ada pasar seperti di Skouw. Yang ada hanyalah warung-warung kecil, menjual berbagai minuman dan makanan ringan. Ada juga yang menjual cendera mata seadanya seperti kain bermotif peta PNG, gelas, ataupun bendera PNG.

Dari sisi timur tempat parkir bisa terlihat dataran rendah dan juga perkampungan nelayan di teluk yang indah sekali. Sementara di sisi selatan dari tempat ini adalah pegunungan (atau dataran tinggi) yang masih ditutupi tetumbuhan dengan lebat.

Warung PNGKota terdekat di wilayah PNG ini adalah Wutung. Kurang tau pasti apakah desa/perkampungan yang terlihat adalah Wutung atau bukan. Beberapa orang PNG di warung-warung yang terdapat disekitar ini hanya bisa Bahasa Indonesia kalau ditanya “harga dagangan”-nya, selebihnya mereka gak mudeng

Ini pengalaman pertama ke negeri orang hanya menginjakkan kaki di halamannya aja, tanpa passport atau visa segala…

Setelah batas paling barat negeri tercinta telah dicapai beberapa waktu lalu. Cita-cita mencapai daerah paling timur Indonesia kini tercapai sudah. Tepatya pada 1 Agustus 2007. Dan, bahkan, kali ini melebihi batas timur, dikiiit…

: )

(terimakasih banget untuk mas Prapto dan rekans yang sudah mengantar…)