merah-putih

Apakah yang kau cari, Saudara setumpah darah?
Inginkah kau agar kubangunkan bagimu
Istana megah gemerlapan, dihiasi
Kata-kata hampa bernada palsu,
Atau kuil-kuil pemujaan beratap khayalan dan semu
Atau kau suruh aku menghancurkan segala
Yang telah dibangun oleh para zalim dan penipu?
Haruskah tanaman si Munafik, dan si culas
Kucabuti semuanya dan ku tebas
Dengan tanganku ini? Sebutlah keinginanmu
Yang tidak waras!

Apakah yang harus kulakukan untukmu
Saudara-saudara sebangsaku? Perlukah aku mendengkur,
Bagai anak kucing tidur, demi kepuasanmu?
Ataukah aku harus meraung bagai singa,
Demi kepuasanku sendiri? Aku
Telah menyanyi untuk mu, tetapi kau
Tidak juga menari, aku ‘lah menangis di depanmu
Tetapi kau tidak mau mengerti.
Haruskah aku menangis sambil menyanyi?

Jiwamu pedih menderita
Kelaparan ilmu, sedangkan buahnya
Berserakan, lebih banyak dari
bebatuan di lembah ngarai.

Hatimu kering, layu kehausan,
Sedangkan sumber-sumber kehidupan
Mengairi keliling rumahmu.
Mengapa tak dari sana kau lepas dahagamu?
Laut pasang dan surut
Bulan pun purnama dan menciut
Dan abad-abad mengarungi musim
Panas dan dinginnya.
Silih berganti segala yang ada,
Bagai bayangan-bayangan dewa
Yang belum lahir, melayang-layang terbang
Antara surya dan mayapada.
Tetapi Kebenaran tak kenal perubahan
Tiada pula bakal surut menghilang;
Lalu mengapa kau berupaya merusak wujudnya?

Dan t’lah kukatakan padamu: “Mari
Kita daki puncak gunung ini
Dan bersama kita nikmati
Keindahan jagad raya.”
Kau telah menjawab:”Di dasar lembah ini
Telah hidup kakek-moyang kami
Dalam naungan keteduhannya mereka mati,
Dikuburkan dalam gua-gua.
Betapa mungkin kami sampai hati
Meninggalkan tempat ini, demi tanah rantau
Yang tidak pernah mereka jangkau?”
Dan kukatakan lagi kepadamu: “Mari
Kita menuju dataran permai
Yang mempersembahkan limpahan hasil bumi
Kepada haribaan bahar”.
Dan kau telah menjawabku dengan malu-malu
“Gerung geram dari rongga lautan
Akan menakutkan roh-roh kami
Dan kedasyatan kedalaman
Bakal membuat kami mati kaku”.

Aku menyintaimu, Saudara sebangsaku
Tetapi cintaku padamu terasa pedih dan pilu
Tiada pula gunanya bagimu.
Sekarang aku membencimu
Dan kebencian itu laksana banjir bah,
Yang menyapu berdih semua ranting kering
Dan rumah-rumah rapuh, sampai rubuh.

Aku iba pada kelemahanmu, Saudara sebangsaku
Tetapi bekas-kasihku hanya menambah kerentaanmu
Dan meningkatkan ketakpedulianmu
Yang gersang bagi kehidupan
Dan sekarang kusaksikan kerapuhanmu
Yang dibenci oleh jiwaku
Dan sangat dia takuti.

Ilmu pengetahuan itu Cahaya, memperkaya
Kehangatan kehidupan, dan siapa saja,
Boleh mencarinya, akan tetapi kau
Saudara sebangsaku, mencari kegelapan
Dan menyingkiri cahaya, menunggu
Terbitnya air dari batu.
Dan kesengsaraan bangsamu
Adalah kejahatanmu; tak ku ampuni kau dari
Dosa-dosamu, sebab kau cukup menyadari
Apa yang sedang kau jalani.

Aku mencintaimu, Saudara sebangsaku,
Karena kau membanci kegemilangan dan keagungan.
Aku membencimu, karena kau membenci
Diriku sendiri.
Aku musuhmu, sebab kau menolak menyadari
Bahwa kalian musuh pada bidadari

Penggalan-penggalan dari Lagu Gelombang – Kahlil Gibran, untuk negeri dan bangsaku yang sedang berpesta-tahunan sambil bersenandung kebangsaan