Tags

, , , , , ,


Di depan PathmoshalPantai Enschede..? Sejak kapan Enschede punya pantai..? Ini mungkin yang pertama terpikirkan oleh siapapun yang pernah tinggal di Enschede, kota kecil di timur Belanda, dekat dengan perbatasan Belanda – Jerman (lihat Enschede di Google Maps). Menurut kisah dalam sekala waktu geologi, beberapa saat yang lalu Enschede adalah pantainya Eropa Barat. Disini tanahnya berpasir dan saat ini terdapat penambangan garam.

Cukup tentang Enschede, sekarang tentang pengalaman berpuasa di bulan Ramadhan dan juga berlebaran di kota ini, jaman dahulu kala, tahun 2002.

Melakukan ritual di negeri orang selalu terasa unik jika tinggal di lingkungan yang terasa bedanya dengan kampung halaman. Puasa di bulan Ramadhan, yang selalu dilakukan setiap tahun sejak kecil, terasa tidak biasa saat dilaksanakan di Belanda. Kebiasaan penduduk negeri setempat yang didominasi non muslim sangat kontras terasa saat bulan Ramadhan tiba (dibandingkan di kampung), tentunya.

Sholat Ied di PathmoshalTidak terlihat “demam lebaran” yang biasanya terasa jauh hari sebelum lebaran tiba di pusat-pusat perbelanjaan di tanah air. Tidak ada kata-kata “korting” di Centrum Enschede (pusat pertokoan/pasar) yang terkait dengan lebaran. “Korting” adalah kata dalam bahasa Belanda yang paling dikenal oleh mahasiswa disini, yang berarti “discount”.

Untungnya, (ehm… masih ada untung rupanya) masjid masih gampang ditemui di Enschede. Walaupun bentuknya tidak selalu berkubah layaknya bangunan Masjid di tanah air atau timur tengah, dimana sebagian bangunan adalah layaknya rumah biasa ataupun bahkan dalam suatu bangunan apartemen, ini menandakan cukup besar hadirnya komunitas muslim di kota ini.

Bulan puasa dan banyak masjid, dua kondisi yang mempunyai arti apa..? Sebagian rekan-rekan yang pernah mengalami kehidupan di kota ini pastilah langsung menjawab: “ta’jilan terjamin..!” hahaha… Ta’jil adalah sajian buka puasa yang biasanya digelar di masjid-masjid dengan tujuan untuk menyegerakan berbuka bagi pelaku puasa terutama bagi pejalan yang jauh dari rumah, atau yang tidak sempat kembali ke rumah pada saat berbuka tiba.

Banyak masjid artinya banyak alternatif untuk “berburu ta’jil” tentunya… Ada masjid Maroko lama di Benthemstraat (Masjid yang imam dan jemaahnya sebagian besar berasal dari Maroko), ada masjid Turki di berbagai tempat, dan di setiap masjid mempunyai kekhasan sajian tersendiri. Ini yang menarik para pemburu ta’jil tadi. Rekan-rekan pemburu ini berpikiran praktis, daripada kembali ke apartemen yang agak jauh dan segera menyiapkan bukaan sendiri asal jadi, lebih baik segera ke masjid terdekat untuk menikmati sajian nikmat… he he he…

Sholat Ied di PathmoshalBagaimana dengan di kampus sendiri, di Hengelosesstraat 99..? Kampus berlantai 5 ini mempunyai satu ruang pada lantai-3, yang kemudian didefinisikan sebagai Masjid kampus, mempunyai kebiasaan menyediakan ta’jil sendiri. Makanan disini dibeli dari urunan mahasiswa muslim, dan tentunya makanan yang tersaji adalah makanan super market. Mahasiswa muslim disini terdiri dari berbagai bangsa dan negara asal. Dari mulai Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, dan juga dari Afrika Tengah – Utara. Sajian yang bisasa ditemui adalah Kurma, bebuahan segar (apel, anggur), beberapa jenis snack, dan juga minuman sari buah berbagai jenis. Terkadang ada juga roti, tapi roti keras (roti lembut biasanya mengandung emulgator yang tergolong diharamkan atau diragukan).

Tahun 2002, bulan Ramadhan datang pada November – Desember. Saat-saat musim dingin tiba. Tapi dinginnya suhu di luar gedung kampus yang berkisar 0 hingga minus sekian derajat Celcius tidak berbekas bagi aktifitas penyerbuan ta’jil, baik yang gerilya ke masjid-masjid maupun yang di kampus saja. Waktu kuliah yang sampai jam 17.30 agak mengganggu, karena saat itu ada hari-hari dimana waktu berbuka puasa di sekitar jam 17.00. Izin keluar kelas selalu dilakukan saat menjelang buka, lalu segera masuk dan duduk manis di masjid menunggu petugas piket harian membagikan ta’jil. Petugas pikat ini biasanya sudah disepakati sebelumnya dan bertugas mengelola sajian makanan harian, dimana tugas utamanya adalah berbelanja dan menyajikan makanan saat berbuka tiba.

Bagaimana dengan saat saur…? Saur terjadi begitu saja dengan berbagai nasib yang diterima… Ada yang ceria dengan berita “makan nikmat karena ada yang mengirimkan berkat”, ada juga yang kucel dengan berita “makan kilat karena telat bergiat” alias kesiangan bangun. Saat saur sebenarnya lebih longgar dibandingkan kebiasaan di kampung halaman. waktunya berkisar antara jam 6 hingga 7 pagi. Tapi karena suasana yang dingin, jadi memang suatu tantangan berat untuk turun dari tempat tidur, mengatur suhu ruangan, masak, dlsb… yang memang terasa ngerepotin… (kecuali bagi yang suka masak, hehehe).

Sholat Ied di PathmoshalHari raya menjelang. Ada kesibukan yang sama persis dengan di tanah air, yaitu mencari tahu kapankah hari lebaran tiba: besok atau lusa..? Biasanya rekan-rekan yang sering menyambangi masjid Maroko akan menjadi “mata-mata” dalam mengetahui kabar ini. Masjid Maroko menjadi salah satu rujukan kebanyakan umat muslim Indonesia di Enschede.

(Suasana serupa juga saya alami saat berada di Gent, Belgia, seperti dalam cerita: “Sahur mini-maksimalis“).

Jika kepastian telah didapat (saat itu dipastikan 5 Desember 2002 adalah bertepatan dengan 1 Syawal), biasanya berita gembira ini segera menyebar lewat milis lokal yang ada, seperti milis IMEA (milik Indonesian Moslem in Enschede Association) ataupun milis antarmahasiswa muslim di Kampus Hengelosesstraat dan di kampus Universiteit Twente. Selain itu juga berita merebak melalui telepon selular (jarang yang pakai sms, karena sms lebih mahal tarifnya).

Setelah menerima berita, biasanya langsung pada janjian untuk berangkat bareng ke tempat sholat Ied. Saat itu yang menjadi tempat favorit adalah Pathmoshal, salah satu gedung olah raga. Petunjuk lokasi biasanya juga menyebar dalam milis, terutama bagi para pendatang baru. Rombongan berangkat dengan cara beragam, ada yang jalan kaki (bagi yang gak terlalu jauh, termasuk saya n fren satu apartemen: Syarif, Bobby, dll), tapi banyak juga yang pakai sepeda, terutama rekan-rekan yang dari Universiteit Twente (sepeda kendaraan utama disini, karena murah… hehe…).

Di gedung inilah salah satu tempat dimana bisa disaksikan “mendunianya” agama Islam. Dari berbagai negara dan suku yang ada di dunia rasanya terwakili disini. Dari Asia timur hingga selatan dan tengah, dari berbagai negara Afrika “hitam” dan Afrika “putih” juga ada. Dan dari muslim Eropa juga hadir. Beragam pakaian dikenakan, sesuai dengan kebiasaan masing-masing dalam menyambut lebaran. Meriah meriah meriah.

halal-bil-halalSaat sholat berlangsung pun beragam cara terlihat. Dengan (tetap) satu komando dan satu bahasa, terlihat beragam cara dalam menjalankan sholat. Ada yang tangan diletakkan di perut-dada, ada yang tetap diluruskan disebelah badan. Saat duduk pun beragam gaya. Ada yang terlihat seperti kebanyakan di tanah air, dengan telapak kaki satu diduduki dan yang satu terlipat. Ada juga yang duduk dengan kedua kaki terlipat lurus kebelakang dan kedua telapak kaki lurus vertikal. Keberagaman ini tidak menjauhkan posisi berdiri, semua rapat dan dalam shaf yang lurus dan rapi. Belum pernah saya melihat “perbedaan gaya” yang tetap disikapi dengan kesatuan gerak dan sikap seperti ini di tanah air. Kesatuan keyakinan yang lebih hakiki terasa lebih indah daripada meributkan yang ecek-ecek (beda gaya beda masjid, hiks…).

Selesai sholat segera semua saling bersalaman, ini layaknya kebiasaan di kampuang nan jauh dimato. Kenal gak kenal semua salaman dengan senyum dan beragam bahasa yang lebih banyak gak dimengerti, mungkin… Yang penting berucap kebaikan dan senyum…

Acara foto-foto juga terlaksana dengan sendirinya, dan kadang yang gak kenal sekalipun diajak foto bareng. Itulah kegembiraan dan kebersamaan.

StadsweideSebagian rekan-rekan asal tanahair segera membentuk barisan di lapangan Pathmoshal, beraksi di depan kamera, dan mengabadikan saat-saat kebahagiaan bersama di “negeri orang”. Tidak banyak waktu tersisa, karena masing-masing mempunyai tugas harian yang harus segera dilaksanakan: kuliah, ujian, quis, dlsb yang tentunya tidak mengenal hari lebaran. Segera “bubar jalan”.

Tiga hari selepas lebaran barulah dilaksanakan halal-bil-halal antarmuslim Indonesia di Enschede. Apartemen mbak Nita dan mbak Retno di Stadsweide 204 214 (makasih kang Syarief atas koreksinya) menjadi tempat berkumpulnya semua rekan-rekan yang “berminat” akan masakan lezat ala kampung halaman. Hadir rekan-rekan mahasiswa dari berbagai perguruan, dan juga masyarakat Indonesia yang telah menjadi WNA beserta keluarganya. Gak ketinggalan beberapa rekan dari kota perbatasan di wilayah Jerman juga gabung disini. Wuih asiknya. Emm, terutama makanannya… ketupat, opor ayam, sambal hati, keroepoek oedang (begitu yang tertulis dikemasan yg dijual di Belanda) dan masih banyak lagi yang lainnya… Semua dengan rasa asli Indonesia, hasil karya para ibu-ibu disini (motornya itu mbak Nung dan mbak Liana)…

halal-bil-halal 2Kebahagiaan ini unik, karena terasa beda sekali, dimana disatu sisi kerinduan berkumpul dengan keluarga sangat besar (lebaran biasanya saat kumpul keluarga kan..?), disisi lain kebersamaan “nasib” di negeri orang plus makanan lezat yang buanyak bisa menjadi perimbangan… hahaha…

Rekan-rekan yang masih di E-de tentunya akan merasakan hal serupa, bedanya adalah sekarang di E-de sudah ada Masjid yang guede dan megah… Lokasinya juga di sekitar Pathmoshal. Jadi sholat Ied gak perlu lagi di gedung olah raga.

Alhamdulillah…