Tags

,


Lantai 12Pagi ini, seturun dari bis jemputan kantor, seperti biasa, langsung ke mesin presensi di lobby Gedung 1, masukin nomor induk, dan tempelkan jari. Beres.

Ritual berikutnya adalah menuju ke lift. Lift bagian depan (yang ber-AC) sedang merayap naik semua. Alternatif lain, untuk memperpendek waktu menunggu, karena ketiga lift tersebut perlu mendaki 22 lantai sebelum turun kembali ke Ground, adalah “lift pengangkut barang”. Lift ini terletak gak jauh, cuma gak punya AC, hanya kipas angin (exhaust fan).

Setelah berhenti di lantai 6 dan 7, untuk mengantarkan pak Ugit dan kang Adam, lift segera berhenti di 10, untuk melepas mas Gatot dan mas Andi. Lift segera merayap naik. Saat lampu indikator menyalakan lampu pada angka 12, lift segera berhenti. Ini biasa, hampir selalu lift berhenti di lantai 12, yang merupakan “setengah perjalanan” menuju puncak. Tapi ada hal yang tidak biasa akhirnya terjadi.


Hal yang tidak biasa adalah sang pintu tidak terbuka. 2-3 detik gak terbuka, padahal lift berhenti, maka kesimpulan segera muncul: lift nyangkut..! Ada tombol alarm, segera pencet2, gak ada reaksi. Segera coba buka pintu dari dalam. Pintu bagian dalam terbuka, dan… lift berada antara lantai 11 dan 12. Walau lebih dekat ke 12, dimana lantai 12 kira-kira tinggal semeter lagi.

Fuih… Segera coba buka pintu bagian luar lift. Gagal. hanya terbuka 1-2 cm aja. Sepertinya memang ada penguncinya. Dengan segera gedor-gedor dari dalam, sambil sedikit teriak (gak bisa full teriak, sdg ada masalah dengan tenggorokan: si ehm ehm sedang menyerang). Beberapa kali gedor, masih gak ada reaksi dari luar.

Segera inget peristiwa Ratu Plaza, kejadian yang pas seminggu lalu terjadi. Ini yang mbuat kringet mulai keluar, padahal temperatur ruang yg hanya diisi sendiri masih cukup adem.

Keluarkan hape, waduh, sinyal tipis banget (pake AS), kacau… Akhirnya bisa juga kontak ke nomor rekan di lantai 10 (mas Laju yang angkat). Langsung minta tolong untuk bisa segera berkunjung ke lantai 12, dan mengusahakan pertolongan. Sementara itu, di lantai 12 sudah ada pihak yang dengar gedoran saya dan lihat kondisi sambil mengusahakan membuka pintu dari luar. Petugas lift pun segera dikontak. Mas Laju pun sudah hadir di luar untuk cari bantuan.

Sambil nunggu,  mata terus natap dinding lantai. Apa yang diliat..? Pastinya adalah: apakah lantai lift bergerak relatif terhadap dinding lantai..? Jika kah lantai lift bergerak turun…? Keringet makin netes…

Gak lama, petugas lift datang, pintu luar berhasil dibuka, dan segera melompat keluar. Alhamdulillah, aman. 10 – 15 menit tertahan di dalam ruang sempit pada ketinggian di lantai 12 akhirnya selesai.

Setelah berterimakasih dengan semua pihak yang membantu kemudian denger penjelasan teknis dari pak petugas lift. Diyakinkan bahwa lift ini, walaupun sudah uzur, tapi mempunyai perawatan dan keamanan yang baik… bla bla bla… Dan ketika selesai bicara, beliau menawarkan ikut dengan lift melanjutkan ke lantai 20 dimana tujuan saya awalnya.

Segera menolak dengan halus: Maaf, cukup untuk hari ini…, saya akan gunakan lift bagian depan saja…

: )