Tags

, , , , , , , , ,


PenyegaranSabtu dan Minggu adalah default untuk anak-anak. Jadi, selain curi-curi waktu nyambi kerjaan asongan yang tersisa saat tengah malam atau dini hari, mengambil portofolio ke sekolah saat Sabtu pagi (saya ke kelas Alta, ibunya ke kelas Qila) dan juga mengantar Alta ikut Mabit (kegiatan sekolah semacam persami Pramuka) sorenya menjadi jadwal wajib kali ini. Begitu juga saat hari Minggu jemput Alta lagi di sekolah plus jalan ke Mal Jambu Dua di daerah Warung Jambu untuk cari sepatu + tas Qila dan Alta, juga sembari coba perbaiki printer di lantai dasar. Sayang sekali, berita buruk, head printer andalan di rumah, Canon Pixma 1500, telah meninggal dengan suskes.

Senin menjelang, datanglah pasukan Flu menyerang. Tewas dengan sukses. 3 hari kerja yang seharusnya sudah penuh dengan wira-wiri Bogor – Jakarta terpaksa dirasakan bersama para virus yang menyerang tanpa ampun.

Ada hikmahnya…

Tiga kali 24 jam dihabiskan dengan istirahat di rumah, sambil, ehm sambil… mroses data (beberapa scene Aster dan juga Landsat masih harus dipermak), sambil berselancar dengan memanfaatkan GPRS dari Fren yang murah meriah terutama untuk ikut sibuk dalam rangka kegiatan MAPIN Desember nanti di Aceh dan juga merespon beberapa email penting, sambil… baca buku…

Baca buku, adalah waktu yang sangat mahal. Mahal? Yup, karena kebiasaan ini sudah tertinggal dimasa lalu, masa dimana buku adalah teman sehari-hari dari pagi hingga pagi. Gak separah “kutu buku” sih, tapi lumayan “rajin ke toko buku” supaya bisa baca gratis (mbaca buku gratis adalah hobi saat SMA dan Nguliah dulu…).

Apa pilihan kali ini..? Sekian tahun gak mbaca buku, rasanya enak kalo dimulai dengan yang segar-segar aja. Easy reading, katanya… Kebetulan Jumat lalu saat ke Gramedia di Bo-qer (sebutan akrab Mal Botani Square, Bogor) sempet “memaksakan” beli buku yang sudah lama diincer. Ayat-Ayat Cinta (Habiburrahman El Shirazy) dan juga Laskar Pelangi (Andrea Hirata) jadi pilihan, dan dengan dua buku ini sudah mengempiskan dompet setebal selembar kertas merah, karena total keduanya hampir 100 ribu…

Kenapa beli AAC ..? Ini sudah cita-cita sejak buku ini dikeluarkan th 2004 (kalo gak salah). Kenapa baru beli sekarang..? Ini masalah skala prioritas aja… (hehe… budget man… budget…!). Salah satu daya tarik dari buku ini, yang terbungkus plastik dengan rapi dan ketat di Gramedia sehingga gak bisa diintip isinya, adalah Sang Prolog. Kiai Hadi Susanto sebagai Sang Prolog adalah “kenalan lama” (walau setahun berteman tapi sudah kerasa kenal lama banget, atau saya ge-er aja kali…). Beliau adalah “kiai panutan” dalam ilmu agama saat saya hidup sejenak di desa perbatasan Belanda – Jerman, Enschede. Mas Hadi saat itu (2003) masih sebagai kandidat Doktor bidang Matematika, dan sekarang setelah selesai dengan strata doktornya beliau sudah merantau lebih ke barat lagi, negeri Paman Sam. (Halo mas Hadi, apa kabar nih…)

Membaca AAC bener-bener membawa saya ke kehidupan Peter Pan di Neverland dalam sudut pandang kehidupan islami. Disana ada banyak tantangan, teman, musuh, perasaan yang terbang dan terbanting, dan juga perjuangan hidup. Semua terangkum dalam kondisi ideal dan diakhiri dengan “bahagia”. Saya belum pernah baca resensi buku ini sebelumnya (dan memang gak mau baca resensinya supaya mbacanya nanti lebih asik, dan terbukti), jadi lumayan menikmati.

Gimana dengan Laskar Pelangi yang katanya menghebohkan itu..? Saat beli buku ini, saya berasumsi bahwa buku ini juga bisa dinikmati oleh Alta. Karena Alta yang saat ini kelas 4 SD sudah hobi mbaca, dimana dalam setahun terakhir hampir semua seri Lima Sekawan (Enyd Blyton) yang berjumlah 21 buku tinggal tersisa satu buku yang sedang dilalap saat ini disela-sela ujian praktek di sekolahnya, jadi begitulah asumsi saya. Dia sudah bisa menikmati membaca buku yang “isinya tulisan semua, sedikit banget gambarnya”. Jadi bisa share dengan Alta, gak perlu beli yang lain lagi… hehe…

Sayang sekali asumsi saya ternyata salah (belum saya coba tawarkan ke Alta sih, tapi saya berasumsi lagi yang baru, atau meralat asumsi lama). Isi Laspel kaya dengan bahasa dewa, menggelitik dan meledakkan tawa dan rasa bagi pembaca yang memang mempunyai wawasan cukup. Walaupun isinya tentang kehidupan dan pengalaman anak SD hingga SMP, tetapi improvisasi detil sangat luas dan indah. Membacanya seperti menikmati musik Jazz, yang sering terbang kesana-kemari tanpa meninggalkan jalur irama lagunya, sayang sekali untuk melewati tiap-tiap kalimatnya. Tapi siapa tau, nanti saya coba berikan ke Alta setelah ia menamatkan Lima Sekawan-nya.
Dua buku yang jauh dari ke-Geo-an, jauh dari ke-ilmu-an yang biasa tersentuh, jauh dari intrik-intrik busuk yang biasa tersaji di koran harian, jauh dari ke-biasa-an pekerjaan sehari-hari ternyata cukup menyegarkan.

Rasanya memang perlu membaca “dunia lain” selain “dunia kerja”. Rasanya perlu kembali serupa saat berpondok di kawasan Taman Hewan Bandung, saat bersebelahan dengan Kebun Binatang Bandung yang belum pernah dimasuki sekalipun. Buku matematika, fisika, komputer boleh segubrak, tapi karya sastra pun harus dilalap. Seringan apapun karya tersebut…

Untuk keseimbangan, katanya… saat itu…
: )