Tags

, , , , , , , , , , , ,


Bandara OlilitLebih dari 3 bulan berselang, cerita jalan-jalan di Tanimbar (Operation Tanimbar) akhirnya baru bisa ditulis dan diketik lagi. Dengan membolak-balik catetan perjalanan plus melihat foto-foto dan film rekaman, akhirnya muncul lagi titik cerita yang harus diteruskan.

Saumlaki, Minggu 28 Agustus 2005, siang menjelang sore yang terik.

Suasana udara siang yang panas menyengat menambah suasana tim agak gerah dan semakin berdebar saat mengetahui berita dari bandara Olilit bahwa pesawat CESNA 402B masih “tertahan di udara” Kupang. Menurut perhitungan pilot yang disampaikan ke pengontrol di bandara mereka akan sampai (ETA) di Saumlaki pada 18.30. Kuatnya angin arah Barat akan menghambat penerbangan pesawat ringan tersebut saat mengarungi angkasa dari Kupang ke Saumlaki. Kepanikan agak terasa mengingat pada 18.30 matahari segera terbenam dan bandara tidak mempunyai lampu pada landasan sebagai panduan visual saat mendarat.

Untunglah kondisi angin di Kupang segera membaik dan pada pukul 16.30 sudah terdengar suara pesawat di udara Saumlaki. Bandara pun mengabarkan bahwa CESNA siap mendarat. Segera tim ke bandara menyambut.

CESNA parkirSang CESNA yang dikemudikan oleh kapten pilot Yahno Setiawan didampingi mekanik Wimpy Tomasouw segera parkir di dekat bangunan bandara. Setelah parkir dengan rapi, segera barang-barang dikeluarkan. Ini adalah perlengkapan pengolahan data (beberapa komputer dan periperalnya) dan segera diangkut ke Base camp di Penginapan Pantai Indah.

Sementara barang-barang perlengkapan dipindahlan ke base camp, pesawat segera dirawat oleh pak Wimpy dengan mengisi bahan bakar dan membereskan lainnya, agar besok pagi siap dengan misi.

aplanix dan perangkat lainDi dalam pesawat sendiri sudah terinstall peralatan, antara lain: kamera/sensor CASI pada bagian bawah badan pesawat, juga Komputer pemroses dan dilengkapi penyimpan data (harddisk) khusus. Komputer ini diletakkan di bagian belakang kabin penumpang. Pesawat yang mempunyai kapasitas penumpang standar 10 orang, saat ini hanya diset untuk 4 orang, yaitu pilot dan mekanik atau penyelia di bagian kokpit, dan 2 tempat duduk lagi untuk operator CASI dan operator Applanix.

CASI adalah perekam hyperspectral sedangkan Applanix adalah perekam pergerakan pesawat (sumbu x, y, z). Di pesawat juga sudah terpasang 3 buah monitor, satu untuk kelengkapan CASI, satu untuk Applanix, dan satu lagi adalah monitor untuk pilot.

Processor CASIMonitor untuk pilot berguna untuk membimbing penerbangan agar sesuai dengan jalur yang telah ditentukan, dengan kecepatan dan ketinggian yang sesuai dengan yang sudah disepakati. Pilot bisa melihat jalur yang akan ditempuh dan menentukan dapat menentukan perubahan-perubahan hasil diskusi langsung (melalui radio) dengan operator Applanix dan CASI.

Lepas maghrib, Tim segera mengisi “bahan bakar” dengan menyantap kelezatan berbagai menu seafood yang sudah dipesan khusus di Pantai Indah ini. Masakan si Ibu rupanya memang te-o-pe punya. Walau gak tau nama masakannya apa, yang jelas-jelas tau adalah rasanya…! Ini adalah santapan hari pertama di Saumlaki, salah satu surganya seafood di Maluku.

KoordinasiJam 21, rapat koordinasi dimulai. Mas Adrianto sudah menyiapkan rencana penerbangan pada daerah sasaran. Tim Laut di kapal Majestic juga sudah dikontak melalui telepon satelit yang mereka bawa. Pak Joost juga sudah kontak salah satu personal HQ Vito untuk konfirmasi kesiapan tim. ini perlu karena terkait dengan pemrograman satelit PROBA yang akan diaktifkan perekamannya saat melewati angkasa Fordata-Nukaha esok.

Sementara itu informasi cuaca juga sedang dicari melalui BMG dan Otoritas Darwin. Cuaca adalah penentu akhir apakah Operasi bisa dilaksanakan sesuai waktu yang diinginkan atau tidak.

Rencana jalur terbangDisepakati, jam 6 esok semua tim sudah siap di bandara. tetapi keputusan jadi tidaknya penerbangan dan perekaman akan ditentukan detik-detik akhir. Cuaca dan cuaca, ini yang akan sangat menentukan pada saat terakhir besok.

Malam ini istirahat, cukup capek dengan perjalanan dan ketegangan hari ini. Alarm di set pukul 4.30. Udara masih gerah, karena inilah suasana pesisir, jadi harus segera dibiasakan. Suara pecahnya ombak terdengar cukup keras, karena memang separuh dari begian rumah penginapan ini terletak diatas air, alias

Bisakah operasi esok hari dilaksanakan sesuai jadwal..?

Catetan ini adalah Bagian ke-6 dari rangkaian cerita Operation Tanimbar.