Tags

, ,


NangorakLibur semester bagi anak-anak sudah tiba sesaat setelah Idul Adha di Desember 2007 ini. Artinya adalah harus ada kegiatan tersendiri untuk para krucil. Sempitnya waktu mereka sehari-hari, dimana kegiatan sekolah dimulai saat berangkat jam 6 pagi hingga pulang ba’da ashar, membuat keinginan yang besar untuk membawa mereka keluar sejenak dari rutinitas ke kondisi yang sangat berbeda.

Rencana berlibur ini sudah lama, cuma selalu terbentur pada waktu yang harus sinkron dengan “musim libur kantor”, dan juga harus sesuai dengan budget yang tersedia tentunya… Untunglah Desember ini semua hal tadi bisa “hadir bersama”…

Setelah diskusi dengan mas Didi, akhirnya waktu dan segalanya disesuaikan, dan hari keberangkatan diset Senin 24 Desember. Tujuan… desa Nangorak di lereng Gunung Rengganis, Kabupaten Sumedang.

Desa ini adalah lokasi pengembangan teknologi pertanian dan peternakan, kerjasama antara BPPT dan Pemda Sumedang. Dan saat ini menjadi salah satu lokasi agrowisata yang menarik. Mengenai lokasi di Kawasan Agroteknobisnis Sumedang (KAS) ini sudah ditulis pada beberapa waktu lalu (sila ikuti dengan klik disini).

Perjalanan yang dimulai dari Bogor sekitar jam 8:30, kemudian jemput dulu mas Didi dan Tama di Cilangkap, dan melalui rute JORR – Sadang (Purwakarta) – Subang di sela dengan makan siang di Rumah Makan Nangka di Cijambe. Perjalanan yang sangat santai, karena memang tujuannya agar anak-anak bisa menikmati lebih banyak pemandangan di jalan, diakhiri sekitar jam 16:00 setibanya di kota Sumedang. Setelah belanja perbekalan di Griya (Yogya), dan gak lupa beli tahu di seberang Griya (lupa namanya), langsung lanjut ke Nangorak.

NangorakPerjalanan dimulai dengan melalui kawasan Gunung Puyuh dibagian selatan kota dimana terdapat makam Pahlawan asal Aceh, Tjut Nya’ Dien. Kemudian terus menanjak, mendaki lereng yang penuh dengan perkampungan penduduk. Setelah sekitar 6 km (dan setelah melewati perkampungan terakhir) sampailah di KAS. Tanjakan terakhir adalah tanjakan yang paling top. Terasa sangat berat bagi mobil Mitsubishi Kuda mas Didi, yang diisi 3 dewasa dan 3 anak-anak…

Lokasi KAS adalah pada 6°54′37″ LS dan 107°54′51″ BT. (Sila lihat pada Flickr Map)

Alhamdulillah, walau disambut gerimis dan dingin yang mulai terasa menggigit, keindahan pemandangan masih bisa dinikmati oleh semua.

Desi segera siapkan perbekalan dan dapur, mas Didi segera istirahat setelah 6 jam nyupir, anak-anak (Alta, Qila, dan Tama) mulai menikmati libur mereka.

Banyak sekali hal asik, menarik, hingga menyeramkan yang dialami mulai dari sore itu. Di mulai dari air yang dingin, suhu yang terasa dingin dan bertambah dingin dengan angin gunung yang cukup kencang, kabut yang hilir mudik, anak-anak tidur di sleeping bag (pengalaman pertama mereka), pemandangan malam kota Sumedang yang menawan, juga pemandangan Gunung Tampomas dipagi hari pada arah utara yang indah.

Kabut tebalTidak ketinggalan hadirnya kabut yang sangat tebal, hingga jarak pandang hanya 1-2 meter, kemudian dilanjutkan dengan malam kedua yang penuh dengan hembusan kencang angin gunung. Demikian kencangnya angin sehingga beberapa genting rumah (rumah tempat menginap yang diberi nama Wisma Pelangi) rontok. Wow…

Gak ketinggalan juga, keasikan bermain di kolam ikan, anak-anak begitu menikmati bisa memberi makan ikan dengan pelet yang sudah tersedia dengan bebasnya, melihat peternakan kambing, kebun strawberi dan kebun melon serta tomat di rumah kaca, bermain bola tenda, menanjak bukit dan bermain di Rumah Pohon…

Dan semua direkam dengan versi masing-masing oleh “peserta” liburan. Disini mungkin gak ada cerita detil tentang itu, tapi Alta dan Qila punya versi tersendiri, juga ibunya.

Bermain bola di dekat kebun StrawberryAlta cerita tentang beberapa hal dalam blognya (bisa diikuti dengan klik disini), gak mau kalah dengan kakaknya, Qila juga cerita dengan versinya sendiri (sila ikuti dengan klik disini).

Dari tulisan-tulisan mereka terlihat banyak sekali hal yang terekam tapi belum “sukses” dilontarkan semua dalam bentuk tulisan. Gak papa, tapi ini suatu keasikan sendiri melihat anak-anak mencoba mengeluarkan apa yang mereka alami dengan berbagai tingkat prioritasnya.

Bagi Alta dan Qila, ini merupakan “petualangan” kedua yang masuk kategori “seru” setelah pada awal Desember 2004 (sebelum gempa dan tsunami) mereka ikut ke Pulau Weh, Aceh, dan menikmati pantai-pantai yang indah (antara lain Sumur Tiga, Gapang dan Iboih) dan juga sempat ke tugu Km Nol.

Alhamdulillah, Desember ini bisa mengajak kembali anak-anak bermain di alam…
: )