Tags

, , , , ,


Lost and FoundKeluyuran melalui berbagai bandara sebelum atau sesudah mengudara adalah biasa. Dan di setiap bandara sipil, walaupun yang sekelas “pondok siskamling”, selalu kita dapati tulisan “Lost and Found”. Tiga belas tahun selalu melihat tulisan ini dimana-mana, tetapi baru kali kemarin berurusan langsung dengannya.

Ini terjadi saat menggunakan penerbangan 304 yang melayani rute Jakarta – Banda Aceh. Waktu check-in adalah sejam sebelum boarding, ini adalah jamak atau biasa dimanapun kecuali penerbangan internasional. Pagi itu, sekitar jam 6:00, bandara Soekarno-Hatta padat. Segera setelah memasuki ruang check-in, cari loket (counter) nomor A20. Kenapa..? Karena disanalah nomor loket yang ditampilkan di TV untuk penerbangan 304. Sesampainya di loket, ternyata ditolak, dengan alasan: penerbangan 304 terdapat di loket sekian sampe sekian (tidak spesifik di satu loket saja). Pokoknya yang ada tulisan Sumatera, disana bisa dilayani keperluan check-in untuk jurusan bandara mana aja di Sumatera.

Setelah ngantri beberapa waktu, sampai juga di depan loket. Saat itu hampir semua loket sudah dibuka, dengan antrian yang padat merayap. Dan terdengar pengumuman kalau loket semakin banyak dibuka untuk jurusan Sumatera (termasuk loket A24 tadi😦 ). Okelah, berhubung sudah sampai depan loket, gak peru mikir macam-macam lagi.

Segera serahkan tiket, KTP, dan uang 30 ribu untuk pajak bandara. Barang-barang kemudian segera ditimbang. Saya bawa satu koper (berisi dokumen dan data), dan satu tas tangan (berisi pakaian). Semua sudah ditimbang dengan aman, dan segera diberi label.

Dari pemasangan label terlihat kode label disana. Aneh, sepertinya ada yang salah disini.

Tapi karena sangat percaya dengan layanan yang sedang disajikan, gak banyak pertanyaan muncul lagi. Dan di tengah layanan ini, sempat juga disela dengan penumpang jurusan lain yang sudah “boarding-time”. Mereka diberi kesempatan langsung dilayani diluar antrian bahkan sampai-sampai pengurusan check-in saya yang belum selesai terpinggirkan. Dengan ucapan ramah, petugas loket meminta saya memaklumi. Dan sebagai orang yang terbiasa memaklumi segala kejadian dalam kondisi terpaksa ataupun tidak, maka saya relakan kepengurusan tiket ditunda. Saya segera menyamping sedikit untuk memberi kesempatan pada calon penumpang yang “lagi stress” kepepet waktu. 3 atau 4 penumpang akhirnya terlayani sudah, sebelum kembali lagi ke tiket saya. Sementara itu 2 bawaan saya sudah menghilang mengikuti perjalanan belt.

Alhamdulillah, penerbangan 304 sesuai jadwal. Sekitar 7:30 pesawat take off. Lancar dalam perjalanan, walaupun hanya diberikan satu gelas air minum kemasan selama 2 setengah jam. Pesawat mendarat dengan sedikit bergetar, tapi aman, dan segera menuju ke ruang kedatangan untuk menunggu koper dan tas.

Menunggu bagasiMenunggu dan menunggu sambil melihat kanan-kiri. Terlihat tulisan tertempel di pintu salah satu ruang berbunyi: Lost and Found.

Barang-barang sudah habis, demikian teriak petugas porter bagasi dari balik ruang yang terhubung dengan lubang besar tempat barang-barang diletakkan pada ban berjalan. Segera celingak-celinguk sana-mari. Mana bagasi gw..? Gak ada…!!!

Walah, kok gak ada..? Apa kebawa oleh penumpang lain..? Kayaknya gak mungkin karena bentuknya unik dan sudah “cukup berumur”. Tapi siapa tau..? Segera lapor ke petugas yang ada. Petugas ini adalah petugas pemeriksa label saat penumpang membawa bagasi keluar ruang kedatangan.

Segera petugas menanggapi dan melihat kode label yang tertempel di tiket. Tanpa perlu ba bi bu lagi, dia mengantar saya ke ruang… Lost and Found..!!! Satu ruang yang selama ini selalu terlihat tapi belum pernah termasuki…!!!

Lost and Found, pertama kali dilakukan secara terorganisasi di Paris pada tahun 1805. Napoleon memerintahkan pada polisi untuk mendirikan kantor untuk menyimpan semua barang yang ditemukan di jalan-jalan di kota Paris, kemudian petugas lah yang akan berusaha menemukan pemilik dari barang-barang tadi. Begitulah yang tertulis di Wiki tentang Lost and Found.

Ini kasus! Itulah yang kepikir pertama. Dan di dalam ruang sempit ini sudah menunggu seseorang yang mengalami hal serupa (kemudian diketahui berprofesi sebagai tentara). Dan gak lama satu orang lagi masuk dengan kasus yang sama. Jadi ada tiga orang yang mengalami hal sama. Petugas segera memberikan penjelasan ringkas, bahwa dari label yang ada (melekat pada tiket kami bertiga, sang obyek penderita) diketahui bahwa bagasi tidak pergi ke Banda Aceh, tapi pergi ke Jambi…!!!

Gimana bisaaa…?

Ternyata oh ternyata, label bagasi yang seharusnya bertuliskan BTJ (kode bandara di Aceh), tetapi yang dilekatkan pada bagasi kami adalah DJB, kode bandara Jambi. Wow sekali..!!!

Segera ingat, saat check-in di CGK (ini kode untuk bandara Soekarno-Hatta) ada sesuatu yang aneh saat petugas loket melilitkan label di koper. Rupanya itulah yang membuat koper tidak ke BTJ tetapi mengikuti penerbangan gratis ke Jambi…

Kembali ke ruang Lost and Found. Petugas dengan ramah dan sabar melayani para obyek penderita menceritakan bentuk dan isi dari masing-masing bagasinya, kemudian mencatat di suatu form khusus. Nomor telepon dan alamat di Aceh pun dicatat. Ntah maksudnya apa, mau dianatarkah jika barang sudah sampai ke BTJ? Entahlah. Tapi yang jelas petugas yang melayani ramah pisan. Thanx Bang Feri.

Bagasi telah tibaDiberikan juga keterangan bahwa karena tidak ada penerbangan dari DJB ke BTJ maka barang akan dikirim kembali ke Jakarta baru kemudian esoknya dikirim kembali ke BTJ.

Jadilah, sampai Banda Aceh tanpa dokumen, data, dan juga… pakaian… Hanya yang lekat di badan saja. Ini semua memaksa perubahan jadwal banyak hal. Karena jelas, tanpa dokumen dan data maka pekerjaan yang seharusnya dikerjakan mulai siang itu, menjadi terbengkalai. Dan memaksa tambahan pengeluaran, minimal untuk pakaian ganti, luar dalam.

Esoknya, karena tidak ingin mengandalkan layanan “yang mungkin ada” bahwa bagasi akan dianatar ke Hotel, segera berinisiatif ke bandara. Jam 10:30 sang 304 mendarat. Dan segera memasuki ruang tempat menunggu barang-barang antaran porter bagasi. Dari jendela kaca terus memandang keluar. Dan datanglah kereta barang. Segera terlihat 2 bagasi tersayang menampakkan diri. Alhamdulillah, selamat.

Saat barang meluncur di ban berjalan, segera ambil dan cek secara visual. Semua tampak ok. Gak ada kerusakan sama sekali. Dan oleh petugas Lost and Found disarankan untuk menunggu di konter maskapai pada gedung keberangkatan, yang terpisah letaknya. Hal ini karena surat-menyurat ada di sana.

sedang nunggu di konterDan beberapa saat kemudian, saat menuju konter, ada telp dari Bang Feri memberitakan: Maaf Pak, barang bapak masih tertinggal di Jakarta, dan baru penerbangan sore akan diantar ke BTJ. Lho..? Lha yang barusan saya liat dan liat dan liat dari jarak kurang dari 30 cm tadi bagasi siapa..?

Segera saya informasikan ke si Abang bahwa bagasi saya sudah tiba, dan saya segera ke konter untuk mengambilnya. Saya segera mengakhiri “perdebatan”, dan langsung ke konter. Menunggu sebentar, dan sampailah 2 bagasi plus beberapa… mmm… banyak bagasi yang lainnya juga. Mereka senasib, pergi ke Jambi (atau tempat lain) tanpa ijin pemiliknya.

Setelah bagasi diserahkan, segera saya cek ulang dan saya buka bersama petugas konter. Tidak ada kerusakan apapun, dan semua isinya ok. Bang Feri bersimpati dan memberi kata-kata penyejuk: “Sorry Pak, kami hanya petugas lapangan”. Terimakasih bang, setidaknya keramahan anda sangat mendinginkan hati. Tak lama kami pun bersalaman dan berpisah.

Cerita selesai. Sama-sama untung. Lho, gimana bisa..?

Bagi maskapai, mereka untung sekali karena mempunyai penumpang yang penuh dengan pengertian akan semua hal, sampe-sampe hal yang jelas-jelas telah merugikan si penumpang juga masih dihadapi dengan penuh pengertian.

Sang bagasi yang sudah kembaliBagi saya, sang obyek penderita, untungnya apa..?

Untung, koper dan tas tidak ada kerusakan sedikitpun.

Untung, barang-barang penting yang ada di dalamnya selamat semua.

Untung, bagasi sampe di BTJ hari ini, jadi pekerjaan “cuma” tertunda sehari.

Banyak kan untung-nya..?

Satu lagi untung-nya: Berkesempatan untuk ikut merasakan bagaimana berurusan dengan Lost and Found dan segala akibat yang ditimbulkannya. Ini pengalaman mahal dan “agak” jarang terjadi pada seseorang. Jadi, tetep untung kan..?

Bayangkan yang terjadi pada pak tentara yang kemarin mengalami nasib serupa pada penerbangan yang sama: bagasi dia hari ini yang seharusnya sudah sampai BTJ bersama bagasi saya, tetapi ternyata dari CGK terbawa kembali ke DJB…!!!

: )