Tags

, , , , , ,


Jembatan KartanegaraKalimantan Timur adalah daerah kunjungan pertama di luar Jawa, saat baru mengawali pengabdian sebagai “pelayan sipil” negeri tercinta. Saat itu, tahun 1996, mendampingi rekan dari New Hampshire University yang sedang melakukan survey lapang terkait dengan program Pathfinder yang dimotori oleh NASA. Kunjungan ini menyempatkan melihat tutupan lahan di sepanjang Bontang – Sangata, dan juga di Samarinda – Tenggarong.

Antara Bontang – Sangata jalan penghubung (saat itu) masihlah dalam pengerasan. Artinya masih berbatu dan menjadi rintangan serius bagi mobil sejenis Kijang atau Panther. Yang menarik di lokasi ini adalah masih banyak ditemukannya kijang liar yang “jinak”. Kijang-kijang ini dapat didekati tanpa mereka merasa takut.

Sedangkan antara Samarinda – Tenggarong, yang hampir sepanjang perjalanan adalah melintas tepian sungai Mahakam, tidak banyak yang bisa dinikmati. Saat itu Tenggarong adalah nama kota Kecamatan yang cukup ramai untuk ukuran “menjelang” pedalaman Kalimantan.

Jembatan KartanegaraTahun ini kembali berkesempatan untuk melintasi jalan yang sama, yaitu jalan menuju kota Tenggarong. Kijang Innova yang dikendarai selalu berlompatan sepanjang jalan beraspal yang tidak semua rata. Setelah hampir tiga jam (start dari bandara Sepinggan). maka tibalah di Kota Tenggarong. Kondisi jalan segera berubah menjadi beton, dan tentunya, lebih bagus dari jalan aspal yang baru saja dilalui.

Memasuki kota ini segera disambut dengan pemandangan jembatan besar yang melintas sungai Mahakam. Jembatan ini bernama Jembatan Kartanegara (atau juga dikenal dengan nama jembatan Mahakam II). Melalui jembatan ini bisa ditempuh jalur baru yang menghubungkan Tenggarong dan Samarinda, berupa jalan semen yang relatif bagus dan… terdapat beribu tikungan berbahaya… (heran juga, jalan baru tapi tikungannya buanyak banget).

Sekilas terlihat kerapihan kota dimana semua jalan sudah mengalami semenisasi (terbuat dari beton) sehingga hampir tidak ditemui jalan berlubang akibat musim hujan sebagaimana yang sering ditemui pada jalan beraspal.

Kedaton Koeta KartanegaraDi kota ini, yang juga merupakan ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura pada jaman beheula, terdapat beberapa tempat khas yang menarik. Antara lain adalah Museum Kayu dan Museum Mulawarman. Museum ini menyimpan barang-barang peninggalan sejarah jaman dahulu (ya… tentu aja ya…, namanya juga museum… he he).

Kota yang konon didirikan pada tanggal 28 September 1782 oleh Raja Kutai Kartanegara ke-15, Aji Muhammad Muslihuddin, saat ini menjadi ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara, hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai. Kabupaten ini, konon lagi, menjadi kabupaten “terkaya” di Indonesia jika dilihat dari APBD tahun ini yang jumlahnya lebih dari 50T. Wow…!

Pulau KumalaSelain menjadikan diri menjadi pusat kebudayaan Kutai, kota ini juga menjadi pusat hiburan keluarga dengan telah dibangunnya pusat hiburan ala Ancol Jakarta. Memanfaatkan daratan delta yang terbentuk dari pertemuan sungai Tenggarong dan sungai Mahakam, dibangunlah “taman impian” yang cukup modern di lahan ini. Taman hiburan ini bernama Pulau Kumala. Untuk mencapai pulau ini pengunjung bisa memanfaatkan perahu wisata yang tersedia pada bagian tertentu dari sisi sungai.

Perahu wisata ada yang kecil untuk grup kecil dan juga ada yang besar. Melintas sungai Mahakam tentunya merupakan pengalaman yang juga menarik, sekalipun bagi orang Kalimantan Timur yang sudah sering menikmati kehidupan sungai.

Stasiun Kereta GantungSelain menggunakan perahu wisata, pengunjung juga bisa memanfaatkan jalur kereta gantung. Ini tentunya cukup fantastis juga. Dari ketinggian bukit di seberang kota Tenggarong, dimana stasiun kereta gantung terdapat, pengunjung diberi kesempatan menikmati pemandangan kota Tenggarong dan sekitarnya dari ketinggian yang cukup.

Melintas “setengah” badan sungai Mahakam sambil menikmati pemandangan Jembatan Kartanegara yang megah yang tidak jauh dari jalur kereta gantung hingga sampai ke Pulau Kumala tentunya mengasikkan. Sayangnya selagi di sana sang kereta sedang tidak beroperasi, jadi gak bisa nyoba…

Planetarium Jagad Raya TenggarongSelain pusat hiburan keluarga, di kota ini juga terdapat pusat hiburan keilmuan, yaitu berupa Planetarium. Bangunan untuk pengamatan benda langit ini dinamakan Planetarium Jagad Raya.

Taman hiburan langit ini mulai beroperasi sejak Nopember 2002 (kalo gak salah) merupakan bangunan planetarium pertama yang berdiri di Kalimantan dan merupakan planetarium yang ketiga di Indonesia sejak tahun 1969 setelah Jakarta dan Surabaya. Proyektor yang digunakan disini merupakan proyektor khusus yang canggih produksi Zeiss model Skymaster ZKP 3.

Kota yang berada di tepian Mahakam ini juga mempunyai tempat favorit bagi kawula muda untuk nongkrong. Tempat ini sering disebut Timbau, merupakan tempat santai di sekitar Jembatan Kartanegara (di sepanjang jalan depan kantor Bupati).

TimbauPada siang hari tempat ini sepi dan relatif bersih. Tetapi pada malam Minggu atau malam libur selalu sesak dengan pemuda dan juga keluarga yang menikmati suasana tepian sungai Mahakam. Sepanjang jalan penuh dengan sepeda motor yang terparkir bersama para penjual makanan. Selain malam Minggu, kalau gak salah malam Kamis juga cukup ramai, katanya malam Kamis adalah malam Ladies (ladies night)…

Tenggarong, menurut Wikipedia, semula bernama Tepian Pandan ketika Aji Imbut (sebutan lain dari Aji Muhammad Muslihuddin) memindahkan ibukota kerajaan dari Pemarangan. Oleh Sultan Kutai, nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti rumah raja. Namun pada perkembangannya, Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong hingga saat ini.

Melihat Tenggarong via Google Maps sila klik disini.

Sekilas menikmati Tenggarong memberi kesan yang cukup baik. Kota yang relatif rapi dan keinginan untuk menjadi pusat jasa dan hiburan sangat terlihat. Cuma ada satu hal yang cukup mengganggu yaitu listrik. Pasokan yang kurang (klise amat…!!!) menyebabkan pemadaman yang berganti terus. Ironisnya ini terjadi di bumi penghasil sumberdaya energi (batubara) dengan kualitas terbaik dunia (katanya…).