Tags

, , , , , ,


Wisata JaboiPosisi Indonesia pada sabuk api dunia menjadikan kita, penduduknya, tidak asing lagi dengan pemandangan gunung, baik gunung yang masih aktif ataupun yang telah “mati”. Banyaknya gunung berapi menjadikan kita mempunyai banyak sekali tempat “wisata belerang”. Salah satu tempat wisata belerang yang menarik adalah di Jaboi. Jaboi adalah kota kecil yang telah terekam sejak lama pada peta “dunia barat”.

Pada saat alat penerima GPS mulai menyajikan map dalam layarnya beberapa tahun lalu, kota Jaboi hampir pasti sudah ada disana, disaat yang sama banyak kota lain di Indonesia, yang lebih besar dan ramai, belum terdapat pada peta dijital keluaran “perekam posisi” ini. Hal ini kemungkinan disebabkan karena Pulau Weh, dimana kota Jaboi berada, telah dikenal dunia pelayaran sejak jaman dulu, terutama saat Sabang menjadi salah satu pelabuhan laut terbesar dunia, yang dikuasai oleh Belanda. Jaboi sendiri terletak di bagian Selatan pulau Weh.

Untuk menuju ke Jaboi bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Jalur yang bisa ditempuh adalah melalui Balohan, kota pelabuhan di Selatan pulau Weh. Untuk menuju ke Balohan sendiri bisa digunakan kapal cepat dari Pelabuhan Ule Lheu di Banda Aceh.

Uap BelerangDari Balohan kita menyusuri jalan aspal ke arah selatan, dan jalur ini adalah termasuk jalur lingkar pulau Weh. Jalan aspal berkontur rapat dengan satu dua lokasi yang “agak rusak” (setidaknya ini adalah kondisi pada awal tahun 2008) masih layak dilalui dengan kendaraan ringan sekelas 1300 – 1800 cc.

Kota Jaboi sendiri terletak sekitar 6 km dari Balohan. Kota kecil ini berpenduduk relatif campuran dari berbagai suku di Indonesia, dan ini adalah kondisi “pada umumnya” untuk kota-kota di Pulau ini. Keberagaman penduduk menyebabkan kemudahan kita berkomunikasi, jika kita memerlukan petunjuk tentang sesuatu selama dalam perjalanan ini.

Saat jarak tempuh mencapai sekitar 6,5 km dari Balohan, kita dapati sebuah simpangan arah kanan (arah Barat). Inilah arah lokasi “wisata belerang” Jaboi. Mengikuti jalan ini, yang semakin menanjak, disuguhi pemandangan kebun rakyat di kanan-kiri jalan. Dan sekitar 1-1,5 km kemudian kita akan mencapai “pintu gerbang” di sisi kanan jalan. Belum ada tempat parkir yang representatif, jadi cukup parkirkan kendaraan di bahu jalan. Tidak perlu khawatir akan kendaraan lain yang bersimpangan, karena memang relatif tidak banyak mobil yang melewati jalan ini.

Air PanasDi gerbang bisa kita baca keterangan mengenai lokasi wisata alam ini. Keterangan lokasi ini tercetak pada lembar plastik (atau fiberglass?) yang terlihat masih baru. Melalui gerbang kita segera disambut pepohonan rimbun, dan dengan jalan setapak yang terbuat dari semen perjalanan ke lokasi praktis tidak ada halangan.

Padang belerang yang pertama ditemui tidak terlalu luas. Bau menyengat sudah sangat terasa sejak di gerbang lokasi tadi. Kepulan uap belerang terlihat di beberapa bagian lokasi. Berjalan agak dalam, sedikit menanjak, kemudian akan ditemui semacam parit besar.

Pada ujung parit ini terdapat air yang cukup panas. Mungkin bisa untuk merebus telur, sebagaimana lokasi wisata belerang lainnya. Sayangnya saat kesini tidak membawa telur, dan tidak ada juga yang menjual telur di sekitar tempat ini…

Di tengah padang belerangMelewati parit, kemudian menanjak tebing yang cukup curam dengan ketinggian sekitar 2 meter. Sesampai disini, setelah melewati beberapa pepohon yang mulai meranggas, kita baru memasuki ‘padang’ yang kedua, yang jauh lebih luas dibandingkan yang pertama.

Bongkahan-bongkahan bebatuan berwarna putih ada dimana-mana. Dan untuk melintasi bebatuan ini cukup menantang karena tidak ada medan yang rata, semua berbatu tidak beraturan, dan bebatuan yang kecil tidak terekat dengan yang lain (cepat gugur jika diinjak).

Dari tengah lokasi ini terlihat banyak sudut pandang yang menarik. Arah Timur Laut, dari sela-sela pucuk pepohonan rimbun yang terletak lebih rendah dari padang ini terlihat teluk Balohan yang membiru. Cantik.

Pepohonan meranggasSementara itu arah pandang ke Barat terlihat batas yang sangat jelas antara padang belerang ini dengan rerimbunan pohon pada hutan yang yang masih asri di bagian yang lebih tinggi dari lokasi ini. Hutan disini masih te-o-pe, jadi masih nikmat untuk dipandang…

Di tengah padang ini sendiri terdapat beberapa batang pohon yang meranggas, kering karena suhu pada titik tertentu terkadang menjadi sangat panas untuk suatu kehidupan tetumbuhan. Sehingga terlihat pemadangan yang sangat kontras, dimana disatu lokasi terlihat batang pohon yang telah mengering, sementara tidak jauh darinya, di luar batas padang, terlhat kehijauan pepohonan yang masih sangat segar.

Masih ada satu lagi padang serupa dengan jarak sekitar 300 meter arah Barat Laut dari lokasi ini. Lokasi yang tidak terlalu jauh tetapi karena medannya lebih berat, dengan kemiringan yang lebih tajam, membuat kesimpulan: cukup kiranya sampai di sini saja…

Turis lokal dan mancanegaraLokasi wisata yang masih jauh dari kelengkapan suatu tempat wisata ini ternyata cukup diminati pula oleh banyak kalangan. Pendatang tidak hanya dari kota Banda Aceh, yang rela melintas laut sejauh sekitar 30 km dari pelabuhan Ule Lheu ke Balohan, tetapi juga menjadi salah satu tujuan turis mancanegara. Beberapa penikmat lokasi alam yang berkunjung terlihat dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa untuk berbagai keperluan.

Wisata Gunung Berapi Jaboi, demikian nama yang tertera pada pintu gerbang, terletak di ketinggian antara 100 m (dpl) hingga mendekati 200 m (dpl). Posisi geografis pada sekitar   5°47’57.51″N dan  95°19’36.01″E.

Untuk melihat di Google Maps, sila klik disini.

Jika berkesempatan ke lokasi ini, jangan lupa bawa bekal yang cukup, karena tidak akan kita temui pedagang minuman ataupun warteg di sini… Siapa juga yang mau jualan di hutan…?

: )