Tags

,


Akrobat jalananAntwerpen, salah satu kota pelabuhan yang besar di Eropa Barat, menjadi salah satu kota kunjungan turis mancanegara. Banyak bangunan tua dan “bersejarah” yang menjadi daya tarik, selain juga pemandangan sungai Schelde yang enak dipandang.

Kota turis juga selalu menjadi tempat menarik bagi para penangguk sen, alias para pengamen jalanan. Sepanjang hari, terutama Sabtu dan Minggu atau saat holiday kita bisa temukan beragam atraksi pengamen di kota ini.

Kali ini coretan tentang atraksi pengamen saat keluyuran ke tepian sungai Schelde tahun 2005 lalu.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 3 sore, di ujung pertokoan, di sisi salah satu sisi persimpangan jalan, terlihat banyak orang berkerumun. Penasaran, segera mendekat, dan terlihat seseorang berpakaian kuning-merah dengan bertopi merah sedang ngoceh. Dengan berbahasa Inggris, campur beberapa kata Flemish (bahasa Belanda versi Belgia) pria ini berceloteh lancar.

Kemampuan berkomunikasi yang bagus mengingatkan tukang obat di pinggir jalan depan terminal Rawamangun Jakarta Timur, saat akhir 1980an. Kalau di Rawamangun, saat itu, para tukang obat mulai beroperasi saat hari mulai malam, dan dengan “janji-janji” atraksi ular berbisa yang selalu diucapkan untuk mempertahankan penonton. Maka di tepi jalan Antwerpen ini sang pemuda juga menjanjikan atraksi heboh, tetapi bukan janji menampilkan ular, melainkan dengan peralatan ketrampilan.

Aksi di sepeda jangkungDiawali dengan mengajak penonton, seorang anak lelaki, untuk menjadi bahan kerjaan lelucuan. Selesai dengan anak ini, dan setelah berbagai atraksi singkat yang menarik antara lain dengan akrobatik menggunakan sepeda mini layaknya para rider sepeda BMX tahun 90an, kemudian sang pemuda meminta tolong dua orang dewasa membantu ia menaiki sepeda jangkung yang beroda satu.

Ternyata dua orang relawan ini juga menjadi bahan permainan dia. Tipuan bantuan ini sebenarnya juga bukan hal baru, tetapi penonton sangat menikmati dan sang korban tidak merasa dilecehkan. Tepuk tangan selalu terdengar tiap sang pemuda menyelesaikan satu atraksi atau tipuannya.

Saat beraksi dengan sepeda jangkung, pemuda ini juga bermain dengan api yang diputar-putar, dan sekali dua melakukan gerakan yang membuat penonton berteriak panik. Salah satunya adalah seolah dia jatuh tetapi selamat karena menyangkut di atap toko terdekat. Atraktif sekali. Agak sulit juga menggambarkan detil yang terjadi.

Yang jelas sore itu dia berhasil mengumpulkan Euro yang cukup, karena penonton merasa terhibur. Dan si pemuda tidak perlu terburu-buru, karena memang saat itu tidak ada Satpol PP yang siap meringkusnya…

Pemain BonekaPagi harinya, saat baru tiba di Antwerpen, dan lagi sibuk mempelajari peta kota, di suatu jalan terlihat pengamen dengan gaya yang lain. Pengamen ini tergolong sudah berumur, berbadan gemuk, dan berdiri di atas sebuah panggung mini.

Panggung ini rupanya sekalian menjadi tempat menyimpan sound-system yang menjadi alat dalam atraksinya. Dalam aksinya, sang pengamen ditemani oleh 3 buah boneka kayu yang dapat dikendalikan dengan beberapa utas tali yang terhubung ke kendali di tangannya.

Lagu diputar, kemudian sang pengamen menaiki kotaknya, meraih salah satu boneka, kemudian menari bersama sang boneka dengan jenaka. Gerak pengamen dan boneka yang luwes dan sapaan akrabnya kepada penonton menjadikan atraksinya dengan cepat menarik perhatian para pejalan kaki. Dan tentunya penonton tak segan-segan menyisihkan sebagian Euro-nya kepada sang pengamen.

Para seniman jalanan selalu mendatangkan kebahagiaan di hati para pejalan kaki, tentunya sepanjang mereka juga menyajikan hal yang pantas dan cukup komunikatif dengan penonton.

Dan satu lagi, tanpa perlu ceramah macam-macam sebelum beraksi…

Unjuk kemampuan, dan raihlah (bekal) kehidupan…