Tags

, , , , ,


Be someone special“Kalau kamu bisa berbuat baik bagi orang lain, apakah harus kau tanyakan sesuatu? Kalau kamu bisa berbuat baik, lakukanlah. Itu wajar.” (Kata-kata Mpu Raganata saat memberikan darahnya untuk menolong Pangeran Anom Rawikara, anak dari Raja Jayakatwang, sesaat setelah Jayakatwang dari Kediri membunuh sang Junjungan mpu Raganata, Baginda Kertanegara, di Keraton Singasari. Dari buku Senopati Pamungkas).

Mungkin itulah salah satu yang ada dalam pikiran para pendonor darah. Memberikan beberapa tetes dari bagian tubuhnya, yang berfungsi sebagai penggerak kehidupan berjuta sel di seluruh tubuh, dengan hati yang lepas, ikhlas.

Pendonor tidak pernah ingin tahu siapa yang akan menerima darahnya. Tidak peduli apakah ia seorang Jenderal berbintang lima pemimpin pasukan yang bertugas mengawal negeri tercinta di nusa-antara ini, atau hanya seorang jenderal kancil yang mempunyai pasukan berupa domba-domba di lereng Gunung Rengganis, Sumedang.

Tidak pernah peduli, apakah sang penerima adalah seorang politisi yang menentukan hitam dan putih abu-abunya nasib jutaan rakyat negeri, atau hanya seorang penjual tiket pas lintasan Jembatan Kartanegara di Tenggarong. Juga tidak pernah terlintas dalam pikirannya, apakah sang penerima darahnya kelak adalah seorang pendemo jalanan yang selalu berteriak lantang demi “idealisme muda” atau seorang pengemudi angkot jurusan Cicaheum-Sadang Serang Bandung yang semakin sulit dan terjepit saat berurusan dengan asap dapur, pengobatan dan (apalagi) pendidikan anak-anaknya.

Pendonor selalu berpikiran “memberi” tanpa pernah mau menuntut sang pengelola darah (dalam hal ini PMI) “memberikan” kwitansi atau berita acara pemberian/penyaluran darahnya kepada penerimanya kelak. Pendonor tidak pernah perlu ucapan “terima kasih” dalam bentuk amplop atau karangan bunga apapun dari yang memakai darahnya.

Menjadi bagian dari pendonor darah adalah kebahagiaan.

Sedikit pengalaman saat masih muda… ehm. Hanya berbekal tercatatnya sebagai anggota pendonor darah yang tertulis di karton manila warna kuning, sekitar 20 tahun lalu di PMI Bandung, saya merasa lebih asik dari pada membawa-bawa KTM berwarna biru, yang sangat berat, karena ada gajah nongkrong di sana…

Saat itu, awal tahun 90an, jika sudah saatnya tiba, maka segera ngeloyor dengan Vespa 150 Super ke PMI di Jalan Aceh, Bandung, untuk “memberikan” 250 cc (standar) atau 300 cc (kalo lagi sehat, saat gak banyak begadang karna ngerjain praktikum) darah. Darah saya bergolongan AB, yang katanya paling sedikit dimiliki manusia dibandingkan dengan golongan darah lainnya. Kedatangan darah AB di PMI tentunya disambut “meriah” karena kelangkaannya itu.

Kelangkaan ini terbukti juga saat usia masih 8 bulan (ini cerita ortu tentunya, karena terjadi saat th 1970). Kala itu saya mengalami kelainan usus, dan saat dokter di DKT (Dinas Kesehatan Tentara) Tanjungkarang mengharuskan operasi besar dilakukan, dan tentunya diperlukan pasokan darah AB, maka pasukan se-batalyon tempat Bapak bertugas dikerahkan untuk dicek darahnya. Dari sekitar 700an, ternyata hanya dua orang yang cocok, dan akhirnya cuma satu yang diperlukan. Entahlah siapa nama pak tentara ini, dan apakah masih sehat walafiat, pun dimana tinggalnya sampai sekarang saya ndak tahu. Beliau sudah membagi miliknya untuk menyambung kehidupan saya.

Donate BloodKembali ke tahun 90an, saat masih rajin menyambangi PMI hampir tiga bulan sekali. Sesaat setelah jarum dimasukkan ke pembuluh darah di tangan, dan darah mengalir ke dalam kantong yang disediakan, maka hanya nama Allah lah yang disebut. Dengan harapan apa yang dilepaskan adalah butir-butir yang baik yang dapat bergabung dengan darah lain di tubuh lain dengan baik pula.

Proses yang tidak memakan waktu lama ini akan selesai saat kantung penampung sudah penuh. Dan setelah dirapikan kembali “lubang kecil” di kulit tangan oleh petugas dengan memberikan kapas beralkohol, maka diberi waktu istirahat sejenak sambil disuguhi minuman susu dan sebutir telur rebus atau roti Marie. Sekantung darah tentunya tidak sebanding dengan segelas susu dan sebutir telur rebus, tetapi pemberian ini oleh petugas hanyalah untuk membantu kesegaran kembali, sebelum meninggalkan tempat.

Selepas dari Bandung, aktifitas donor dilanjutkan di tempat kerja, di Jakarta. Dan karena “kesibukan” keluyuran kemana-mana maka saat jadwal waktu donor (waktu donor tidak setiap saat, karena dilakukan dengan mendatangkan petugas PMI ke kantor) lebih sering “bolos”nya daripada donornya.

Untuk rekan-rekan pendonor darah, tetaplah semangat. Semoga rekan-rekan pendonor selalu aktif “berbagi” darahnya, tidak pernah bolos seperti yang (kadang-kadang) saya lakukan saat lalu… he he he, dan yang belum menjadi pendonor mari bergabung dalam kegiatan berbagi yang membahagiakan ini…

Pendonor darah adalah manusia yang paling ikhlas dalam berbagi, tidak pernah berpikir untuk suatu apresiasi.

Sebagai mantan pendonor darah saya ikut mengucapkan: Selamat Hari Donor Darah Sedunia 14 Juni 2008.

“Kalau kamu bisa berbuat baik, lakukanlah. Itu wajar.”