Tags

, , , , , , , , , , ,


Durian Tengku Chik

Durian Tengku Chik

Akhir Juli 2008 dihiasi dengan warna merah pada satu hari kalender, yaitu pada tanggal 30 Juli yang bertepatan dengan 27 Rajab 1429 H, libur nasional dalam rangka isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW. Libur sehari kali ini dimanfaatkan untuk… cari duren..!!! Kebetulan kali ini di Sabang sedang musim duren. Selain impor dari daratan, banyak juga duren produk lokal yang bisa ditemui. Tapi rasanya gak ada yg berani jamin. Maklumlah, dimanapun ada jual durian, sulit untuk menemukan yg te-o-pe yang mana.

Untuk wilayah Sabang, atau Pulau Weh, ada satu duren unik yang, katanya, mempunyai rasa yang khas dan dijamin mutunya. Durian ini dikenal dengan sebutan Durian Tengku, dan hanya tumbuh di daerah “gunung” di Kelurahan Iboih, Pulau Weh bagian barat. Siang, sekitar jam 12an, segera berangkat menuju lokasi. Kali ini berangkat bareng bang Udi, Irwan, dan Fahmi. Kami naik tiga kereta, saya dan Udi sendiri sedangkan Irwan dengan Fahmi sekereta. Ini bukanlah “naik kereta api tut tut tut…”, tapi kereta yang berarti “sepeda motor”.

Ngopi dulu ahhh

Ngopi dulu ahhh

Tujuan pertama adalah desa Iboih, karena disana harus bertemu dengan “guide” yaitu pak Ibrahim. Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit yang penuh dengan pemandangan indah, dan juga tanjakan terjal, serta hampir setengah jarak dilalui dengan melompat-lompat karena banyaknya lubang di jalan, sampailah di desa Iboih. Pak Ibrahim sudah menunggu di kedai kopi di pinggir jalan utama. Berhubung cukup lelah, maka sebelum lanjut harus diisi dulu dengan si hitam pahit yang nikmat.

Untuk bahan bakar diperjalanan, Irwan segera mempersiapkan beberapa bahan bakar dari air dan dikemas dalam botol dengan isi 600ml. Dengan bergabungnya pak Ibrahim, maka tim menjadi 5 orang. Masing-masing orang menerima bahan bakar dari air. Juga ada beberapa roti sebagai pengganjal lebih jauh.

Sekitar jam 1, tanpa didului dengan makan siang, tim berangkat lagi melanjutkan perjalanan. Pak Ibrahim naik keretanya bang Udi. Perjalanan diteruskan ke arah barat, pada jalan yang mengarah ke Tugu Km Nol. Lepas dari desa Iboih, maka sudah sulit ditemui rumah penduduk. Untunglah, saat dekat dengan jalan “masuk” ke lokasi durian Tengku, ada rumah penduduk di sisi kanan jalan, sisi yg dekat pantai. Segera titip kereta, dan siap melanjutkan dengan berjalan kaki.

Tim mengawali pendakian

Tim mengawali pendakian

Menuju lokasi memang harus ditempuh dengan berjalan kaki, karena jalannya adalah jalan setapak, dan, kata Pak Ibrahim, sangat terjal… Suatu berita yang tidak nyaman didengar apalagi saat tengah hari terik panas dan lain sebagainya… hehe…

Dari rumah penduduk tempat parkir kereta, segera nyeberang jalan dan mulailah tanjakan dengan kemiringan sekitar 20 derajat, dengan kondisi kanan-kiri semak belukar tinggi, jadi seakan jalan di dalam lorong panjang. Tim Pemburu Durian (TPD) berjalan dengan semangat tinggi, penuh dengan gurauan. Ini terjadi sekitar 50 meter pertama. Setelah melewati batas 50 meter pertama, suara yang terdengar dari tim sudah berubah, dan juga volumenya semakin kecil. Pada etape 50 meter kedua inilah, kemiringan meningkat tajam menjadi sekitar 40 – 50 derajat. Jalan setapak bukan lagi sekedar tanah dan rumput atau belukar, tapi juga sudah bercampur bebatuan besar dan beberapa harus melewati tumbangan kayu. Pepohonan juga sudah mulai tak terukur tingginya. Ini berarti mulai masuk yang namanya “hutan beneran”.

Saatnya mengisi bahan bakar

Saatnya mengisi bahan bakar

Pak Ibrahim dengan mantap berjalan di depan dengan kecepatan yang semakin lama “terasa” semakin cepat. Cepatnya luar biasa seperti artis Komeng saat tampil diiklan motor di TV. Dalam hitungan detik sudah gak tampak lagi dimana dia berada. Disini terlihat kecepatan relatif yang terjadi antara Pak Ibrahim dan sisa tim yang bukan orang gunung.

4 manusia yang tercecer di belakang hanya mampu meneriakkan Dji-Sam-Soe dalam melangkahkan dengkulnya, inipun dalam adegan slow motion. Begitu terlihat ada gerumpul batu besar di kerindangan kanopi hutan, segera 4 manusia tadi parkir untuk memanfaatkan bahan bakar dari air mineral yang telah disiapkan.

Bang Udi, yang biasa bermain di bawah permukaan laut sebagai diver, segera buka baju yang gak mampu lagi menyerap keringatnya. Saya sendiri merasa pedih sekali di bagian mata. Ini karena sang keringat yang muncul dari seantero ubun-ubun menyerbu daerah yang lebih rendah dan menerobos alis dan bulu mata, sehingga membanjir di mata… pedih… Sebagian lagi ngucur melalu bagian lain muka seperti mandi digerujuk air segayung. Sementara kondisi gak beda jauh juga dialami Irwan dan Fahmi… Bagaimana dengan Pak Ibrahim..? Mmm… gak ada bedanya seperti saat ketemu pertama di desa tadi… Edhian tenan…!

Lokasi Dren Tengku

Lokasi Dren Tengku

Satu dua kali pak Ibrahim berhenti untuk cari durian jatuhan dari beberapa pohon durian yang dilewati sambil memberi kesempatan kepada rekan timnya mengatur napas. Tapi durian gagal ditemui, beberapa sudut yang ditengarai ada, ditandai dengan baunya, nihil. Mungkin sudah keduluan oleh babi hutan yang memang berpopulasi luar biasa di daerah ini.

Sekitar 45 jam kemudian, eh maksudnya 45 menit perjalanan yang terasa 45 jam lamanya, sampailah TPD alias Tim Pemburu Durian di satu lahan terbuka. Sesuatu yang “menakjubkan” karena dari curamnya medan dan lebatnya pepohonan tiba-tiba muncul di suatu area terbuka, bersih dari belukar, dan yang tampak hanya pepohonan durian yang maha tinggi.

Mau tau kira-kira seperti apa..? Sila lihat video berikut:

Dan akhirnya… sampailah kami di lokasi yang tersohor itu, lokasi dari Durian Tengku, atau lengkapnya adalah Durian Tengku Chik. Lokasi ini berketinggian sekitar 140 dpl.

Posko petugas dren Tengku

Posko petugas dren Tengku

Konon, Tengku Chik adalah salah satu dari 44 Tengku yang pernah ada di Pulau Weh dan belaiulah yang pertama menanam durian di lokasi ini. Pesannya kemudian adalah untuk membolehkan semua orang memakan buah durian ini, tetapi tidak boleh memperjualbelikannya. Jika larangan dilanggar maka akan mengalami sesuatu yang sangat tidak menyenangkan. Pesan ini dijaga turun-temurun hingga kini.

Dan karena kekhususannya itulah maka Durian Tengku juga dikenal dengan nama Durian Keramat. Durian dikenal dengan sebutan dren oleh orang lokal.

Di tengah lokasi pepohonan durian yang berjumlah sekitar 25 – 30 pohon buesssarrr, ada dua buah gubuk kecil yang berguna untuk tempat menunggu para petugas. Petugas apa..?

Ya, mereka petugas khusus, bertugas untuk menjaga durian agar tidak dimangsa binatang seperti monyet dan babi. Durian yang boleh diambil adalah yang jatuhan. Sehingga saat ada suara berdebum, maka petugas tadi akan segera mengambil dan mengumpulkannya di dekat gubuk. Sistem penugasan diatur oleh petinggi desa, dalam hal ini ketua LKMD Kelurahan Iboih.

Yang masih di atas

Yang masih di atas

Tiap regu jaga terdiri dari 5-6 orang dewasa, dan dalam sehari dibagi dalam dua shift, yaitu shift malam dan shift pagi-siang. Durian yang dikumpulkan wajib dibagikan ke masyarakat desa Iboih, secara bergiliran, sehingga semua dapat merasakan kenikmatan sang Dren Tengku ini.

Dan bagi “pengunjung” yang nekat nanjak gunung untuk sampe di lokasi ini, boleh meminta durian yang ada untuk dimakan di lokasi saja. Salah satu pesan dari Tengku Chik, katanya, jika ada yang meminta maka wajib diberikan.

Mengikuti pesan Tengku itulah, tim PDT yang sedang mengatur napas dan berbahagia dengan pencapaian pendakian yang berhasil ini pun, sebenarnya, boleh-boleh aja minta durian yang sudah dikumpulkan para petugas itu. Tapi perasaan di hati lebih sreg kalo menunggu matang jatuhan aja.

Dan, alhamdulillah, gak lama kemudian terdengar beberapa suara berdebam.

Foto dengan durian jatuhan

Foto dengan durian jatuhan

Suara jatuh yang indah itu segera memacu para petugas penjaga, plus TPD tentunya, menuju asal suara. Benar saja, ada beberapa yang jatuh. Segera diambil dan dibawa ke gubuk penjaga. Satu yang dipungut oleh Fahmi dan Irwan segera menjadi primadona sebagai teman berfoto. Foto ini penting, karena sebagai bukti otentik bahwa tim sudah mencapai lokasi nan tersohor ini, hehehe…

Selesai acara foto-foto, lalu Irwan mencoba buka dengan pisau yang dipinjamkan petugas jaga durian. Karena memang sudah matang pohon, maka gak susah lagi untuk membukanya. Mmm… terlihat menarik bentuknya. Gak besar sih, tapi… segera berbagi isi dan menyantap.

Durian Tengku

Durian Tengku

Subhanallah, rasanya, ruarrr biasa… Sebagai salah satu penggemar durian, baru kali ini merasakan rasa yang khas sekali. Manis dan legit dan apa lagi ya… gak bisa diungkapkan. Lengkaplah kebahagiaan TPD, perjuangan dengan guyuran keringat dalam semangat “Dji-Sam-Soe slow motion” selama pendakian tadi langsung terbayar lunas. Ini durian jatuhan booo..! Dan bukan sembarang durian…!

Aksi makan durian tidak lupa diselingi dengan foto-foto untuk dokumentasi otentik. Karena, sekali lagi, ini bukan sembarang durian, ini durian keramat..! He he he…

Jika diperhatikan beberapa durian yang relatif kecil pohonnya, ada lapisan seng yang melilit di batang. Seng ini diikatkan memutari batang dengan ketinggian tertentu. Ini adalah salah satu cara mencegah monyet memanjat. Hmm… Monyet merupakan salah satu penggemar durian juga, rupanya…

Burung sedang berkicau

Burung sedang berkicau

Kebanyakan mengonsumsi durian saat badan letih dan sesiang ini belum terisi nasi mungkin akan bisa berakibat buruk. Jadi selesai memakan dua buah durian, TPD sudah merasa cukup puas. Selanjutnya adalah menikmati sejenak lingkungan lokasi durian keramat ini. Saat dirasa cukup, tim segera pamit pada para petugas dan segera turun dikecuraman jalan setapak. Kali ini kondisinya sangat berbeda dibandingkan saat berangkat. Kecepatan meluncur bisa mengimbangi pak Ibrahim…

Dalam perjalanan turun ini ditemui banyak binatang indah. Antara lain jenis unggas yang tidak bisa terbang berbulu hitam biru mengkilat dan berdada putih, bersarang disemak-semak, dan banyak lagi burung-burung yang lagi kongkow di pucuk-pucuk pohon. Entahlah namanya apa, tapi indah pasti.

Menikmati makan siang kesorean

Menikmati makan siang kesorean

Sesampai parkiran kereta, segera pamit dan berterimakasih dengan tuan rumah tempat penitipan. Sempat disangsikan oleh tuan rumah bahwa tim gak sampe lokasi durian, tentunya dengan becanda. Tapi tim menjawab dengan sigap dan disertai bukti-bukti otentik berupa foto… ho ho ho…

Sore yang indah ini diakhiri sebagian waktu di pantai Iboih nan indah, dan juga disempatkan “makan siang” yang kesorean di pantai Gapang. Sekitar jam 6:30, tim pulang kembali ke kota Sabang dengan kecepatan santai. Ini karena hari sudah gelap, plus sebagian jalan curam dan kondisi rusak berlubang, jadi diperlukan kehati-hatian ekstra.

Sayang sekali perjalanan kali ini tidak disertai oleh GPS, jadi gak tau lokasi tepatnya pepohon dren Tengku tadi. Tapi mungkin kira-kira bisa diraba pada Google Maps (sila klik disini).

Alhamdulilah, perburuan durian keramat telah berhasil, dengan kepuasan yang memuncak.

Terimakasih untuk bang Udi, Irwan, Fahmi, dan juga Pak Ibrahim yang telah menemani menikmati salah satu keindahan karunia Nya berupa durian keramat di Iboih.

Tim Pemburu Durian di lokasi Dren Tengku Chik, Iboih.

Tim Pemburu Durian di lokasi Dren Tengku Chik, Iboih. Ki-ka: Htt, Fahmi, Udi, Irwan, Ibrahim.

Beberapa foto dapat dilihat di FaceBook.