Tags

, , , , , , , , ,


Fire party

Fire party

Palembang, sepuluh tahun lalu dan kini sudah terlihat berbeda. Saat tahun 1998 berkunjung, kunjungan untuk keperluan keluarga, belumlah sebanyak kini gedung tingginya. Kunjungan kali ini dalam rangka melihat daerah panas yang menjadi sumber “komoditi ekspor” tahunan kita, asap.

Hot spot, menjadi kosa kata yang demikian populer saat ini di Indonesia, terutama untuk beberapa provinsi penghasil asap. Kata orang, ada asap ada api. Pada kenyataannya, api tidak selalu terlihat karena sering bersembunyi di dalam lapisan tanah (gambut) dan membiarkan asap berpesta ria di permukaan.

Kota Palembang, saat ini, sudah termasuk kota “yang terbiasa” dengan aroma sangit dari asap bakaran lahan. Sang asap rupanya tidak ketinggalan ingin meramaikan Visit Musi 2008 yang sedang berlangsung.

Pembakaran lahan merupakan kegiatan rutin tahunan, yang sulit dikendalikan. Masalahnya demikian kompleks hingga para pengambil keputusan di balik meja dan pelaksana di lapang selalu bekerja efektif hanya pada saat pemadaman, bukan pada pra kondisi. Dengan kondisi demikian, maka produksi asap akan langgeng… Mungkin hanya orang yang berpikiran sederhana yang mampu menyelesaikan masalah asap ini dengan bijak…

Markas GALAAG Daops III OKI

Markas GALAAG Daops III OKI

Saat berkesempatan jalan ke Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), diantar oleh mbak Iis, rekan dari SSFFMP (South Sumatera Forest Fire Management Project, terimakasih mas Ichin dan mbak Iis atas bantuannya), dalam perjalanan sering sekali ditemui asap mengepul dari hasil pembakaran lahan. Lahan yang ditumbuhi rerumput/belukar akan sangat cepat (dan murah) jika dibersihkan dengan bantuan sepercik api saja.

Di OKI, akhirnya sempat mampir di markas Brigade khusus pengendalian kebakaran hutan, yaitu Manggala Agni (disebut juga GALAAG) Daerah Operasi III di provinsi ini. Brigade ini bentukan Departemen Kehutanan dan ditugaskan di beberapa provinsi yang rawan kebakaran. Tupoksi (tugas pokok dan fungsi) mereka lebih kepada pengendalian kebakaran hutan pada daerah konservasi.

Tugas yang “hanya” pada kawasan konservasi membatasi gerak mereka saat mana terjadi kebakaran lahan. Dari pengalaman mereka sejak 2006, kebakaran justru lebih sering terjadi di lahan (milik penduduk dan perkebunan), bukan di kawasan konservasi. Untuk itu mereka melakukan kerjasama yang cukup erat dengan pemerintah setempat dalam hal operasional di daerah nonkawasan konservasi.

Kendaraan GALAAG

Kendaraan GALAAG

GALAAG di Daops III ini mempunyai tugas khusus dalam melindungi Kawasan Konservasi Padang Sugihan. Daerah yang bertanah gambut menjadi tantangan berat dalam proses pemadaman api jika terjadi di kawasan tersebut. Lapisan tanah gambut yang dapat “menyimpan” api di bawah permukaan menyulitkan operasi pemadaman.

Untunglah brigade GALAAG sudah sangat terlatih. Pada markas Daops III ini mereka terdiri dari 4 regu, dimana masing-masing regu terdiri dari sekitar 15 orang. Selain dibekali cara-cara pemadaman untuk kondisi khusus lahan gambut, mereka juga mengenal pemakaian alat perekam posisi GPS sehingga dapat diplotkan pada peta lokasi mana saja yang sedang terbakar.

Log mereka juga mencatat kondisi pemadaman hari per hari jika pemadaman harus dilakukan lebih dari sehari. Terimakasih untuk Pak Tri Prayogi dan mas Deni Candra Gumelar atas sambutan yang hangat, sehangat hotspot hehe…, dan keterangannya tentang aktifitas GALAAG.

Pembakaran lahan

Pembakaran lahan

Saat kami meninggalkan markas GALAAG, tidak jauh, sedang terjadi pembakaran lahan. Terlihat beberapa orang (penduduk?) yang sedang berusaha mengendalikan api. Tapi… sampai kapan mereka berada di lokasi tersebut menanti selesainya tugas si api membersihkan lahan mereka? Api tidaklah gampang untuk digembala layaknya kambing atau sapi.

Saat ditinggal oleh para “pengawas” tadi nantinya, ada besar kemungkinan api segera jalan-jalan lagi memilih lokasi tetangga. Ironis, ini berlokasi dekat sekali dengan markas petugas. Bisa dibayangkan betapa beratnya para punggawa GALAAG dalam menghadapi situasi dan kondisi semacam ini.

Dalam perjalanan kembali ke Kota Palembang, matahari sudah lenyap dari pandangan. Dan dalam durasi 2,5 jam waktu tempuh, disajikan beberapa pemandangan fire spot yang sangat menarik.

Api yang sedang berpesta

Api yang sedang berpesta

Api yang sedang berpesta melahap renyahnya rerumput kering sangat terlihat jelas. Hal ini langsung mengingatkan saat tahun 1999 saya sempat berada di tengah bukaan lahan maha luas, gambut sejuta hektar, di desa Dadahup, Kalimantan Tengah. Api dan api dan api dimana-mana membakar lahan tanpa terkendali.

Tontonan alam ini sangat menarik perhatian. Hampir di setiap fire spot saya dan tim berhenti, sedikit foto-foto kemudian jalan lagi. Mmm ngeri juga lihatnya.

Kebayang jika api berjalan dengan mantap ke perkampungan terdekat, maka bahaya dahsyat yang akan terjadi. Angin adalah salah satu yang akan memberi kontribusi cukup signifikan dalam penyebaran titik api ini.

Fire spot

Fire spot terlihat dari pesawat sesaat lepas landas

Maraknya pembakaran lahan menjadi penyumbang rasa asap bagi wilayah Sumatera Selatan bagian Timur dan Utara. Kota Palembang menjadi kota besar pertama yang akan tersiksa, sebelum kemudian sang asap bergabung dengan sesamanya dari Jambi dan Riau kemudian berjalan lebih jauh lagi ke Singapore dan Kuala Lumpur.

Sesaat meninggalkan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dengan menumpang pesawat “We make people fly“, lepas waktu maghrib keesokan harinya, dari jendela pesawat saya sempat intip keluar dan terlihatlah beberapa fire spot. Titik-titik api yang sedang menari-nari sambil menyebarkan asap kesegala penjuru.

Entah sampai kapan masalah kebakaran ini dapat teratasi dengan baik dan benar. Yang diperlukan tampaknya bukanlah lagi hardware dan software serta brainware saja… tetapi juga harus ditambah dengan heartware yang baik…

: )

Beberapa foto dapat dilhat pada album di Facebook.