Tags

, , , , , ,


Metani data di HD

Metani data di HD

Beberapa hari lalu, Senin malam, saya melaksanakan niat yang telah muncul lama, yaitu “memperluas” volume harddisk (HD) komputer di rumah. Saat ini dalam komputer terpasang 3 buah HD (80GB, 120GB, 250GB – diurut sesuai umur), dimana yang menjadi master adalah HD berkapasitas 80GB jadul. HD ini dibagi lagi menjadi 2 partisi yaitu 20 dan 60GB, dimana bagian yang 20GB dijadikan sarang utamanya sistem operasi. Ini merupakan skenario 4 tahun lalu yang masih berjalan hingga kini, dimana saat itu mempunyai anggapan bahwa 20GB cukuplah sebagai sarang utama sistem operasi. Ternyata skenario jadul harus diubah, karena jelas-jelas semakin banyak perangkat lunak yang digunakan jaman ini memakan ruang yang luas dan memaksa pemakaian ruang yang lebih lega untuk sarang tinggalnya.

Kesimpulan adalah partisi harus digabungkan menjadi satu dan kapasitas 80GB akan digunakan sepenuhnya sebagai si “C”. Untuk niat ini akhirnya dipilihlah perangkat lunak Norton PartitionMagic 8.0 untuk menyatukan antara bagian “C” dan “D”. Maka segera pasang dan jalankan NPM dengan sangat yakin akan tingkat keberhasilannya (Norton adalah nama andalan untuk perbaikan sejak kenal pertama saat komputer masih bermesin XT286).  Waktu pelaksanaan dipilih tengah malam untuk menghindari tabrakan kepentingan penggunaan komputer oleh penghuni rumah yang lain (yang selalu setia ngantri… he he he…).

Mmm sebelum menjalankan NPM, sempat juga terpikir untuk memindahkan dokumen (data satelit, GIS, foto, dll) yang ada di HD pada sisi 60GB ke HD lain. Sayang sekali HD lain sudah fakir GB sehingga hanya sebagian kecil yang bisa dipindahkan. Tetapi dengan anggapan NPM bisa mengatasi pekerjaannya dengan baik, yaitu dengan mengubah luas bagian “C” sekaligus memindahkan yang ada di “D” ke “C”, maka segeralah NPM dijalankan.

Waktu proses diberitakan pada layar akan memakan waktu yang cukup lama, jam-jaman, jadi tinggalkan komputer dalam prosesnya, segera tidur dengan nyaman.

Pagi sekitar jam 4 segera bangun untuk cek kondisi. Proses dinyatakan selesai dengan catatan ada kegagalan dalam menulis “sesuatu”. Karena gak jelas, maka segera reboot sesuai arahan pada layar. Saat sudah kembali ke kondisi normal, segera cek isi di “C”. Dan … … … (gak bisa ucap apapun). Ternyata kapasitas “C” masih sama dengan semula yaitu 20GB, dan si “D” sudah lenyap tak berbekas. Proses penyalinan data dari “D” ke “C” seperti sangkaan semula ternyata salah. Data di “D” hilang tak berbekas. Partisi dinyatakan sudah tidak ada.

Kebayang segera kehilangan yang sangat. Data satelit yang ada mungkin masih bisa dicari backupnya. Hasil kerja dalam format GIS tentunya akan sulit dicari backupnya, tetapi masih mungkin. Yang nggak tergantikan tentunya adalah foto-foto. Ini adalah, antara lain, dokumentasi keluarga selama 10 tahun terakhir yang merekam segala aktifitas dimana banyak diantaranya sangat penting. Total koleksi foto dijital ini sekitar 45GB.

NPM segera dijalankan kembali. Ada pilihan dalam menunya untuk meng-undelete partisi yang masih terdeteksi. Beberapa kali dicoba menghasilkan kepanikan yang bertambah karena selalu dinyatakan gagal. Dalam kepanikan segera ingat akan perangkat lunak data recovery yang sempat dikumpulkan. Pilihan pertama pada “Stellar Phoenix FAT-NTFS“. Pilihan ini didasarkan pada pengalaman saat dua tahun lalu data pada HD di kantor, yang berkapasitas 120GB, bisa dipulihan dari kehancuran. Segera dicoba dalam beberapa pilihan… dan Selasa pagi itu, yang menyisakan waktu sempit karena harus segera meninggalkan rumah untuk survey ke lapang, diwarnai lagi dengan ketidakberdayaan sang peranti lunak dalam membaca isi partisi yang telah terhapus.

Berhubung waktu habis sedangkan komputer tetap akan dipakai untuk keperluan penghuni rumah seharian ini, dan dengan asumsi “data masih ada” di “partisi yang hilang”, maka pemulihan data segera dihentikan. Untunglah komputer masih bisa berjalan normal, dan apapun prosesnya (proses yang normal) tidak akan mengganggu si “D” yang sedang bermasalah itu, sehingga masih ada harapan untuk menyelesaikan pemulihan data lain waktu. Tidak takut akan “tertimpa” penulisan secara tidak sengaja.

Proses metani sedang berlangsung

Proses metani sedang berlangsung

Selasa tengah malam, sepulang dari tugas survey lapang di Karawang, segera ngoprek lagi. Kali ini akan dicoba perangkat lain, yaitu: “EasyRecovery“. Setelah coba liat-liat kemampuannya, kemudian pilih salah satu opsi dan tunggu hasilnya. Dari keterangan di layar terlihat bahwa data pada partisi yang hilang… TERBACA..!!! Wow..!!!

Dan berhubung proses cukup lama maka segera tinggal tidur dengan hati lumayan lega. Setidaknya ada harapan data akan terbaca dan bisa dipulihkan lagi.

Bangun pagi, proses selesai, pada daftar yang ada terlihat banyak file yang bisa dibaca kembali, walau baru dalam daftar saja, belum benar-benar dipulihkan. Segera simpan hasil pencarian tersebut, dengan harapan dapat dilakukan pemulihan saat waktu lain. Pagi adalah waktu terpendek karena jam 6 harus sudah meninggalkan rumah.

Akhirnya, malam ini, proses metani data yang terkubur di partisi dilakukan. EasyRecovery mengelompokkan data dalam folder-tree berasarkan ekstensi. Dengan penamaan file adalah nomor urut penemuannya. Ini tentunya akan menambah pekerjaan saat memilah-milah kembali data yang pulih, dan bukan pekerjaan ringan. Tapi kepulihan merupakan hal utama, jadi lupakan dulu pemilahannya, itu urusan nanti he he he… Yang pertama dicoba adalah file dengan ekstensi JPG. Dan proses memakan waktu sekitar 3 jam untuk membaca dan merekam file-file JPG ke folder pada HD yang masih aktif.

Alhamdulilah, data berhasil didapat kembali. Senang banget, walaupun juga sudah kebayang repotnya memilah data yang terpulihkan ini. EGP lah, itu urusan nanti…

: )