Tags

, , , , , , , , , ,


Mindmap @ Wikipedia

Mindmap @ Wikipedia

Mengutak-atik cara berpikir otak manusia adalah salah satu bidang kajian psikologi yang menarik. Hal ini, katanya, sudah tercatat dalam sejarah sejak abad ke-3 Masehi.

Akhir-akhir ini buku tentang Mind Maps seakan membanjiri toko buku di Indonesia. Berbagai judul, yang isinya sudah di-Indonesia-kan, terserak di tempat pajang utama. Salah satunya yang sempat saya beli dua bulan lalu adalah Gembira Belajar dengan Mind Mapping tulisan Femi Olivia.

Disebutkan pada bagian awal adalah pengembang teori Mind Mapping ini, yaitu pak Tony Buzan. Dijelaskan juga dengan baik mengenai kebiasaan “buruk” (atau yang umum dilakukan sejak SD) metode anak-anak dalam mencatat. Pada bagian selanjutnya, tentunya, juga disebutkan keunggulan metode Mind Mapping. Apakah Mind Mapping..? Untuk mengetahui secara umum sila baca tentang Mind Mapping di Wikipedia. Dalam buku ini dijelaskan cukup banyak dan gampang dimengerti, antara lain, tentang cara berpikir lurus dan cara berpikir memencar.

Cara berpikir lurus mengajarkan anak agar bisa berfikir fokus, berurut, dan sistematis, katanya. Caranya banyak sekali, misalnya: “jika kamu melihat apel maka apa yang terpikir olehmu..?”. Jika jawabannya adalah “ulat” (mungkin karena si anak pernah makan apel yang ada ulatnya), maka pertanyaan serupa ditanyakan kembali, “jika kamu melihat ulat apa yang terpikir olehmu..?”. Jika jawabannya adalah “kupu-kupu” maka pertanyaan berikutnya adalah “jika kamu melihat kupu-kupu apa yang terpikir olehmu..?”, dan seterusnya.

Semua jawaban bisa dituliskan atau juga bisa digambarkan sbb:

Apel -> ulat -> kupu-kupu -> dst dst

Bahan baku permainan

Bahan baku permainan, ehm.

Nah, berhubung mbaca bukunya Femi Olivia baru sampai tentang “berpikir lurus”, maka tadi pagi saya ajak Alta dan Qila bermain Mind Mapping dengan versi modifikasi. Langkah pertama yang disiapkan adalah suasana. Ini hal yang sangat penting dalam melibatkan kedua krucil ini dalam mengenal permainan baru. Untuk membuat mereka tertarik, saya gunakan bahan-bahan: Permen Chacha produk Delfi yang berbentuk bulat pipih dan mempunyai 5 warna berbeda (merah, orange, coklat, kuning, dan hijau). Juga dilengkapi dengan tiga buah spidol dengan warna berbeda (masing-masing pegang salah satu, merah, hitam, biru) dan papan tulis putih.

Alta dan Qila berperan sebagai penebak warna Chacha, sedangkan saya sebagai “bandar” yang pegang bungkus Chacha dan memilih secara acak 2 butir Chaca, tergenggam, yang akan ditebak warnanya oleh mereka. Krucil berhak menebak dua warna yang berlainan, misal: Alta tebak merah-coklat, sedangkan Qila tebak kuning-hijau. Jika yang keluar adalah merah dan coklat, maka Alta berhak atas kedua butir permen dan punya kewajiban dua kali jalan berurut. Begitu juga kalau yang keluar adalah kuning dan hijau, maka Qila mempunyai kewajiban dua kali jalan. Tetapi jika yang tertebak adalah hanya satu warna maka kewajiban jalan hanya satu kali. Jika tidak ada yang tertebak maka giliran bandar yang jalan.

Apa yang dijalankan..?

Bermain sambil ber-Chacha

Bermain sambil mengunyah Chacha

Saat kesempatan pertama, Qila yang jalan. Dia mendapat satu butir Chacha dan berkewajiban menuliskan atau menggambarkan sesuatu di papan tulis dengan spidol warna pilihannya (dia pegang spidol merah). Dia menuliskan “papan jalan”. Tebakan kedua, Qila lagi yang menang, dan satu Chacha lagi didapat, dengan menuliskan sesuatu yang berhubungan dengan “papan jalan”. Dia menuliskan “kertas”. Giliran berikutnya ternyata bandar yang jalan, kemudian menuliskan dan menggambarkan (dengan spidol hitam) sesuatu yang berhubungan dengan kertas, yaitu “ink“.

Tiap langkah yang dilakukan pemain selalu digambar atau ditulis dengan warna spidol masing-masing. Sesuatu yang terpikirkan berhubungan dengan “sesuatu sebelumnya” boleh digambar atau dituliskan atau keduanya. Jika dituliskan sebisa mungkin dalam bahasa Inggris atau Arab (dua bahasa yang krucil pelajari di sekolah).

Apa yang terjadi pada 15 langkah pertama..? Urutan yang ada adalah: papan jalan -> kertas -> ink (gambar) -> pen (gambar) -> school -> student -> ikhwan -> upacara -> flag (gambar) -> tower (gambar) -> cable (gambar) -> listrik (lambang petir) -> computer (gambar) -> keyboard (gambar) -> hand (gambar).

Chacha belum habis… permainan terus berlanjut dengan semakin seru. Karena pada saat peserta berkewajiban berpikir dan menggambar atau menulis “sesuatu” di papan tulis maka hal itu dilakukan sembari mengunyah Chacha yang enak… he he he…

Hasil akhir

Hasil akhir

Tanpa sadar, Chacha pun akhirnya ludes. Tulisan atau gambar yang berwarna-warni, merah – hitam – biru, sudah hampir memenuhi papan tulis. Segera masing-masing peserta menghitung jumlah dari warna masing-masing. Dan hasilnya adalah: warna merah (Qila) ada 25 buah, Biru (Alta) ada 22 buah, dan bandar (hitam) cuma dapat 10.

Seru, seru, dan seru… setidaknya itu yang terlihat dari semangat dan raut muka para krucil. Permainan mind mapping dalam metoda “berpikir lurus” (yang dimodifikasi) bisa dicobakan dengan lancar… hehehe…

Rupanya hal baru ini cukup menarik. Terbukti permainan kemudian diulangi pada sore dan malam harinya. Kali ini bahan baku bukan Chacha lagi (karena sudah habis tadi pagi). Sebagai pemutar kesempatan adalah dengan menggunakan kartu permainan hasil koleksi dari hadiah Susu Bubuk Fristi produksi Frisian Flag. Kartu dikocok, kemudian dibagikan dan dipilih yang mempunyai nilai terkecil.

Permainan saat sore hari

Permainan saat sore hari

Permainan sore ini berjalan lebih lancar. Alta dan Qila sudah bisa lebih cepat mencari hubungan antarobyek yang ada.

Beragam pemikiran

Beragam pemikiran di sore hari

Dan sehabis sholat maghrib, lagi-lagi permainan diteruskan. Pemutar kesempatan tetaplah menggunakan kartu Fristi.

Bandar kalah lagi, hiks...

Cukup sudah bermain mind mapping hari ini. Semua capek dan senang. Pada putaran terakhir “bandar” kalah lagi, hehehe… Tapi puas sudah berhasil mengajak mencoba permainan baru dan para peserta sangat antusias mengikuti.

Lain waktu akan dicoba metoda lain dari mind mapping, yaitu “berpikir memencar”, yang, katanya, mengajarkan anak belajar asosiasi dan global.

Tapi mesti beli Chacha dulu dah…

: )

/* Kutipan di buku, katanya: sebenarnya yang bisa menjadi guru yang “terhebat” bagi anak anda adalah Anda Sendiri.