Tags

, , ,


Gempa 10 Sep 08 di NAD

Gempa 10 Sep 08 di NAD

Gempa bumi sudah menjadi “barang ngepop” dikehidupan kita saat ini. Hampir semua orang di negeri ini pernah mendengar kata “gempa”. Para ahli yang berkutat pada masalah gempa pun menjadi narasumber yang sangat diperhatikan saat ini. Semua ini karena terkait dengan nyawa manusia dan hasil karya manusia yang dapat hilang karena akibat dari peristiwa gempa itu sendiri.

Hampir di seluruh muka bumi nusantara ini pernah digoyang oleh gempa, baik yang disebabkan oleh proses vulkanik ataupun tektonik. Hal yang “lumrah” mengingat posisi negeri tercinta ini pada jalur gempa dunia. Begitu juga yang dialami di sebagian wilayah Prov NAD pagi ini sekitar jam 7:18 (yang berpusat di Lat 2.470 dan long 96.029, magnitude 5.2) (sumber: bmg.go.id)

Bagaimana rasanya gempa, hampir semua orang bisa melukiskan. Bagaimana rasanya gempa di ketinggian gedung..? Ini yang pernah saya rasakan beberapa kali. Jakarta telah seringkali digoyang oleh si gempa sejak satu dekade terakhir, dan saya mengalami 3 kali diantaranya saat saya masih berada di ruang kerja, di lantai 20. Mmm… cukup tinggi juga…

Saat pertama mengalami adalah sekitar akhir 90an. Goyang yang terasa cukup memusingkan kepala, dan membuat semua barang berderak. Reaksi saat itu adalah: lari! Kemana..? turunlah, melalui tangga darurat. semua lift yang ada (5 buah) mati atau dimatikan. Menuruni tangga 20 lantai (plus satu mezanin, jadi total 21 lantai) dilalui tanpa ada hambatan berarti, kecuali kepadatan rekan-rekan penghuni gedung yang berlomba turun pada jalur yang sama. Untunglah gak terlalu panik jadi gak ada dorong-dorongan massal di jalur tangga darurat.

Sesampai di bawah, sudah banyak (mungkin hampir semua) penghuni gedung menyebar di halaman. Setelah beberapa saat, barulah kembali ke ruangan, kali ini dengan lift yang telah dioperasikan kembali. Akibat nyata dari peristiwa hari itu adalah pada keesokan harinya: betis sakit… Turun 21 lantai dengan kecepatan tinggi dan ketegangan tinggi juga berakibat ke betis. Sakit boo…

Saat kejadian kedua, ntah tahun berapa, lupa, reaksi yang terjadi sudah beda. Begitu gempa terasa, semua berderak, goyangan memusingkan dimulai. Segera cari perlindungan ke bawah meja. Ini sesuai petunjuk yang diinfokan, bahwa perlindungan pertama adalah ke bawah meja. Untuk menghindari jatuhan benda (langit-langit atau yg lain) ke kepala atau badan kita. Jadi nongkrong di kolong meja sampai goyangan selesai. Setelah itu ya udah, gak perlu lari ke tangga darurat lagi… selamatlah betis, hehehe… Entahlah dengan rekan-rekan lain yang segedung.

Kejadian ketiga juga demikian. Cukup nikmati saja alunan atau goyangan gedung sampai berhenti sendiri. Cukup nongkrong di bawah meja dan pasrah aja lah…

Yang asiknya adalah maraknya poster tentang gempa pascabencana Aceh pada Desember 2004. Banyak sekali pihak seolah berlomba membuat poster tentang cara-cara penyelamatan diri jika si gempa berkunjung. Poster yang tentunya sangat berguna bagi sosialisasi kepedulian penyelamatan diri dari akibat gempa. Tapi entahlah kemana perginya poster-poster itu saat ini, gak ada yang keliatan lagi. Mungkin musim poster sudah lewat.

Tapi ada satu poster yang selalu saya ingat, dan sayangnya gak sempet diabadikan dalam foto.

Poster ini buatan berbagai instansi/LSM, dan gambarnya cukup menarik. Tulisannya gampang dibaca dan mudah dimengerti dan ditempel di dekat lift gedung saya yang berlantai 21 plus 1 mezanin. Selalu terlihat jelas saat menunggu antrian lift. Dari info yg ada pada poster tersebut ada satu hal yang saya gak bisa mengerti sampai saat ini. Saat terbaca pada bagian saran yang harus dilakukan saat terjadinya gempa, yaitu: JAUHI GEDUNG BERTINGKAT.

Mmm… sampe sekarang masih belum ngerti, maksud kalimat tersebut apa. Ini terkait dengan lokasi kerja saya yang berada di lantai 20, gedung bertingkat…

: )