Tags

, , , , , , , ,


Indahnya Pelangi

Indahnya Pelangi

Hampir setahun yang lalu karya mengejutkan dari seorang bukan-penulis, Andrea Hirata, terbaca (sila ke: Penyegaran dengan Cinta dan Pelangi). Kemarin (6 Oktober) menyempatkan diri melihat hasil transformasi karya tulisan si Andrea ke dalam gambaran visual dilayar lebar hasil dari Riri Riza. Judulnya, dan juga “font”-nya tetap dipertahankan sama dengan novelnya, yaitu Laskar Pelangi (sila liat situs resmi: Laskar Pelangi – the movie).

Saat membaca buku Laskar Pelangi pertama kali, banyak hal “meledak” yang ditemukan. Baik dari gaya narasi maupun pelukisan tiap fragmen kecil dengan detil tanpa bisa ditebak arahnya. Satu hal yang sangat menggores dan mampu meneteskan air mata adalah saat menikmati Elvis has left the building (Bab 30). Tetesan air mata serupa juga terjadi saat menikmati film ini dalam kesejukan studio XXI di Botani Square, kemarin. Dan juga terjadi saat Lintang mengakhiri peran sentralnya di dalam Laskar Pelangi. Saat melihat fragmen ini, saya benar-benar membayangkan ketika saya membaca tulisan Andrea, dan tentunya mengembangkan imajinasi, begitu gampangnya tunas terpapas tanpa bisa melawan jalan hidup.

Mmm, stop tentang Laskar Pelangi. Karena bukan itu tujuan utama coretan kali ini.

Masih tentang dunia pendidikan, dan ini adalah napak tilas saat mana, dahulu kala, mungkin semasa dengan yang diceritakan oleh Andrea dalam kehidupannya di Belitong, saya menjalani pendidikan sekolah kanak-kanak, dasar dan menengah pertama. Napak tilas ini bisa terjadi saat minggu lalu mengikuti trend yang sedang terjadi, yaitu mudik, walaupun sebenarnya sudah gak punya kampung halaman lagi. Tapi karena merasa pernah menikmati keindahan di suatu tempat maka boleh dong dianggap sebagai “kampung halaman” dan dijadikan tujuan mudik… hehehe…

Nge-Plurk sepanjang jalan

Nge-Plurk sepanjang jalan : )

Perjalanan diawali hari Kamis, 2 Oktober. Dengan mengendali kuda hitam, GranMax 1.3, dimulailah (pura-pura) mudik ke kampungnya orang lain… Perjalanan relatif sangat lancar, tol Bogor – Jakarta – Merak sepi, dan tanpa antrian di Merak saat memasuki kapal Feri. Laut pun tenang, gak ada angin ataupun ombak yang berarti. Cuma tertahan saat kapal akan rapat ke Bakauheni, antri pelabuhan.

Malam Jumat inap di rumah saudara, di Tanjung Karang (terimakasih om Uci atas penerimaannya yang sangat menyenangkan). Sebelum sampai di tempat inap, sempat juga sedikit keliling beberapa tempat “bersejarah”. Antara lain adalah (mantan) rumah ortu, dimana pada jaman dahulu kala, beberapa waktu setelah lahir, kemudian tinggal dan besar di rumah ini hingga usia kanak-kanak. Rumah ini terletak di jalan yang dulu bernama Arif Rahman Hakim, dan sekarang sudah berubah menjadi Jalan Wijaya Kusuma. Sayang sekali bentuk rumah sudah diubah oleh pemiliknya, sehingga nilai nostalgianya berkurang…

Jumat siang, si kuda hitam GranMax dipacu ke arah utara. Start dari perumahan Permata Biru, Sukarame, perjalanan ke bekas ibu kota Lampung Tengah, yang sekarang menjadi Kota Metro dilalui melewati jalan alternatif. Menembus hutan (perkebunan) karet yang luas dan rindang. Asik juga, walau banyak lubang di jalan. Sesampai di Metro, sempat ke rumah kediaman mas Udet (walau tuan rumah lagi pulkam ke Palembang). Setelah itu ke makam Mbah Kakung Ngadenan dan Ayah Manan.

TK dan SD Xaverius

TK dan SD Xaverius

Setelah dirasa semua kewajiban atau tujuan tercapai, barulah mencoba napak tilas sejenak. Apa yang dituju sekarang..? Antara lain adalah sekolah-sekolah dimana dulu sempat menggali ilmu saat pertama mengenal formalitas pendidikan.

Tatapan sesaat pada gedung sekolah yang gak pernah berubah sejak tahun 1976, TK dan SD Xaverius Metro (wow… 32 tahun lalu) kembali me-refresh ingatan saat laluuuu sekali. Gedung ini masih seperti yang dulu. Dinding yang tinggi, dengan jendela “bagian belakang” yang tinggi juga. Bentuk atap yang mengerucut dan dilapisi genteng khas bangunan masa lalu.

Di sinilah saat tahun 1975-76 saya ikut pindah “mengikuti” pekerjaan ortu dan mengenal banyak hal. Sebelum di sini, sempat mampir juga di Lahat (Sumatera Selatan) selama sekitar 2-3 tahun, setelah sebelumnya mengawali kehidupan di Tanjung Karang.

TK Xaverius, gedung dimana saya bermain dulu, sudah berubah. TK memang tempat bermain. Semua kegiatan dilakukan dengan bermain. Walau permainan paling top adalah ban mobil dan ban motor yang digelindingkan sana kemari.

Dulu gedung TK menjadi satu dalam komplek gereja Katholik, sekarang sudah dalam komplek sekolah. Sedangkan gedung SD, seperti yg sudah disebutkan, gak ada perubahan, setidaknya itu yang terlihat dari luar.

Jendela tinggi

Jendela tinggi

Jendela yang tinggi mengingatkan saat piket, dimana yang kebagian piket harus membersihkan kaca jendela, pakai sapu pembersih langit-langit yang bertangkai panjang. Cukup melelahkan bagi anak-anak seusia SD, tapi tetaplah asik karena semua kegiatan selalu bisa dijadikan “mainan”…

Ingat SD tentunya ingat para guru. SDX (sebutan singkat untuk SD Xaverius) punya guru-guru yang tangguh pada jamannya. Ada Pak Salio yang mengajar Kesenian dan IPA, Pak Dartin, Pak Saidi, Pak Topo, Pak Waluyo, Pak Tugio yang mengawal Bahasa Indonesia, ada bu Marjila, ada suster… (akan saya coba buat daftarnya di bawah, perlu bantuan mas Didi yang juga jebolan sini nih).

Mereka semua tipikal guru pendidik yang handal, karena yang dihasilkan bukan hanya nilai (yang sangat bersaing untuk tingkat Kabupaten dan Provinsi) tapi juga semangat untuk terus maju dan menjadi yang terbaik secara jujur. SDX adalah SD swasta yang jauh dari fasilitas “khusus” seperti SD Negeri yang saat itu umumnya berisi anak para pejabat Pemda Lampung Tengah.

Para guru SDX, mungkin, memiliki semangat seperti ibu Mus-nya Laskar Pelangi, dalam bentuk lain.

Beberapa kali saat ke Metro ingin rasanya ketemu dengan mereka lagi. Mungkin sebagian sudah kembali ke sang Pencipta (begitu denger-denger dari beberapa sumber) mengingat saat itu umur mereka sudah lumayan tua. Sejak lulus tahun 1979, baru sempat ketemu sekali dengan Pak Salio, saat datang ke rumahnya di dekat SPBU arah kota Pekalongan. Beberapa kali datang kemudian gak sempat ketemu lagi.

SMPN 1 Metro

Wajah SMPN 1 Metro kini

Sasaran berikutnya adalah SMP Negeri 1, yang berlokasi relatif di tengah kota. Masuk sekolah ini tahun 1979, tanpa katabelece, hehehe… Lulusan SDX pasti diterima karena memang jaminan mutu… ehm ehm ehm…

Saat itu kelas 1 masuk siang, jadi kegiatan belajar mengajar dimulai jam 13:00 (kalo gak salah). Sedangkan kelas 2 dan 3 masuk pagi. Pak kepala sekolah saat itu adalah pak Djemingun, tegas dan keras, sangat ditakuti oleh semua murid, termasuk anak para pejabat yang biasanya “kelihatan nakal” (hampir semua anak pejabat masuk di sekolah ini).

Saya hadir sebagai bagian dari “kaum marjinal” dilihat dari sisi asal sekolah, swasta. Akhirnya, saya ditempatkan di kelas 1-G (saat itu kelas satu dari A sampai H, ada 8 kelas). Kelasnya agak dibawah dan rentan air hujan. Kelas 1-A adalah kelas khusus, yang sebagian besar berisi anak-anak ranking dari semua SD Negeri di Lampung Tengah yang diterima di SMP ini.

Wali kelas-1 saya adalah bu Juriah, pengajar Bahasa Inggris, yang cukup piawai mengatasi kenakalan anak-anak “marjinal” tadi… Dari beliaulah pertama kali saya mengenal Bahasa Inggris. Kelas 1 SMP baru kenal Bahasa Inggris… bandingkan dengan anak-anak saya sekarang saat Taman Kanak-Kanak Bahasa Inggris sudah jadi makanan sehari-hari…

ekskul jaman sekarang

ekskul jaman sekarang

Saat SMP banyak kegiatan menarik yang ada, dan yang favorit adalah Pramuka. Praja Muda Karana di SMP ini mempunyai nama Trisula Pamungkas, dan sangat disegani di seantero Provinsi Lampung. Trisula Pamungkas sangat solid dan mampu menerobos jajaran elite pramuka di ibukota provinsi, untuk kemudian ikut serta berkiprah di tingkat Nasional. Beberapa pengalaman unik mungkin akan menjadi bagian nostalgia di posting yang lain, kelak.

Selain bu Juriah, banyak guru yang lain, yang mempunyai kapasitas pengajaran ok punya. Ada Pak Dimyati (penguasa lab fisika), Pak Sumarsono (biologi), Pak Toto, Pak Djoko, Pak Rusli, Pak Heri… (sekali lagi, mbuat daftar para guru ini mesti dibantu mengingat oleh mas Didi yg juga jebolan SMP ini. sambil jalan diedit ah…).

SMP adalah saat penuh dengan “pemberontakan”, dan untungnya saya mempunyai para guru yang (disengaja atau tidak oleh mereka) mampu meredam dan mengarahkan dengan baik. Juga ditunjang dengan hebatnya rekan-rekan seperjuangan di Trisula Pamungkas. Semua kondisi ini saya sadari jauh hari setelah meninggalkan masa SMP. Pembentukan kepribadian terasa sangat terasah saat menjalani kehidupan di SMP. Belajar bagaimana bangga bukanlah rekayasa, tapi hasil usaha dari keberadaan apa adanya.

Teman-teman masa SMP siapa aja…? Banyak dan gak akan saya sebutkah saat ini. Mereka masing-masing punya slot dalam setiap kegiatan yang ada, masing-masing sangat berharga, dan nantilah ceritanya…

Napak tilas sehari di Metro (sebetulnya hanya beberapa jam saja) mampu menyelami masa awal mendapatkan pengajaran formal. Mampu kembali mengenang banyak sosok tangguh yang ikut membentuk pola pikir saya, yang tanpa disadari mereka telah mempunyai saham dalam membangun bangsa ini, walau harga sahamnya tidak pernah tertoreh di papan elektronik Bursa Efek Indonesia.

Sampai kini, saya selalu salut dengan perjuangan guru. Dalam setiap kesempatan keluyuran di bumi nusantara ini, jika ada sosok guru yang sempat ditemui, selalu saya ajak bicara. Bicara apa aja, terutama bertanya: kok mau-mau nya sih jadi guru..?

Romantisme (pendidikan di) masa lalu yang membuat saya begitu menghayati cerita Laskar Pelangi-nya Andrea. Juga film-nya Riri Riza yang bertajuk sama.

Indahnya dunia walau tidak seindah surga, mari terus berbagi untuk terbang lebih tinggi.

: )