Tags

, , , , , , , , , , , ,


Dikejar fajar

Dikejar fajar

Meminjam judul salah satu karya the Changcuters dalam album Mencoba Sukses Kembali, Hijrah ke London, cerita Kondangan di Perbatasan Dunia dilanjutkan. Ini karena cuplikan lagu tersebut disinggung oleh beberapa rekan dalam merespon di berbagai kesempatan terkait acara kondangan ini, baik di blog maupun di plurk

Boeing 747-400 dengan kode penerbangan MH002 yang tertunda keberangkatannya dari KLIA segera mengudara. Perjalanan berdurasi sekitar 13 jam pun dimulai. Kali ini terasa layanan “antarbangsa” yang (memang seharusnya) disuguhkan oleh awak kabin. Fasilitas pesawat juga ok. Tiap penumpang dapat menikmati layar kecil di depannya, yang berisi belasan film (dan juga games) dimana masing-masing film rerata mempunyai 4 bahasa yang berbeda disertai subtitle bahasa arab.

Yang menarik salah satunya adalah Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (sila lihat situsnya). Film produksi Lucas FIlm ini penuh dengan adegan mengasyikkan dari Harrison Ford sebagai Indiana Jones yang bertualang (dan bertemu) dengan anak dan istrinya di hutan Amazon…

Berbagai hidangan nikzat berkali-kali mampir sebelum akhirnya semua lampu dipadamkan untuk menggiring penumpang segera tidur. Penerbangan kali ini seolah melintas malam sekaligus dikejar fajar. Dari monitor lokasi terlihat bahwa saat pesawat mendekati LHR (bandara Heathrow, London) maka garis fajar pun tiba menyusul dari arah buritan pesawat.

Fajar menjelang

Fajar menjelang

Boeing berputar sejenak beberapa kali di atas London yang penghuninya mungkin masih terlelap. Dari jendela terlihat keindahan London dengan gemerlap lampu kotanya. Dan saat posisi pesawat berputar dari arah utara ke selatan, terlihat pemandangan yang luar biasa.

Kerlip lampu kota London, sungai Thames yang sudah terlihat semakin jelas, dibarengi dengan warna kemunculan fajar di horison. Subhanallah indahnya bumi Mu…

Boeing akhirnya mendarat di Heathrow pada jam 7:15 waktu setempat. Waktu London saat itu berbeda 6 jam lebih lambat dibandingkan dengan WIB. Suhu setempat adalah 9 derajat Celcius. Penumpang semua terlihat letih, walaupun sekitar 13 jam duduk, makan, makan, makan dan nonton film serta tidur. Tetep aja gak senyaman di rumah sendiri… hehe…

Dari garbarata, yang menghubungkan pesawat dengan bangunan bandara, segera menuju antrian imigrasi. Sambil mengisi “landing card”, maka antrilah di barisan yang melingkar hingga sepuluh lapis. Untunglah tidak terlihat ada pendatang yang bermasalah, sehingga antrian segera berlalu dengan relatif cepat. Dari sekian petugas (lebih dari 10 loket pemeriksaan imigrasi) terdapat juga beberapa petugas wanita dan ada yang berjilbab. Saat di depan petugas imigrasi, hanya ada satu pertanyaan yang dilontarkan: apa tujuan anda ke London. Dan cukup dijawab dengan singkat: workshop. Bereslah urusan…

Berikutnya adalah menemukan penjemput di pintu keluar. Charlotte sang panitia, melalui email, telah memberi tahu apa yang harus dilakukan setelah dari imigrasi, yaitu menuju pintu keluar dan temukan penjemput yang membawa nama, tertulis di kertas. Saat keluar pintu, wow, buanyak banget penjemput dengan nama di kertas, mungkin puluhan. Mereka semua berjejer rapi seperti berbaris, sehingga penumpang (yang dijemput) secara otomatis mencari sesuai dengan barisan mereka. Dibutuhkan waktu dua kali keliling sebelum menemukan penjemput dengan nama saya… wew…

Dasbor Prius

Dasbor Prius

Si penjemput saya adalah supir taksi sewaan. Segera ia ambil alih bawaan koper (saat itu hanya bawa satu koper sedang dan satu tas ransel gendong sedang) dan mengarahkan langkah menuju tempat parkir di lantai 3. Sesaat sebelum keluar ruang bandara pak supir antri sejenak di tempat pembayaran parkir otomatis, baru kemudian menuju ke mobil yang diparkir. Udara luar segera bersentuhan dengan kulit manusia dari daerah tropis. Duingine reeek…

Mobil taksi yang digunakan untuk menjemput ok juga. Mobil ini bertenaga hybrid bernama Prius dengan nomor polisi LR06 ACJ. Gile, canggih mobilnya… (kalo gak percaya sila klik disini). Saat berhenti maka mobil memakai tenaga batere, dan saat bergerak memakai tenaga mesin biasa. Pada dasbor terlihat panel yang menggambarkan kondisi distribusi tenaga saat ini.

Keluar dari gedung parkir, segera masuk lorong agak panjang. Lorong ini adalah jalan keluar dari bandara Heathrow yang melewati kolong salah satu landas pacu bandara. Setelah itu mulailah memasuki jalan-jalan panjang menuju pusat kota.

Sang supir agak terlihat songong, dengan badan yang mirip Rafael Benitez (manajer dan pelatih Liverpool), tidak bersuara apapun. Asik dengan PDA yang terletak di dasbor kanan dan terkoneksi dengan GPS, yang menunjukkan jalur jalan yang harus dilalui. Masuk London pertama dalam hidup, jika diawali dengan “kesunyian” maka tidaklah elok. Maka segera ambil inisiatif pembicaraan.

Pertanyaan pertama adalah: “Pir, apakah anda suka sepakbola..?” (tentunya dalam bahasa setempat). Pertanyaan sederhana ini tanpa diduga dengan segera dapat mencairkan suasana. Segeralah meluncur obrolan seputar EPL (English Primer League, ini bukan berarti Liga Utama berbahasa Inggris, ehm…). Pertandingan semalam antara Liverpool dan Wigan, yang sempat nonton bareng di KLIA, segera meluncur. Lalu berlanjut dengan membahas beberapa posisi mengejutkan, antara lain prestasi tak terduga pendatang baru EPL, Hull City yang saat itu sedang nangkring di peringkat ketiga klasemen sementara, dibawah Chelsea dan Liverpool tetapi diatas Arsenal dan Manchester United. Juga dibicarakan tentang kemenangan Inggris atas Kazakhstan dalam kualifikasi Piala Dunia 2010.

Pak supir sempat bertanya juga apakah Indonesia mempunyai kesebelasan nasional, dan bagaimana dengan prestasi dalam kualifikasi Piala Dunia. Juga apakah Indonesia mempunyai liga dan seperti apa. Pertanyaan-pertanyaan yang mudah diucapkan tetapi sulit dijawab dengan penjelasan singkat… hiks…

Hotel Rubens

Hotel Rubens

Bahasa sepakbola adalah bahasa universal, saat mana terbukti bisa mencairkan suasana, dan kemudian, pak supir menjadi tourist guide dengan menunjukkan banyak tempat menarik selama dalam perjalanan menuju hotel. Antara lain beberapa museum terkemuka (gak apal namanya), lokasi penting yang sring disebut-sebut dalam pemberitaan ataupun film, juga pertokoan termahal di London, Harolds. Perjalanan yang ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit pun berakhir di depan hotel yang telah disediakan panitia.

Hotel Rubens terletak di jalan Buckingham Palace Road nomor 39. Pak supir segera menurunkan koper dari bagasi dan mengucap selamat menikmati London. Makasih Pak. Kaki segera melangkah masuk lobi hotel sembari kedinginan. Saat itu pukul 9:15, dan segeralah check-in di petugas reception. Alhamdulillah, nama sudah tersedia pada daftar booking. Dan semua pengurusan sangat gampang dan cepat. Panitianya memang mooi…

Tidak lama kemudian datanglah beberapa tamu lagi. Wow rupanya tampang mereka sudah kenal. Do Xuan Lan (dari Vietnam), Sithong Tongmanifong (dari Laos) dan Suvit Ongsomwang (dari Thailand). Suvit adalah yang paling senior di antara kami. Dia juga pernah tinggal di Yogya, dan bahasa Indonesia pun bisa. Mereka bertiga adalah rekan lama saat kami bersama dalam kegiatan Land Use and Land Cover Changes di Asia Tenggara, yang tergabung dalam SEARRIN (South East Asia Regional Research and Information Network, sila lihat situsnya dengan klik disini). Ramailah suasana… Rupanya mereka juga datang pada saat hampir bersamaan tetapi tentunya dengan pesawat yang berbeda.

Mmm… kemudian, ditengah kegembiraan bertemu dengan teman lama, kami segera menerima berita yang kurang (kalau tidak bisa dikatakan “sangat tidak”) nyaman dari petugas hotel:

“Bapak-bapak sekalian, waktu check-in adalah pukul 2 siang. Saat ini anda tidak dapat masuk ke kamar karena sebagian masih terisi atau belum siap. Silakan menunggu di lobi atau berjalan keluar hingga waktunya tiba…”

Well well well… menunggu jam 2 berarti empat jam duduk di lobi setelah 13 jam duduk di pesawat..? Gak mungkinlah. Dan akhirnya, sebagai tamu yang baik, maka patuhlah kami menerima saran kedua dari petugas. Kami segera menitipkan koper di petugas hotel, mengambil peta lokasi sekitar pada meja penerima tamu, dan segeralah melenggang keluar hotel.

Menembus suhu luar yang sudah menghangat, saat itu sekitar 11 derajat Celsius, berangin, agak gerimis, dengan perut lapar karena belum sarapan…

: )

album foto perjalanan: sila klik disini,
cerita ini masih bersambung, sila ikuti disini