Tags

, , , , , ,


Campillos @ Spain

Campillos @ Spain

Juni 2003, saatnya musim panas di Eropa Selatan. Saya sedang berada di Desa Campillos, Spanyol bagian Selatan, yang mempunyai suhu harian berkisar 35 – 40 Celcius.

Banyak yang “antik” disini. Antara lain tiap siang hari semua kegiatan di daerah terpencil ini berhenti sekitar pukul 13. Inilah saatnya siesta yaitu saatnya semua kegiatan berhenti untuk istirahat siang. Semua toko segera menutup pintu dan… berbaringlah. Siesta memang berarti baringan, berbaring untuk istirahat. Desa segera senyap, semua aktivitas hilang dari pandangan. Semua orang menyelinap di rumah masing-masing.

Siesta berakhir pada pukul 16. Perlahan semua kegiatan terlihat kembali semarak. Jalan-jalan mulai terisi dengan berbagai kendaraan yang didominasi sepeda motor dan mobil kecil (sekelas jip dan sedan), sesekali traktor pun melintas di tengah kota. Maklumlah desa pertanian, banyak traktor disini. Toko-toko pun segera membuka pintu, jendela dan korden mereka. Toko di Campillos mirip dengan toko di pedalaman tanah air tercinta. Kemiripan antara lain: lokasi yang tersebar di seluruh kota, toko sekaligus menjadi hunian pemiliknya, dan isinya sangat beragam kecuali untuk beberapa toko khusus yang menjual buku, sepatu atau pakaian, yang tidak tercampur dengan barang lain.

Dan tentang budaya siesta, beberapa tempat di Sumatera dan juga di Kepulauan Maluku punya kebiasaan serupa. Entah ini karena pengaruh teriknya sinar matahari juga atau memang kebiasaan bobok-bobok siang aja…

Kembali ke Campillos. Saat siesta berakhir itulah saatnya jalan-jalan sore. Keliling toko-toko dengan modal senyum dan berupaya menyapa dengan bahasa “tarzan”. Di Spanyol kesulitan utama adalah bahasa. Bahasa Spanyol adalah bahasa dunia. Penjelajahan dan penjajahan oleh bangsa ini ke dan di segala penjuru dunia menyebabkan besarnya prosentase manusia yang berbahasa Spanyol. Di benua Amerika Selatan, hanya Brasil dan beberapa negara kecil di bagian Utara benua itu yang tidak berbahasa Spanyol. Belum lagi di belahan dunia yang lain. Ini yang menyebabkan “ketahanan bahasa” mereka sangat kuat. Tidak ada bahasa lain selain bahasa negeri sendiri: Spanyol. Itulah yang menyebabkan sulitnya komunikasi dengan orang-orang di desa Campillos ini. Bahasa “tarzan” adalah yang paling efektif.

Sore itu saya berjalan dengan 3 rekan lain, yaitu mas Isaac dari Zambia, mas Mulugeta asal Ethiopia, dan mbak Yan Qiu (asli China). Beberapa toko sudah terjelajahi, dan sampailah di toko barang keperluan sehari-hari. Di toko ini penuh dengan barang keperluan seperti keperluan mandi, dapur, dan juga menjual banyak barang hadiah atau untuk keperluan kado.

Toko ini merupakan toko yang tepat untuk cari oleh-oleh atau barang kenang-kenangan atau souvenir khas Spanyol. Kami berempat menyebar sesuai peminatan masing-masing. Isaac mencari mainan untuk anaknya, Mulugeta entah ke bagian apa, juga dengan si Yan Qiu entah cari apa.

Saya mencoba melihat berbagai barang “biasa” seperti barang pecah belah yang jauh dari antik, karena bisa ditemukan dimana-mana. Ternyata… banyak dari produk gelas ada tulisan “Indonesia”-nya, artinya gelas tersebut dibuat di Indonesia.

Pada satu pojok, tempat banyak sabun mandi, saya mencoba menelusuri beberapa merek yang terkenal dan tidak terkenal. Merek yang tidak terkenal, atau tepatnya: saya tidak mengenal merek itu, adalah merek lokal (buatan Spanyol) dan beberapa produk sabun khusus untuk kesehatan kulit. Sedangkan yang terkenal saya temukan sabun merek Lux. Lux adalah produk Unilever yang tentunya punya pabrik dimana-mana, termasuk di beberapa negara Eropa. Dengan seksama saya perhatikan kemasannya yang sama persis dengan yang biasa saya lihat di supermarket atau warung sebelah rumah di Bogor. Saat melihat sisi belakang dari kemasan Lux tersebut, saya agak terkejut. Pada keterangan produk tertulis PT Unilever Surabaya, Kawasan Industri Rungkut… Wow, si sabun made in Surabaya telah sampai di desa pelosok Spanyol bagian Selatan… Sayang sekali gak sempet dipotret untuk kenang-kenangan he he he… Beberapa sabun produk lokal dengan berbagai merek yang “antik” saya ambil.

Isaac dan Mulugeta sudah menemukan beberapa benda untuk dibawa kembali ke Belanda atau ke negerinya sendiri setelah selesai studinya kelak (kalau bendanya bisa tahan lama… hehe…).

Bagaimana dengan mbak Yan Qiu. Setelah agak lama menyortir segala pernik yang ada di toko tersebut, yang layak dijadikan barang souvenir, Yan Qiu masih belum bisa menentukan barang apa yang bisa dimilikinya. Agak lama kami menunggu sambil keliling lagi melihat benda-benda lain di toko itu.

Akhirnya Yan Qiu mendekat ke saya sambil mengeluh: “Saya gak bisa nemuin barang yang saya ingin dapatkan”. Kenapa..? tanya saya.

Banyak barang antik dan menarik dengan tema Spanyol banget, kata Yan Qiu lagi. Tapi setelah dibolak-balik selalu ada kata-kata yang sama tercetak atau tertempel disana, katanya semakin lesu.

Emangnya kata-kata apa? tanya saya penasaran…

Yan Qiu menjawab dengan lesu: Bagaimana saya bisa membawa barang-barang menarik itu ke negeri saya. Kan gak lucu, souvenir untuk teman-teman saya di China, walau dari Spanyol, tetep aja tertulis “Made in China”…

Kami bertiga yang mendengar pun tertawa ngakak, juga mbak Yan Qiu, sambil meningalkan penjaga toko yang bengong, nggak tau arti omongan kami dan nggak tau masalahnya…

: )