Tags

, , , , ,


Kompas 6 Desember 2008

Kompas 6 Desember 2008

Banjir di Bandung..? Gak salah tuh…, kan Bandung itu di dataran tinggi, mana bisa kena banjir…

Mungkin itu komentar sebagian orang yang membaca Harian Kompas edisi Sabtu 6 Desember 2008. Dan (kemungkinan besar) yang belum (pernah) tau ada banjir di Bandung.

Kompas menampilkan foto pada halaman utama yang menggambarkan perjuangan sebuah bis jurusan Majalaya – Cicaheum dalam menembus banjir sedalam sekitar satu meter, di daerah Cicalengka Kabupaten Bandung pada hari Jumat 5 Desember 2008.

Membaca berita ini, segera mengingatkan saya saat bulan April tahun 1998. Saat itu di harian yang sama, pak Indroyono (saat itu masih bertugas di BPPT) menulis tentang banjir di Bandung dengan tajuk Cekungan Bandung Memang Rawan Banjir (artikel dapat dibaca dalam format pdf, karena taut ke kompas.com tidak ditemukan lagi. Sila klik disini untuk mengunduh). Saat itu banjir lebih diakibatkan oleh meluapnya Ci Tarum dan anak-anak sungainya yaitu Ci Keruh, Ci Tarik, dan Ci Nambo, yang semuanya masuk dalam DAS (Daerah Aliran Sungai) Ci Tarum Hulu.

Luapan air ini disebabkan oleh maraknya penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya dengan berbagai alasan, sehingga lahan-lahan yang merupakan daerah serapan air hujan tidak berfungsi optimal. Air limpasan permukaan semua mengalir ke sungai-sungai yang ada di cekungan Bandung ini.

Dan yang namanya cekungan, tentulah mempunyai daerah terendah, dan di sanalah air berkumpul.

Suatu ketika, saya lupa mencatat waktunya, disebuah harian (kalo gak salah di Pikiran Rakyat terbitan Bandung) membahas mengenai Bandung yang mempunyai Plan-no-logis. Ini adalah plesetan dari Planologi, yaitu ilmu atau keahlian yang (antara lain) membahas tentang perencanaan kota. Kenapa diplesetkan..? Karena Bandung mempunyai segudang ahli Planologi, yang dihasilkan dari Institut Teknologi Bandung.

Orang “bodo” akan berpikir, Bandung pastilah bisa tertata dan terjaga dengan rapi, karena banyak orang pintar pada kompetensinya (yaitu perencanaan kota) tinggal dan berilmu-pinak di sana. Tentulah dapat “menyelesaikan masalah banjir tanpa masalah”.

Itu adalah “logis-nya”.

Ternyata, ahli yang begitu banyak tersedia tidak dapat sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah dalam perencanaan dan pengelolaan kota, entah karena apa… Dan banjir (dengan driving force-nya terkait penutupan dan penggunaan lahan) selalu terjadi tiap tahun.

Sepuluh tahun (bahkan mungkin lebih) sudah berlalu sejak banjir bulan April tahun 1998 yang ditulis di harian Kompas, masihkah Plan-no-logis bertahan di Bandung…?

Tanya kenapa…

: )