Tags

, , , , , , , , , , , ,


Serangan BLB dan OPT lain

Serangan BLB dan OPT lain pada daun tanaman padi

Kali ini mencoba menuliskan sesuatu yang didapat dari “dunia lain”. Dan hal ini didapat langsung dari pemaparan ahlinya, sehingga sayang sekali kalau tidak direkam dalam kertas dijital ini.

Kali ini memang hal yang didapat dari dunia keilmuan yang sangat berbeda dari yang selama ini dijalani. Tepatnya adalah dunia tumbuhan sekaligus dunia mahluk hidup yang (oleh manusia) digolongkan dalam OPT, Organisme Pengganggu Tumbuhan. Sejatinya, para mahluk hidup yang telah menjadi “musuh” manusia itu adalah mahluk hidup biasa, yang hidu dimana mereka biasa hidup, sejak diciptakan oleh Nya.

Yang kemudian “dipermasalahkan” oleh para manusia adalah akibat dari aktivitas mereka yang “dianggap” telah mengancam kepentingan kehidupan manusia. Sebagai “penguasa” di muka bumi, mahluk hidup yang bernama manusia, boleh-boleh saja menghakimi mahluk hidup lainnya sesuai asumsi yang diyakini. Dan pada tahun 2008 ini saya memasuki salah satu bidang “hukum manusia” terhadap mahluk hidup lainnya, yaitu yang “bernasib” telah digolongkan dalam OPT.

Pengamatan serangan OPT

Pengamatan serangan OPT pada rumpun tanaman padi.

Seumur hidup tentunya bukanlah kali ini saja mengenal yang namanya hama wereng atau hama belalang. Jaman orde baru dahulu, kedua hama tanaman padi ini sangat populer. Tapi ya sebatas mendengar, membaca, dan memirsa saja. Seringnya lomba Indonesian Idol Kelompencapir di stasiun televisi kesayangan dan satu-satunya, yaitu TVRI, merekam jelas masalah-masalah para bapak tani di bentang sawahnya, walau saat itu tidak tahu apa maksud sebenarnya. Barulah kali ini tahu bahwa wereng itu ada beberapa macam antara lain wereng hijau (Nephotettix spp.), wereng coklat (Nilaparvata lugens), dan wereng punggung putih (Sogatella furcifera). Sedangkan belalang yang sempat “melalap” banyak tanaman padi di beberapa lokasi di Indonesia bukanlah belalang biasa (grasshopper) tetapi belalang kembara (locust).OPT dibedakan menjadi dua golongan besar yaitu hama dan penyakit. Hama disebabkan oleh mahluk hidup “normal” seperti binatang dan tumbuhan “pengganggu”. Sedangkan penyakit adalah yang disebabkan oleh bakteri atau jasad renik lainnya.

Pada kelompok penyakit, yang tengah naik daun saat ini adalah OPT BLB atau Bacterial Leaf Blight. BLB benar-benar naik daun dalam arti sebenarnya, karena memang ia menyerang daun dari tanaman padi. Dan menurut informasi dari BBP-OPT (Balai Besar Peramalan OPT), ternyata serangan BLB pun sudah menduduki peringkat atas. Dalam 12 tahun terakhir, yaitu dari tahun 1996 – 2007, BLB menduduki peringkat 3 dilihat dari rerata luas serangan OPT tanaman padi secara nasional pada intensitas serangan “puso” (data dari Direktorat Perlindungan Tanaman, Departemen Pertanian).

BLB atau HDB sedang benar-benar naik daun

BLB atau HDB sedang benar-benar naik daun

BLB sendiri mempunyai beberapa nama, yaitu HDB atau Hawar Daun Bakteri, dan nama lokal dikenal dengan penyakit Kresek. Kata “kresek” kemungkinan berasal dari suara gesekan daun-daun padi yang telah mengering akibat terkena serangan BLB. Bakterinya sendiri bernama Xanthomonas campestris pv. oryzae.

Penyakit BLB sendiri sudah dikenal pada tahun 1884 di Fukuoka, Jepang. Di Indonesia mulai menjadi kajian sekitar tahun 1950an.

Sebagai “golongan” yang tertuduh pengganggu kehidupan tumbuhan padi, maka perkembangan BLB menjadi perhatian sejak awal, yaitu dalam tahap sebelum tanaman padi ditanam kondisi bibit (bulir) juga sudah diamati. Aksi ini adalah tahap peramalan pertumbuhan BLB dan juga peramalan daerah potensi serangan.

Untuk memahami perkembangan pertumbuhan BLB, atau OPT pada umumnya, diperlukan pemahaman mengenai konsep segitiga penyakit. Konsep ini adalah interaksi dari tiga faktor yaitu:

P : Pathogen, faktor ini dipengaruhi oleh jumlah inokulum/propagul (penular), ras virulensi, dan stadia pathogen.

I : Inang, faktor tanaman inang dipengaruhi oleh varitas atau jenis tanaman dan stadia rentan tanaman yang menjadi inang penyakit tersebut.

L : Lingkungan, yaitu faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan penyakit seperti abiotik (suhu, kelembaban, cahaya matahari, hujan, angin, banjir) dan biotik (seperti adanya mikro organisme antagonis yang dapat menghambat pertumbuhan pathogen)

Penyakit akan berkembang dengan baik saat mana Pathogen yang virulen, Inang yang rentan, dan Lingkungan yang cocok. Sehingga bisa dikatakan bahwa

Gejala = P + I + L

Pemahaman dan pengamatan mengenai PIL ini adalah langkah dasar dalam pengembangan  peramalan penyakit BLB.

Tulisan “agak serius” ini bersumber dari workshop Teknologi Radar untuk Peramalan OPT.

Terimakasih untuk obrolan ringan dengan Pak Edi dan para peneliti di BBP-OPT Jatisari dan terutama pemaparan yang sangat menarik dari Pak Baskoro dan bu Lilik pada workshop tersebut. Mohon koreksi jika ada salah tangkap.