Tags

, , ,


Surat waktu

Surat waktu

26 September 2007, sebelum berangkat sekolah pada jam 6:00 pagi, gadis ku yang mungil menyerahkan secarik kertas terlipat rapi. Hari itu dia terlihat semangat untuk pergi sekolah karena mungkin terbayang banyak rencana bersama teman-temannya di kelas 1.

Saat menyerahkan kertas kecil itu, dia berbisik meminta saya untuk membuka “surat”-nya setelah dia berangkat.

Sepeninggal si mungil ke sekolah, segera saya buka lipatan kertas tersebut. Isinya tentang waktu, tentang protesnya terhadap waktu, tentang kehilangan sesuatu pada dirinya. Si cantik sedang kehilangan waktu bermain dengan bapaknya.

Sejatinya, waktu akan selalu tetap berada disana (dan disini, dan dimana saja), sedangkan kita sebagai materi lah yang berjalan. Batas-batas waktu didefinisikan dengan segenap kemampuan manusia, hanya untuk memastikan bahwa ia tidak bergerak. Yang bergerak adalah materi didalamnya. Jika ada banyak orang yang sibuk dengan pengaturan waktu karena merasa terbelenggunya, maka lebih banyak lagi insan yang tidak mau menghargai dirinya sendiri saat mengarungi waktu. Waktu tidak perlu dihargai, karena diri sendiri dan sekeliling lah yang lebih memerlukan penghargaan itu, dengan bijak.

Ya, bijak, seperti bagaimana menghargai kepentingan gadis kecilku dalam dunianya, dalam waktu bermainnya bersama.

At the Twilight

At the twilight, a moon appeared in the sky;
Then it landed on earth to look at me.

Like a hawk stealing a bird at the time of prey;
That moon stole me and rushed back into the sky.

I looked at myself, I did not see me anymore;
For in that moon, my body turned as fine as soul.

The nine spheres disappeared in that moon;
The ship of my existence drowned in that sea.

(by Jalaluddin Rumi)

Selamat Tahun Baru 1430 Hijriah.

Waktu akan selalu berakhir diawal dan berawal diakhir…