Tags

, , , ,


Kota Khon Kaen

Kota Khon Kaen

Khon Kaen, sebuah kota menyenangkan di region Timur Laut Thailand. Walau ketinggian lokasi dpl (di atas permukaan laut) hampir sama dengan Kota Bogor di Jawa Barat (yaitu sekitar 100 meter), musim dingin disini jauh lebih dingin. Ini kemungkinan karena kota Khon Kaen terletak pada lintang yang cukup besar dibandingkan Bogor, yaitu sekitar 16 derajat Utara (Bogor pada lintang 6,5 derajat Selatan). Saat mengunjungi kota ini pada pertengahan Januari 2009, suhu berkisar 12 – 18 Celcius. Kota Khon Kaen adalah juga sebagai ibukota Provinsi Khon Kaen dan juga Distrik Khon Kaen. Kota ini juga dikenal sebagai kota penting dalam perdagangan sutera Thailand.

Apa yang menarik dari kota ini..?

Selain sebagai pusat perdagangan sutera Thailand, Khon Kaen saat ini semakin dikenal dengan kota jasa, kota pendidikan dan juga “kota seminar”. Banyak sekali kegiatan pertemuan internasional “dialihkan” dari Bangkok ke Khon Kaen. Walau demikian, saat berjalan menjelajahi kota, tidak terlalu banyak orang asing (terutama dari Eropa) yang terlihat disini, dibandingkan dengan Bangkok tentunya.

Dalam salah satu situs tentang kota ini (khonkaen.com) disebutkan bahwa kota Khon Kaen adalah kota dengan kondisi kontras dimana kita bisa menyaksikan orang dengan dandanan gaya hidup masa kini berdampingan dengan biksu berpakaian orange, makanan tradisional dapat didapat didepan toko makanan siap saji pizza terkenal, ataupun kendaraan mewah yang berdampingan dengan binatang pertanian.

Suatu penggambaran yang tidak terlalu meleset dari yang bisa dilihat para pendatang. Di daerah pedesaan, jalan raya yang melintas dari Bangkok ke daerah Timur Laut dan mengarah ke Laos, dikenal dengan nama Mithraphap Highway (atau Friendship Highway atau Highway 2) dilengkapi dengan bahu jalan untuk keperluan kendaraan petani (sila klik untuk lihat foto). Para biksu juga banyak sekali kita temui di seluruh kota (sila klik untuk lihat foto).

Mengenai gaya berpakaian, terlihat jauh sekali dibandingkan Bangkok. Di kota ini jarang ditemui perempuan berpakaian “bupati” ataupun yang mengenakan pakaian “kurang bahan”. Mata lebih nyaman menikmati kehidupan dan pemandangan kota, karena jauh dari “gangguan” obyek vital… (boleh senyum…).

Dam Ubolratana

Dam Ubolratana

Region Timur Laut Thailand ini (yang dikenal dengan nama Region Isan) adalah daerah yang mempunyai kondisi tanah tidak terlalu baik. lapisan permukaan tanah (top soil) cenderung berpasir. Singkong yang ditanam baru layak dipanen saat berumur 9 – 12 bulan. Itupun tidak cocok untuk konsumsi manusia sehingga diekspor ke Eropa untuk keperluan lain (antara lain untuk pupuk). Kondisi alam yang tidak menguntungkan mampu diatasi dengan berbagai aksi, antara lain pembuatan tempat-tempat penampungan air (bentuknya seperti “embung” di Indonesia), selain ada juga Dam besar di daerah ini, yaitu Dam Ubolratana. Dam ini sebagian konstruksinya mirip dengan dam Jatiluhur, dimana konstruksi bangunan pembendung tidak terdiri dari beton tetapi hanya tumpukan bebatuan dam material lain saja. Di Dam ini juga didirikan PLTA sebagai salah satu sumber listrik Thailand.

Di sekitar kota Khon Kaen juga terdapat banyak “embung”. Dan relatif di tengah kota terdapat sebuah danau alami yang telah diperindah lingkungannya menjadikan danau ini tempat yang nyaman bagi penduduk dan pendatang dalam menikmati alam. Danau ini bernama Bung Kaen Nakhon. Di tepi barat danau ini terdapat kuil yang sangat terkenal yaitu Wat Nong Wang. Kuil ini (kalo gak salah) terdiri dari 9 lantai yang bisa dikunjungi oleh umum. Dari balkon masing-masing lantai bisa dinikmati pemandangan danau.

Sunset di Khon Kaen

Sunset di Khon Kaen

Pada saat tertentu, terutama saat matahari berada pada belahan bumi selatan, maka jika kita berada di sisi timur danau kita bisa menikmati saat matahari terbenam dengan latar depan adalah kuil Wat Nong Wang. Pendaran warna matahari dan juga bayangan kuil pada permukaan air danau sangat indah.

Bagaimana dengan lalu lintas di Khon Kaen..? Relatif tidak ada macet, karena memang selain penduduknya tidak “sangat” padat, jalan utama pun dibangun dengan lebar yang cukup. Angkutan kota yang beroperasi selain tuktuk adalah mobil pickup yang diberi tutup dan kursi di bak nya (mengingatkan saya pada angkutan di kota Banda Aceh). Pada jam sibuk maka terlihat penumpukan penumpang yang lumayan pada mobil angkot ini.

Di kota ini juga terdapat Masjid, tempat berkumpul orang muslim dari berbagai daerah sekitar terutama pada hari Jumat. Menurut rekan setempat yang bertemu disana ba’da sholat Jumat, di kota Khon Kaen terdapat sekitar 2.000 orang muslim dari sekitar 140.000 ribu penduduk. Masjid hanya terdapat dua, dan yang saya “berhasil temukan” adalah yang terbesar.

Sebelum mencapai masjid ini, ada cerita menarik. Saat dari penginapan, dengan bantuan teman lokal, maka kami dikomunikasikan dengan abang pengemudi Tuktuk untuk mengantar dan menunggu kami (saya dan dua rekan) di Masjid. Dengan yakinnya si abang mengantar kami, bahkan melalui jalur tikus untuk menghemat waktu. Tiba-tiba Tuktuk masuk ke sebuah halaman luas dan seperti sebuah komplek kecil. Terlihat si abang agak ragu-ragu tetapi dia langsung turun dan mencari info dari orang sekitar. Saya dan teman seperjalanan tersenyum. Kenapa? Karena ternyata kami diantar ke sebuah Gereja. Setelah berbahas tarzan sejenak, akhirnya si abang kembali menjalankan Tuktuk memasuki beberapa jalan tikus, sampai akhirnya menemukan Masjid yang dimaksud. Leganya, karena sholat Jumat baru saja dimulai…

Masjid Khon Kaen

Masjid Khon Kaen

Selesai sholat, melihat ada beberapa “muka baru”, maka kami langsung ditanya berasal dari mana, dengan sangat ramah dan penuh persahabatan (dimanapun muslim adalah keluarga bukan?). Kami kemudian “dipaksa” mengikuti perhelatan makan siang bersama. Di sebuah ruang tanpa dinding yang terdiri dari beberapa meja terhidang nasi kuning dengan lauk daging. Sambil menyantap makanan yang (masya Allah) nikmat sekali, kami banyak berbincang dengan teman baru yang berasal dari berbagai daerah dan negara. Ada yang berasal dari Thailand Selatan, ada juga yang berasal dari Banglades dan juga dari Pakistan. Rupanya sudah menjadi kebiasaan mereka untuk berkumpul saat Jumat, dan makanan adalah hasil kelola komunitas muslim itu.

Suasana di kantin

Suasana di kantin

Selain kota perdagangan, Khon Kaen juga dikenal sebagai kota pendidikan, karena disini terdapat dua buah Universitas besar untuk wilayah region Isaan, yaitu Khon Kaen University dan Rajamangala University, dengan jumlah mahasiswa sekitar 20.000 orang. Di dalam kompleks kampus yang nyaman karena banyak ditumbuhi pepohonan dengan pengaturan bangunan dan fasum dan fasol yang apik terdapat juga beberapa pusat penelitian dan pengembangan kawasan seperti Mekong Institute (MI). MI merupakan organisasi antarpemerintah yang melibatkan Thailand, Laos, Myanmar, Kamboja, Vietnam, dan China (Provinsi Yunnan dan Guangxi).

Mahasiswa sedang sibuk mengisi KRS

Mahasiswa sedang sibuk mengisi KRS

Dalam beberapa kesempatan, saya merekam film dengan kamera dijital berupa kegiatan di jalan kota ini. Rekaman direkam dari dalam bis dan juga dari Tuktuk. Sila lihat berikut ini:

Beberapa taut menarik:

Banyak hal lain yang menarik, akan ditulis pada kesempatan berikutnya, yaitu tentang “kehidupan malam” di Khon Kaen…

: )